
Like N KOMENNYA
***LOPE U FULL
LANJUT*** ***
Selina menatap jengah ke arah Rivan yang dari tadi selalu mencari perkara dengan suaminya, syukur juga kalau sedang keluar Coba kalau masih ada di sekitaran situ Entah nanti apa yang terjadi?
" kamu bisa diam tidak, Kenapa Jadi orang kok mulutnya bicaranya banyak sekali? terserah aku mau ngapain dong bukan urusan kamu, Lagian kalau aku terkontaminasi dengan otak suami aku ya sah-sah saja orang dia kan suamiku?" tanya Selina sinis tak peduli dengan tatapan Rivan yang Intens kepadanya.
Dinda yang sedang bersedih sempat-sempatnya mencuri pandang kearah Selina dan Rivan yang sedang berdebat itu, ia tak percaya dengan kedua manusia itu yang dahulu manis banget sekarang kok lidahnya pahit sekali.
hanya saja Dinda urungkan niat untuk berkomentar sebab bukan saat yang tepat, hanya saja dirinya akan mengingat pertanyaan yang ada di benaknya baik-baik agar besok lusa dengan mudah dan gampang ditanyakan kepada Selina.
" Lagian Kamu kenapa sih Mas masih ada di sini, Harusnya kan kamu juga bantuin Mas Alex dan Vigo untuk mengurus pemakaman Devan? "tanya Selina Tak habis pikir.
" aku kan tidak bisa pergi meninggalkan kalian berdua, karena di mana-mana itu saat wanita sedang galau kaum pria wajib harus menemani!" ucap Rivan serius.
Selina membuang nafasnya kasar karena alasan yang diberikan Rivan itu sungguh tak masuk akal sama sekali, setahu dirinya wanita itu tidak selamanya menjadi kaum yang lemah mereka adalah kaum yang lebih mementingkan hati daripada perasaan.
" Mas kalau ngomong dipikir dulu dong Emangnya siapa yang bakalan galau di sini, Lagian kami berdua itu sedang berduka kalau dia kehilangan suami sedangkan aku kehilangan sahabat yang dahulu baik sekali?" tanya Selina heran dengan jalan pikiran Rivan tadi.
" ya Justru karena itu makanya aku ada disini, mana tega meninggalkan kalian sendiri disini hati aku tak sanggup melakukan itu! " ujar Rivan yang sengaja mendramatisir keadaan.
" itu namanya lebay bin modus, jadi jangan banyak bicara lagi capek dengarnya! Tunjukkan rasa belasungkawa jangan ada udang dibalik bakwan, jadi orang semuanya tahu dari kulit luar tapi isi dalam sangat tidak paham!" Sindir Selina lalu setelah itu ia bungkam.
Rivan pun sudah memilih tak mau berdebat lagi karena nanti Selina bakalan kesal padanya, cukup Alex yang kesal padanya jangan Selina lagi.
" ya Baiklah aku bakalan Diam tidak akan bicara lagi, Tapi kamu jangan marah-marah kayak tadi soalnya kelihatannya jelek banget tau tidak!" bisik Rivan tepat ditelinga Selina.
Selina memilih menegakkan badannya tak ingin menoleh ke kanan ataupun kekiri fokus ke arah Dinda dan suaminya, sebab berbicara dengan Rivan sungguh membuat dirinya bisa tersulut emosi.
" sabar-sabar Selina soalnya berbicara dengan manusia setengah orang bakalan susah buat dipahami, jadi lebih baik yang normal mengalah tidak usah terus-terusan berantem sama yang miring-miring?" Selina mencoba untuk menentramkan hatinya tidak ingin merasa dongkol dengan sikap Rivan tadi.
suasana rumah itu begitu sepi walaupun begitu banyak orang yang datang, ketenaran seorang Devan Erlangga Tidak diragukan lagi di negeri Italy itu.
banyak pelayat yang datang mulai dari kalangan mulai dari pebisnis hingga pegawai pemerintahan, tidak lupakan juga para karyawan yang bekerja di perusahaannya.
Dinda memilih Tak menggubris semuanya itu sebab di dunianya yang dirinya kenal hanyalah Devan, yang lain tak dianggapnya sama sekali terkecuali Selina Rivan dan Alex.
