AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 279


__ADS_3

Like N KOMENNYA


Terima kasih


LOPE U FULL


LANJUT ***


Vigo, adalah orang yang menjadi korban perdebatan antara Dinda dan Rivan, Bagaimana tidak keduanya bersikap seolah-olah Dunia hanya milik mereka berdua tidak ada yang lain lagi.


" ini orang dua kenapa sih hobinya berdebat dari tadi, apa tidak sadar kalau kupingku hendak lepas? Lagian Tuan Rivan Sok jual mahal sekali, nanti jatuh cinta bareng keok sendiri!" sungut Vigo dalam hati.


" Permisi tuan dan Nyonya, bisakah hentikan perdebatan kalian itu! Soalnya ini rumah orang tidak enak sama yang punya rumah, nanti dibilang tamu tidak tahu diri baru bikin malu!" pinta Vigo sambil memelankan suaranya karena takut dengan tatapan Rivan dan Dinda itu.


" diam kamu!" bentak Rivan dan Dinda secara bersama membuat Vigo bergidik ngeri.


" Kenapa harus saya yang salah ya, Perasaan Kan saya cuma mengingatkan mereka berdua saja kenapa jadi ngegas titik begitu?" batin Vigo heran mana bisa berbicara langsung bisa habis dirinya dalam hitungan detik itu.


" kamu itu tahu apa soalnya hidup, status aja masih jomblo sejati mau sok menasehati aku!" sinis Rivan yang sebenarnya tidak sadar Jika ia juga sebenarnya salah satu pengurus persatuan jomblo seluruh dunia.


Dinda tak terima dengan perkataan Rivan barusan terhadap Vigo, sebab Rivan Dengan entengnya mengatakan Vigo itu jomblo padahal dirinya juga lebih parah lagi.


" kamu itu sadar diri tidak asal bicara orang sembarangan, yang jadi jomblo itu kamu atau dia atau kalian berdua sama saja? malu-maluin saja tahu tidak jadi orang, tidak sadar diri tidak sadar posisi asalnya nyeplak saja!" Sindir Dinda sambil tersenyum mengejek kearah kedua pria itu.


ketika mereka sedang berdebat Leonard yang sudah tidak bisa berjalan lagi itu keluar dari dalam kamarnya karena mendengar suara ribut-ribut di luar, ia merasa heran dengan kehadiran beberapa orang yang dirinya kenal waktu di Indonesia.


" kalian kok ada disini, kapan sampainya? Terus sama siapa ke sininya, karena perasaan saya baru pertama kali deh kalian kesini?" tanya leonard heran ketika melihat Dinda, Rivan dan Vigo berada di dalam Mansion.


" Oh kita baru pertama kali ke sini, itu juga karena dibawa sama Alex dan Selina!" jelas Rivan sambil tersenyum sedangkan Dinda hanya menundukkan kepalanya karena segan menatap orang kaya nomor 1 di Milan Italia itu.


" terus tuh cunguk di mana, kok hanya kalian saja yang ada di sini? Apa jangan-jangan dia sudah pergi setelah meninggalkan kalian, terus hanya ingin berduaan dengan menantuku saja?" tanya Leonard memastikan.


" mereka dalam kamar entah apa yang mereka lakukan tapi sampai sekarang belum keluar padahal sudah melewati waktu 1 kali 3 jam, mungkin mereka melupakan kami atau sengaja melakukannya entahlah!" sahut Rivan sambil mengedikkan bahunya.


" Loh kok bisa begitu, kamu pergi Panggil Alex keluar sekarang!" perintah Leonard kepada Rivan membuat Vigo mengerutkan keningnya pasalnya dirinya yang harus disuruh bukan bosnya.


" biar saya yang menggantikan Tuan untuk pergi memanggil Tuhan Alex, Soalnya kaki anda sedang tidak sehat!" tawar Vigo yang hendak melangkah pergi menuju kamar Alex akan tetapi dicegah oleh Leonard.


