Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Virus atau Penyakit


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 229


Subuh pun telah tiba, suara adzan subuh berkumandang, seperti biasa aku tidak pernah bisa untuk tidur kembali saat adzan berkumandang, kecuali jika kami, aku dan Debby melakukan kewajiban kami sebagai pasangan suami istri di malam harinya, di saat itulah aku akan terbangun lebih siang dari biasanya.


Saat aku membukakan mata, aku melihat Aldo masih tertidur pulas. Ku letakan perlahan kepala Debby yang tertidur di pangkuan diatas sofa, lalu aku bergegas pergi membersihkan diri lalu segera pergi ke mushola rumah sakit. Karena kebetulan aku tak membawa sajadah.


Seperti para pegawai, karyawan, dan ada juga kerabat atau keluarga dari pasien rumah sakit, aku menuju mushola bersama kerumunan orang-orang.


"Pagi pak!" ada beberapa karyawan menyapa ku.


"Pagi." balas ku seraya tersenyum, seperti apa yang dikatakan Debby semalam. Aku harus lebih banyak tersenyum pada pegawai dan karyawan-karyaman, walau sebetulnya mereka sendirilah yang terlalu terlampau ketakutan kepada ku.


Usai mengambil wudhu, aku masuk dan berada pada shaf paling depan. Tak lama Iqomah dikumandangkan dan kami pun berdiri, bersiap untuk sholat " apakah benar shaf sholat begini?" tanyaku pada mereka, mereka lebih memilih shaf yang ada dibelakang ku.

__ADS_1


Semua mendadak terdiam, suasana mushola mendadak menjadi hening sesaat, saat Iqamah berhenti namun suara ku meninggi.


Niat hati ingin ramah dan lebih murah senyum dan pada akhirnya buyar hanya gara-gara kekonyolan mereka.


"Maju nggak! Jangan bikin saya jadi emosi ditempat suci ini ya!" seru ku yang kebetulan saat ini hanya ada mereka yang berseragam, tandanya semua adalah karyawan ku.


Dab mereka semua menuruti.


"Udah pak, bisa dimulai." seruku pada Imam mushola.


Dengan perasaan yang masih kesal karena ulah para karyawanku tadi. Aku berjalan menuju ke kamar Aldo.


"Dikira mereka aku ini virus apa? Bener-bener keterlaluan mereka semua!" gerutu ku


Dan beberapa orang yang berpapasan dan menyapa ku pun tak aku balas, kini rasa kesal ku lebih mendominasi. Alih-alih ingin beramah tamah nyatanya bubar.

__ADS_1


Segera aku masuk, begitu telah sampai didepan kamar Aldo. Ku lihat Debby sedang melaksanakan sholat subuh di dekat Aldo. " bawa sajadah? Tau gitu tadi ngapain aku ke mushola rumah sakit segalah." gumam ku seraya menepuk dahi ku lalu ku hempaskan tubuhku ke sofa.


"Dari mana kamu mas?" tanya Debby yang terlihat sudah menyelesaikan sholatnya dan sudah mengganti pakaianya dengan yang baru.


"Mushola." jawab ku singkat


"Dari musholah kenapa, malah seperti itu auranya." tanya Debby seraya menghampiri ku dan duduk di sebelah ku.


"Mereka membuat ku malu tadi, dengan menjauhi saya di mushola tadi. Bahkan shaf di deretan paling depan hanya saya yang menempati. Dikira mereka aku ini virus apa, atau bawah penyakit yang sangat menular? Malu lah saya sama Imam mushola rumah sakit." jelas ku pada Debby dengan nada yang masih sangat kesal karena kejadian tadi.


"Ahahahha..." tawa Debby pun pecah setelah mendengar cerita yang aku alami.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2