
"Maaf nggak bisa Ma, Tedi masih ada urusan yang harus di selesaikan, karena rencananya Tedi mau kembali ke USA hari Minggu."
"Secepat itu? Kamu bilang disini beberapa Minggu, tunggu lah sampai ulang tahun kakekmu Tedi!" Pinta Mama.
"Anak tak tau diri seperti dia, mana mungkin Ma, mau mikirin ulang tahun kakeknya, bahkan mungkin dia sudah lupa kapan ulang tahun kakeknya!" Kata Papa yang tiba-tiba menyela percakapanku dengan Mama, mama hanya bisa menenangkan ku dengan mengusap punggungku, ku hela nafas panjangku lalu menetralkan hatiku agar tidak tersulut emosi dengan perkataan yang diucapkan Papa. Aku ke rumah ini untuk bertemu mama dan tak mau berdebat dengan mereka.
"Aku pamit dulu ya Ma" ku raih tangan Mama dan ku kecup punggung tangannya dengan takzim.
"Tedi, bawalah makanan ini Nak, makan lah di apartemen mu."
"Nggak perlu Ma, bukannya dia sudah pandai cari uang, udah banyak uang dari pekerjaannya menjadi dokter, yang gajinya tak seberapa itu!" Sindir Papa kemudian, ku hampiri Papa amarah ku mulai memuncak.
"Tuan Adiaya, gaji saya sebagai dokter jauh lebih terhormat dari pada harus mengandalkan hidup dengan sokongan dari Tuan, dan gaji saya jauh lebih dari cukup kalau hanya untuk membeli apa yang saya inginkan." Kataku dengan lantang dan penuh percaya diri dan Papa hanya bisa diam.
"Assalamualaikum." Ku tinggalkan rumah mewah berpilar tinggi dan kokoh itu dengan Mama yang mengikutiku dibelakang.
"Mama, berhenti, satu langkah lagi Mama melangkahkan kaki keluar, Papa sendiri yang akan menghancurkan anak tak tau diri itu!" Ancam Papa, Mama pun menghentikan langkahnya, aku pun demikian.
"Tuan, Adijaya yang terhormat, anda bisa melakukan apapun terhadap saya, tapi jangan pernah membuat Mama saya menangis menhatuhkan air matanya!" Kataku tanpa menoleh, aku tau saat ini Mama pasti sedang menangis, aku tak mau melihatnya menangis. ku kepal tanganku dan pergi meninggalkan rumah itu tanpa melihat ke belakang lagi.
Segera ku pesan taxsi Online, di dalam taxsi, aku hanya bisa menghela nafas panjang, lagi- lagi perdebatan terjadi antara aku dan Papa. Harapan ku hanya satu, Mama tetap baik- baik saja.
Ku buka ponsel, untuk mengalihkan pikiranku, tanpa aku sadari pesan dari Debby sudah berjejer rapi disana, aku lupa sempat menyuruh Debby mengirim pesan padaku saat dia menghubungi ku tadi. Segera ku buka dan ku baca.
Debby : [dokter]
Debby : [ ?????? ]
Debby : [ dokter? ]
__ADS_1
Devby : [ ya udah lah, nggak jadi ]
Tedi [ Kenapa? ] Balasku, sepertinya Debby sudah lama menunggu balasanku.
Debby [ sebelumnya saya minta maaf dok, maaf... Banget]
Tedi : [nggak usah berbelit-belit gitu Deb. ada apa?]
Debby : [ Saya lagi itu biasa wanita, saya lupa kalau itu saya habis ]
Tedi : [itu habis apa? Lagian saya bukan wanita yang tau kebiasaan wanita]
Debby : [ Dokter masak nggak tau sih]
Tedi : [nggak!]
Debby : [ saya lagi PMS π ]
Debby : [tolong beliin saya pemb*lut, nanti uangnya saya ganti] Mata ku membelalak membaca pesan dari Debby yang benar- benar konyol.
"Kurang ajar sekali Debby, berani- beraninya nyuruh saya beli begituan!" Batinku kesal.
Ingin sekali rasanya ku marahi dan ku habisi anak itu yang sudah tidak sopan padaku.
