Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Sahabat Debby


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 106


Harapanku, yang mengetuk pintu adalah dokter Teddy.


"Debby..." Harapanku musnah saat yang datang adalah Mbak Lidia, Sinta dan Alex. Mereka datang untuk pertama kalinya setelah insiden penusukan itu. Mereka segera menyalami Bunda, setelahnya mereka menuju ke ranjang ku.


"Kalian? Kenapa baru muncul sekarang? Perasaan dari kemarin aku disini kalian nggak ada satupun yang kesini? Padahal satu rumah sakit!" Kataku penuh kecewa. Karena mungkin akan lebih baik jika salah satu dari merekalah yang menemaniku semalam dari pada dokter Teddy yang akhirnya menimbulkan pertengkaran dan Samapi detik ini belum ada penyelesaiannya.


"Jangan menghina Deb, aku ikut andil dalam kesembuhan kamu, aku sampai terlibat dalam operasi kamu." Sela Alex.


"Masak? Emang kamu bisa?" Tanyaku yang tau bahwa Alex belum pernah ikut dalam tindak operasi, bahkan operasi kecil sekalipun karena Alex masih terbilang karyawan baru sepertiku.


"Bisa lah, bahkan dokter Teddy memujiku 'kerja kamu bagus Alex katanya' gitu" kata Alex sambil menirukan gaya bicara dokter Teddy yang datar itu.


"Terus apa lagi?" Tanyaku yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Waktu di ruang operasi, dokter Teddy sempet panik waktu jantung Debby berhenti sejenak, profesor juga sempat menegur dokter Teddy saat dia terlihat kacau. Bahkan hampir mengusirnya."


"Jadi, Profesor Atmajaya juga ikut?" Tanya ku Dengan penuh antusias.


"Iya, jarang- jarang kan?"


"Terus... Terus?"


"Ya dokter Teddy tetap melakukan operasinya, dia tidak mengijinkan Profesor mengambil alih. Benar- benar dramatis pokoknya. Dokter Teddy keren kalau tangannya sudah bekerja. 'Fokus, Alex, Cut!' pokoknya keren..." Kata Alex yang lagi- lagi menirukan gaya bicara dokter Teddy.


"Iya Deb, kita nggak kesini juga karena Dokter Teddy yang larang, katanya biar kamu istirahat dulu, jangan diganggu." Sambung Sinta.


"Assalamualaikum." Kata Dokter teddy melihat ke arah Bunda yang sedan duduk di sofa dekat pintu.


"Waalaikumsalam." Jawab kami bersamaan.


Keadaan kamar sekarang berubah, dari yang tadinya gaduh menjadi hening.

__ADS_1


"Bunda, makan dulu, saya bawakan makanan untuk Bunda." Kata dokter Teddy menyerahkan satu buah paper bag pada Bunda dan menaruh semua barang bawaannya di atas sofa.


Sekarang, ia tampak berjalan ke arahku. "Dokter Ferdi sudah kesini?" Tanyanya seraya memeriksa bekas operasiku dan juga luka di lenganku.


"Sudah dokter." Jawabku singkat.


"Sepertinya nggak ada masalah. Makanan yang saya bawa itu adalah makanan yang baik untuk pemulihan setelah pasca operasi. Makan!" Katanya sambil menunjuk kearah sofa.


"Kalian? Kenapa diem? Sepertinya tadi sedang asik membicarakan saya?" Tanyanya pada Alex dan yang lainnya. Alex terlihat menelan saliva nya dan yang lain hanya menunduk takut.


"Dokter Teddy, Bunda mau bicara diluar sebentar, boleh?" Kata Bunda mendekati kami.


"Boleh Bun, mari silahkan." Jawab Dokter Teddy.


"Bunda titip Debby dulu ya teman- temannya Debby." Kata Bunda, Bubda pun keluar dan di ikuti oleh dokter Teddy. Aku semakin penasaran dengan Bunda, apa sebenarnya yang dia sembunyikan dariku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2