Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
kecewa


__ADS_3

Aku Buakn Rahim Cdangan


Part 76


Pria dengan jas hitam dan kacamatanya yang khas. Tak salah lagi, pria itu adalah dokter Teddy, orang yang selama ini aku tunggu- tunggu. Senyum tersungging di bibirku kala melihatnya untuk pertama kali setelah sekian lama kami tidak berhubungan.


"Dokter..." Teriakku dia tak mendengar dan terus melangkah menuju gedung. Aku bergegas menemuinya, namun beberapa orang security menahan ku, dan meminta tanda pengenalku. Karena aku bukan peserta seminar, mereka melarang ku untuk masuk kedalam


Aku pun kembali menunggu di tempat yang sebelumnya. Cukup lama aku menunggu, ku habiskan waktuku dengan bermain game untuk menghilangkan rasa jenuhku. Hingga tiba waktunya istirahat dan makan siang. Acara seminar pun seperti nya sedang diistirahatkan, terlihat banyak orang yang mulai keluar dari gedung, ada yang merokok dan ada pula yang pergi ke masjid.

__ADS_1


Samar- samar ku lihat sosok dokter Teddy di tengah banyak nya orang yang berlalulalang, sedang bersama beberapa orang dan di ikuti juga beberapa muda mudi yang ada dibelakangnya, sepertinya akan menuju Masjid. Kebetulan Masjid ada di belakangku. Aku segera beranjak dari tempat dudukku. Ku lempar senyum semanis mungkin "Dokter..." Teriakku sembari melambaikan tangan padanya. Dia tersenyum berjalan ke arahku, semakin dekat dan dekat, dadaku semakin berdebar. Karena tak sabar aku pun melangkahkan kakiku mendekatinya.


"Dokter..." Sapaku saat jarakku dan dokter Teddy hanya tersisa beberapa langkah lagi. Beberapa orang yang bersamanya menatapku heran, tapi berbeda dengan dokter Teddy, dia tak menoleh atau membalas panggilanku. Dia berlalu melewatiku, seolah tak mengenalku. Seketika senyum ku berubah menjadi kecewa, bibirku Kelu, mataku pun memanas, tak terasa mulai berkaca-kaca.


Netraku terus mengikuti kemana dia pergi dan sampai nanarnya menghilang dari pandanganku, sedikitpun dia tak menoleh kepadaku sama sekali.


Aku tak menghiraukan atau melawannya, berdebat disini bukan lah tempatku yang hanya seorang perawat biasa. Dibandingkan meraka aku bukanlah siapa- siapa. Ku tinggalkan tempat itu bersama lukaku. Ku kendarai sepeda motor ku menuju panti, kata- kata wanita itu membuatku semakin tau diri. Siapa aku dan siapa dokter Teddy. Sikap dokter Teddy padaku juga sudah cukup menjawab semua penantian ku selama ini. Ku hapus air mata yang tanpa ku sadari sudah membasahi pipiku.


Aku bergegas masuk ke kamar. "Loh Deb, sudah pulang ndok...? Kok nggak salam masuk Rumah?" Kata Bunda yang sedang melipat baju bersama mbok mar di ruang tengah. Aku tak menjawab ku tutup pintu kasar ku hempaskan tubuhku di atas ranjang, dan ku benamkan wajahku di atas bantal. Ku tumpahkan semua nya. Saat ini yang ku butuhkan hanya lah menangis sepuasnya hingga aku merasa lega.

__ADS_1


Tok ...tok... tok terdengar pintu kamarku diketuk. Sudah dipastikan bahwa itu adalah Bunda.


"Debby..." Panggil bunda dari balik pintu. Aku tetap pada posisisku.


"Bunda masuk ya Nak...?" Sambung Bunda. Cekrek... Bunda membuka pintu tanpa menunggu jawaban dariku. Ku usap air mataku kasar lalu beranjak duduk di tepi ranjang. Aku tak mau Bunda melihat kesedihanku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2