Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Prov Debby


__ADS_3

"Sini coba saya lihat!" Ia berjongkok di depanku, lalu memeriksa kakiku.


"Nggak, ngak bengkak, juga nggak memar. jangan-jangan kamu ngerjain saya ya?" Tuduhnya meletakkan kaki ku ke lantai lagi.


"Kan saya udah bilang ini udah mendingan, sakitnya tadi pas baru jatuh, lagian apa dokter lupa kalau saya tenaga medis?" Jawabku, ia pun terlihat sangat kesal.


"Terserah kamu lah Debby, nih cemilan, saya mau mandi dulu udah gerah!" Katanya memberikan satu kantong lagi dan ia letakkan di atas meja depanku.


Setelah dokter Tedi masuk ke kamar, aku membuka kantong plastik yang berisi banyak makanan ringan itu, ada banyak sekali berbagai macam snak, wafer, keripik, dan juga ada berbagai aneka minuman, tapi tentu saja tanpa soda pastinya. Sepertinya ia membelinya saat membeli titipanku tadi, dan anehnya ada sikat gigi, sabun mandi wanita, sabun muka wanita, dan juga pasta gigi yang dibungkus terpisah tentunya. "Ini punya pacarnya yang kemarin kesini kali ya? Pacar apa pembantu? sampe sabun sama sikat gigi aja suruh beliin?" Gumamku. Aku tak mau lancang membongkar milik orang, ku kembalikan dan ku bungkus rapi seperti semula. Ku nyalakan tv dan ku nikmati cemilan pemberian dokter tedi, setidaknya bisa untuk menganjal perutku yang belum makan sampai selarut ini, tadinya aku sempat ingin memasak Mi instan namun, sepertinya dokter Tedi tidak terbiasa makan mi instan, terbukti, walau hidup sendiri dan selalu sibuk, di dapur tidak ku dapati mi instan walau hanya satu bungkus.


🥀🥀🥀


Hampir satu jam dokter tedi belum juga keluar dari kamarnya, mungkin dia sudah tertidur, ku matikan TV dan bersiap untuk tidur di sofa, belum juga sempurna merebahkan tubuhku disofa, cekrek... Dokter Tedi keluar dari kamarnya lalu menghampiriku. Aku pun terkejut dan kembali duduk.


"Roti sandwich coklatnya mana? Kamu simpan di lemari ya cemilannya Deb?" Tanya nya membuka kantong belanjaan yang hanya berisi beberapa sisa Snack saja.


"Nggak saya simpen dokter, tapi saya makan. Roti nya kan cuma satu itu aja." Jawabku

__ADS_1


"Apa? Sebanyak itu?wah berasa tinggal bareng gumiho ya, Makan banyak bener Deb?" Tanyanya menghempaskan tubuhnya ke sofa, bagiku sekarang dia lebih cenderung memarahi. Karena dokter Tedi itu sukanya marah- marah terus sesuai pengamatan ku.


"Maaf dokter, tadi dokter bilang 'nih cemilan' berarti kan dokter kasih ke saya. Lagian dokter mandinya lama banget sih... udah kayak gadis! Lagian gumiho di draKor yang pernah saya lihat tu sukanya makan daging, bukan yang kayak beginian" Jawabku, kalau pun makanan yang diberikan tadi tidak aku makan, aku yakin dia pun akan marah juga. Jadi, ya udah aku sudah siap dan mulai terbiasa.


"Ya ampun Debby...Debby Saya juga butuh sholat Isya' Debby! Lagian bisa sakit kamu kalau terlalu banyak makan yang begituan."


"Kalau udah tau bisa sakit, kenapa beli begituanya banyak bener dok? Sayakan lapar, dari tadi saya belum makan dan dokter nggak punya Mi Instan kan?" Tanyaku balik.


"Ya ampun Debby, cerdas sekali ya kamu, nggak heran jadi lulusan terbaik." Pujinya akupun tersenyum lebar.


"Iya lah, dokter tau aja kalau saya lulusan terbaik. Emang di rumah sakit udah tersebar ya beritanya?" Tanyaku dengan penuh percaya diri.


"Nasi masih ada kayaknya tu, masak aja bahan di kulkas!" Katanya Menyalakan TV. Aku pun dengan berat hati menuju ke dapur, ku buka kulkas, memang banyak bahan disana, dari sayuran, lauk pauk,dan sebagainya. Tapi hanya satu yang menjadi tujuanku. Telur yang berjejer di bagian pintu kulkas. Ku ambil dan segera ku nyalakan kompor. Ku buat telur dadar favoritku, aku beri kecap, karena tak ada cabai atau saus sambal di sana. Tak lama, telur dadar kecap siap di santap.


Bukanya aku malas, ya masak, anak yatim piatu malas dan manja sampai masak aja nggak bisa, bagiku sudah ada yang mengurusku saja aku sudah bersyukur Alhamdulillah banget. Jadi, dulu waktu di panti, mbok mar dan bunda selalu melarang ku untuk ke dapur, katanya kalau aku turun ke dapur akan membuat dapur seperti kapal pecah dan menambah banyak pekerjaan mereka. Akhirnya, aku diberi tugas cuci baju dan beres- beres panti aja.


"Bikin apa kamu?" Tanya dokter Tedi yang tiba- tiba saja ke dapur, sepertinya mau mengambil air minum, segera ku tutupi piringku.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tutupi? Saya nggak minta! Makan saya nggak sebanyak kamu!" Katanya lalu meminum air dan aku kembali menyantap telur dadarku.


"Telor kecap apa telor gosong sih itu Deb?" Tanyanya sambil menyipitkan mata yang mengamati ke arah piringku


"Kecap." Jawabku malas.


"Susah nelennya? Bukannya biasanya kalau lihat makanan kayak gumiho yang lagi lapar?" Ejeknya, aku tak menghiraukannya dan tetap fokus pada nasi dan telurku, dalam hatiku hanya bisa berkata "sabar... Deb... sabar, besok aku pasti akan dapat tempat baru!"


Sebenernya sih nggak gosong- gosong juga, cuma pas aku kasih kecap kebablasan gara- gara aku fokus sama pesan mbak Lidia yang bilang kalau Direktur akan berulang tahun hari Senin dan aku diajak menghadiri acaranya.


"Ambil bawang sama sayur!" Perintahnya.


"Dokter Laper? tapi nasinya tinggal ada yang di piring saya ini..." kataku yang memang begitulah adanya, dokter Tedi sepertinya tidak memasak nasi berlebih. Ia tak menjawab, aku pun sadar apa maksudnya. Aku segera beranjak dari duduk ku dan mengambil apa yang ia perintahkan.


"Ini dok" Ku berikan sayuran dan bawang seperti apa kata dokter Tedi. Dan benar saja piring nasiku diambil olehnya. "Yah, nggak jadi makan lagi... Perut nasibnya gini banget ya!" Gerutuku pelan. Aku pun pergi dari tempat itu, ku pikir dokter Tedi sedang ingin makan juga.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊


__ADS_2