Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Percaya


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 198


"Ya aku nggak mau."


"Sudah, jangan ribut." ucap Mama menengahi.


"Dia harus di observasi Ma!"


"Ya tapi Debby nggak mau Ma"


"Dia pasti takut Ma, kalau ketauan temennya, tapi dia nggak mikir belakangnya!"


"Udah Teddy, jangan bentak- bentak gitu ngomongnya. Debby sayang, kalau takut ketauan, sama Mama aja ya ke rumah sakitnya." bujuk Mama pada Debby.


"Beneran Ma, Debby nggak papa, Debby janji kalau Debby ngerasa nggak enak akan segera ke Rumah sakit." Putus Debby, aku masih tak setuju, tapi Debby tetap bersih keras menolak.


"Terserah kamu!" Akhirnya aku mengalah.


"Mama buatkan teh hangat dulu."Pamit Mama,


"Nggak usah Ma, kita mau langsung pulang." Kataku sebelum Mama membuka handle pintu.


"Apa kamu marah sama Mama Teddy? Debby baru saja mengalami kecelakaan. Apa nggak sebaiknya menginap semalam saja?" Tanya Mama berkaca- kaca.


Bukan marah, ketakutan akan kehilangan Debby membuat aku kecewa pada apa yang Mama lakukan. Sudah jelas aku menitipkan Debby padanya tapi mama malah Debby.

__ADS_1


"Mas, mana Mama tau kalau Vannia dan kita berselisih. Kenapa Marah? Tadi Mama pergi juga untuk kita." Lirih Debby.


Aku bergeming


"Teddy nggak marah Ma, tapi rumah ini akan menjadi seperti neraka kalau Teddy tetap disini."


"Ya sudah, kalian bawa yang sudah Mama siapkan." Kata Mama meninggalkan kami.


Usai Debby mengganti pakaiannya, segera ku buka lemari yang sudah aku tinggalkan bertahun- tahun. Masih tertata rapi dan apik, semua masih sama, dari baju dan barang- barangku masih sama seperti dulu. Sepertinya Mama merawatnya dengan sangat baik.


Ku ambil baju dan semua perlengkapan yang ku butuhkan, mudah- mudahan saja masih muat.


🌸🌸


Kami pun pergi sebelum semuanya bertambah runyam, sepertinya suasana rumah masih panas.


"Aku pulang Ma, Assalamualaikum" Pamitku pada Mama yang mengantar kami sedangkan papa dan yang lainnya, aku tak melihatnya lagi.


Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil Debby terlihat gusar,


"Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit? Kita ke rumah sakit ya? kamu yakin nggak pusing atau mual?" Cecarku.


"Nggak Mas, kita istirahat di rumah aja, kan aku dah bilang tadi"


"Kamu percaya sama aku kan Mas?"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Aku bicara jujur, aku nggak menuduh Vannia."


"Tentu saja sayang. Yang terpenting sekarang adalah keadaan kamu."


"Bukannya Aku sudah ada dokter pribadi" candaku


"Kenapa masih bercanda? Kamu hampir celaka. Kamu tau gimana rasanya melihat kamu dalam kondisi seperti itu? Dua kali?"


"Gimana rasanya?"


"Rasanya jantungku mendadak berhenti Debby."


"Gombal"


Ku raih dan ku genggam tangannya, "Berjanjilah, untuk tidak pernah meninggalkan saya, saya nggak bisa apa- apa tanpa kamu."


"Kenapa jadi lebay gini sih Mas!"


"Saya serius."


"Bukannya yang banyak penggemarnya itu kamu, ada Vannia, laura, fans seminar, dan sekarang tambah satu lagi, suster Desi. Belum yang aku nggak tau. Harusnya kamu dong yang janji."


"Suster Desi, kenapa suster Desi dibawa- bawa? Lupakan semuanya, Saya janji kamu satu- satunya"


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2