" Mas bangun dong sebentar lagi pasti mereka bakalan bawa kamu pergi dari hidupku, Kamu kenapa tega kayak begini Apa tidak sayang padaku lagi?" tanya Dinda dalam hati.
namun apa yang ia dapat Tak ada satupun yang merespon termasuk tubuh kaku yang berada di depannya itu, tubuh yang hanya memerlukan doa untuk mengantar kepergiannya kepada sang pencipta.
tersirat puisi di dalam hati yang tersakiti:
Aku tahu ini berat,
Aku tahu ini menyakitkan
hanya saja Bisakah kau tahu
kalau aku akan selalu di sini
menantimu, Kini Dan Nanti
dia yang memberikanmu untukku
dia pula yang mengambilmu dariku
aku bisa apa
__ADS_1
menangis,
sedih dan Meraung?
tentu tidak!
karena aku yakin Tuhan sudah menyiapkan hal yang terindah untukku, yang datangnya tanpa kusadari dan hadirnya takkan kusesali!
Aku Manusia Biasa
aku manusia lemah
tapi aku wanita terhebat
wanita yang yang selalu mencoba Tegar mencoba kuat walaupun keadaan tak mendukungku
Tuhan....
Bolehkah kupinta Sekali Ini Saja
hadirkan senyumannya padaku
walaupun hanya dalam mimpi saja, Ingin ku gapai dirinya dan kau bisikan kata terakhir....
Goodbye my honey, I love you more!!!
ok LANJUT ***
kini Devan sudah terkubur dalam gundukan tanah yang masih basah , tersirat wajah penuh kesedihan milik Dinda yang semua orang tak bisa pungkiri hal itu.
" kamu sudah pergi mungkin tak bisa ku gapai lagi tapi kenapa hati ini tak bisa ikhlas Mas, kalau aku ingin ikut kamu boleh tidak? " gumam Dinda yang masih bisa didengar oleh Selina yang berada di sampingnya.
"Husss, kamu kalau ngomong itu jangan asal Sembarang saja deh! suami baru pergi juga kok bisa langsung ada rencana yang aneh-aneh, kalau tahu kamu gila model Begini lebih baik aku sama Alex tidak boleh datang ke sini tadinya!" Ketus Selina yang tak terima dengan perkataan Dinda barusan.
" Ya sudah ayo kita balik Bukankah Tubuh kamu juga perlu istirahat, itu lihat Mas Rivan saja nungguin kamu kasihan kan kalau mereka kecewa lihat kamu yang tak peduli!" ujar Selina sambil menunjuk kearah Rivan yang sedang tersenyum pada keduanya.
" kenapa aku merasa Senyumnya itu hanya untuk kamu saja ya, jadi dia kesini itu bukan untuk aku tapi untuk kamu tahu tidak?" ujar Dinda Tadi katanya bersedih sekarang sengklek nya muncul lagi'
"Eh kamu Jangan pusing sama tuh orang, suami kamu baru di kubur masa langsung mikirin orang lain nggak penting?" Selina berkata seperti itu sambil menatap sinis kearah Dinda.
"Aku memang Lagi bersedih, tapi kata Mas Devan aku tidak boleh larut dalam kesedihan karena nantinya dia akan sedih melihat hal itu dari sana dan aku tak ingin hal itu terjadi! " sahut Dinda memaksakan senyuman di wajah yang terlihat sembab itu.
Selina merasa terharu karena perkataan Dinda barusan, diakuinya memang benar perasaan Kehilangan itu pasti ada.Tapi lebih dominan pada pesan-pesan yang disampaikan sebelum Kehilangan itu, hingga membuat rasa kehilangan tidak terlalu berat.
" Ya sudah ayo kita pulang soalnya besok Mas Alex harus ketemu sama klien dan mengurus perusahaan yang di sini, karena aku juga nggak enak ninggalin anak-anak lama di sana!" ujar Selina lalu menarik tangan Dinda agar ikut dengannya'
" Eh aku lagi berduka loh masa asal tarik aku seperti begitu, Padahal aku kan masih ingin pesan salam dengan suamiku dulu!" sungut Dinda Karena perlakuan Selina barusan yang tiba-tiba menarik dirinya tanpa aba-aba.
" bodo amat, Lagian Tuh semua orang sudah pada pulang Kenapa masih di sini juga? mau nanti Ditemani sama makhluk astral yang Senyumnya manis, padahal aslinya aduhai amboi!" Sindir Selina membuat Dinda bergidik ngeri.
