
Setelah dokter Tedi menjelaskan padaku.Yang menjadi pertanyaan ku sekarang, kenapa mbak Linda bisa hamil, seharusnya dia mencegah kehamilannya, ya walaupun semua atas kehendak yang di atas.
"Saya rasa, saya cukup menjelaskan garis besarnya saja, kamu juga bukan orang awam di bidang kesehatan!" Sambungnya.
"Baiklah dok, kalau gitu terimakasih saya cukup mengerti." Aku pun beranjak dari tempat duduk ku, aku harus secepatnya memberi tahu hal ini pada mbak Linda dan mas Doni setidaknya kita bisa merencanakan tindakan selanjutnya.
"Eh...mau kemana kamu? Enak aja, konsultasi nggak bayar, nggak sopan!"
"Bayar? Oh iya lupa, saya ke Atm dulu soalnya nggak bawa uang cash karena mesin gesek yang ada di loket pembayaran sepertinya masih dalam perbaikan dok." Kataku membalikan badanku hendak pergi ke ATM yang ada di samping Rumah sakit.
"Eh tunggu, Siapa juga yang mau bayar pake uang."
"Lah terus?"
"Saya lapar belum makan malam, temenin saya makan, di warung pinggir jalan sana!"
"Hah? Nggak mau... nggak mau, apa kata orang- orang kalau saya makan sama dokter, suami saya juga, kalau Sampai lihat gimana?" Tolakku.
"Tinggal saya bilang aja istrinya nggak bisa bayar konsultasi dokter. Lagian ini juga sebagai ganti rugi Karena kamu sudah bilang saya tua... botak." Jawabnya, aku hanya bisa menelan ludah mendengar kata tua dan botak, bahkan aku belum sempat minta maaf atas kejadian waktu itu.
"Saya kan mau bayar dok, lagian nggak mungkin suami saya percaya kalau saya nggak bisa bayar, orang dia udah kasih saya black card." Jawabku beralasan.
"Mau pamer, suaminya sultan gitu? Emangnya saya peduli?" Jawab dokter Tedi sambil tersenyum sinis, sebetulnya aku bukan mau pamer tapi, aku memang benar- benar takut jika mas Doni melihat kami, warung yang dokter Tedi maksud itu tepat berada di depan kantor mas Doni.
"Iya iya ... Saya antar. Silahkan dokter!" Dengan berat hati, lalu Aku pun mengiyakan permintaan dokter Tedi, aku hanya berharap bahwa hari ini mas Doni memang benar- benar menemani mbak Lunda seharian dan tidak pergi ke kantor. Dokter Tedi segera melepas jas putihnya dan Memakai jaketnya yang terlihat modis dan mahal.
Kami berjalan menuju parkiran, dokter Tedi mengikutiku berjalan di belakangku.
"Dokter, saya naiknya motor gimana dong? Atau besok aja kalau saya naik taxsi? Lagian helmnya cuma satu." Bujukku.
"Kamu pake ini?" Tanyanya aku mengangguk cepat, batinku berkata "yes, berhasil."
"Istri sultan malem- malem gini kok dibiarin naik motor sendirian?" Ejeknya.
"Nggak usah bawa- bawa suami dok, ini motor kesayangan aku tau."
"Ya udah, kita naik motor aja. Pinjem aja helm teman kamu yang shift malam, besok pagi biar saya yang balikin, bilang aja dokter Tedi yang pinjem, pasti dikasih!" Katanya santai.
"Hah?" Aku tak percaya dengan kelakuan dokter yang satu ini.
__ADS_1
"Hah heh hah heh, buruan sana!" Perintahnya. Aku pun melakukan perintahnya, aku pergi ke UGD untuk mencari pinjaman helm, sungguh apesnya malam ini.
🥀🥀🥀
Begitu aku kembali dan memberikan helm hitam milik Alex "Terus, ini motornya siapa yang bawa?" Tanyaku,
Aku berpikir mungkin dokter Tedi tidak bisa membawa motor, aku memang awam dengan kehidupan luar negeri, tapi, di negara maju orang dengan sepeda motor lebih jarang di temui, sehingga bisa saja dia mengurungkan niatnya untuk makan bersamaku.
"Ya kamu lah Masak saya?" Jawabnya.
"Dokter nggak bisa bawa? Masak dokter setinggi ini terus saya segini, suruh saya yang bawa?" Tanyaku.
"La kalau saya yang bawa nanti dikira orang saya tukang ojek, mana mau saya."
Jawabnya.
"La emang kalau saya yang bawa orang bakal ngira apa?"
"Ngira kalau mobil saya mogok terus nebeng sama kamu!" Jawabnya enteng. Ku hembuskan nafas kasar ku, berdebat dengan orang di atas rata- rata hanya akan membuang-buang waktu bagi orang yang kemampuannya sedang sepertiku.
"Ya udah deh buruan naik, jaga jarak, tas ini buat pembatas ya, jangan dipindah!" Seruku, meletakkan tasku dibelakangku.
Jarak antara warung sate dan rumah sakit memang tak terlalu jauh, cukup seperempat jam kalau pake sepeda motor, kami segera turun dan memesan dua porsi sate kambing beserta es teh manis.
