
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 37
POV TEDDY
Setelah beraktifitas seharian, Ku baringkan tubuhku di sofa tamu untuk menghilangkan sejenak rasa penat ditubuh ini, ya harus bagai mana lagi hari ini aku harus berbagi tempat dengan Debby, Entah mengapa rasa ingin membantu dan melindunginya begitu kuat didalam diriku saat ini, terlebih saat aku tau bahwa ia adalah anak yatim piatu, aku juga sering mengerjai dan memarahi anak itu. Merasakan hidup sendiri selama 10 tahun, hidup sendiri yang tak mudah aku lewati membuatku tau bagaimana beratnya hidup yang dijalani Debby yang yatim piatu sejak kecil, masalah Debby juga menurutku sangat lah rumit, ia masih begitu muda harus menikah demi balas budi, dan menyandang status janda seusia dia itu bukanlah hal yang mudah. Membayangkannya saja aku tak mampu.
Kucoba memejamkan mata, bayangan tentang rasa iba ku pada Debby berganti rasa kekhawatirku pada Mama, mungkin bertengkar dengan Papa adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan bagiku, tapi yang selalu menjadi beban pikiran ku adalah Mama. Mama saat ini pasti masih sangat sedih dan terluka. Ku ambil gawaiku yang ku letakkan di atas meja, ku coba menghubungi Mama di balkon setelah ku pastikan tak ada lagi suara dari kamar Debby. Ku lihat jendela kamar dari balkon, lampu kamar pun sudah dimatikan. itu menandakan Debby sudah tidur.
Aku berdiri di balkon menghubungi Mama, namun tak ada jawaban. Ada dua kemungkinan kenapa Mama tidak mengangkat teleponku. Pertama, Papa melarang Mama mengangkat telepon dariku dan yang kedua Mama sedang istirahat.
Ku genggam gawaiku, ku beralih pada langit malam yang bertaburkan bintang-bintang.
"Dokter..." Suara Debby memanggilku begitu sangat mengejutkanku, dan hampir membuatku menjatuhkan ponselku dari lantai 8.
"Ya ampun Debby... Kamu ngagetin aja! Kenapa belum tidur? Masak udah Laper lagi?" Kataku setelah berbalik ke arah Debby.
"Gimana mau tidur. Nih, lihat semua lengan,kaki dan lainya! dokter kasih udang tadi nasi gorengnya ya?" Tanyanya padaku memperlihatkan tangan dan kakinya yang sudah penuh dengan bintik-bintik merah seperti reaksi alergi.
"Kamu alergi udang ya Debb? Kenapa nggak ngomong tadi?" seraya tanyaku memeriksa tangan dan kakiny
"Mungkin pas saya potong wortel, dokter potong udang jadi saya nggak lihat. Pantes aja nasinya sangat nikmat! Bentar lagi muka saya nih yang bengkak kalau nggak segera di kasih obat." Gerutunya.
"Ya ampun Debby, maaf saya nggak tau, ya udah kamu duduk dulu disini, saya kebawah dulu beli obat buat kamu."
"Udah malem gini mau beli di mana dok?" Tanyaku.
__ADS_1
"Udah nggak usah banyak tanya, yang penting alergimu segera sembuh." Kataku mengambil jaket dan sepatu ku lalu pergi mencari obat. Aku segera memesan taksi Online begitu keluar dari pintu apartemen. Tak punya kendaraan sendiri memang membuatku sedikit kerepotan saat kondisi darurat seperti ini.
"Tujuan mana Mas?" Tanya supir taksi padaku.
"Apotik yang buka 24 jam pak!"
"Agak jauh mas kalau itu"
"Nggak papa pak, agak ngebut aja." Perintahku.
setengah jam lebih aku baru kembali ke apartemen, aku segera berlari, berharap reaksi Alergi pada Debby tidak semakin parah.
"Assalamu'alaikum, Debby!" Sapaku, tak ada jawaban, ku hela napas panjang melihat Debby yang sudah ketiduran di sofa. Ku lepas sepatu dan jaketku lalu ku hampiri Debby.
