Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
PROV Debby


__ADS_3

Plak... ku tampari wajah mas Doni untuk yang ke dua kalinya. "Kamu mau aku jadi simpanan mu Mas? Sungguh Menjijikkan kamu Mas, apa kamu pikir harga diriku dapat dibeli dengan uang?"Aku beranjak dari tempat duduk ku, rasanya aku sudah tidak tahan lagi berada di tempat itu.


"Deb, jangan pergi Deb!" Katanya seraya memegang tanganku.


"Hanya sampai Linda melahirkan, tunggulah sebentar Deb, aku tau kamu mencintaiku juga kan Deb?"


"Lepas nggak mas! Kalau nggak kamu lepas, aku akan teriak, biar semua orang yang ada di sini memukulimu." Ancam ku pada mas Doni. Ia pun melepaskan tanganku dan aku segera berlari meninggalkannya. Aku berlari ke taman yang ada di belakang rumah sakit, ku luapkan semua emosiku disana, ku keluarkan airmataku sampai puas. Aku tak menyangka Mas Doni akan tega merendahkan harga diriku seperti itu. Ternyata aku sudah memberikan hatiku pada orang yang salah. Aku akan mengikis dan melupakan perasaanku padanya, ya itulah yang harus aku lakukan mulai sekarang.


"Nggak baik, masih pake seragam, nangis-nangis, nanti dikira orang kamu didzolimi saat kerja di rumah sakit ini. ayo cepat hapus airmata kamu!" Kata Dokter Tedi yang tanpa kusadari suda berdiri dibelakangku dan tanpa permisi, ia duduk di sampingku, memberikan sebuah tisu padaku, ku ambil dan segera ku hapus airmataku.


"Dokter, kenapa kesini? Nanti orang pada mikir yang aneh- aneh." Kataku.


"Saya tadi nyari kamu, ternyata kamu lagi disini."


"Mau ambil kunci?" Tanyaku, lalu ku berikan kunci apartemen padanya.


"Bukan, saya mau bilang kalau saya akan segera kembali ke USA, kamu nggak perlu cari tempat kos buru- buru, kamu bisa tinggal di apartemenku. Karena waktu saya kemari, Saya menyewanya untuk waktu satu bulan." Katanya.


"Kapan?" Tanyaku lagi.


"Apanya?"


"Ke USA."


"Insya Allah Besok lusa."


"Secepat itu?" Tanya ku, Ia menatapku dengan tepat ke mataku, ku palingkan wajahku, ku sesali pertanyaan yang terdengar sangat b*d*h itu.


"Maksud saya, apa masalah yang katanya dokter ambil alih sudah selesai?" Sambung ku yang tak ingin dokter Tedi berpikiran salah paham padaku.


"Sudah." Jawabnya singkat.

__ADS_1


"Saya harus kerja dok, saya permisi dulu." Pamitku, setelah aku sadari saat ini ada banyak mata yang melihat kami sedamg berdua. Aku tak ingin berita burung tentang aku dan dokter Tedi semakin hangat.


Aku pun buru-buru kembali ke UGD secepatnya, sudah ada banyak tugas menungguku disana.


"Lah Deb? Kenapa mata kamu?" Tanya sinta yang saat ini terlihat sedang mengamatiku.


"Tadi di rumah kucing ku mati, kucing kesayanganku." Jawabku beralasan.


"Ya ampun, masak gitu aja nangis? Yang sabar ya Deb" hiburnya padaku, sinta memang termasuk orang yang masih sangat polos dan dengan gampangnya percaya pada perkataan orang lain, jadi mudah bagiku untuk menutupi kenyataan yang sedang kuhadapi darinya.


"O ya Deb, tadi kamu dicari dokter Tedi!" Kata Sinta padaku.


"Iya, udah ketemu kok" jawabku, ia menatapku dengan penuh curiga, "nggak usah terlalu mikir macem- macem deh, dia cuma mau bayar hutang waktu makan sate semalam, jadi jangan mikir aneh- aneh."Jawabku asal.


"Hutang? Makan sama cewek ngutang?" Tanyanya dengan bingung.