Kami pun makan tanpa suara setelah pelayan mengantar pesanan kami, terlihat dokter Tedi sangat lahap makan sate kambing, sate kambing di warung ini memang cukup populer dikalangan ibu kota, letaknya pun sangat strategis di tengah perusahaan- perusahaan besar, termasuk kantor Mas Doni.
"Dokter, apa anak kakak saya dan Kakak saya akan selamat?" Tanyaku di sela makan malam kami, dokter Tedi pun menghentikan suapannya sejenak namun tak melihatku.
"Hidup dan mati seseorang bukan kita yang mengatur, dokter hanya perantara. Sudah makan lah, nggak baik makan sambil ngobrol!" Ujarnya sambil kembali menikmati makannya.
Ku hembuskan nafas panjangku, ku lihat gedung besar yang ada di depan mataku saat ini, terlihat sudah sepi.
"Dokter tau nggak? Itu, di sana." Kataku seraya menunjuk ke ara gedung mas Doni.
"Hem" jawabnya menoleh ke arah gedung yang ku tunjuk sejenak, lalu melanjutkan makan.
"Itu gedung suami saya. Kalau dia lihat saya sama dokter di sini, malam ini, Dokter mau tanggung jawab nggak?" Tanyaku padanya agar dia juga berfikir.
"Hemm... Saya kan tadi udah bilang di rumah sakit jawaban kalau ketemu suami kamu apa, kamu sengaja mau pamer kalau suami kamu itu orang kaya dibanding saya cuma seorang dokter?" Jawabnya salah paham, padahal aku memang benar- benar takut saat ini.
__ADS_1
"Sekarang, kamu lihat gedung di belakang kamu! Tuh!" Katanya melihat gedung megah di belakangku.
"Kamu tau nggak itu milik siapa?" Sambungnya.
"Gedung itu? Ya tau lah wong itu gedung Sinar Adijaya . Milik Pak Adijaya, kalau nggak salah putra profesor Antonius adijaya, pak direktur kita." Jawabku, yang memang begitulah yang aku tau.
"Kira- kira suami kamu sama Adijaya itu perusahaannya lebih besar mana?"
"Ya Adijaya lah, Adijaya kan salah satu konglomerat di Jakarta, dan suka muncul di berita Tv dan surat kabar."
"Nah Debby, intinya di atas langit masih ada langit, jadi jangan sombong ya Debby!" Jelasnya penuh penekanan.
"B..ukan seperti itu Dok , saya bukan mau sombong, orang saya benar benar takut kalau suami saya nanti tau dan salah paham." Jelasku, aku tak mau dibilang sombong, apalah aku, hanyalah anak panti yang jadi istri kedua, apa yang ku banggakan, harta melimpah tak bisa membuat hati tentram jika cinta suamiku saja tak bisa ku dapat.
"Selama kamu nggak ngapa- ngapain nggak perlu takut, ketakutan hanya akan membuat kamu mundur, kalau saling cinta harusnya saling percaya!" Jelasnya yang membuat aku semakin merana akibat cinta? Hanyalah sebuah hal yang tabu dalam hubunganku dan Mas Doni.
"Tedi... Sayang ..." Teriak seorang wanita yang keluar dari sebuah perusahaan sambil memanggil nama Dokter Tedi, walaupun sudah paruh baya namun wajahnya masih terlihat cantik. Aku dan dokter Tedi pun terkejut dan menoleh ke arah wanita yang terburu-buer berjalan ke arah kita.
"Astaga Tante..." Kata dokter Tedi menghampiri wanita itu tergesa, ku sipitkan mataku, sepertinya wanita itu tak asing bagiku, mereka terlihat membicarakan sesuatu namun aku tak bisa mendengarnya karena jalanan cukup ramai dan jarak mereka cukup jauh dari tempat duduk ku sekarang.
Tak berselang lama, setelah wanita itu pergi dengan mobilnya, dokter Tedi kembali ke tempat duduknya lagi.
"Kenapa cengar- cengir?" Tanya nya melihat ku yang memandangnya curiga, maaf saja aku memang curiga sekarang, kalau dokter Tedi ada main dengan tante- tante.
"Jangan mikir aneh- aneh ya! Udah, bayar! Sebagai gantinya nih kartu nama saya kalau mau tanya- tanya masalah kakak kamu. Ambil!" Katanya memberikan kartu namanya padaku. Aku pun segera memasukkannya ke dalam saku celanaku lalu segera membayar makanan kami.
"Udah malam, pulang gih!" Kata dokter Tedi, saat ini kami sudah berdiri bersisihan di samping motorku.
"Dokter?" Tanyaku
"Saya udah pesen taxsi! Helm nya biar saya saja yang balikin. Besok kamu shift sore kan?" Jawabnya, bahkan aku tak tau dari mana dia tau kalau aku besok shift sore.
Aku pun segera memakai helm ku, lalu ku nyalakan motorku dan meninggalkan dokter Tedi di pinggir jalan, yang sedang menunggu taxsinya sendiri.
"Assalamu'alaikum dok."
"Waalaikumsalam, hati- hati!" Jawabnya.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