
"Ayo Ma, Pa masuk." Kataku, ku bawa koper dan berbagai belanjaan mereka, sepertinya oleh- oleh dari haji dan dari liburannya.
"Dimana menantu Papa yang satunya lagi?" Tanya Papa tiba-tiba, saat ini kami duduk berempat di ruang tamu. Dadaku langsung sesak mendengar pertanyaan Papa, Aku tak tau lagi harus menjawab apa, papa memang sudah tau kalau aku menikah lagi atas keinginan Linda yang tidak bisa dibantah, dia juga sudah tau bahwa aku menikahi Debby, salah satu anak asuh bunda Mira , mereka pun sempat beberapa kali bertemu dulu waktu penggalangan dana di panti.
"Debby..."
"Debby masih ada di Panti Pa, Debby masih belum mau tinggal bersama di sini , maklum dia masih muda, Doni tidak mau memaksanya." Jawabku sebelum Linda menjawab pertanyaan Papa yang akan membuat keadaan semakin sulit, setidaknya aku bisa mencari alasan dan mencari waktu yang tepat dulu untuk menyampaikan bahwa aku dan Debby sudah bercerai. Linda terlihat marah dengan jawabanku, aku tak memperdulikanya, yang terpenting aku menjaga perasaan orang tuaku, terlebih mamaku yang memiliki riwayat jantung. harus benar- benar berhati - hati dalam setiap menyampaikan sesuatu, apalagi sesuatu yang buruk tentunya.
"Di panti? Kamu harus bolak balik dong?" Tanya Mama kemudian.
"Iya Ma, satu Minggu Doni di sini dan satu Minggu Doni di panti." Jawabku berbohong.
"Oh... Begitu, tapi mending jangan di panti lah, nggak enak sama bunda Mira juga kalau kamu harus ikut numpang tinggal di sana. apa kata orang nanti?" Saran Mama padaku, Seandainya mereka ada di sini kemarin, mungkin perceraian antara aku dan Debby tidak akan pernah terjadi.
"Iya ma nanti akan Doni pertimbangkan." Jawabku tersenyum samar.
"Linda kamu sehat Nak?" Sambung Mama mengusap punggung Linda yang duduk di sampingnya. Mama memang sangat menyayangi Linda seperti putri kandungnya, tapi entah apa yang akan terjadi bila mama sampai tau kalau Linda sudah menginginkan Debby menjadi Janda, pasti Mama sangat kecewa padanya.
"Linda sehat Ma, bahkan aku sekarang sedang mengandung cucu Oma." Jawab Linda penuh kebanggaan.
"Oh...ya? Alhamdulillah, mama seneng akhirnya Mama akan mempunyai seorang cucu." Jawab Mama mengusap lembut perut Linda yang masih datar itu.
"Linda, sekalipun kamu sudah hamil, Papa harap kalian tidak mengabaikan atau melupakan Debby." Kata Papa. Aku dan Linda saling menatap, kata- kata Papa semakin membuatku merasa bersalah pada Debby, Papa termasuk orang yang bijak.
__ADS_1
"Besok Mama mau mengunjungi panti, sekalian ketemu menantu Mama." Sambung Mama.
"Eh, jangan Ma, kebetulan Debby masih ada pekerjaan di bandung." Kataku, yang ada di benakku saat ini, hanya bagaimana caranya Papa dan Mama tidak berhubungan dengan panti untuk sementara waktu ini , Debby juga bilang bunda jangan sampai tau dari mulut orang lain tentang perpisahan kami.
"Lo emangnya kerja? dimana?" Tanya Mama lagi.
"Adijaya Hospital. Iya Ma, Doni nggak mau melarang Debby meraih cita- citanya sebagai seorang perawat Ma."
"Papa tau Debby itu anak yang baik, pekerja keras dan pantang menyerah, Papa masih ingat saat Papa menawarkan untuk bekerja jadi staf admin di kantor Papa waktu itu, dia menolaknya karena mau mengejar cita- citanya di bidang kesehatan." Jelas Papa yang Memuji Debby membuatku semakin menyesali perbuatan ku yang telah menceraikan Debby. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Debby pun sudah sangat membenciku sekarang.
"Iya Mama juga sangat menyukai gadis itu, selain cantik dia juga selalu jadi juara waktu kuliah kan?" Sambung Mama lagi, mereka memang tak canggung membahas Debby, bahkan memuji-muji Debby di depan Linda, karena mereka pikir, Linda lah yang menginginkan dan memaksakan pernikahan ini.
"Ya udah Ma, Pa, papa sama mama istirahat dulu saja. Doni masih ada sedikit pekerjaan diluar." Kataku, aku segera pamit pada Mama dan Papa.
"Mau kemana malem- malem gini? Istri lagi hamil jangan suka keluyuran malam." Kata Mama.
"Assalamualaikum" pamitku kemudian
"Waalaikumsalam" jawab Mama dan papa bersamaan.
"Aku anter Mas Doni ke depan dulu ya Ma!" Pamit Linda mengikuti langkahku keluar rumah.
"Mas! Kamu mau kemana mas?" Tanyanya setelah kami sampai di teras rumah, tangannya meraih tanganku, aku tau ia ingin menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Linda, aku butuh waktu untuk sendiri, aku butuh berfikir. mama bisa drop kalau tau aku menceraikan Debby bahkan saat pernikahan kami yang baru seumur jagung.
"Tapi kemana Mas?"
"Ketempat yang bisa membuat hatiku damai!" Kataku lalu pergi. Berada di rumah membuatku semakin frustasi. Apa lagi kalau harus berbohong pada kedua orang tuaku yang begitu baik. Oh Tuhan ini sungguh ujian terberat dalam hidupku. Entah kenapa aku begitu ingin bersama Debby saat ini, saat Debby sudah tak bersamaku lagi. Apakah ini yang dinamakan seseorang akan terasa berharga saat dia sudah tak lagi bersama kita?
Ku lajukan mobil ku dengan kecepatan tinggi, tanpa sadar mobil ku berhenti di depan rumah sakit tempat dimana Debby bekerja, aku tau dia hari ini shift malam, dan seharusnya masih ada di dalam sana. Aku berinisiatif menunggunya. Dua jam aku menunggu, tak ku dapati juga dia keluar dari sana. Ku lihat seorang permpuan baru keluar dari ruang UGD, masih muda, ku panggil lalu kuhampiri dia.
"Iya, ada apa Mas?" Tanyanya.
"Mbak, saya mau tanya, apa Debby masih di dalam, belum pulang?"
"Debby?" Tanyanya seperti mencoba mengingat- ingat tentang Debby.
"Iya, Prisilia Debby permata." Ulangku.
"Oh Prisilia Debby Permata yang bertugas di ruang UGD? Udah pulang dari tadi sore."
"Bukannya dia dapat shift malam hari ini ya mbak?"
"Iya tapi sepertinya dia lagi ada masalah, sehingga kerjanya kurang maksimal, jadi dokter Tedi memarahinya dan menyuruhnya pulang."
"Oh gitu, ya udah mbak, makasih ya." Pamitku. Aku kembali ke mobil setelah mendapatkan informasi. "Dokter Tedi? Siapa dia, aku nggak pernah denger? Berani- beraninya dia marahi Debby? Nggak bisa dibiarkan!" Gerutuku, Aku merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Debby.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π