
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 96.
"Dokter, jantung Debby terus melemah. Tekanan darah mengalami penurunan drastis." Kata dokter Piket, aku semakin panik. Baru kali ini aku merasakan hal yang berbeda saat aku ada di ruang operasi. Jika biasanya aku tenang tapi tidak saat Debby yang menjadi pasienku. Ternyata sangat sulit mengontrol diriku saat yang menjadi pasienku adalah orang yang sangat berarti bagiku.
"Teddy... " Sentak kakek yang menggoncang tubuhku yang masih mematung setelah mendengar kata- kata dokter itu, aku menoleh.
"Dokter Teddy, dengarkan saya. Jangan panik, fokus! Kepanikan mu justru akan membahayakan nyawa Debby." Kata kakek yang saat ini ikut serta di ruang operasi bersamaku. Ku hela napas panjang.
"DOKTER Teddy, anda mau seperti ini terus atau saya yang akan mengambil alih operasi ini? Kalau anda seperti ini terus silahkan keluar dari ruangan ini!" Ancam kakekku yang sudah mulai tersulut emosi dengan melihat sikapku.
__ADS_1
"Tidak Prof, biar saya." Jawabku.
"Yakin?" Tanya Kakek memastikan, aku tau apa yang aku lakukan berhubungan dengan nyawa seseorang, dan tentu kakek harus memastikan kesiapan ku. Ku anggukkan kepalaku pelan. Dalam hatiku hanya bisa berkata "Fokus, tenang" Untuk menetralkan kepanikanku.
"Semua sudah siap? Kita akan melakukannya sekarang!" Kataku, mereka mengangguk Pelan.
πΈπΈπΈ
Hampir 4 jam aku menangani operasi Debby hingga akhirnya operasi selesai. Mengoperasi orang dengan luka tusukan mungkin adalah hal biasa bagi seorang dokter sepertiku. Namun akan menjadi tidak biasa jika yang terbaring di meja operasi adalah orang yang sangat berharga bagi hidupku. Dari sini aku belajar dan tau, menyuruh keluarga pasien untuk tetap tenang saat pasien dalam kondisi tidak baik- baik saja memang gampang. Namun dari sini pula aku pun tau kenapa mereka lebih cenderung untuk menangis dan susah melakukan seruan dari dokter selama ini.
Aku keluar dari ruang operasi, ku sandarkan tubuhku pada dinding yang ada di luar ruang operasi. Yang bisa ku lakukan hanya duduk, memeluk lututku yang serasa tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri.
__ADS_1
Terlihat Bunda Mira, Mama dan Papa menghampiriku. Entah siapa yang sudah menghubungi mereka hingga mereka sudah ada di depan luar ruang operasi.
"Nak Teddy, apa Debby baik- baik saja Nak? Apa terjadi sesuatu pada Debby di dalam sana?" Tanya Bunda Mira dengan paniknya. Aku masih termangu, rasanya bibirku masih Tak dapat menjawab pertanyaanya.
"Teddy..., Lihat Mama Ted. Apa yang terjadi?" Tanya Mama yang menggoncang tubuhku dan mengarahkan wajahku ke arahnya.
"Ma... Aku hampir kehilangan Debby Ma, Aku takut kalau Debby pergi meninggalkanku." Keluh ku, ku peluk Mama, Mama satu- satunya yang bisa menjadi sandaran ku saat ini. Ketakutan akan kehilangan Debby mampu membuatku tanpa sengaja mengeluarkan buliran bening itu tanpa sengaja.
"Stttt..." Mama mengusap punggungku pelan.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π