
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 143
"Datang sesuai edisi, edisi seminar, edisi kondangan, ya gitu lah." Jawabnya yang membuatku semakin tertawa.
Ku habiskan waktuku dengan bersama Debby, berbincang dan sesekali melampiaskan kerinduanku dengan mencumbuinya.
Hingga suara ketukan pintu pun terdengar.
"Deb, ada Bu Widia mau ketemu kamu." Kata Bunda dari balik pintu.
"Hah? I_ ya Bunda." Jawab Debby lalu segera beranjak dari tempat tidur kami. Merapikan piyamanya yang hampir tanggal karena tanganku selalu ingin bergerilya saat bersamanya.
Saat aku ikut berdiri hendak menemui Mama "Eh mau kemana? Diem disini jangan kemana- mana." Debby melakukan persis dengan apa yang ku lakukan saat Mama datang di Apartemen dan Debby ada di kamarku pada waktu itu.
"Ada Tante Widia, ya saya mau temui lah Deb." Jawabku.
"Kamu lupa Mas, tentang pernikahan kita. Udah diem disini aja." Kata Debby lalu keluar meninggalkanku.
Saat ku coba membuka handle pintu "Astaga Debby!" Gumamku, ternyata Debby mengunciku dari luar. Ku hembuskan napas panjang.
__ADS_1
Ku ambil gawaiku. Ku kirim pesan untuk Mama, karena aku tidak bisa menemuinya malam ini.
Teddy [Ma, Debby melarangku keluar menemui Mama, dia bilang takut ketahuan.]
Lama ku tunggu balasan dari mama, Mama pun membalasnya.
Mama [iya, Mama bawakan makanan untukmu, Makanlah.]
Teddy [Ma, Selamat Ulang Tahun, Maaf kan Anakmu ini yang lalai, sudah melupakan Ulang Tahun Mama.]
Mama [Sudah, jangan berlebihan gitu Teddy.]
Teddy [tapi Ma, Mama mau apa dari Teddy.]
"Hah? Cucu?"
Mama [Kamu bringas juga, Mama rasa memberi satu cucu nggak susah untuk kamu kan.]
"Apa lagi ni Mama, Mama nggak tau apa kalau Debby nggak bisa dideketin. Bakal lama lagi ketemunya." gumamku setelah membuka pesan terakhir dari Mama ku.
Pintu pun di buka kasar, dan Debby masuk tergesa-gesa.
__ADS_1
"Debby kamu ngunci saya?" Tanyaku masih duduk di bibir ranjang.
"Maaf," katanya menghampiriku dan duduk bersamaku.
"Ya Ampun, Ini rupanya yang membuat Mama berpikir seperti tadi?" Batinku saat Debby duduk di sampingku. Aku tersenyum saat ku lihat ada tanda kepemilikan di leher Debby akibat ulahku yang tak ku sadari sebelumnya.
"Kenapa? Kenapa kok senyum- senyum gitu?"
Ku hembuskan nafas panjang, ku dekati dan ku belai wajahnya lembut "Debby, Kamu cantik, cantik... Sekali. Bahkan saking cantiknya, saya sampai nggak rela kalau kecantikan kamu dinikmati oleh banyak orang lain. Bisakah untuk tidak memperlihatkan pesonamu pada orang lain?" Kataku selembut mungkin, aku tidak mau menyinggung perasaan Debby, atau memaksanya.
Dia bergeming, sepertinya dia masih belum tau apa maksud dari kata- kataku.
"Kenapa kok bengong? Tidur." Ku baringkan tubuhku lalu ku tarik selimutku, dia masih bergeming tapi mengikuti perintahku dan tidur di sebelahku.
Ku peluk Debby yang masih bergeming, batinku bertanya apa aku sudah menyinggungnya?
"Sayang, kamu marah?" Tanyaku pada Debby yang memunggungi ku.
Dia tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya, hingga aku sadar ada butiran bening jatuh dan mengenai tanganku yang ku letakkan di bawah kepala Debby. "Kamu nangis Deb? Kenapa nangis?" Tanyaku membalikkan tubuhnya ke arahku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..