Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Ibu


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 207


"Jadi, menikah itu adalah janji. Om dokter sama mbak Debby itu berjanji untuk selalu sama-sama terus sampai om dokter sama mbak Debby tua sekali."


Lagi-lagi Aldo tampak berfikir.


"Tua seperti mbok Mar dan Bunda?"


"iya sayang, bahkan lebih tua dari mbok Mar dan Bunda. Aldo tahu kan kalau uda janji hadrus di....?"


"Tepati",jawabnya dengan begitu polosnya.


"Kalau janji sama-sama terus Om Dokternya mana kok gak sama-sama?"


Ku hela nafas panjang, dan ku garuk tengkuk ku yang tidak gatal ini. Secara logika anak-anak, memang tidak salah jika Aldo bertanya seperti itu.


"Aldo, sama-sama maksudnya itu, tinggal ditempat yang sama, kalau om dokter dan mbak Debby kerja ya kita ngak sama-sama, nanti bisa dimarahi sama bosnya kalau kita sama-sama. Om kan dokter sedangkan mbak Debby kan bukan dokter, jadi berbeda gitu".

__ADS_1


"Oh.... Om dokternya lagi kerja".


"Iya, ya uda kita cari Bunda yuk," ajak ku sebelum pertanyaan Aldo membuatku semakin binggung untuk menhawabnya.


"Mbak aja, Aldo masi mau main disana".


Aku pun bergegas masuk setelah melihat aldo telah pergi kelapangan yang ada disamping panti, ku lihat Bunda dan mbok mar yang sedang sibuk didapur. " Asalammuallaikum kesayanganku," sapaku.


"Eh, walaikumsalam ndok" jawab Bunda dan mbok Mar bersamaan.


Ku hampiri dan ku kecup punggung tangan Bunda dan mbok Mar, "bunda masih terima pesanan?"


"Kalau gitu Debby mau pesen dong Bun." Godak.


"Bunda uda buatkan makanan kesukaanmu. Kaki ayam dimasak sambel, nanti kamu bawa pulang ya ndok."


"Bunda baik sekali. Debby sayang bangget sama Bunda". Ku peluk Bunda dari belakang lalu ku cium pipinya.


"Bunda, minggu depan".

__ADS_1


"Resepsi". Potongnya.


"Kamu lupa bagai mana hubungan Bunda dan Mertuamu?"


"Bagai amplop dan perangko, hehehe." candaku.


"Mbok mar dan adik-adik semuanya juga harus dateng ya pokoknya." sambungku.


"Malu ah ndok mbok ngak mau, anak-anak aja." tolak mbok mar, mbok mar orangnya memang seperti itu suka minder dan pemalu, kalau diajak kemana-mana suka nggak mau, mbok mar lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Membereskan rumah dan menyiapkan segala keperluan anak-anak.


Masak iya yang dulu bayinya digantiin popok terus dimandiin nikah ngak mau hadir?" godaku lalu mendekati mbok mar lalu memeluknya dari belakang.


"Mbok itu sudah seperti ibu juga bagi Debby, mbok juga yang menyuapi dan menjaga Debby disaat Debby masih kecil. Gendongi Debby, jajani Debby, walau Debby ini bukan siapa-siapa mbok Mar. Tapi Debby merasa sangat disayangi oleh Bunda dan mbok mar. Debby tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Debby mau saat Debby bahagia mbok mar juga harus melihat Debby mbok." tak terasa bulir bening telah membasahi pipiku, rasanya begitu berat meninggalkan orang-orang ini, orang-orang yang sangat berjasa di dalam hidupku. Orang yang tak mengharapkan jasa dan tak pernah pambri justru telah memberikan kasih sayang yang sangat tulus kepadaku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2