" stop Kamu jangan coba-coba pergi kemana-mana, saya tadi itu menyuruh dia bukan kamu!Kamu pikir saya ini pikun, jadi tidak tahu yang mana pos dan yang mana asisten!" ujar Leonard tajam akan tetapi bukan namanya Vigo Jika ia tidak bisa memperbaiki yang salah.


" tapi tuan, saya yang asisten dan Tuan Rivan yang bosnya. Jadi kalau yang pantas untuk disuruh itu saya bukan dia, maka dari itu saya ingin mewakili Dia memanggil Tuan Alex dan nyonya Bos Selina!" jelas Vigo.


" justru kamu asisten makanya saya suruh kamu tenang di situ karena kalau tidak saat kamu pergi Panggil tuh orang dia bakalan ngamuk ke kamu, Nah lain ceritanya kalau Bos sendirian jalan pasti keduanya bakal berdebat yang ada!" ujar Leonard yang Jengah dengan kebodohan yang dialami oleh Vigo barusan.


Vigo menganggukan kepala karena dari tadi dirinya tidak terpikirkan sampai situ, kalau sampai tadi Ia benar-benar melakukan hal itu entah bagaimana bentuk telinganya nanti saat kembali.

__ADS_1


Rivan tersenyum smirk ketika tahu maksud dari perkataan Leonard tadi, karena ia yakin jika Alex kali ini bakalan ia ejek habis-habis mungkin.


Alex dan Selina sedang memulai ronde yang kesekian ketika hendak meraih pelepasan, suara ketukan pintu mereka menghentikan kegiatan mereka itu.


" Woi masih tempo cepat keluar buka pintunya sebelum aku dobrak, malu-maluin saja jadi orang tidak tahu tempat dan waktu!" teriak Rivan dari luar membuat Alex emosi setengah mati sedangkan Leonard tersenyum penuh kemenangan.


" itu manusia alien Kenapa bisa bisa muncul di sini, padahal tidak ada bagian dari tubuhnya yang aku bawa? kalau model begini terus bisa-bisa kegiatan kita bakalan terancam, dan kalau sampai hal itu terjadi bakalan kuhajar anak itu habis-habisan!" sungut Alex akan tetapi bukannya berhenti dia Malah semakin gencar.


Tok tok tok


Rivan kali ini bukan mengetuk akan tetapi ia seolah-olah ingin merobohkan pintu itu, pukulan yang ia layangkan kearah pintu itu semakin keras membuat semua orang yang berada di situ menoleh ke arah sumber suara.


"Kurang ajar kok bisa-bisanya dia cari masalah denganku, Tapi ini masih posisi tanggung lagi kalau dibiarkan sayang tapi kalau dilanjutkan otak sudah ngeblank!" sungut Alex membuat Selina tertawa.


" Ya sudah nanti dilanjutkan Lain kali saja deh jangan kayak gitu ah malu tahu, terus dibawa pasti banyak orang cuma lagi nonton yang kita Emang kamu mau kita jadi bahan ledekan?" tanya Selina Sambil tertawa kecil.


Suami istri itu memilih mandi bersama agar cepat keluar kamar, sebab perbuatan Rivan di depan kamar mereka semakin gencar dan sepertinya lagi mengajak orang di dalam ruangan itu adu jotos dengan dirinya.


" Habis sudah kesabaranku, Woi kalian keluar tidak dari dalam situ? apa tidak capek mendekam kayak di dalam penjara, Kita yang lihatnya saja mata sakit apalagi kalian?" Entah mengapa Rivan seperti tak puas jika belum melihat Alex dan Selina keluar.


Pada dasarnya sebenarnya Kenapa Rivan melakukan hal itu, karena dirinya merasa tak suka jika Selina selalu berduaan dengan suaminya itu.


Cemburu, itu ternyata bisa membuat orang yang dari awalnya normal berubah jadi orang gila dadakan.


setelah selesai memakai pakaian mereka, Selina dan Alex keluar dan melihat Rivan Tengah bersandar di samping tangga dan menatap sinis ke arah Alex.


