Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Dia pantas dicintai


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 121


Dia pasti tau apa yang harus dia lakukan. Jika dia bisa bertahan dengan perasaannya selama satu tahun dan jauh darimu bahkan masih dengan rasa sakitnya karena kesalah pahaman, lantas apa yang kamu khawatirkan?" Tanya Bunda.


"Rindu Bunda, menahan rindu itu sulit." Keluhku, ku hapus air mataku. Dan Bunda terkekeh.


"Rupanya Anak Bunda benar- benar sudah jatuh cinta?" Katanya menertawakan ku.


"Bunda... Jangan menggodaku" rengekku.


"Nak Teddy memang pantas untuk dicintai, Bunda sudah terkesan dari pertama kali melihatnya. Bunda tau, apa tujuannya waktu itu, dengan berkata akan kembali dan menitipkan mu pada Bunda. Ta'aruf, khitbah lalu menikah. Itulah tujuannya. Benar- benar penuh perhitungan."


"Ya penuh, sampai - sampai, masa Iddah yang tidak aku tidak punya saja dia hitung." Batinku kesal.


"Tapi, sama saja kan Bun, kalau ujung- ujungnya harus pergi meninggalkan ku?"

__ADS_1


"Bukan pergi Debby, bukan kah dia berniat membawamu ikut serta bersamanya? Berhubung keadaanmu seperti ini harus ditunda?" Tanya Bunda, bagaimana Bunda bisa tau kalau dokter Teddy menginginkan aku bersamanya pergi ke USA?


"Kenapa Bunda sudah seperti paranormal? Kenapa bisa menebak dengan benar?" Gumamku.


"Ya karena Bunda lebih tau suamimu dibanding kamu." Jawabnya, ternyata Bunda mendengar gumamanku, lagi- lagi ia terkekeh.


Di tengah perbincangan terdengar pintu diketuk dan seseorang masuk.


"Assalamualaikum" sapanya


"Kenapa Bu Widia ada disini Bunda?" Bisikku pada Bunda saat aku sadari bahwa Bu Widia lah yang datang, donatur Panti. Bu Widia datang dengan membawa beberapa paperbag di tangannya.


"Menjengukmu, apa kamu lupa dia adalah donatur panti dan kamu anak panti?" Jawab Bunda, aku pun mengerti. Bunda beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Bu Widia untuk duduk di sebelahku setelah menyerahkan paperbag itu ke pada Bunda.


"Bagaimana keadaanmu Debby?" Tanyanya dengan lembut


"Sudah lebih baik Tante." Jawabku menunduk, ini adalah kali keduanya kami duduk begitu dekat setelah satu tahun yang lalu di apartemen dokter Teddy, aku tak tau apa yang akan dia pikirkan jika tau aku benar- benar menikah dengan dokter Teddy, pasti ia akan berpikir bahwa terjadi sesuatu waktu itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, Tante ikut senang." Jawabnya tersenyum ramah, jika dulu dia sempat menunjukan raut kemarahannya padaku saat pertama kali melihatku di apartemen, namun berbeda dengan kali ini. Kali ini yang ku lihat hanya wajah ramah dan teduh dengan ribuan senyuman di wajahnya.


"Kenapa Deb? Kenapa diam? Apa kamu merasakan sesuatu? Sakit mungkin?"


"Nggak Tante, saya nggak papa kok." Jawabku.


Kami pun mengabiskan waktu bersama, banyak hal yang kami bahas, aku lebih mengarahkan perbincangan kami membahas panti asuhan dibanding hal pribadi, karena bisa saja aku akan keceplosan bahwa sudah menikah dengan dokter teddy, anak dari sahabatnya itu.


🌸🌸🌸


Satu Minggu berlalu setelah kepergian dokter Teddy, selama ini kami hanya bisa berhubungan lewat layar datar dan pipih itu, dia baru menghubungiku beberapa kali. jarak dan waktu antara Jakarta- USA cukup membuat kami kesulitan untuk berkomunikasi. Walaupun begitu tak membuat surut keinginan kami untuk saling berhubungan walau hanya sekedar bertanya sedang apa dan makan apa. tak jarang dia harus begadang malam hanya untuk menghubungiku, Hubungan yang penuh perjuangan, itulah yang ku alami saat ini. Dan ternyata tidak sesulit yang ku bayangkan, hidup akan lebih berwarna jika ada yang di nanti- nanti.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2