AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 276


__ADS_3

Like N KOMENNYA


LANJUT ****


Selina memeluk sahabatnya yang terlihat bingung harus bagaimana,sebab ia seperti orang asing di tengah keluarga Almarhum Devan.


"Kenapa mereka seperti itu ke kamu?" Tanya Selina penasaran.


"Ah tidak apa apa,mungkin mereka lagi bersedih jadi tidak bisa berpikir jernih.Lagian aku tak masalah jika mereka bersikap seperti itu,karena itu adalah kebiasaan mereka selama ini!" jelas Dinda sembari tersenyum.


" Jadi maksud kamu mereka selama ini tidak bersikap baik ke kamu?" tanya Selina penasaran hanya disambut senyuman oleh Dinda.


" astaga Dinda Nanti kalau aku tinggalin kamu sendiri gimana Disini, belum lagi Mas Devan nya juga nggak ada? " tanya Celina frustasi.


" sudah nggak papa aku ke kamar dulu ya kamu ikut aja, aku juga nggak lama kok hanya ngambilin barang doang!" pinta Dinda sambil tersenyum.


Selina mengiyakan apa yang diinginkan oleh Dinda tadi, dirinya juga tak ingin sahabatnya itu kenapa-napa.


saat masuk ke dalam rumah Dinda memaksakan senyuman di wajahnya namun satu pun tak ada yang menanggapinya, semua keluarga Devan menatap sinis ke arah Dinda yang sedang menaiki tangga itu.


" dasar wanita tidak tau diri karena dia maka Putraku meninggal, Aku tak ingin melihat wanita mandul itu di sini." ujar mamanya Devan terhadap Dinda.


" Iya benar sekali Dia tidak boleh ada di sini lagi, karena dia kakak tidak menyukai kita semua!" kali ini adiknya Devan yang menimpali.


Tanpa mereka sadari ternyata Alex dan Rivan juga berada di situ, kedua pria itu tak percaya jika selama ini keluarga Devan tak menyukai Dinda sama sekali.


" kalau dia kita tinggalkan di sini artinya bisa bahaya untuk psikisnya, lebih baik kita bawa dia pulang! bukan ingin membuat dia jadi wanita yang durhaka, tapi Bukankah hidup harus terus dijalani?" ujar Rivan pelan tapi masih bisa didengar oleh Alex di sebelahnya.


Alex mengerutkan keningnya karena pemikirannya dan refund sama saja, hanya saja ia takut jangan sampai Dinda menolak hal itu.


para wanita bule Italy, selalu menoleh ke arah Rivan dan Alex yang terlihat berbeda dengan mereka.


" Halo ganteng Kenapa sendirian saja sih di sini, mau kita temani malam ini tidak?" tanya salah satu wanita di situ membuat Rivan dan Alex menatap heran ke arahnya.


sedangkan di dalam kamar terlihat Dinda sedang menangis sambil memeluk foto suaminya, Selina berusaha menenangkannya karena tak tega melihat wajah sedih Dinda itu.


" kamu yang kuat ya jangan bersedih terus, aku yakin Mas Devan pasti mengerti dan tahu apa yang kamu alami selama ini! kamu ikut aku pulang ya soalnya aku nggak bakalan tenang kalau tinggalin kamu sendiri, jadi mau atau tidak mau Tolong jangan menolak kemauan ku kali ini saja!" pinta Selina memelas karena memang tak sampai hati meninggalkan Dinda sendiri.


" aku kuat kok Lina kamu jangan khawatir, rumah ini takkan kutinggalkan Apalagi mas Devan baru pergi. Nanti kalau dia kembali nyariin aku gimana, pasti dia bakalan sedih karena aku pergi tanpa pamit?" sahut Dinda sambil tersenyum.


Selina menggelengkan kepalanya karena orang sudah meninggal tidak mungkin bakalan bangkit lagi, yang dia butuhkan Hanya doa entah dari tempat manapun itu!


