
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
kini kediaman Leonard yang beberapa hari ini terdengar begitu ramai kembali seperti semula, pria paruh baya itu bahkan memilih untuk kembali menghabiskan waktunya di dalam kamar.
jika kata orang yang segala sesuatu dapat dibeli dengan uang sebenarnya itu hanya pepatah yang tidak pernah memikirkan dampak akibatnya dari manusia yang merupakan makhluk sosial.
terkadang orang yang mempunyai uang sahabat pun dapat dibeli, dan otomatis di dalamnya tidak ada ketulusan sama sekali yang ada hanya kebohongan Semata agar bisa tetap menjalankan hidup.
di lain tempat tapi masih di negara yang sama serta langit yang sama, tampak sepasang suami istri yang sedang menaiki jet pribadi mereka yang begitu mewah untuk kembali ke tanah air.
" Mas apa nggak papa apa kita tinggalkan kan Daddy sendiri disini, Aku khawatir loh soalnya sudah setua itu hanya sendirian saja tanpa ada keluarga satupun yang menemani?" tanya Selina penasaran.
" ya Habisnya gimana dia sendiri yang nggak mau, kamu tahu sendiri kan daddy itu orangnya seperti apa? kalau kemauannya sudah keras bertahan di satu tempat maka sampai langit itu runtuh pun ia tak akan pergi meninggalkannya, jadi di nanti kita bakalan sering-sering kok datang ke sini kamu tenang saja jangan khawatir ya! " sahut Alex sambil mengusap pelan bahu istrinya itu.
" apa Dinda mereka sudah berangkat juga ya, soalnya darah kita meninggalkan rumah batang hidung mereka tidak nampak sama sekali? " tanya Selina yang mengkhawatirkan keberadaan Cs nya itu.
" Ya jelas kita tidak ketemu lah ah orang bandara kita kan berbeda, mereka di sebelah timur sedangkan kita di sini. tapi kamu tenang saja nanti pasti sampainya bersamaan tergantung pilotnya, yang lebih andal disana atau yang disini!" ujar Alex yang Jika saja ada Rivan di situ bisa dipastikan keduanya bakalan ribut lagi.
Selina hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban yang diberikan sang suami, ternyata memang dari dulu sampai sekarang tidak ada berubahnya Sukanya mencari masalah.
" kamu sudah cari oleh-oleh untuk Adek, Soalnya kamu tahu kan Gimana Putri kita itu kalau pulang dari luar negeri terus tidak membawa apa-apa? pasti bakalan manyun sampai bosan sendiri, padahal Katanya pengen kawin tapi tingkah anehnya tidak tahu berubah? " tanya Selina kepada suaminya itu.
" kamu tenang saja semuanya sudah aku siapkan, soalnya aku juga mana mau jadi sasaran amukan darinya nya!" jawaban yang diberikan Alex itu membuat Selina menghela nafasnya karena lega.
kini pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas, Selina pun juga sudah mulai merasa jenuh Bagaimana tidak menempuh perjalanan yang begitu jauh tidak ada teman buat ngobrol selain suaminya.
" kayaknya lain kali kita pakai pesawat umum saja deh, Soalnya disini membosankan sekali tidak ada teman ngobrol sudah begitu kalau kita mau ngobrol juga ya topik pembahasannya pasti yang itu-itu saja!" sungut Selina membuat Alex langsung senang mendengar keluhan sang istri yang katanya bosan karena tidak melakukan sesuatu.
" kamu bosan ?" tanya Alex memastikan.
" sangat membosankan, aku saja sampai bingung harus berbuat apa biar tidak membosankan seperti ini?" takut Selina Yang sepertinya belum connect dengan pertanyaan yang dilontarkan Alex barusan.
" kamu mau supaya Jangan bosan, soalnya aku punya ide yang cemerlang banget nih? " tanya Alex memastikan.
