
Aku segera berlari menuju ruang ganti, untuk berganti pakaian kerja karena sudah waktunya pergantian shift, harusnya aku mendapatkan shift malam hari ini yang dimulai pukul 8 malam nanti tapi, karena aku harus menemui Dokter Firman akhirnya aku bertukar shift menjadi shift sore daripada harus bolak balik, karena kalau malam pasti dokter Firman keburu pulang.
Tok tok tok, ku ketuk ruangan dokter Firman setelah ku pastikan sudah tak ada pasien lagi yang menunggu antrian.
"peemisi!,
iya,Cari siapa mbak Debby?" Tanya Mbak silvi, asisten dokter Firman.
"Dokter Firman nya ada mbak?" Tanya ku pelan
"Baru saja keluar." Jawab mbak silvi.
"Waduh... Kalau boleh saya tau, keluar kemana ya mbak? soalnya Saya harus segera menemuinya." Tanyaku cemas.
"Nah itu dia, saya kurang tau mbak, soalnya dokter Firman tidak perpesan sama saya. udah gini aja mbak Debby tinggalkan nomor whatsap atau nomor handpone yang bisa saya hubungi,nanti kalau dokter Firman datang, aku akan kabari mbak Debby, soalnya nggak tau kapan beliau akan kembalinya, pasien juga sudah nggak ada. nanti takutnya lama Kalau kamu tunggu Dokter firman kembali, dan lagian kan mbak Debby harus kerja." Terangnya.
"Oh, iya mbak makasih, ini nomor ponsel saya mbak" kuberikan ponselku pada Asisten dokter Firman, dan aku pun segera meninggalkannya setelah ia mencatat nomor ponselku.
Aku berjalan menuju UGD, tempat dimana aku ditugaskan dengan langkah lelah, perutku pun sudah berbunyi, jam makan siang sudah lewat, ditambah dari pagi belum sempat sarapan gara- gara harus pergi beli bahan-bahan untuk membuat nasi tim yang cukup memakan waktu.
"Sabar ya perut." Gumamku mengelus perutku yang keroncongan, ku lihat kantin sedang sepi, aku menyempatkan untuk membeli makanan ringan seperti roti dan minuman, setidaknya cukup untuk pengganjal perutku sampai waktu makan malam tiba.
Aku segera berlari menuju UGD membawa roti dan minumanku.
"Deb!" Teriak Mbak Lidia yang sedang berlari untuk menghampiriku
"iya, Mbak lidia ada apa?"
"Deb, dari tadi aku cari- cariin kamu kemana saja?"
"Ke ruangan Dokter Firman tapi dokter Firman sedang nggak ada dutempat." Jawabku menunduk sedih.
"Kenapa kamu?"
__ADS_1
"Takut mbak, takut di pecat." Jawabku memelas
"Hemm, udah jangan takut, kamu yang sabar ya."
"Eh... Deb itu bukannya dokter Firman!"kata mbak Lidia seraya menepuk -nepuk pundak ku kasar dan berkali- kali, seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.
"Hah Mana?" Ku cari sosok Dokter Firman. yang sedang berjalan melewati lorong rumah sakit.
"Eh Deb, itu pasti Dokter Tedi" kata mbak Lidia, membelalak, ku sipitkan mataku mengamati dua sosok pria yang saat ini memasuki pintu utama Rumah Sakit.
"Ya ampun Deb, ini sih definisi Bibit unggul yang benar-benar hakiki Deb" Kata mbak Lidia tersenyum dengan gemas.
"Bukan, itu bukan Dokter Tedi mbak, itu Mas Aska namanya Mbak? Dokter Tedi bukannya udah tua?" Kataku, setelah ku amati bahwa yang berjalan bersama Dokter Firman itu adalah Mas Aska, orang yang satu taksi denganku tadi pada saat dibandara menuju rumah sakit, aku tak heran jika mbak Lidia seantusias itu, karena memang tak dapat dipungkiri bahwa sosok Mas Aska memang tampan, tapi bagiku hanya suamiku lah yang paling tampan.
"Tua? Jangan ngawur kamu Deb, Dokter Tedi itu Belum genap 30 tahun, nikah aja belum, malah kamu bilang tua, jangan mengada-ngada deh!" Jelas mbak Lidia yang membuat perasaan ku mulai ragu.
"Hah?" Tiba- tiba aku pun teringat dengan pesan terakhir mas Aska, bahwa kalau mau jemput orang minta fotonya biar nggak salah, aku teringat lagi dengan kata-kata USA, ku amati lagi saat ini pun dia memakai kaca mata hitam, berbeda saat dia berada di bandara dan di taxsi tadi, tanpa kacamata, oh tidak, "tamatlah riwayatku" batinku.
