Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Mengobati Rasa Rindu


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 80


POV Debby


Aku terkejut saat membuka pintu dan Dokter Teddy sudah berdiri di hadapanku, rasa canggung mendominasi pertemuan kami. Ya, dia datang ke panti sore ini. Hatiku menghangat saat melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Namun hatiku kembali terluka saat dia menyebut nama Aldo. Kenyataannya dia ke panti hanya untuk bertemu Aldo, bukan untukku. Kedatangannya bagaikan menabur garam di atas lukaku yang masih basah dan menganga akibat perbuatannya tadi siang.


Aku segera pamit pada bunda, aku beralasan ada urusan penting. Aku pergi ke Rumah sakit, hanya tempat itu yang menjadi tujuanku saat ini. Aku bisa menunggu sambil membantu rekan- rekan disana sampai waktu shift malam tiba. Dari pada harus berlama-lama di rumah dan melihat dokter Tedi yang tak ingin melihatku itu.


"Debby, habis kerja besok malam Minggu kita nobar yuk!" Ajak Sinta


"Nonton bareng?"

__ADS_1


"Iya."


"Di rumah siapa?"


"Di bioskop lah." Jawab Alex.


"Pilih drama Korea deh... Gimana?" Rayu Sinta lagi.


"Nggak ada, seru- seruan aja." Jawab Alex. Aku berpikir.


"Boleh lah." Jawabku, ku pikir tak ada salahnya menerima ajakan mereka. Siapa tau bisa menghiburku disaat aku galau seperti ini.


Aku menghabiskan waktuku, dengan memainkan gawaiku. Scroll IG dan game. Merasa bosan dan lapar membuatku harus pergi ke kantin dan membeli makanan sebelum pekerjaan ku di mulai.

__ADS_1


Saat aku menuju kantin, aku lihat sekelibat mobil Mas Doni memasuki halaman rumah sakit, aku mempercepat langkahku, semoga saja mereka tak melihatku. Hatiku bertanya, "siapa yang sedang sakit?" Namun aku segera menyadarkan diriku untuk tidak lagi peduli pada apa yang terjadi pada keluarga mereka.


POV Teddy


Aku kembali ke hotel setelah membayar janjiku pada Aldo, aku juga sempat pergi bersamanya hanya untuk sekedar membeli mainan dan ice cream untuk anak- anak. Rasanya begitu bahagia melihat mereka bahagia dengan pemberianku. Dan yang lebih membuatku bahagia adalah saat di sepanjang perjalanan membeli ice cream tadi, yang Aldo ceritakan hanya mbak Debby, mbak Debby, dan Mbak Debby. Semakin Aldo bercerita tentang Debby, semakin aku memancingnya. Apa yang Aldo ceritakan sedikit mengobati rasa rinduku pada Debby.


Ku rebahkan tubuhku di ranjang, setelah ku tunaikan kewajiban isya' ku. Hari ini cukup melelahkan bagiku. Tapi aku senang lelah ku rasanya terobati saat mendengar status Debby. Ku buka gawaiku, ku buka galery foto, disana masih tersisa satu foto Debby, foto yang belum ku hapus hanya bisa ku sembunyikan dalam file rahasiaku. Foto Debby yang ku ambil diam- diam saat kami makan malam di dapur apartemen. Senyuman lagi- lagi terukir saat aku melihat foto Debby yang tengah asik ber-selfie dengan daging ala koreanya.


Senyumku memudar saat teringat pesan Bunda sebelum aku meninggalkan panti. Pesan yang menyuruhku untuk mengajak orang tuaku ke panti. Aku sudah menceritakan tentang keluargaku pada Bunda, tentang masalahku dengan keluargaku selama 8 tahun terakhir. Bahkan siapa mereka pun sudah ku ceritakan pada Bunda. Bunda tidak berkeberatan dengan masalah ku dengan keluargaku. Bunda hanya ingin jika orang tua ku tau tentang rencana ku menikahi Debby. Dan masalah Debby? Bunda sendiri yang akan mengurusnya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2