" Memangnya kamu punya ide cemerlang apa sih dari tadi pertanyaannya Kok muter balik kesana kemari, aku jadi mumet mikirnya Soalnya kamu orangnya sangat tidak jelas! "sungut Selina karena merasa seperti dipermainkan oleh suaminya sendiri.
" jangan marah-marah seperti itu dong, tapi apa yang kita mau percakapan itu tidak disini bisanya hanya di dalam kamar! jadi kita pindah tempat saja soalnya malu kalau dilihatin sama orang! " astaga Selina akhirnya paham kemana arah pembicaraan suaminya tadi setelah putar balik ke sana ke mari.
" kamu mau ajakin aku begituan, astaga dari dulu sampai sekarang otaknya kamu kalau sudah mendengar hal-hal yang beginian kamu pikir itu kode dari aku begitu? etdah aku pikir punya solusi yang bagaimana, ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan." ujar Selina yang sudah paham kemana arah pembicaraan suaminya itu.
__ADS_1
" sayang yang kita itu itu harus mencoba sesuatu yang baru baru boleh komentar, Lagian melakukan hal itu di atas udara pasti sensasinya bakalan berbeda!" ujar Alex yang masih dengan ekspresi antusiasnya membuat Celine akhirnya pasrah soalnya kalau tuan sudah mengatakan iya ekor mah bisa apa-apa sih cuma menganggukan kepalanya doang.
" Ya sudah deh terserah dari kamu tapi ingat jangan kelamaan karena tidak lucu kan saat turun dari pesawat aku kesusahan untuk berjalan?" ujar Selina dan hanya dibalas dengan mengacungkan jari jempol.
untuk selanjutnya silakan dipikirkan sendiri ya, soalnya autor lagi tidak bisa buat berpikir ke arah yang begituan maklumlah lagi coba untuk sok alim.
sedangkan di jet pribadinya Rivan, tampak dirinya sedang berdebat dengan Dinda yang terlihat lebih memilih menaruh cemilan di samping tempat duduknya dibandingkan Rivan yang duduk di situ.
" Eh kamu tahu tidak ini punya siapa?" Tanya Rivan sinis.
" Iya aku tahu punya kamu, terus saya bilang punya Vigo itu siapa tidak ada kan yang ngomong seperti itu ?" tanya Dinda tak kalah Ketus.
" ya Terus kenapa aku mau duduk di atas pesawat ku sendiri kamu tidak mau, Padahal jelas-jelas Ini semua adalah kepunyaan ku jadi bebas dong aku mau duduk di mana?" tanya Rivan sinis.
" Iya tapi sana aku tahu di sini jadi suka-suka aku juga dong mau duduk di mana saja, Bukankah dari dulu sampai sekarang itu ada pepatah yang mengatakan jika tamu itu adalah raja," ujar Dinda tak kalah tajam daripada Rivan.
" Enak saja kamu kalau ngomong, kalau kamu punya orang lain yang pantas dianggap Raja tapi kalau model seperti kamu mah Jangan harap aku bakalan punya pemikiran seperti itu!" sinis Rivan membuat Dinda mendengus kesal mendengar perkataan pria itu.
" Ih kalau tahu seperti ini mendingan tadi aku ikut sama Selina dan Alex aja, soalnya masa pergi sama kamu tapi terlihat seperti tidak ikhlas sama sekali! " sungut Dinda lalu memilih untuk membuang wajahnya ke tempat lain karena merasa muak melihat tampang Rivan yang sangat menyebalkan itu.
" kamu marah karena aku ngomong seperti itu, ya sudah aku minta maaf deh jangan marah-marah lagi ya nanti kelihatannya jelek banget loh!" goda Rivan agar Dinda tidak membuang wajahnya ke arah lain dan mengabaikan dirinya.
" ya makanya kalau ngomong itu dipikir dulu, aku kan juga manusia masak dikatain seperti begitu malas tahu saja tidak dibawa pusing!" sungut Dinda membuat Rivan tertawa kecil.
