Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Pernikahan mbak Lidia


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 126


Hingga tiba saatnya untuk naik ke pelaminan. Aku dan bridesmide yang lain menjemput Mbak Lidia yang masih berada di ruang ganti.


"Mbak Lidia sudah siap?" Tanya Sinta.


"Iya, tapi kok masih deg- degan ya."


"Udah lah mbak, jangan lebay, udah akad nikah juga masih deg- deg an. Nih makan dulu biar nggak pingsan." Sambungku seraya memberikan sepotong kue dan air.


"Ih... Debby jahat banget sih sama pengantin, kualat Lo." Kata Desi.


"Kualat ketemu perwira ganteng kali terus diajakin nikah kan nggak papa." Sambung mbak Lidia.


"Hush... Perwira bukan type ku."


"Ye masih bagus kalau ada yang mau." Ejek Desi.

__ADS_1


"Ya udah Ayuk, udah ditunggu naik ke pelaminan sama mempelai pria" Jawabku


Ku bawa mbak Lidia keluar dari ruang ganti, mbak Lidia terlihat sangat begitu cantik dan anggun pagi ini, berbeda sekali dengan mbak Lidia yang biasanya, yang terkenal bar- bar. Mas Radit juga terlihat lebih gagah dengan seragam pengantin khusus perwiranya. Ku lihat barisan Bridesmaid pria berseragam pun mengiringi mas Radit, ada 4 orang laki-laki tampan dan gagah yang mengiringinya.


"Lah mbak itu Bridesmaid cowoknya kok 4, apa maksud mbak kita akan berpasangan? Kenapa nggak ngomong?" Bisikku saat kami sudah semakin dekat dengan mempelai pria.


"Aku juga nggak tau Deb, mas Radit nggak ngomong kalau masalah itu sama mbak." Tamatlah riwayatku, foto pernikahan mbak Lidia pasti akan menyebar di group WA, bagaimana jika dokter Teddy tau hal ini? Lebih- lebih saat ini dokter Firman sedang sibuk memotret kami, mereka sangatlah dekat bagaikan amplop dan perangko.


Dengan berat hati aku pun tak ada pilihan lain. Kami harus bersama- sama naik ke atas pelaminan, pembawa acara menyerukan untuk berpasangan, kami pun berjalan bersisian dengan pasangan masing- masing. Berbeda denganku yang merasa cemas dan gusar, ketiga temanku yang sudah berjalan mendahuluiku itu terlihat begitu menikmati momen ini.


"Debby... Senyum dong" teriak Alex di bawah yang mengambil fotoku bersama pasangan bridesmaidku. Ku amati sekelilingku, dan benar- benar mencengangkan saat kulihat dokter Firman yang tadinya sibuk mengambil gambar, sekarang sudah berbincang dengan seseorang berjas cream yang tak lain dan tak salah lagi itu adalah suamiku. Benar- benar apes, malam ini sepertinya aku akan dihakimi. "Bener kan tamat." Batinku. Yang melihat dokter Teddy sudah memberikan sebuah lirikan tajam dan mematikan padaku dari bawah sana.


"Eh Debby mau kemana?" Tanya Sinta.


"Mau dianter mbak?" Tawar pasanganku.


"Nggak usah Mas, terimakasih."


Aku pun turun dari pelaminan dan bergegas ke toilet.

__ADS_1


"Apa- apaan? pulang nggak bilang sama istri?" Gerutuku menuju kamar mandi.


Seseorang mencekal tanganku saat aku hendak masuk ke kamar mandi.


"Jangan kurang..." Kataku terhenti saat ku lihat yang mencekal ku adalah suamiku dengan wajah merah membaranya.


"Lah... Kenapa ikut kesini? Balik buruan, nanti ada yang lihat Bapak...!" Keluhku, membalikkan badannya agar kembali.


"Ikut saya, ke hotel." Pintanya, menarik tanganku.


"Nggak enak acara belum selesai." Jawabku.


"Kamu masih mau ganjen- ganjenan sama groomsmen itu? masih gantengnya saya. Udah nikah juga masih aja jadi gitu- gituan. Untung saya pulang, kalau nggak bisa kebablasan kamu." Omelnya,


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2