Ku tundukkan dan ku balikkan badanku, berharap mereka tidak melihatku.
"Mbak Lidia, lepasin Mbak, aku musti pergi mbak!" Kucoba terus melepas genggaman tangan Mbak Lidia namun tetap gagal, ku putuskan untuk mencubitnya dan akhirnya berhasil.
"Aaaaw... Debby! Sakit." Teriak mbak Lidia
"So...sorry mbak Sorry, kebelet!" Kataku beralasan, aku segera berlari meninggalkan Mbak Lidia.
"Debby!" Panggil Dokter Firman menghentikan langkahku.
"Mati lah aku, tamat!" Gumamku, aku berbalik menyapanya mencoba bersikap seolah tak ada apa- apa.
"Dokter... selamat siang" Sapaku tersenyum semanis dan seramah mungkin.
"Debby, ikut ke ruangan saya!" Kata Dokter Firman, Dokter Firman pun segera berlalu pergi ke ruangannya. Dan laki- laki yang satu ini, hanya mengiringkan senyumnya.
__ADS_1
"Makan dulu! Biar kuat menerima kenyataan kalau harus di pecat nantinya!" Katanya memberikan paper bag yang berisi kotak makan, sepertinya dari kantin. Dan dia pun melenggang pergi.
"Ya ampun, mbak nggak salah lihatkan Deb? Dokter Tedi sweet banget, kamu udah ketemu ya!"
"Sweet sweet... Apaan gara- gara dia tu aku bakalan di pecat. Nih buat mbak aja, udah nggak nafsu!" Ku berikan paper bag dan rotiku pada mbak Lidia dan segera ku ikuti Dokter Firman dan Dokter Tedi yang telah duluan berlalu.
Tok tok tok, ku ketuk pintu ruangan dokter Firman dan Dokter Firman mempersilahkan aku masuk.
"Duduk Deb!" Perintahnya, aku pun segera mengikutinya, ku lihat tak ada Mas Aska di sana, ehhh...maksudku Dokter Tedi, aku bisa sedikit lebih tenang.
"Dok, saya bener- bener minta maaf... Banget, tadi ada kecelakaan, jadi saya telat. Saya akan terima semua konsekuensinya." Kataku yang lain di mulut lain di hati.
"Deb, kamu tidak perlu menjelaskannya, Dokter Tedi sudah menjelaskan samanya pada saya tadi, saya senang dengan sikap kamu yang mementingkan keselamatan orang lain." Ujar Dokter Firman, aku membelalak tak percaya, aku tak habis fikir, aku kira Dokter Tedi akan menjatuhkan ku dan memecatku, bukannya dia orangnya ganas?
"Kamu bisa ambil uang jalan mu di bagian keuangan, dan sekarang kamu bisa kembali bekerja." Sambungnya lagi.
"Jadi, Bapak nggak jadi pecat saya?" Tanyaku memastikan.
"Tentu saja Tidak Debby! Lagi pula kamu kesini jugakan sama Dokter Tedi!"
"I..ya pak, makasih banyak Pak kalau begitu, kalau gitu saya permisi, sekali lagi terimakasih." Kataku lalu aku berpamitan dan kembali ke tempatku.
Aku keluar dari ruangan Dokter Firman dengan hati yang riang dan sangat bahagia, tak peduli entah seberapa malu nya aku dihadapan Dokter Tedi, lagi pula UGD tidak berhubungan langsung dengan para Dokter spesialis seperti mereka, sehingga aku lebih tenang karena tidak akan sering bertemu dengan Dokter Tedi lagi.
"Mbak, sini makanku!" Kataku menemui Mbak Lidia yang hendak menyantap makanan yang tadi ku berikan.
"Kamu bilang nggak nafsu!" Ujarnya.
"Udah ini aja buat mbak, yang ini buat aku!" Kuberikan roti dan minumanku pada mbak Lidia dan paper bag dari Dokter Tedi aku ambil lagi, setidaknya isi paper bag itu terlihat makanannya lebih berat dan mengenyangkan pastinya.
"ih awas ya kamu Deb!" Teriak mbak Lidia yang melihat ku pergi membawa paper bag beserta isinya.
"Bodo amat, yang penting aku mau makan dari pada mati kelaparan!" Jawabku sambil mengejek mbak Lidia dan mempercepat langkah meninggalkan Mbak Lidia yang sedang kesal atas tingkah ku.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π