" aku mohon kali ini dengarkan permintaanku Sekali Ini Saja, ikut aku pulang ke Indonesia. dan aku yakin Mas Devan pasti tidak akan membantah perkataanku barusan, karena melihat tatapan keluarganya itu tidak ada yang benar semua Dinda!" lirih Selina sambil menggenggam tangan Dinda yang terasa begitu dingin.


" tapi Apa tidak masalah jika kuburannya masih basah Aku tinggalkan, Bukankah nanti aku dicap sebagai istri yang tidak baik dan tak bertanggung jawab?" tanya Dinda memastikan.


" tidak masalah jika Itu Memang Yang Terbaik, kamu jangan merasa kecil hati ataupun berpikiran yang tidak-tidak semua itu tidak ada yang terjadi sama sekali!" bujuk Selina mencoba meyakinkan Dinda.


Dinda menganggukkan kepalanya pertanda bakalan setuju pergi kembali ke Indonesia bersama Selina, dan mungkin dalam waktu dekat ini dirinya bakal menginap sementara di apartemennya Selina dan Alex karena memang keluarga Devan sangat tidak menyukai dirinya.

__ADS_1


" ya sudah ayo berkemas supaya kita pergi dari sini, jangan lupa akan barang-barang kamu yang penting ijazah paspor dan lain-lainnya! Nanti pamit baik-baik sama mertua kamu, karena Biar bagaimanapun Dia adalah orang tua kamu sekarang dan orang tuanya Mas Devan juga!" ujar Selina dan di angguk Dinda.


Dinda mengambil semua pakaiannya dan pakaian Devan sebagian foto-foto yang tertempel di dinding maupun di atas nakas, karena kepergiannya kali ini tidak akan kembali lagi ke tempat yang menyimpan berjuta Kenangan bersama suami.


"Aku pergi maaf jika terlalu cepat berlalu, maaf juga jika aku takkan kembali karena aku disini ini untuk kamu tapi mereka tak ingin aku ada. Maafkan aku jika menjadi istri durhaka, Percayalah kamu punya tempat khusus dalam hidupku dan tidak akan diambil oleh siapapun!" batin Dinda Lirih sambil menatap ke segala penjuru kamar itu.


Selina hanya melihatnya dari kejauhan Tak ada niat buat mengusiknya, karena ia tahu melepaskan sesuatu yang sudah mengikatnya bertahun-tahun itu sangat sulit.


" Mas Devan aku bawa dia ya, tenang saja bakalan ku jaga cempreng agar tidak kabur!" kali ini Selina mencoba mencairkan suasana dan berhasil karena Dinda sempat tersenyum sedikit.


Setelah Dinda selesai keduanya turun ke bawah dan melihat tatapan sinis dari semua keluarga Devan, tidak lupa juga mertua dan adik perempuan Devan.


"Sadar diri kamu kalau tidak diperlukan di rumah ini lagi dan bukan siapa-siapa lagi, ingat semua harta milik Putra aku bakalan menjadi hak kami bukan kamu wanita asing dan mandul!" sinis mertua Dinda.


Dinda berusaha Tegar tak ingin memperkeruh suasana, disambutnya semua perkataan sinis mertuanya itu itu dengan senyuman.


"Dasar wanita pembawa sial membuat kakakku pergi, Ingat jangan kembali lagi ke sini atau kami bakalan bikin perhitungan dengan kamu!"Adik perempuan Devan menimpali perkataan mamanya tadi..


"Terima kasih karena kalian sudah menghadirkan Suamiku di dunia ini, maaf jika selama ini membuat kalian tidak nyaman. Percayalah aku tulus mencintai mas Devan, maaf jika aku harus pergi sekarang dan kalian tenang saja aku tidak akan kembali ke rumah ini dan tidak akan menguras harta peninggalan suamiku sedikit saja!" ujar Dinda dengan wajah yang dipenuhi senyuman.


semua keluarga Devan menatap tak percaya ke arah nya, karena semua perkataan Dinda tadi sungguh menusuk jika memang orang tersebut punya urat malu.