" kenapa lihat-lihat, Ada yang salah?" tanya Alex sinis.


" Kamu pikir aku sudi melihat wajah buluk kamu itu, yang ada bikin aku tidak bisa makan 1 minggu gara-gara wajah menjijikkan kamu itu!" sinis Rivan tak mau kalah dari Alex.


" Terus yang suruh kamu berada di situ siapa, hanya menghalangi pemandangan atau tidak Tubuh kamu yang tidak ada gunanya itu!" nah peperangan kata sudah dimulai percaya atau tidak setiap kata sinis yang mereka lontarkan itu sebenarnya hanya karena dendam masa lampau.


" nah tuh kan kamu lihat belum apa-apa saja sudah terjadi perang dunia ke sekian kalinya, coba tadi kalau kamu yang berisi itu kamu masih sanggup angkat muka atau tidak?" tanya Leonard sambil tersenyum mengejek ke arah Vigo yang tadi dengan percaya dirinya menawarkan diri untuk memanggil Alex dan Selina keluar dari kamar.


" untung juga tadi aku dihentikan oleh Tuan Leonard, kalau tidak bisa hancur Harga Diriku diinjak-injak oleh Roberto Junior!" batin Vigo yang secara tak langsung membenarkan perkataan Leonard itu.


" hei kalian masih mau berdebat di situ atau turun ke bawah sini, jadi orang sudah tua Rambutnya mau beruban tapi tingkahnya kayak bocah!" ejek Leonard membuat Alex dan Rivan menghentikan perdebatan mereka dan menoleh kearah sumber suara.


" Nah itu kan Lihat Daddy sudah bertindak, Kalian sih malu-maluin aja! Lain kali kalau mau berantem noh di taman bermain biar dikira rebutan mainan, tahu-tahunya sudah tua bangka aki-aki pula!" sungut Selina memilih turun Sendiri daripada bersama Alex yang tadi memancing keributan.


Rivan yang melihat Selina pergi terburu-buru tanpa sibuk dengan Alex membuat dirinya menjadi besar kepala, otomatis kesempatan langka itu tidak disia-siakan padahal kakinya yang sedang terkilir itu tidak ia rasakan sakitnya sama sekali Demi mengejar Selina.


" Lina Tunggu aku dong jangan buru-buru kaki aku masih sakit nih, Apa kamu tidak kasihan kalau aku kesakitan?" tanya Rivan yang ingin menarik perhatian Selina tapi tak sadar dengan kehadiran suaminya.


" stop brengsek, kalau sampai kamu melakukan hal itu lagi pada istriku bukan kakimu saja yang cedera tapi seluruh hidupmu yang bakalan ku buat cedera!" ancam Alex dengan nada datarnya membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan bergidik ngeri.

__ADS_1


" yang aku panggil itu Selina bukan kamu, atau kalian cara menukar nama?" tanya Rivan.


Selina memilih tak peduli dengan perdebatan kedua manusia dibelakangnya itu, sebab memang orang kalau sudah kebiasaan hobinya ribut biar dibilang sebagaimana model tidak akan pernah mau menurut.


ketika sampai di lantai bawah Selina tersenyum ke arah mertuanya itu, pria yang sudah renta tak bisa berdiri dengan benar hingga harus memakai kursi roda jangan lupakan dengan penglihatan yang sedikit mengabur untung juga memakai alat bantu penglihatan.


" Halo Daddy, Maaf tadi tidak sempat menyapa!" sapa Selina sambil mencium Puncak kangen mertua.


" itu bukan salah kamu Nak Daddy sudah tahu siapa yang salah, pasti suami kamu yang sok kecakepan itu kan?" tanya Leonard sambil mengejek ke arah putranya yang sedang menatap penuh permusuhan ke arah Rivan.


" Loh kenapa jadi aku, perasaan dia kan istriku jadi di mana ada aku ya Otomatis ada dia lah!" sahut Alex yang tak mau disalahkan.


