Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Persiapkan


__ADS_3

aku bukan rahim cadangan


Part 156


"Kakekmu bilang kalian mau bulan madu" sambungnya.


"Jadi maksud Dokter, Draculanya saya gitu?"


"Hahaha, Saya pernah mengalaminya juga Teddy."


"Pelankan suaranya. Kalau sampai Debby denger dari mana dokter tau, bisa habis nanti saya. Biar saya sendiri nanti yang akan memberi taunya."


Pengakuan dokter Firman yang mengatakan sudah mengetahui statusku dan Debby sangatlah mencengangkan bagi diriku. Pasalnya dia sama sekali tidak memperlihatkan itu sejak aku menikah dengan Debby. Yang lebih membuatku cemas lagi adalah, dokter Firman bilang kalau akhir- akhir ini kakekku sering keluar masuk ruang ICU karena kondisi jantungnya yang semakin memburuk dan harus secepatnya segera dipasang ring juga.


Dokter Firman juga mengatakan, jika diriku tak mau menggantikan dirinya, setidaknya aku harus persiapkan Debby untuk menggantikan kakek, itu pesan kakekku. Terdengar sangat konyol, mana mungkin aku membiarkan Debby memikul beban seberat itu. Debby masih sangat terlalu muda, pengalamannya pun belum seberapa. Tentu saja aku tidak akan mengijinkan dirinya untuk memikul beban seberat itu.


Aku mengikuti Debby ke dapur setelah dokter Firma masuk ke dalam kamar untuk bersiap- siap pergi ke Pameran. Karena tak mungkin bersiap- siap bersamanya, satu kamar dengannya dan ganti baju bersama, membayangkannya saja sudah merinding.

__ADS_1


Ku bantu Debby untuk mencuci piring karena pakaian Debby sudah begitu rapi jika harus mencuci piring.


"Debby, sini biar saya saja, kamu istirahatlah. Baju kamu bisa kotor kalau kamu cuci piring." Kataku seraya mengambil alih piring dan sabun yang ada di tangan Debby.


"Nggak apa- apa ini juga uda mau selesai kok. Jangan membuatku semakin malu dengan tidak melakukan apa- apa." Jawab Debby yang mengambil kembali piring dan sabun dari tanganku.


"Debby..." Bisikku.


"Kenapa?" Tanyanya seraya mengerutkan dahi.


"Apa semalam saya kurang sopan? Apa terlalu sakit? kenapa dokter Firman bilang kamu pucat?" Tanyaku yang mengamati wajah Debby.


"Dia lagi di kamar ganti baju. Gimana? Apa saya kurang pelan-pelan?"


"Ngomong apa sih? Malu- maluin aja."


"Ini diskusi Debby, supaya saya bisa tau nanti malam saya harus seperti apa."

__ADS_1


"Nanti malam, Apa maksudmu?"


"Debby... Teddy... Ayo buruan kita berangkat, nanti kita telat." Teriak dokter Firman.


"Nanti kita bahas lagi, Saya ganti baju dulu." Pamitku , ku tinggalkan Debby dengan pipi yang sudah memerah.


🌸🌸🌸


Kami sampai di gedung tempat pameran di adakan, gedung yang tak jauh dari rumah sakit tempat ku bekerja. Kami segera memasuki gedung megah itu, karena sepertinya pengunjung sudah sangat ramai. Saat kami bertiga masuk ke tempat itu, ada yang menyita perhatian mereka yaitu Debby, Debby satu- satunya wanita yang memakai hijab di tempat itu. "Kenapa mereka melihat saya seperti itu?" Tanya Debby padaku dan dokter Firman.


"Nggak papa kok Deb, mungkin mereka baru pertama kali melihat wanita dengan mengenakan hijab." Jawab dokter Firman.


"Tapi, apa saya akan diusir oleh mereka?" Tanya Debby lagi dengan nada yang lebih sedikit rendah.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2