Niatku membangunkan Debby terhenti, saat ku lihat wajah polos Debby yang sedang terlelap dan tersorot sinar bulan yang masuk melalui jendela balkon yang lupa aku tutup saat pergi tadi, wajah yang begitu indah dipandang. "Astaga Teddy, apa yang sedang kamu pikir?" Gumamku menyadarkan lamunanku saat melihat kecantikan Debby yang natural itu. Banyak yang bilang Debby cantik termasuk dokter firman dan baru kali ini aku menyadarinya.
"Nggak pingsan, nggak tidur... Banguninnya sama- sama susah ni Debby!" Gerutuku kesal.
"Debby.." ku dekati wajahnya dan ku goncang tubuhnya lebih kasar lagi. Dan akhirnya dia membuka mata. Mata kami begitu dekat sekarang, dan jantungku? jangan di tanya lagi seperti apa rasanya. Rasa yang bahkan belum pernah ku rasakan pada Vannia dulu, jadi kalau cinta mungkin bukan,karena kalau cinta seharusnya aku sudah pernah merasakannya saat aku bersama Vannia..
"Dokter sudah pulang?" Tanya Debby dengan suara khas bangun tidurnya membuyarkan lamunanku.
"Nih, obatnya, minum, baru tidur!" Ku bantu Debby untuk bangun dan ku ambilkan air untuk debby meminum obat.
"Dokter dapet dari mana? Pasti jauh ya?" Tanyanya.
"Nggak penting dapet dari mana, yang penting besok kamu udah sembuh, ini obat bagus. Udah... Masuk sana. Tidur!" Kataku. Aku memang mendapat obat itu di tempat yang lumayan jauh dan harus pindah apotik Karena di apotik pertama, obat yang ku cari kosong.
__ADS_1
"Makasih dokter, saya ke kamar dulu ya. Dokter juga kalau tidur jangan malam- malam, pacarannya besok aja, kasihan anak orang harus begadang demi untuk menanggapi telepon dari dokter. Selamat malam dokter." Katanya lalu pergi ke kamar.
"Pacar? Telepon? Ngigo atau apa tu anak!" Gumam ku yang tak mengerti dengan pesan yang baru dikatakan Debby barusan.
POV Debby
Aku terbangun di waktu subuh saat Sayup - sayup ku dengar suara orang mengaji, surat Al Waqiah dibacanya dengan suara merdu, begitu indah dan menyentuh hati. Segera aku membersihkan diri dan ku periksa siapa orang yang melantunkan bacaan indah itu. Cekrek, ku buka pintu kamar perlahan dan tak sempurna. Ku dapati sosok dokter Teddy duduk bersila di lantai menghadap kiblat, di atas sajadah, memakai baju Koko turki warna coklat, lengkap dengan peci hitam dan sarungnya, sedang asik melantunkan ayat suci Al Qur'an, tak salah lagi, ternyata yang aku dengar dari tadi adalah suara dokter Teddy yang sedang bertilawah.
Ia terlihat begitu berbeda dari dokter Teddy yang ku kenal selama ini, jika biasanya ia terlihat galak, ketus dan tak punya hati, maka yang kulihat sekarang adalah dia yang lembut, teduh dan menenangkan hati. Aku kagum memang, karena walau dia tinggal lama di luar negeri, dia tidak melupakan ajaran dan melakukannya dengan begitu sempurna. Aku terpaku di bibir pintu hingga dokter Teddy mengejutkanku dengan pertanyaannya.
"Sudah bangun Deb?" Tanyanya beranjak dari duduknya dan meletakkan Al Qur'an di dalam laci yang ada di depan kamar.
"Iya dok, sudah." Jawabku
"Bukannya kamu nggak sholat, kenapa bangun sepagi ini?" Tanyanya lagi, mungkin dia ingin menyindirku, karena dia selalu bangun lebih dulu dariku. Aku tak menjawab.
"Laper?" Sambungnya, sembari melipat sajadah dan di letakkannya asal di ruang tamu.
"Nggak dok, saya cuma sedikit terganggu dengan suara dokter." Jawabku.
"Maksud kamu, kuping kamu panas kalau dengar orang ngaji? Maaf saya kira kamu masih tidur." Jawabnya ketus.
"B_bukan dokter, bukan begitu. Saya suka, adem dengernya."
"Ya syukurlah, saya harap itu akan membantu kamu pada suatu proses yang membuat kamu lebih baik, lebih penurut, dan lebih nggak suka ngeles!" Jelasnya yang lagi- lagi memberikan sindiran padaku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π