
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 49
POV Debby
Aku bergegas masuk ke dalam kamar. Ku hapus airmata ku kasar karena menangis atas perkataan dokter Teddy tidak lah pantas untukku yang selama ini memang sudah banyak dibantu olehnya. Sakit? boleh saja, tapi setiap orang berhak membantu orang lain dengan tujuannya masing- masing, dan dokter Teddy membantuku karena iba itu haknya, itu yang perlu ku ingat. Ku Kemasi semua barang- barang ku yang tidak terlalu banyak, sudah waktunya aku berhenti merepotkan orang lain.
"Debby, ada yang mau saya jelaskan." Dokter Teddy mengikutiku dan menghentikan aktivitas berkemas ku dengan mencekal pergelangan tanganku yang sedang sibuk memasukkan baju- bajuku ke dalam koper.
"Silahkan, pendengaran saya masih jernih walau harus mendengarkan sambil berberes." Jawabku melepaskan tanganku darinya.
"Apa kamu sedang marah dengan saya?" Tanyanya lembut dengan tatapan penuh selidik kepadaku. Aku tak membalas tatapan itu. Aku tetap sibuk dengan barang dan baju- bajuku.
"Untuk apa saya marah, semua yang dokter katakan adalah hak dokter. Lagipula semua itu benar." Jawabku santai, kutarik kedua sudut bibirku agar kesedihan tak terlihat lagi di wajahku.
__ADS_1
"Debby, duduklah! Tidak baik membicarakan masalah dengan amarah, duduk akan membuat hati kita lebih tenang." Katanya seraya menepuk sisi sebelah kanan bibir ranjang, tempat dimana dia duduk sekarang.
"Siapa bilang kita punya masalah dok? Saya nggak merasa punya masalah sama dokter. Saya hanya merasa punya hutang sama dokter." Kataku.
"Saya bilang duduk Debby, jangan buat saya marah. Dan jangan membahas tentang hutang. Sudah berapa kali saya bilang Saya tulus Debby!" Jelasnya lebih tegas.
"Saya memang orang miskin, yatim piatu tapi hidup dari belas kasihan orang lain bukan pilihan saya dok, dari awal saya sudah mau cari tempat kos, tapi dokter melarang. Dan sekarang dokter berkata pada orang lain seolah Saya ini tidak ada harga dirinya." Jelasku yang sudah tak bisa lagi ku tahan.
"Sekarang kamu bilang sama saya apa yang harus saya katakan pada orang tentang kamu? Saya nggak bisa bilang kalau kamu sudah bercerai kalau kamu sendiri masih merahasiakannya. Saya juga nggak mungkin bilang ada hubungan dengan kamu pada profesor karena yang mereka tau kamu masih bersuami Debby." Jelasnya penuh amarah.
"Lalu kenapa kamu harus pergi ke tempat yang kamu sendiri nggak mau kesana?"
Tanyanya padaku.
"Karena satu- satunya tempat yang tepat dan ternyaman untuk saya hanyalah panti dan Bunda dok." Jawabku bersamaan dengan keluarnya butiran bening dari kelopak mataku.
__ADS_1
"Jadi kamu nggak nyaman berada di samping saya? Hemm?" Tanya dokter Teddy menatapku tajam, aku tak menjawab. Jawaban apa yang harus ku berikan jika kenyamanan yang diberikan kepadaku hanyalah sekedar rasa kasihan, apa bedanya dia dengan donatur panti bagiku.
"Tatap mata saya Debby!" Sambungnya.
"Sudah lah dokter, Saya harus pergi!" Kututup koper dan ku ambil gawai untuk memesan taksi.
"Bukankah kamu janji akan mengantar saya ke bandara besok?"
"Besok saya akan kesini lagi." Jawabku menuju pintu keluar, dokter Teddy terus mengekori ku. Aku benar- benar kewalahan dengan sikapnya kali ini, sikap yang biasanya acuh, dingin dan kasar berubah menjadi sikap yang begitu merepotkan.
"Tapi saya tidak mengijinkan kamu pergi." Dokter Teddy menghadang ku dan berdiri tepat di depan pintu.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1