Tedi [ Debby nggak sopan! Berani sekali kamu minta saya beli gituan! Beli aja sendiri! Di bawah kan ada supermarket ]
Debby [ Baiklah π₯Ί, maafkan saya yang sudah tidak sopan pada dokter, kalau kaki saya nggak sakit dan bisa kesana kemari, saya pasti nggak mungkin minta tolong sama dokter ]
"Kaki Debby sakit? Ngapain lagi tu anak?" Gerutuku.
__ADS_1
Tedi [ ya udah lah, nggak usah ke bawah, nanti kamu jatuh lagi, repot lagi saya! ] Jawabku terpaksa, mengingat keadaan hati Debby yang saat ini, membuatku harus berbuat lebih baik lagi pada anak itu.
Ku suruh sopir menghentikan mobil, ku lihat di depan ada minimarket, kalau harus beli di Supermarket yang ada di lantai bawah apartemen, aku akan malu, karena mereka sudah sedikit mengenalku. Segera ku ambil masker di tasku dan ku pinjam topi dari supir taksi lalu memakainya.
prov Debby
Aku terjatuh saat hendak memasang gorden yang menurutku, dokter Tedi lepas untuk menyelimuti ku semalam, karena seingat ku, aku sudah kedinginan saat di depan cafe. Dan alhasil kaki ku pun sedikit terkilir, sedikit sih nggak banyak, tapi cukup membuatku sedikit meringis kesakitan saat jalan.
Saat hendak mengganti pembalut baru lah aku ingat bahwa stok pemb*lut di koperku sudah habis, tak mungkin aku minta tolong kepada mbak Lidia membelinya untukku, itu sama saja membongkar rahasia kalau aku tinggal di apartemen ini, dan satu- satu nya yang bisa ku mintai pertolongan hanya satu orang yaitu Dokter Tedi, mau tidak mau, dan tanpa mengurangi rasa hormat, terpaksa, aku meminta tolong padanya. Malu? Pasti, takut ? Jangan ditanya lagi. Awalnya dia menolak namun sepertinya dia sudah berubah pikiran saat ku bilang bahwa, kakiku sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tak ada tanda- tanda dokter Tedi pulang, aku duduk di sofa tamu, aku cukup tau diri, koper pun aku keluarkan dari kamar dokter Tedi. Tuan rumah lebih berhak tidur di kamar yang hanya ada satu itu.
"Assalamualaikum" akhirnya suara dokter Tedi terdengar juga.
"Waalaikumsalam" jawabku, ku lihat dokter Tedi datang dengan membawa dua kantong belanjaan yang cukup besar dan penuh, sedang membuka sepatunya lalu menghampiriku.
"Nih, pesenan kamu, saya nggak tau kamu biasa pake merk apa, kamu pilih sendiri aja tu, kalau nggak ada yang cocok, cocok-cocokin aja dulu, setidaknya buat malam ini aja, besok baru beli yang cocok!" katanya meletakkan satu kantong besar belanjaan yang berisi berbagai macam merk pemb*lut di depanku. Wajahnya? jangan di tanya lagi, udah kayak depkolektor nagi hutang, menyeramkan. Ku lihat sekilas dan segera ku singkirkan dari hadapannya, malu mungkin kalau laki- laki harus melihatnya.
"Oh iya, Terimakasih dok, tapi pemb*lut segini banyaknya, uangnya berapa ya dok? Mana ini semua merk yang mahal-mahal lagi, harusnya dokter jangan beli yang mahal." ocehku yang dibalas dengan tatapan tajam dokter Tedi, membuatku diam seketika.
"Maaf, nih uangnya dok!" Ku berikan beberapa lembar uang limapuluh ribuan, uang bonus saat aku menjemput dokter Tedi di bandara yang ku simpan dan ingin ku gunakan untuk mencari tempat kos harus berkurang banyak hanya demi pemb*lut.
"Nggak usah, dan nggak usah bawel lagi! cukup sekali ini ya Debby, kamu bikin malu saya? Minta aneh- aneh, untung saya bawa masker tadi, coba kalau nggak!" Omelnya.
"Maaf, maaf, terpaksa dok."
"Lagian kenapa kaki kamu?" Tanyanya padaku, yang melihat kaki ku yang terlihat biasa saja tanpa memar atau bengkak.
"Tadi saya mau pasang gorden dokter, terus jatuh, jadi agak terkilir tapi udah mendingan kok sekarang."Jawabku tersenyum samar.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π