" kurang ajar dia berani-beraninya menghinaku, aku bakalan bikin perhitungan dengan wanita tidak tahu diri itu!" Ketus Debora adiknya Devan.


" Bora Tenanglah, Bukankah dia sudah pergi dan tidak akan kembali lagi Jadi untuk apa kita bersusah payah marah-marah tidak jelas?" kali ini mamanya Devan berusaha menenangkan putrinya.


Vigo menarik salah satu koper Dinda dan membawanya keluar, Begitu juga dengan Alex dan Rivan yang membantu membawa koper yang lain.


" kamu ikut mobil Mas Rivan saja, soalnya tuh semua barang dikasih masuk ke dalam mobilnya aku!" pinta Selina.


Akan tetapi saat mereka akan pergi tiba-tiba ada panggilan masuk dari Alina di tanah air, Selina akan tersenyum karena sangat merindukan putrinya hanya saja lupa menghubunginya.


" Hello my sweet Girls, Gimana kabarnya di sana?" tanya Selina sambil tersenyum ketika melihat wajah putrinya memenuhi layar ponselnya.


Alina memasang wajah cemberut nya karena kesal Selina pergi tak memberitahukan padanya dahulu, sudah begitu Rafa seolah mengambil kesempatan dalam kesempitan agar bisa berduaan dengannya.


" Bunda mah tega bisa-bisanya sih pergi nggak bilang-bilang, Aku kan jadi kesal karena tidak bisa pesan apa-apa untuk dibawa ke sini!" kesal Alina sambil memasang wajah cemberut nya.


" ya maaf kamu kan tahu gimana sikap Ayah kamu yang selalu saja terburu-buru, makanya Bunda kasih tahu sama abang saja sama kamunya belum." sahut Selina yang berusaha meredam kekesalan putrinya itu.


Alina ina tanpa sengaja melihat Dinda berdiri di samping Selina, jika penasarannya pun mulai mencuat di permukaan akhirnya ia pun mulai bertanya.


" itu siapa Bunda di samping?" tanya Alina penasaran.


Selina mengarahkan ponselnya kepada Dinda dan Dinda membalas dengan tersenyum, dirinya tak menyangka ternyata Alina kecilnya sudah berubah menjadi gadis yang cantik.



" halo sayang udah gede ya jadi maminya dilupain, Mami jadi sedih loh karena tidak diingat sama anak sendiri?" ujar Dinda sambil menitikkan air mata karena memang hatinya kembali merasa kesedihan ketika melihat Alina.

__ADS_1


Alina mencoba mengingat kira-kira Siapa yang biasa dipanggilnya Mami dahulu, dan yang biasa iya Panggil yaitu Dinda Jadi kalau begitu orang ini....


" Mami Dinda, iya beneran ini Mami Dinda kan?" tanya Alina memastikan hanya di angguk Ki kepala oleh Dinda.


" Astaga Mami selama ini kemana saja Ana kangen tahu tidak, Mami Dinda mau pulang bareng bunda sama ayah kan ke sini?" tanya Alina antusias.


" iya Mami kamu bakalan pulang barang daddy kemudian Ayah sama Bunda, jadi kamu punya banyak kan Mami sama Bunda?" tiba-tiba Rivan datang dan menimpali perkataan Alina membuat Alex mendelik kesal.


" Wow daddy di sana juga, ih bakalan rame itu terus Papinya mana?" tanya Alina mencari keberadaan Devan.


mendengar nama Devan disebut semua orang menoleh ke arah Dinda tak enak hati, apalagi wajah wanita itu sudah memerah karena menahan tangis.


Selina memilih mengambil ponsel dari tangan Dinda, lalu melanjutkan pembicaraan dengan Alina di seberang.


" nanti Bunda hubungi lagi ya, soalnya sekarang lagi ada urusan mendadak dan Kayaknya sudah telat deh!" pamit Selina lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


" Maafkan Alina ya soalnya dia tidak tahu apa-apa tadi, tapi nanti setelah sampai di sana aku bakalan ngomong ke dia biar dia mengerti!" ujar Selina tak enak hati.


