
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 44
"Pinter..." Katanya tersenyum, aku terheran karena seharusnyakan dia marah padaku.
"Dokter nggak marah?" Tanyaku ragu-ragu, dia menggeleng.
"Kamu lupa kalau kita sedang bersimbiosis?" Katanya mengingatkanku.
"Oh iya." Pertanyaan mulai berdatangan di benakku. Apa mungkin yang ingin dokter Teddy patahkan adalah Vannia? mengingat sebelumnya mereka pernah bertemu berdua di cafe yang dekat rumah sakit hari ini. Apa mungkin dokter Teddy menjadi orang ketiga? karena setahuku Vannia adalah menantu keluarga adijaya.
"Deb, tadi saya ketemu orang yang katanya suami kamu!" Kata dokter Teddy sukses membuyarkan pertanyaan- pertanyaan di benakku yang tadinya ingi ku utarakan. Ingatan dan netraku tertuju pada mas Doni yang sedang duduk bersama mbak Linda di depan podium di kursi paling depan. Karena acara sudah dimulai.
"Mantan suami maksud dokter?" Tanyaku, netraku tak berpindah dari mas Doni dan Mbak Linda.
"Dia bilang masih suami kamu. Kamu beneran udah Cerai belum sih Deb?"
"Ngaco. Mengada- ada tu orang. Jelas- jelas sudah menjatuhkan talak dan menandatangani surat cerai." Jawabku.
"Terus, ngomong apa lagi dia?"
"Sepertinya kamu masih berharap sama dia ya Deb?" Tanyanya lagi.
"Siapa? nggak lah. kalau nggak mau jawab ya udah nggak papa." Putusku.
__ADS_1
"Maaf ya Debby, tadi saya bilang kalau saya..."
Kata- kata yang tidak diselesaikan oleh dokter Teddy membuat ku penasaran dan mengalihkan pandanganku dari mas Doni pada dokter Teddy.
"Apa dokter? Dokter bilang apa?" Tanyaku mendongak dan menatap matanya. Mata yang siap menembus jantungku dan sukses membuatku panas dingin.
"Bilang, kita akan nikah." Celetuknya.
"Apa?" Aku terkejut, ku buka mataku lebar- lebar dan melototi dokter Teddy. Namun dia terkekeh, memperlihatkan gigi putih bersih yang berbaris rapi menambah aura ketampanannya terpancar sempurna. Ku alihkan pandanganku sebelum pikiranku memikirkan yang tidak - tidak.
"Kenapa? Memangnya kamu nggak suka kalau nikah sama saya?" Tanyanya masih terkekeh, yang membuatku semakin tersipu dan tak bisa menjawab pertanyaan konyol itu.
"Saya cuma bercanda Debby!"
Perdebatan ku dengan dokter Teddy membuat kami lupa bahwa, saat ini profesor sudah berdiri di atas podium memberi sambutan. Kami pun mengalihkan pandangan kami ke podium, mendengarkan sambutan direktur kami.
"Kasihan sekali ya dok, profesor? Sudah begitu renta masih harus bekerja keras." Tutur ku melihat dokter Teddy, dia tersenyum tipis. Aku kembali fokus pada profesor.
"Selain itu saya sangat ingin mengucapkan terima kasih pada dokter muda yang sudah menyelamatkan masa depan Atmajaya Hospital. Yang sudah mau jauh- jauh meluangkan waktunya dari USA kesini hanya untuk membantu saya. Dia adalah dokter Teddy . Saya harap dokter Teddy mau memberikan sepatah dua patah kata, untuk naik kesini."
"Dokter... Buruan naik, dokter dipanggil ke podium." Kataku antusias, semua mata melihat ke arah kami yang berada agak jauh dari podium.
"Kenapa jadi gini?" Gerutu dokter Teddy yang tak sengaja ku dengar.
"Kenapa dok?"
__ADS_1
"Oh nggak, ya udah saya anter kamu ke temen- temen kamu dulu." Katanya
"Nggak usah, saya disini aman." Jawabku.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi gedung saat dokter Teddy meninggalkanku, melangkahkan kakinya menuju podium dengan langkah panjang, dan penuh percaya diri. Kewibawaannya terpancar saat ia berdiri tegap di atas podium untuk memberikan sambutan.
POV AUTHOR
Teddy dengan langkah gagahnya meninggalkan Debby menuju podium untuk memberikan sambutan, bisa dibilang itu sambutan terakhirnya sebelum dia kembali ke USA. Debby ikut memberikan tepuk tangan pada Teddy dan masih setia berdiri di tempatnya.
Semua memandang Teddy penuh kekaguman. Atmajaya yang ikut menemani profesor Wijaya berdiri di atas podium juga terlihat lebih tenang tanpa amarah, terlihat memperlihatkan senyumnya saat Teddy naik ke atas podium walau hanya sekilas. Tiga lelaki hebat berdiri di atas podium dengan gagahnya, ada rasa haru dan bahagia menyelimuti hati seorang wanita paruh baya hingga meneteskan airmatanya. Wanita itu adalah Bu widia yang duduk bersebelahan dengan Vannia dan Kevin di bangku paling depan, sesekali ia tersenyum dan menyeka airmata bahagianya. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengabadikan momen penuh kebahagiaan itu dengan mengambil gambar ketiga pria kebanggaannya.
"Dokter Teddy We love You...!" Sesekali terdengar teriakan dari barisan belakang yang merupakan para petugas medis dari Atmajaya Hospital, termasuk suster Lidia disana, yang membuat suasana bak konser.
"Mama, ngapain sih?" Tanya Kevin saat Bu Widia mengambil beberapa Foto.
"Mama lagi bahagia vin" jawab Bu Widia tersenyum lebar. Kevin tampak kurang menyukainya, namun tak mungkin memperlihatkannya sekarang.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, orang hebat, anaknya juga hebat." bisik beberapa orang. Ya Teddy memang meninggalkan keluarga Adijaya saat usianya sudah dewasa, jadi pastilah ada beberapa orang disana, yang sangat dekat dengan keluarga adijaya dan tentunya mengetahui siapa Teddy, namun tak ada yang berani berkutik atau membahasnya. Mereka takut akan kemarahan pak Atmajaya jika sampai membocorkan atau mendengar siapa Teddy sebenarnya.
"Assalamualaikum, dan selamat malam bagi yang beragama lain. Saya sangat berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk berdiri disini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada profesor Antonius Atmajaya. Semoga profesor senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan agar bisa tetap memberikan dedikasinya di bidang kesehatan." Kata Teddy seraya mengulurkan tangan pada profesor antonius atmajaya yang berdiri di sebelah kanannya untuk memberikan ucapan selamatnya. Dengan sigap profesor Atmajaya menyambut tangan Teddy dan memeluk Teddy dengan penuh kasih. Sontak membuat semua yang hadir memberikan tepuk tangannya. "Kamu belum jelaskan tentang Debby pada kakek" Bisik profesor Aatmajaya ditengah pelukannya. Sontak membuat Teddy terperangah.
Setelah mereka melepaskan pelukannya, Teddy kembali memberikan sambutan.
"Awalnya saya menolak untuk datang ke Jakarta. Namun, akhirnya saya tau kenapa Saya ada disini dan harus ada disini, alasan yang tidak bisa saya ungkapkan." Kata Teddy seraya melihat ke arah Debby dan melempar senyuman manisnya pada Debby.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π