Mungkinkah perasaan yang lain itu muncul dalam hitungan hari saja, atau hanya sebatas nyaman dan tidak lebih dari itu?
" semoga kalian berdua selalu berbahagia, jika Tuhan menghendaki maka kalian pasti bakalan bersatu jika memang sudah seharusnya kalian bersatu!" batin Vigo senang karena akhirnya tuannya itu tidak Merecoki hubungan Alex dan Selina lagi!" gumam Vigo dalam hati.
" Oh iya aku hampir lupa loh selama beberapa hari ini tidak perhatikan kaki kamu yang sakit itu, Gimana udah ada perubahan atau selama ini kamu hanya memaksakan diri saja?" tanya Dinda yang akhirnya sadar dengan keadaan Rivan saat baru pertama kali bertemu.
" kamu baru sadar, kemarin ke mana saja Padahal aku lagi setengah mati loh Saat berjalan? kamunya saja yang tidak peka, padahal sebenarnya aku lagi butuh perhatian ekstra! " sungut Rivan yang terlihat pura-pura memasang wajah memelas nya.
" Astaga Maafin aku ya soalnya sempat lupa, Terus sekarang gimana Masih sakit atau sudah tidak lagi?" tanya Dinda memastikan.
Rivan terlihat begitu gembira tapi sengaja tidak menunjukkan hal itu agar Dinda tidak salah paham, padahal sebenarnya dirinya ingin sekali jungkir balik karena hanya perhatian kecil yang diberikan oleh wanita itu.
" oh kupu-kupu kenapa kabar terbaru di atas kepalaku, kalau seperti begini aku bisa apa dengan kinerja jantungku yang semakin tidak berdaya !" batin Rivan.
Dinda yang melihat wajah Rivan seperti kepiting rebus, jadi bingung sendiri Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu yang tiba-tiba bertingkah aneh.
" Kamu sudah minum obat? tanya Dinda memastikan.
Rivan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Dinda yang tiba-tiba aneh itu, Memangnya Ia sakit apa sampai harus minum obat.
__ADS_1
" obat apa, terus aku Sakitnya apa coba?" tanya Rivan lagi karena penasaran.
" obatnya kamu masa obatnya kambing, kan yang sakit kamu bukan kambing Masa begitu saja kamu harus pakai tanya segala?" tanya Dinda.
" Kamu kenapa sih mendadak jadi aneh seperti itu, bisa kamu jelaskan apa yang ada dalam pikiran kamu hingga bisa ngomong seperti tadi? aku bukan cenayang lho yang bisa membaca pikiran seseorang, jadi untuk menghemat kinerja otakku bisa kamu langsung menjelaskan tanpa harus banyak berbelok-belok?" tanya Rivan memastikan lagi.
" wajah kamu tadi itu kan aneh memerah kayak lagi kena demam tinggi begitu, jadi aku pikir penyakit kurang waras kamu itu sudah kambuh. makanya aku tanya sudah minum obat atau belum, soalnya kasihan suatu penyakit jika tidak segera ditangani dengan benar bakalan berakibat fatal dan merugikan masa depan!" jelas Dinda tanpa beban membuat Rivan mendengus kesal.
pasalnya pria itu sudah dari tadi mencoba untuk mendengarkannya secara serius, tapi ternyata hasil akhirnya malah sangat mengecewakan Untuk didengar. bahkan bisa dibilang harga dirinya pun hancur remuk berantakan, dengan perkataan yang dilontarkan oleh Dinda barusan.
berbeda dengan Vigo yang mati-matian menahan tawanya ketika mendengar pertanyaan Dinda barusan, sungguh jika kini waktunya tertawa itu dianggap sopan maka pasti bakalan ia lakukan.
hanya saja wajah Rivan kali ini sangat tidak bersahabat, membuat siapa saja berada di dekatnya bakalan Waspada karena sekali sekali pasti bakalan mengamuk.