" aku nggak papa kok karena memang dia jelas bertanya seperti itu Masa ada maminya tidak ada Papinya, kalian jangan memasang tampang mengenaskan seperti itu sungguh sangat menjijikkan!" Dinda mencoba untuk bercanda agar suasana lebih cair lagi.


" wajah tampan begini kamu bilang mengenaskan terus nanti kalau mengenaskan setampan apa?" goda Rivan.


sedangkan Alex masih menatap tajam kearah pria yang tadi dengan entengnya menimpali pembicaraan istri dan putrinya, Alex udah tak terima jika Rivan terlalu akrab dengan keluarganya.


" Eh kamu aki-aki yang jalannya pakai tongkat, Tolong sana jangan gangguin hidup orang terus! Awas aja kalau sampai aku lihat kamu berkeliaran di mana-mana, bakalan kuhajar kamu sampai tepos!" sarkas Alex lalu segera masuk ke dalam mobil.


" eh mana bisa begitu sekarang itu kita bakalan tinggal sama-sama, Persetan mau kamu peduli atau tidak aku mah bodo amat!" sahut Rivan santai dan ia yakin pasti Alex mendengar perkataannya tadi.


Dinda hanya menatap heran ke arah Alex dan Rivan yang tidak ada manis-manisnya dari tadi, dan ia yakin pasti bermusuhan itu berasal dari Selina penyebabnya.


" suami kamu masih jealous sama Rivan, padahal sudah berapa tahun yang lalu loh kenapa sikapnya masih begitu saja?" tanya Dinda memastikan.


" aku saja bingung harus gimana soalnya mas Rivan kaya tambah beda sekarang tidak kayak dulu, dia bahkan secara terang-terangan ngomong ke Mas Alex kalau bakalan merebut aku dari dia!" sahut Selina pelan membuat Dinda hanya bisa menggelengkan kepala karena Tak habis pikir.


" Oh jadi sekarang posisi dia lagi modus begitu, Awas aja kalau sampai macam-macam bakalan tambah pendukung buat kamu sama Alex!" sahut Dinda sambil menatap tajam kearah Rivan yang saat itu menatap ke arahnya.


Rivan mengerutkan keningnya ketika melihat tatapan permusuhan dari Dinda barusan, padahal dirinya tak salah apa-apa tapi mengapa Dinda seolah mengibarkan bendera peperangan.


" wanita kalau lagi sedih tampangnya itu menyeramkan kadang senyum Kadang jutek, padahal Siapa juga yang gangguin mereka tidak ada kan?" ujar Rivan yang masih bisa didengar oleh Vigo.


" ya mungkin saja dengan cara begitu mereka bisa awet muda tuan, namanya treatment alami tanpa pengawet buatan!" Vigo menimpali perkataan tuannya itu membuat Rivan merasa heran.


" kamu kalau mau kasih pendapat yang kreatif sedikit bisa tidak, semua tidak jelas tahu tidak dan bikin pusing?" Ketus Rivan.


" Astaga tuan saya salah lagi ya Padahal tadi cuma ngomong doang, Ya sudah baiklah saya akan diam Bukankah Diam itu lebih aman?" ujar Vigo pasrah tak ingin berdebat lebih lama dengan tuannya itu lagi.


Setelah semua sudah beres mereka memutuskan untuk ke kediaman Roberto di Roma Italia, Karena disana ada Leonard Daddynya Alex yang menetap di situ.


" kita mau ke mana Mas?" tanya Dinda memastikan.

__ADS_1


" tadi sudah dikasih kabar sama Alex kalau kita bakalan ke Mansion nya Roberto, Soalnya kalau ke apartemennya tidak bakalan cukup!" jelas Rivan karena memang sekarang posisi Dinda sedang semobil dengan mereka.


" Oh seperti itu ya!" sahut Dinda singkat jelas dan padat.


__ADS_2