
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 57
POV Teddy
Aku terdiam di depan pintu, melihat kedua wanitaku sedang duduk manis bersama, yang bersisian sambil menikmati teh di depanku. Ku lempar senyum keterpaksaan ku untuk mencairkan ketegangan yang saat ini merasuki ku. Jika bisa dilukiskan sekarang, yang aku rasakan adalah sebuah batu besar tiba- tiba menghantam kearah ku.
Terlihat Debby beranjak dari duduknya dan menghampiriku.
"Dokter, kenapa bengong gity?" Tanyanya, aku tak menjawab, aku masih fokus pada Mama yang duduk di sofa menyimpan sejuta amarah di matanya, ya Aku sudah sangat mengenal Mamaku.
"Dokter!" Sentak Debby lagi yang membuatku segera tersadar dari segala pikiran burukku saat ini.
"Oh Iya Deb."
__ADS_1
"Dokter kenapa masih disini? Ada tamu. Tante Widia. Dokter temui dulu. Saya ganti baju dulu sebelum kita berangkat ke bandara untuk anter dokter nanti." Kata Debby kemudian, dari apa yang Debby sampaikan tadi sepertinya semua baik- baik saja. Dan mama tidak membocorkan identitas ku pada Debby. Aku bisa sedikit lega.
"Oh iya Deb." Jawabku.
"Tante, saya ganti baju dulu ya, mau nganter dokter Teddy nanti ke Bandara." Pamit Debby pada Mama, mama menganggukkan kepalanya pelan.
Debby meninggalkanku dan Mama di ruang tamu, aku segera menghampiri Mama yang terlihat sudah tak sabar ingin menelan ku hidup-hidup setelah Debby masuk ke kamar.
"Mama, ngapain kesini?" Lirihku yang segera duduk di samping Mama.
POV Debby
Selang beberapa menit setelah dokter Teddy pergi dengan taksi onlinenya, Terdengar bunyi bel apartemen olehku yang sedang berada di kamar mandi. Aku segera menyelesaikan aktivitasku dan memakai bajuku secepat kilat. Aku khawatir jika itu dokter Teddy kembali dan akan marah jika aku terlambat membukakan pintu untuknya.
"Iya sebentar." Kataku yang sambil berlari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu yang terlihat begitu sudah tidak sabaran.
__ADS_1
"Sabar dokt...ehh" Kataku terhenti saat melihat bahwa yang datang bukanlah dokter Teddy, melainkan seorang perempuan paruh baya berwajah cantik dengan penampilan yang begitu kalem dan anggun. Tapi saat ku perhatikan wajahnya seperti sedang menyimpan kemarahan saat melihatku. Sepertinya ia juga sangat terkejut saat melihatku berada di apartemen dokter Teddy.
"Aduh mati aku, salah orang. Kenapa dibuka?" Batin merutuki kesalahanku yang sudah ceroboh membukakan pintu tanpa memeriksa siapa yang datang terlebih dahulu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dokter Teddy akan mempunyai tamu.
"Assalamualaikum." Sapanya rama
"Waalaikumsalam." jawabku
"Dokter Teddy ada?"
"Dokter Teddy sedang ada urusan diluar." Jawab ku. Kali ini Ia tampak mengamati penampilanku mulai dari ujung kaki hingga ujung rambutku. Matanya menyipit dan alisnya saling bertautan saat melihat handuk yang terlilit di kepalaku. Oh tidak, aku hanya berharap dia tidak akan salah paham padaku dan dokter Teddy. Dengan sigap, ku melepas handuk dari kepalaku dan ku biarkan rambut basah sepunggung ku tergerai, ku rapikan dengan tanganku agar terlihat tidak terlalu berantakan. Menemui tamu dengan handuk dikepala bukanlah hal yang indah dipandang dan juga kurang sopan menurutku.
Ia menghembuskan napas panjang, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini "Saya boleh masuk?" Tanyanya padaku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π