" Ih kamu kira-kira dong kalau ngomong aku kan Jadi ngeri sendiri, mana Ini masih di daerah Mereka lagi kan bisa berabe urusannya?" Dinda mengatakan hal itu sambil memasang wajah cemberut.
Rivan yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum cara Selina membuat Dinda sedikit melupakan kesedihan, dia akui Wanita itu bukan hanya cantik tapi juga sangat berhati mulia.
" kamu pulang bareng sama aku saja, daripada gangguin mereka yang katanya lagi mau Kasmaran?" tiba-tiba Rivan mengatakan hal itu bukan apa-apa hanya ingin agar Selina melihat bahwa dirinya tulus membantu Dinda.
" Nah itu lebih bagus daripada kamu sedih terus, Bukankah kalau dekat benalu seperti dia membuat pikiran sedikit rileks!" Alex menimpali yang entah kenapa setiap disuruh berdekatan dan hanya berduaan dengan Selina pasti dirinya gerak cepat.
" senangkan kamu kalau aku inisiatif seperti ini, asal kamu tahu ya kalau aku itu hanya ingin berguna bagi Selina bukan untuk kamu!" sinis Rivan lalu menarik tangan Dinda agar ikut dengannya.
" eh tuh istri orang Mau Dibawa Kemana, dia masih berkabung loh belum bisa diapa-apain?" tanya Selina heran ketika melihat Rivan menarik tangan Dinda menjauh.
__ADS_1
" ya mau antarkan dia Pulanglah Lina, masa iya ajakin dia ke KUA sekarang? yang ada nanti aku yang Dituduh macam-macam sama suaminya orang, jadi istrinya ditinggal janda sendirian!" tolak Rivan sambil memasang tatapan datarnya.
Selina menggaruk kepalanya yang tak gatal sebab merasa lucu dengan tuduhannya barusan, terlihat seperti mencurigai padahal sebenarnya karena Dinda ada yang menjaga.
" Sudahlah sayang biarkan saja tuh si cunguk menjaga si cempreng, bukannya Hal itu merupakan perpaduan yang sempurna tidak dapat terelakan lagi?" tanya Alex sambil tersenyum membuat Selina mengernyitkan keningnya karena heran.
" eh suami orang tuh baru meninggal 1 kali 24 jam masa iya langsung kamu jodohkan sama orang lain, nanti arwah Devan Yang penasaran gentayangan gimana?" Sungut Selina tak terima.
" biarkan dia gentayangan Emang masalahnya di mana, itu kan maunya dia bukan karena kita yang menyuruhnya?" sahut Alex santai tanpa beban.
" nanti dia gentayangan depan biji mata kamu baru bilang sulap, aku mah ogah pengen lihat saja kagak apalagi di datangin beneran bakalan mandi kembang 7 rupa deh!" Selina mengatakan hal itu sambil bergidik ngeri.
" Astaga sayang orang sudah meninggal itu tidak mungkin berjalan kesana kemari, orang nafasnya saja tidak ada masa kita harus takut? ubah deh cara pikiran kuno kolot begitu, karena orang meninggal itu dia bakalan pergi tidak mungkin kembali lagi!" ujar Alex Sambil tertawa kecil melihat ketakutan sang istri yang terlalu berlebihan itu.
" Ya sudah ayo pulang ngapain lama-lama di sini, bulu badan aku berdiri semua nih loh pasti ada yang lagi lihatin kita sekarang dengan tatapan matanya yang tajam dan berwarna merah!" Selina mengatakan sesuatu secara dramatis kalau ada orang yang percaya dipastikan bakalan lari sekarang juga.
Dinda menatap heran ke arah Rivan, Sejak kapan pria itu dekat dengannya malah dengan sukarela nya menawarkan tumpangan untuk pulang.
" kamu lagi sehat kan tidak lagi terbentur apa gitu, soalnya sikap kamu ini Aneh sekali loh kalau dilihat-lihat?" tanya Dinda memastikan.
Rivan melepaskan pegangan tangannya terhadap Dinda lalu menatap heran ke arah wanita itu, dirinya tak percaya niat baik malah disalah artikan.
" Apa ada yang salah dengan tawaranku, perasaan tidak kan? Soalnya aku hanya memberi tumpangan pulang,karena kita searah dan kamu juga lagi berduka!" jelas Rivan karena tak ingin ada salah paham antara keduanya.
