Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Jujur


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 187


Ku tatap wajah suamiku, sudah saatnya aku jujur, karena selama ini aku sama sekali belum menceritakan masalahku dan Mas Doni. Ku ambil nafas panjang kalau mengeluarkannya perlahan, ku beranikan diri untuk berkata jujur kali ini, Karena aku sudah tak sanggup menghadapi mereka seorang diri.


"Mas, Mas Doni ada disini." Kataku.


"Apa? Kamu ngigau Deb, kamu mimpiin Doni?" Sungutnya beranjak dari tempat duduk kami.


"Bukan, bukan gitu mas!"


"Sudah lah Debby, sekarang kamu siap- siap! Saya sudah siapin baju kamu di sofa. Mandilah. Saya tunggu kamu di gerbang belakang rumah sakit."


"Mas, aku belum selesai ngomong Mas," rengekku mengikuti langkah suamiku yang terlihat mengambil jas dan memakai sepatunya, sepertinya dia akan pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mas denger aku."


"Dan satu hal lagi ya Debby! Lupakan Doni, jangan menyebut namanya lagi di hadapan saya." Katanya lalu meninggalkanku dengan menutup pintu kasar. Membuatku terkejut.


Benar- benar apes, bukan solusi yang ku dapatkan justru terkena marah "Marahmu menakutkan sekali!" Ku ambil tas yang sudah diletakkan di sofa, aku tak mau dia menunggu lama dan semakin marah padaku. Ku buka dan ku lihat tas dengan simbol merk ternama itu, dan ternyata isinya adalah sebuah gamis modern lengkap dengan pashmina dan sepatu hak l, tidak terlalu tinggi, sepertinya dia tau aku tak pandai memakai sepatu yang terlalu tinggi. Segera ku bawa tas besar itu. Tak lupa ku periksa keadaan di luar sebelum aku keluar dari ruangan suamiku. "Bagaimana bisa, tidak membantuku keluar dari sini dengan selamat?" Gerutuku membuka pintu, mengendap menuju toilet rumah sakit setelah ku lihat keadaan aman.


"Aman..." Kataku saat sudah di depan toilet karyawan.


"Door..." Seseorang mengagetiku saat aku hendak membukan pintu toilet karyawan.


"Eh Debby seharian kamu nggak kelihatan setelah dipanggil sama Direktur baru? Kamu nggak dipecat kan?" Tanya mbak Lidia, dialah yang paling mengkhawatirkan pekerjaanku, selain dia tau betul kalau aku sangat membutuhkan pekerjaan, dia juga lah yang membawaku kesini, ya walau hanya membantu agar lamaranku dibuka oleh HRD, itu sudah sangat membantu karena tak semua surat lamaran itu di buka, mengingat begitu banyak pesaing untuk masuk di Rumah sakit sebesar ini.


"Ya nggak lah, aman." Jawabku.


"Terus ngapain kamu disini? Bukannya kata Sinta, kamu tadi ijin mau ke acara nikahan saudara kamu?" Tanyanya melihat ke arah tanganku, sepertinya dia melihat apa yang ku bawa. Segera ku sembunyikan tas besar ini di belakangku.

__ADS_1


"Ijin? Saudara? Emangnya aku punya saudara? Wong bapak ibuku aja aku nggak tau." Jelasku.


"O ya, Bunda kan nemu kamu di sungai, mengapung- ngapung ya waktu Bunda jalan- jalan"


"ih jangan bahas itu? Kalau bahas masalah itu aku jadi berpikir kalau orang tuaku meninggal juga di sungai itu. Menyedihkan." Keluhku.


"Cup cup cup udah jangan sedih gitu, maaf."


"Ya udah aku mandi, dari pagi belum mandi." Kataku memegang handle pintu.


"Apa? Jadi dari pagi kamu belum pulang? Kamu ngapain aja sama dokter..."


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2