" kamu sejak kapan mau disalahkan padahal memang sebenarnya salah, Kenapa kalian berdua saja Dimana cucuku yang lain? " tanya Leonard penasaran.


" mereka tinggal di sana soalnya Alina lagi kuliah belum libur, terus Rafa Lagi mengurus kerjaan yang tidak bisa ditinggal! " jelas Selina.


" Oh ya sudah tidak apa-apa nanti lain kali saja, Maaf ya Jika Daddy tidak sempat mengunjungi kalian sekarang, maklumlah ini tulang belakang sudah encok tidak bisa dipaksa buat Berjalan jauh!" ujar Leonard membuat semua orang yang berada di dalam situ terkekeh!


Tanpa mereka sadari jika sedari tadi Dinda hanya menyimak saja, Ingin rasanya mempunyai keluarga yang menerima kehadirannya seperti Leonard yang menerima kehadiran Selina itu.


Dalam hatinya ia berharap jika keluarga suaminya bisa menerima dirinya, hanya saja itu semua adalah harapan bak ibarat pepatah jauh panggang dari pada api.


Sebab saat Devan masih hidup saja keluarganya sinis itu pada Dinda apalagi sekarang sudah meninggal, Masih Membekas dalam ingatan perlakuan mereka sore tadi.Membuat harus pergi dari rumah mendiang suaminya dan dirinya, padahal Devan baru saja dimakamkan beberapa jam yang lalu.


"Boleh tidak aku berharap kali ini saja, bisa merasa kebahagiaan seperti Selina rasakan kini ? Tapi sama siapa dan kapan bisa merasakan hal itu, soalnya aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini!" lirih Dinda dalam hati.


Selina yang dari tadi tidak mendengar suara Dinda akhirnya menoleh kearah sahabatnya itu, keningnya mengkerut ketika melihat wajah Dinda yang hanya menunduk saja dari tadi.


"Loh Dinda Kamu kenapa kok diam saja dari tadi, apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Selina khawatir namun hanya dibalas gelengan kepala oleh Dinda.


" Terus kalau begitu Kenapa diam saja?" tanya Selina lagi'


Sebenarnya Selina mencoba untuk membuat sahabatnya itu berbicara agar melupakan kegundahan hatinya.


" Mungkin dia lagi belajar caranya jadi orang pendiam kali?" Rivan menimpali perkataan Selina tadi.


" hus sembarang saja jadi orang, kamu itu yang harusnya belajar jadi orang pendiam soalnya malu sama celana Nanti dikiranya perempuan kan cerewet padahal bukan pakai rok!" Ketus Selina karena tidak suka dengan perkataan Rivan seolah memojokkan Dinda.


" Terserah kamu saja, terserah mau ngomong apa juga yang penting mulut kamu masih sanggup buat komat-kamit!Nanti kalau sudah encok terus mulut-mulut kamu miring sebelah baru Nyaho, karena waktu masih sehat suka ngatain orang yang bukan-bukan!" Sindir Dinda karena merasa kesal dengan kata-kata pedas yang selalu dilontarkan oleh Rivan padanya ketika bertemu.


" Nah itu benar nak Daddy suka dengan pemikiran kamu, orang kalau masih sehat ngomongnya tanpa difilter dulu nanti kalau sudah sakit terus tidak bisa bicara baru ngomongnya hanya U A U A saja!" Leonard menimpali perkataan Dinda barusan so pasti wanita itu menjadi besar kepala.


Dinda tersenyum mengejek ke arah Rivan yang dari tadi memasang tatapan datarnya, pria itu merasa harga dirinya diinjak oleh wanita cempreng yang baru saja ditinggal pergi suaminya.


"Tadi saat Baru beberapa menit menyandang status janda menangis meraung-raung, sekarang status jandanya sudah dalam hitungan jam cerewetnya sudah muncul di permukaan!" Sindir Rivan membuat Dinda emosi.

__ADS_1


__ADS_2