Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Menggoda


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 104


Cekrek... Begitu pintu terbuka, ku lihat Debby berbaring seorang diri. Pertanda kedua orang itu sudah pergi. Ku bawa nampan dan meletakkan di nakas kosong di sebelah ranjang Debby.


"Dokter? Kenapa dokter yang bawa makan?" Tanya Debby begitu ringan bagai orang tanpa dosa.


"Siapa yang bawa nggak penting, makanlah! Dan setelah itu minum obatnya." Kataku meninggalkan Debby dan duduk di sofa. Tak ada keberanian untuk bertanya apa yang mereka bicarakan walaupun dalam hatiku ingin sekali mengetahuinya. Ku mainkan gawai ku untuk mengusir rasa canggung ku agar terlihat lebih sibuk.


Waktu terus berputar, ku lihat infus Debby sudah waktunya diganti. Ku hubungi perawat untuk membawakan infus dan menggantinya dengan yang baru.


Ku hampiri dan ku lihat makanan serta obat masih tak sentuh sedikitpun.


"Nggak mau makan? Nggak mau minum obat?" Ketusku.


"Gimana caranya makan dok?"


"Ya Ampun, iya juga ya, Kenapa aku bisa lupa? Bener juga gimana makannya kalau duduk aja belum bisa sendiri?" Batinku seraya melihat posisi Debby saat ini.


"Kenapa nggak minta tolong?" Tanyaku.


"Dokter sibuk." Jawabnya. Ku hela napas panjang.


"Saya bantu. Saya suapin kamu!" Ku atur ranjang Debby dengan posisi sedikit duduk dan bersiap untuk menyuapinya.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok pintu di ketuk, aku yakin itu adalah perawat yang akan mengganti infus.


"Selamat malam dokter!"


"Malam."


"Ganti infusnya dulu ya Mbak Debby." Seru perawat itu dan mulai melaksanakan tugasnya, mengganti infus dengan yang baru.


"Sus, sekalian Debby disuapi dulu. Setelah itu kasih obatnya." Perintahku.


"Hah? Oh iya dok!" Jawab perawat yang terlihat bingung namun tetap melaksanakan perintahku.


Aku kembali ke sofa, dan perawat itu mulai menyuapi Debby.


Beberapa menit kemudian.


"Ya, Makasih sus." Jawabku.


Ku hampiri Debby.


"Masih ada keluhan apa?" Tanyaku.


"Sudah lebih baik dari tadi dok?" Jawabnya.


"Apa karena sudah bertemu dengan Pak Donj? Sehingga rasa sakitnya hilang secepat ini?" Sindirku, jantungku ikut berdebar saat aku menanyakan hal itu pada Debby.

__ADS_1


"Maksud dokter?" Tanya Debby.


"Kenapa makanannya nggak dihabiskan?" Tanyaku yang melihat makanan di nakas masih tersisa sangat banyak.


"Apa mau dipanggilkan Pak Doni? Untuk menyuapimu?" Sindirku lagi, entah apa yang ada di pikiranku sekarang, aku hanya bisa meluapkan emosiku dengan terus melontarkan sindiran-sindiran pada Debby.


"Kenapa nggak dokter aja yang nyuapi?" Kata Debby yang menggodaku, bukan kemarahan yang ia perlihatkan saat aku menyindirnya, namun ia justru melempar senyum genitnya padaku.


"Apa? Mau disuapin sama saya?" Tanyaku, dia mengangguk cepat. Ku hela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang, ku ambil sesendok nasi dan lauk dan ku ulurkan ke arah Debby "Ni... Makan!"


"Nggak usah senyum- senyum, buruan, saya capek mau istirahat." Kataku saat melihat Debby mencuri pandang dan sesekali tersenyum padaku.


"Dokter, marah?"


"Untuk apa?"


"Untuk tadi?"


"Tadi apa? Saya nggak inget. Makan, jangan bahas sesuatu kalau lagi makan!"


"Minum obat, lalu tidur."


"Saya mau bicara dulu dokter."


"Saya capek, besok saya ada seminar pagi- pagi sekali, istirahatlah."

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2