" Oh Nyonya Dinda Anda memang paling terbaik karena sudah berhasil membuat Tuan Rivan mati kutu, Jika seperti begini terus saya pastikan dunia bakalan aman terkendali karena kehadiran anda! " batin Vigo antusias tapi Mana berani berbicara secara langsung orang tertawa saja dirinya was-was Apalagi langsung berbicara?
Dinda melihat wajah Vigo yang sedang menahan tawanya menjadi haram sendiri, alasan orang belajar bawa itu bikin rileks dan bahagia tapi kenapa Vigo terlihat begitu sama sengsara?
" Hey Bung, kenapa mau tertawa sejajar pakai ditahan segala? Emangnya kamu tidak sengsara merasakan hal itu, Kalau aku mah tertawanya makin ngakak bisa dipastikan bakalan lebih plong rasanya?" tanya Dinda heran dengan sikap terbaliknya Vigo itu.
Rivan menoleh ke arah belakang dan tatapannya pun bertemu dengan Vigo, pria itu terlihat mengangkat alisnya sebelah karena sikap Virgo yang sangat tidak biasa itu.
" kamu kenapa, awas aja kalau sampai secara langsung menertawai keadaanku sekarang? karena jika sampai hal itu terjadi, lebih baik kamu buka itu pintu samping pesawat lalu terjun bebas biar langsung menghilang tanpa bukti!" ujar Rivan tajam tidak ada nada bermain di dalamnya.
nah tuh kan pasti lagi dan lagi Vigo yang bakalan disalahkan padahal itu pria mau dari tadi kalem aja, seharusnya disalahkan itu mulutnya Dinda yang setiap kali kalau ngomong selalu mengundang masalah.
" saya marah berani menertawai Anda tuan, itu mungkin hanya perasaan Anda saja kali? nanti lain kali tanyakan saja kepada nyonya Dinda, yang kalau mau ngomong selalu tidak pernah dipikir dulu! "Vigo kali ini cuci tangan akar Dinda yang bertanggungjawab dan dirinya sekali-sekali menikmati waktu yang bebas.
Dinda melototkan matanya tajam, Kenapa jadi dirinya Yang dibawa-bawa Perasaan Ini semua karena ulah dari Rivan.
" Kenapa jadi aku, perasaan tadi ngomongnya sesuai kenyataan deh," tanya Dinda heran.
" Ya jelas itu semua karena kamu yang kalau berbicara tidak pernah dipikir dulu, Udah jangan banyak ngomong lagi daripada bikin tambah runyam," sungut Rifan karena tingkah Dinda itu membuat dirinya harus ditertawakan oleh Vigo.
Dinda memilih untuk diam kali ini karena dirinya juga sedikit waspada jangan sampai Rivan marah-marah, dan akhirnya membuang dirinya keluar dari pesawat.
" sabar Dinda sabar, nanti saat sudah sampai di tanah air Kamu kerjain dia sampai sepuas hati kamu kalau sekarang sabar dulu tidak lucu kan kalau kamu dibuang dari ketinggian 5000 kaki?" batin Dinda memilih untuk tidur.
Vigo masih tak bisa bergerak karena tatapan Rivan daritadi hanya tertuju padanya, mau miring kiri salah mau miring kanan pun salam dan akhirnya memilih untuk Hanya duduk lurus menatap ke depan.
" Kenapa diam saja, Bukannya tadi kamu dengan berani ingin menertawakan saya? Ayo sekarang tertawalah sepuas hati kamu, Aku tidak marah kok paling hanya memotong 4 digit dari gajimu saja! " ujar Rivan membuat Vigo membulatkan matanya sempurna.
apa jadinya Vigo Jika pekerjaan yang begitu berat digaji dengan sesuatu yang tidak setimpal, kalau seperti begitu mah lebih baik dirinya jadi pengangguran kelas kakap saja agar tidak capek-capek digunakan buat berpikir.
__ADS_1