"Kebiasaan mikir lama... ayo buruan kerja!" seru ku, aku duduk sejenak sambil terus memikirkan perlakuan mas Doni, kebetulan belum ada pasien masuk.


"Hah?"


"Ada pasien, kamu pasang infusnya, aku panggil dokter Siska dulu" Kata Sinta, aku pun segera melakukan tugas dari Sinta, aku segera mengambil semua peralatan dan kebutuhan untuk memasang infus pasien, beberapa kali aku melakukanya gagal menemukan pembuluh darah pasien. Entah apa yang ku pikirkan sampai-sampai aku tak dapat fokus, biasanya aku tak pernah seperti ini.


"Deb, kamu kenapa? belum bisa ya?" Tanya Sinta yang sudah kembali dari memanggil dokter Siska, ku gelengkan kepalaku.


"Coba, sini biar aku aja!" Kata Sinta, dia pun segera mengambil alih pekerjaanku, tak butuh waktu lama, Sinta bisa dengan mudah memasang infusnya.


"Debby!" Suara dokter Tedi tiba- tiba memanggilku. Aku pun menoleh, begitu juga dengan yang lainnya, mereka pun terlihat begitu terkejut, karena tak seharusnya dokter Tedi ada di sini.


"Debby, kalau kamu sudah tidak mau kerja lebih baik kamu pulang" katanya dengan tatapan tajam seperti pisau yang siap menusukku, perasaan ku mulai tak enak. Bahkan rekan- rekanku hanya bisa berbisik satu sama lain. Aku hanya bisa menahan air mata dan malu.


"Maksud dokter?" Tanyaku pelan.

__ADS_1


"Dokter Siska, bisa saya bicara dengan Debby sebentar?" Pintanya pada dokter Siska yang saat ini bertugas sebagai dokter UGD.


"Oh iya... Silahkan dokter Tedi."


"Kamu, ikut ke ruangan saya." Kata dokter Tedi padaku, Ia mengambil tas ku dan menarik tanganku dengan kasar, sepertinya dia benar- benar marah padaku dan akan segera mengusirku dari rumah sakit ini.


"Duduk!" Perintahnya, setelah kami tiba di ruangannya.


"Kalau sudah nggak niat kerja lagi, lebih baik mengundurkan diri!" Katanya tanpa perasaan.


"Maaf dokter, salah saya apa ya?"


"Kamu masih tanya apa kesalahan kamu? dari tadi saya sudah perhatikan kamu hanya melamun, bahkan kamu nggak bisa kan cari pembuluh darah pasien? Bukannya tadi pagi saya sudah peringatkan untuk mengambil ijin?"


"Saya minta maaf, saya nggak sengaja." Jawabku, aku tak tau sejak kapan dokter Tedi mengamati pekerjaanku hari ini.


"Pekerjaan kamu nggak bisa dibuat sengaja atau tidak sengaja Debby, pekerjaan kamu berhubungan dengan nyawa seseorang, Ngerti kan kamu?" omelnya.


"Apapun masalah yang sedang kamu hadapi, pasien tetap lah nomor satu, jangan jadikan masalah sebagai alasan. Bukan hanya kamu saja yang punya masalah, semua orang juga banyak, tapi masih dalam batas kewarasannya dan tidak se ceroboh apa yang kamu lakukan tadi! Kamu..."


"Diceraikan bukan masalah yang mudah bagi wanita sepertiku Dokter!" Selaku, yang sudah tak tahan lagi mendengar kemarahan dokter Tedi, dia tak mengerti seberapa besar beban pikiranku. Butiran bening yang sudah dari UGD tadi ku tahan, akhirnya jatuh juga.


"Apa? Cerai?" Tanyanya menyelidik.


"Saya tau saya salah, tapi nggak perlu marahi saya di depan teman- teman saya kayak tadi. Kan bisa marahnya di tahan sampe di ruangan dokter." Ucapku masih dengan isak tangisku.


"M_maafkan... Saya, bukan maksud saya marahi kamu di depan teman- teman kamu. Itu juga buat pelajaran bagi mereka juga, supaya lebih berhati- hati kedepannya." Jelasnya dengan nada yang sedikit lebih lembut.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2