
"Mau kemana kamu? Duduklah! Potong ni sayurnyanya, wortel potong dadu kecil!" Perintahnya, saat aku berbalik ingin meninggalkan dapur. Aku kembali dan menuruti lagi permintaanya, maklum aku kan numpang, lagi pula, setiap aku melihat dokter Tedi yang ku ingat hanya bayang- bayang Pemecatan.
Aku segera memotong sayuran, dan wortel dadu, dokter Tedi terlihat menyiapkan bahan dan bumbu-bumbu. Dari yang ku lihat sepertinya dia akan membuat nasi goreng. Setelah semua bahan siap, aku duduk melihat caranya memasak. Jujur saja selain tukang nasi goreng yang mangkal di depan rumah sakit, baru kali ini aku melihat laki- laki begitu hebatnya dalam hal memasak, dokter, masih muda pula. Aku terkesima saat melihat tangannya yang begitu cekatan mengolah semua bahan yang ada.
"Dokter buat nasi goreng ya?" Tanyaku tak berkedip, melihat begitu cepat nasi goreng itu sudah siap dihidangkan didepan ku.
"Iya. Nih makan!" Katanya memberikan sepiring nasi goreng padaku. Lalu mencuci tangannya, sekarang, ia terlihat sedang membuat dua cangkir teh.
"Oh ternyata dokter masak buat saya ?" Tanyaku tak percaya.
"Hemmm, dari gelagat dan cara kerja kamu, saya tau kamu nggak bisa masak. Kids jaman now seperti kalian memang sukanya makan tanpa bisa masak, sukanya jadi konsumen tanpa memikirkan bagaimana harus jadi produsen?" Ejeknya.
"Bukan nggak bisa dok, tapi kurang diberi kesempatan untuk turun ke dapur." Sanggah ku.
"Sepertinya kamu jadi lulusan terbaik bukan karena kecerdasanmu Deb, tapi karena kepandaian mu dalam mengeluarkan pendapat dan bicara." Sindirnya. Aku pun terdiam, lalu aku mulai menyantap nasi goreng buatan dokter Tedi, satu suap ku rasakan, sungguh nikmat sekali rasanya. Aku segera menghabiskan nasi goreng itu, tak peduli mau dibilang gumiho atau apa, yang penting perutku kenyang. Tak butuh waktu lama nasi goreng nikmat itu sudah masuk semua ke dalam perutku.
"Debby, ada yang mau saya tanyakan." Dokter Tedi memberikan satu cangkir teh padaku, sekarang dia duduk di depanku, kami duduk di dapur,dimini bar yang tersedia di apartemen ini
__ADS_1
"Mau bicara apa dok?" Tanyaku, hatiku mulai tak tenang, wajah dokter Tedi terlihat sangat serius sekarang.
"Pertama, saya mau minta maaf atas kejadian di rumah sakit tadi, kamu nggak perlu takut, soal memecat kamu bukan lah hak saya. Yang kedua, yang sangat ingin saya tanyakan dari sejak saya jemput kamu waktu kamu pingsan di cafe kemarin adalah... Apa masalah kamu dengan suamimu ada hubungannya dengan makan malam kita waktu di warung sate?" Tanyanya dengan sangat hati- hati. Aku bergeming, mendengar masalahku di ungkit kembali olehnya.
"Deb, saya kepikiran terus dari kemarin." Sambungnya.
"Bukan, itu murni masalah kami." Jawabku singkat.
"Apa kamu benar- benar mencintainya Deb?" Tanyanya yang membuatku mengingat kembali luka ku yang masih menganga lebar.
"Bukankah sudah kewajiban kita mencintai pasangan kita dok?" Tanyaku balik, enggan rasanya menjawab aku mencintai mas Doni, orang yang jelas- jelas sudah mencampakkan aku. Dadaku kini mulai merasa sesak.
"Tapi, cinta juga nggak bisa milih dok, akan berlabuh pada siapa?"
"Walaupun cinta tak bisa memilih, setidaknya kita masih waras, punya logika dan bisa berpikir dengan jerni Debby!" Jawabnya yang mulai menyangkut pautkan hati dengan logika, aku tau orang cerdas akan menyangkutkan semuanya secara logika. Mungkin kalau dia sudah merasakannya sendiri baru lah bisa diam.
Aku pun diam, "Oh ya dok, hari Senin, profesor Antonius Adijaya ulang tahun, kita yang nggak jaga shift saat acara, di undang semua, dokter nggak ke USA setelah acara itu aja dok?" Tanyaku, yang mengalihkan pembicaraan, membahas Mas Doni hanya akan menambah sakit hatiku.
__ADS_1
"Nggak, saya nggak bisa!" Jawabnya lalu menyesap teh yang dibuat olehnya sendiri.
"Tidurlah, koper kamu sudah saya masukkan ke kamar, tidur di kamar, biar saya tidur di sofa." Katanya datar.
"Saya bisa tidur di sofa kok dok, ini kan apartemen dokter, nggak sopan kalau tuan rumah yang harus mengalah." Tolakku yang tau diri.
"Jangan membantah, saya laki- laki, kamu perempuan, saya yang lebih pantas tidur di luar, lagian kalau kamu yang tidur di luar, tanpa kunci, kamu mau saat saya kehilangan kendali...?"
"Ish...ish...ish... Saya tidur dulu dokter!" Sela ku, mendengar kata- katanya yang mengerikan, aku pun buru-buru berlari ke kamar dan mengunci pintu kamar rapat- rapat. lalu ku pastikan kunci serep aku yang pegang.
Tak berselang lama pesan masuk di ponselku.
Dokter Tedi [ gosok gigi dulu sebelum tidur, pakai pasta gigi dan sikat gigi baru yang sudah saya letakkan di atas koper kamu.]
Aku segera melihat kearah koperku, dan benar saja, disana sudah ada kantong plastik yang ku lihat sebelumnya.
"Walah ini buat aku ternyata?" Aku pun tertawa karena sudah berpikir salah terhadap dokter Tedi, menganggap dokter Tedi pembantu pacarnya. Padahal dia melakukannya untukku.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π