" Oh syukurlah kalau begitu karena aku juga tak ingin hutang Budi, soalnya janda seperti aku mana sanggup membayarnya! Paling juga numpang terima kasih doang setelah itu ya sudah!" sahut Dinda sambil tersenyum.
" Ya sudah ayo masuk kedalam mobil jangan banyak ngomong Nanti dikiranya aku palak kamu kan jadi tidak enak, Coba kamu lihat wajah songongnya Alex itu sangat menjengkelkan sekali?" Rivan mengatakan hal itu sambil mengangkat sudut bibirnya ke arah Alex yang sedang menatap kearah mereka.
"Hadeuh suami Selina yang posesif itu sungguh sangat menyebalkan, aku saja malas melihatnya bawaannya pengen muntah!"sungut Dinda.
keduanya tersenyum Seraya menggibah seorang Alex Roberto, parahnya lagi Alex dan Selina mengirim keduanya sedang mencoba untuk saling menghibur.
" ih mereka tuh So sweet banget loh aku saja iri lihatnya, semoga saja Dinda bakalan ada yang jagain terus seperti itu ya!" Puji Selina sambil tersenyum.
" tuh kutu kupret mana cocok jagain wanita, yang ada malah wanita yang jagain dia! dia itu cocoknya jadi perjaka tua karena santannya tidak dikeluarkan kemana, akhirnya kependem deh Nggak tahu jalan keluar!" ejek Alex sambil tersenyum Smirk.
kini kedua pasangan yang satu sudah sah yang satu disebut kutu kupret dan si cempreng berbeda mobil untuk jalan pulang, larut dalam pikiran masing-masing entah apa itu?
" kita pulang atau ke rumahnya Dinda dulu?" tanya Alex memastikan.
" ya kita ke rumahnya Dinda dulu lah, kasihan kan kalau ditinggalkan sekarang! nanti dia ngomong katanya kita nggak setia kawan, dengan Teganya membiarkan dia sendirian!" sahut Selina sambil tersenyum.
" tapi Nanti malam aku enggak bisa dong Sayang, udah dua hari ini puasa tahu tidak rasanya sungguh sangat menyakitkan!" ujar Alex mencoba memasang tampang memelas.
" ih baru hanya 2 hari Coba kalau seminggu mau jadi apa kamu, sudah deh jangan berlebihan begitu sakit mata tahu tidak?" sungut Selina Karena Alex tidak pernah lepas dari area itu.
" ya namanya sepiring cinta segelas kasih sayang, mana bisa aku tinggalkan begitu saja yang ada bisa mati berdiri!" ujar Alex tidak terima dengan perkataan istrinya itu.
" kamu itu otak kamu Tuh Benar sedikit tidak bisa ya, setiap di bicarakan Apa jawabnya apa? otak kamu itu ngeyel semua tahu tidak, orang harus butuh kesabaran ekstra agar bisa memahami kemauan kamu yang aneh-aneh itu!" sungut Selina.
" Kamu tambah cantik deh kalau lagi marah, bikin aku tampak gumush!" goda Alex sambil memasang wajah puppy eyesnya!
" jangan pasang tampang menyebalkan seperti itu aku tidak suka melihatnya, soalnya rasanya pengen muntah!" Sindir Selina menahan tawanya melihat wajah tak percaya milik suaminya itu.
" Astaga sayang aku tuh lagi coba ngelawak loh, kok kamu dengan tidak ada rasa bersalahnya malah ngeledekin aku?" tanya Alex tak percaya sama sekali.
" Hehehe maaf soalnya nih mulut kelebihan jujurnya tidak suka bohong, jadinya saat ngomong yang nyeleneh pasti selalu ngakak!" sahut Selina sambil membentuk V di jarinya.
karena jalanan yang cukup lengang membuat mereka tak begitu lama sampai di kediaman Erlangga di Roma Italia, banyak pelayat yang masih di rumah yang sebagian besar adalah keluarga Devan.
disinilah baru dirasakan benar-benar oleh Selina bahwa memang Dinda sendirian, karena tidak ada sama keluarga ataupun kenalan yang datang untuk wanita itu.
__ADS_1
Selina yakin pasti sahabatnya itu merasa seperti orang asing di tengah-tengah keluarga suaminya, apalagi Devan sudah tidak ada siapa yang menjaganya.