AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 170


__ADS_3

HAII READER KU TERSEYENG


JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA


KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


💞💞💞💞💞💞💞💞💞


LANJUT ^^^^


Rafa menyuruh Vicko untuk pulang sendiri ,agar dirinya bisa leluasa menikmati malam hari di kota Roma,italy.



Kota yang sangat pas untuk suasana hatinya kini,jauh dari orang orang terkasih dan keluarga yang sangat disayang dalam hidup nya.


"Aku merindukanmu pemilik hatiku,pengisi jiwaku jika begini terus haruskah aku kembali agar selalu berada didekatmu?" gumam Rafa dalam hati.



Rafa akhirnya mengambil keputusan untuk menentukan langkah apa yang harus ia ambil.Sudah cukup selama ini menjauh dan bersembunyi,kali ini ia akan menghadapi semuanya.


Tapi yang harus ia hadapi sekarang bukanlah musuh,melainkan orang tuanya sendiri antara restu dan kepercayaan.


Alina yang sedang terlelap bermimpi bertemu dengan seorang pria,yang ia tak tahu siapa karena tertutup oleh kegelapan.Tapi yang ia ingat dan ketahui bahwa pria itu tinggi ,dan selalu tersenyum kepadanya.


"Huft,aku mimpi lagi tapi dengan siapa ya tadi aku lihatnya,tapi sungguh sangat tampan dan aku jadi ingin bertemu dengannya," gumam Alina dalam hati.



Sungguh pemuda yang tampan dan bikin author saja menyesal karena sudah laku,coba kalau belum sudah kukejar kau Abang ke lobang semut sekalipun.


"Yang Adek dimana ya?" Tanya Alex bingung karena saat masuk kedalam rumah putrinya itu tidak kelihatan sama sekali.


"Mungkin dalam kamar nya kali,nanti Bunda cek dulu deh." Sahut Selina sambil tersenyum.


Ia pun masuk kedalam kamar putri cantik nya itu,tapi ia tak mendapati objek yang dicari. Selina yakin jika Alina pasti berada dalam kamar Abang nya jika ia ada masalah.


Ceklek


Selina langsung tersenyum ketika melihat Alina tengah terlelap diatas ranjang king size milik Rafa.Diusapnya pelan rambut putrinya itu,ia tahu betul jika Alina tidur dikamar Rafa artinya ia mempunyai masalah.


Selina membangunkan Alina karena tak bagus tidur disore hari,itu akan berpengaruh pada kesehatan.


"Dek,bangun dong ini sudah sore tau nggak?" Tanya Selina.


"Ih Bunda tapi aku masih ngantuk." Sahut Alina yang masih setengah sadar.


"Bangun atau Bunda siram pake air seember," ancam Selina.


"Aduh kenapa sih semua pada nggak ngertiin aku," gerutu Alina kesal.

__ADS_1


"Bukan seperti itu juga kali Nak,tapi nanti kalau mau tidur ya nanti setelah mandi dan makan malam dulu." Sahut Selina serius.


"Sepuluh menit lagi Ya Bun,pliss," pinta Alina memasang wajah imutnya.


"Big No!" tegas Selina yang tak ingin dibantah.


Mau tak mau suka tak suka,Alina harus bangun dan membersihkan tubuhnya sebelum kena amukan lagi.


"Dasar emak emak,doyan nya paksain orang kalau tau begini lebih baik aku nginap dirumahnya Lala saja." Kesal Alina.


"Heii kamu itu harus bersyukur karena disayang sama Bunda kamu,bukan seperti Bundamu ini yang sampai sekarang tak dianggap anak oleh orang tua," ujar Selina yang masih membekas di ingatanya segala perbuatan orang tuanya.


Ia dari dulu merupakan anak yang tak diharapkan,anak yang kehadirannya sungguh dianggap sebagai malapetaka.


Alina merasa bersalah kepada Bundanya,ketika melihat wajah sendu Selina yang ia sangat tahu segala perlakuan kakek nenek dari Selina.


"Maafkan Adek ya Bun,janji deh nggak bakal ngebantah lagi kalau sampe terulang lagi Bunda boleh deh jitak kepalanya adek," Bujuk Alina yang tak enak hati dengan keadaan yang ada.


"Gimana kalau kita panggil pulang Abang kamu,biar kita nggak kesepian lagi?" Tanya Selina antusias.


"Kalau misalnya Abang punya pacar disana gimana Bun?" Tanya Alina penasaran.


"Hemm iya juga ya,nanti kamu telpon deh bujuk Abang kamu terus jangan lupa tanya dia masih jomblo atau sudah sold out," Saran Selina lagi.


"Ya sudah Bunda keluar sana,biar aku yang telpon Abang deh," perintah Alina yang tak ingin Bundanya kepo urusan anak muda.


"Enak saja main suruh keluar ,orang Bunda pengen dengar kalian bicara apa!" tolak Selina lagi.


