
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 53
POV Doni
Melihat Debby dengan dokter itu rasanya ingin sekali aku menghajarnya, namun sepertinya harus lebih cerdas lagi untuk melawan orang seperti dokter Teddy. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar bisa melawannya.
Setelah perdebatan ku dengan Debby dan Teddy itu, aku segera mengajak Linda untuk pulang. Selain tak enak dengan Pak Atmajaya yang merupakan rekan binisku sekaligus tetangga gedung denganku, aku juga tak mau mendengar sindiran- sindiran dan pujian tentang Teddy dari teman- teman kerja Debby yang membuat kupingku panas seketika.
Di perjalanan pulang aku dan Linda saling hening, aku tau saat ini Linda sedang marah padaku. Aku tak mau meladeninya, karena itu hanya akan menambah masalah bagiku.
__ADS_1
"Mas, apakah kamu masih mengharapkan Debby?" Tanya Linda tiba- tiba, membuatku terpaksa harus menginjak rem mobilku dengan mendadak. Apa yang aku lakukan akhirnya menimbulkan sedikit benturan pada perut Linda.
"Linda, kamu baik- baik saja? Maafkan aku!" Kataku memeriksa kepala dan perut Linda yang meringis kesakitan. Dan dia langsung segera menepis tanganku.
"Hatiku yang nggak baik- baik aja Mas." Jawab Linda
Ku hempaskan tubuhku yang sudah merasa sangat lelah.
"Bisa nggak lebih dewasa Linda?"
"Linda, itu hanya masalah sepele saja kenapa dibesar- besarkan si?
__ADS_1
"Bagiku itu sangatlah penting Mas. Apa yang kamu lakukan dan bicarakan pada Debby di belakangku tadi?"
"Aku hanya memintanya untuk pulang ke rumah, untuk menemui Mama dan Papa." Jawabku, tak mungkin mengatakan aku meminta rujuk pada Debby dan Debby menolaknya. Sebesar apapun rasa kecewaku pada Linda, aku harus memikirkan anakku yang dikandungnya, mengingat kondisi Linda yang sangat lemah dan rapuh.
"Apakah kamu yakin? Kenapa perasaanku berkata lain? Ingat Mas, surat talak sudah ada di pengadilan dan tak lama lagi pengadilan akan memanggil untuk sidang. Ingat janjimu padaku dan Anakku mas!" Ancam Linda, ya memang itulah yang terjadi. Aku harus memilih antara Debby dan Anakku, itu pilihan yang sama- sama sulit bagiku, kesulitan itu bertambah setelah Papa dan Mama pulang. Yang ku sayangkan adalah aku tak memikirkan dampak dari talak ini terhadap kedua orang tuaku nantinya. Nasi sudah menjadi bubur. Hanya Linda dan Debby yang bisa mengembalikan pernikahanku. Tapi sepertinya mustahil, surat talak ku sudah sampai di pengadilan. Linda? sampai detik ini Hanya menginginkan perceraian ku dengan Debby, entah apa yang terjadi pada istriku yang dulu begitu baik dan lembut sekarang. Dan Debby? Sudah menolak keinginan rujuk ku sudah dipastikan dia akan menolak ku juga di sidang nanti. Aku yakin Debby pasti menang karena nafkah batin pun belum ku berikan padanya, ditambah perlakuanku yang tidak pernah adil padanya. Ini benar- benar rumit bagiku, apa yang ku lakukan bertolak dengan hati nurani ku.
"Aku akan berusaha Linda. Sekarang kita pulang ya udah malem, nggak baik untuk kesehatan kamu dan anak kita." Jawabku Entah kenapa panggilan sayang pada Linda sekarang seolah menjadi beban berat untukku.
Ku nyalakan mesin mobil kembali dan ku arahakan menuju Rumah.
Tak lama kami pun tiba di halaman rumah, Linda memilih untuk langsung masuk tanpa menungguku, aku tau dia masih marah adaku. "Ya Tuhan..." Ku hembuskan napas panjang, ingatan tentang Debbu kembali terbayang diotakku. Ku putus kan untuk menghubungi Debby, aku khawatir dengan kondisinya setelah jatuh di pesta tadi. Berkali- kali ku hubungi namun dia tak ada jawaban darinya. Hingga suara laki- laki yang sudah pasti dokter Teddy mengangkat telepon disebrang sana. Sedikit perselisihan terjadi antara aku dan laki- laki tampan itu, ya ku akui dia memang berkharisma dan pastinya pintar.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π