"Ihh dasar keturunan Alex Roberto yang hobinya merajuk nggak jelas,sukanya bikin darah tinggi kumat," gerutu Selina tapi langsung bangkit dan pergi dari situ.


Alina tersenyum penuh kemenangan ketika melihat sang Bunda akhirnya keluar,dengan begini ia akan lebih leluasa mengobrol dengan Rafa.


"Nah kalau gini kan bebas mau bicara sama Abang," gumam Alina penuh kemenangan sambil mencoba menghubungi Rafa.


Disebuah ruangan yang luas yang diyakini merupakan ruang kerja,terlihat seorang pemuda tampan yang masih betah memandang lukisan didinding yang sudah seperti pameran foto.



Hanya itulah satu satu yang menjadi hiburannya,dikala sendirian seperti ini.Jika ditanya apa ia merindukan gadis cantik itu,jawabannya adalah sangat sangat merindukannya.


Jika ditanya lagi kalau rindu kenapa tak pulang,sebenarnya kalau boleh jujur ia ingin Alina yang memintanya pulang maka malam ini juga ia akan melakukanya.


Derth dertt dertt


Ponsel yang berada disamping nya bergetar,pertanda ada panggilan masuk ketika Rafa melihatnya ia sangat bahagia karena akhirnya setelah menahan Rindu seharian Alina pun menghubungi dirinya.


"Hallo Dek," sapa Rafa dari seberang.


"Haii Abangku sayong,lagi ngapain sih ah pasti merindukan adek mu yang cantik ini kan?" Tanya Alina asal.


"Kok tahu?" Tanya Rafa balik yang tanpa ia sadari telah membuat Alina kebingungan.


Degg

__ADS_1


"Ini maksudnya Abang apa ya,atau aku yang salah dengar?" gumam Alina dalam hati.


"Ehh itu Bang maksudnya," Alina bingung harus bicara apa lagi.


"Abang merindukan mu selalu dan selamanya," ujar Rafa yang sudah tak bisa menahan semuanya lagi.


"Abang sakit?" Tanya Alina yang bingung harus bicara apa lagi.


"Maksudmu?" Tanya Rafa bingung masa mencoba romantis tapi jawabannya sungguh diluar ekspektasi.


"Ya itu tadi jawabanya ngelantur jauh amat,ibarat nya tujuan ke Medan tapi singgah nya di papua," jelas Alina polos.


"Jadi menurut kamu tadi itu bercanda?" Tanya Rafa memastikan.


"Au ah gelap,Abang lagi ngapain disitu?' Tanya Alina yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya lagi mikirin kamu lah tadi kan udah dijawab." Sahut Rafa serius.


"Abang aku serius deh!" kesal Alina.


"Menurut kamu nada bicara Kakak sekarang lagi bercanda?" Tanya Rafa memastikan.


"Tadi disuruh Bunda,supaya aku suruh Abang pulang." ujar Alina yang mulai merasa canggung ketika nada bicara Rafa tadi tanpa bercanda.


"Terus kamu maunya abang pulang atau tidak?" Tanya Rafa memastikan.


"Ya itu mah terserah Abang,atau mungkin Abang punya pacar ya disana?" Tanya Alina penasaran.


"Kalau bilang ada pacar kamu percaya tidak?"


"Ya percaya lah secara Abang ku kan tampan dan seksi.' Sahut Alina tak sadar.


"Tapi kalau pacar Abang kamu gimana?"


"Etdah Bang bisa tidak jangan bercanda terus,besok Abang pulang ya nanti aku sendiri yang jemput.Pokoknya sebelum kekampus Bang sudah disini!" perintah Alina.


"Hemm baiklah Sayang." Sahut Rafa tanpa sadar memanggil Alina dengan sebutan sayang.


" Ya ampun aku normal kan,masa hanya dengar Abang ngomong begitu jantung ku serasa mau lepas saja," gumam Alina dalam hati.


"Bang,kenapa sih panggil nya harus seperti itu." Kesal Alina .


"Memangnya tadi Aku panggil nya apa?" Tanya Rafa pura pura tak mengerti.


"Sayang," ketus Alina pelan.


"Iya aku juga Sayang kamu." Rafa menimpali perkataan Alina barusan.


"Ishh sudah ah lebih baik jangan dilanjutkan lagi bikin kesal tau nggak," ketus Alina lalu mematikan panggilan itu.


Setelah panggilan itu terputus Alina memilih berendam untuk menetralkan degup jantungnya.Berbeda dengan Rafa yang sudah mulai berlari ke dalam kamar nya,ia memutuskan malam ini juga kembali ke indonesia.


Sekarang masih jam 7 malam,masih sempat untuk pergi dengan jet pribadi.Ia tak ingin Alina marah karena ia tak datang sesuai kemauannya,Rafa ingin kesan awal yang bagus untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2