
disuruh jangan basa-basi jadi autor nya tidak ingin berbasa-basi lagi, soalnya nanti salah lagi ...
lanjut***
Devan bungkam karena apa yang dikatakan istrinya itu tidak ada yang salah, ikhlas kah dirinya di jika wanita yang dinikahi nya puluhan tahun itu pergi meninggalkannya?
ikhlas kah dirinya ketika cinta yang diraihnya begitu susah harus dilepaskannya dengan secara sadar, Bisakah dirinya bertahan lebih lama jika sumber kehidupannya pergi meninggalkannya?
Dinda menatap wajah kurus suaminya itu yang terlihat jelas tulang rahangnya yang menonjol, penyakit yang ia derita bukan main-main bukan juga kaleng-kaleng seperti kata ABG zaman now.
kanker hati, ya penyakit itu yang diderita suaminya. penyakit yang membuat ia menelan setiap makanan sangat susah, bahkan harus menggunakan alat bantu agar lambungnya tetap selalu terisi.
menyesalkah dirinya ketika sudah rela pergi dari tanah kelahirannya, tidak bisa kembali bertemu sahabatnya dan kini malah mengurus orang yang sakit?
jawabannya Tentu saja tidak, Karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri saat ia melangkahkan kaki meninggalkan rumah tempat kelahirannya.
" Mas Jika hatiku cocok denganmu sudah kuberikan, apapun yang bisa akan ku kasih yang penting tolong kamu jangan menyerah seperti ini! Aku tak ingin apa-apa hanya ingin kamu tetap disini, Jangan pernah menyuruhku untuk pergi karena sampai kapanpun aku tak akan melakukan itu! "cinta Dinda Sendu.
di wajahnya dia selalu tersenyum tapi jangan lupakan hatinya yang pakai tercabik-cabik menangis dalam diam, ia ingin seperti Selina wanita yang kuat wanita yang perkasa wanita yang hebat bisa bertahan di segala cuaca di segala suasana di segala keadaan.
dulu dirinya tahu Devan menikahinya hanya karena ingin bertemu dengan Selina, bahkan awal-awal menikah nama Selina selalu ada di tengah-tengah mereka.
namun itu semua tak membuat Dinda marah, ia malah senang karena sahabatnya banyak sekali yang mencintai dirinya.
keduanya belum mempunyai anak sampai 10 tahun, waktu itu itu nomor Alina sudah 11 tahun dan sudah kembali bersama dengan ayahnya yaitu Alex Roberto.
sedangkan Dinda mengikuti suaminya ke Itali, Bukankah memang kewajiban seorang istri harus mengikuti suaminya kemanapun ia pergi Meskipun ke lobang semut sekalipun.
flashback off
Dinda yang sedang serius menatap indahnya kota Roma dimalam hari, langsung menghentikan aksinya itu ketika mendengar suara ranjang yang berderit.
" Mas sudah bangun, dari kapan? " tanya Dinda sambil tersenyum.
Devan sempat melihat sang istri mengusap sudut matanya yang berair, ia tahu itu merupakan air mata kesedihan yang mendalam yang ia luapkan secara diam-diam agar suaminya tak terluka.
" baru aja kok Sayang! " sahut Devan bohong.
"kamu mau apa biar aku ambilkan atau aku siapkan begitu, atau kamu mau aku pijitin kaki kamu? " tawar Dinda sambil tersenyum Tulus.
" sayang sini deh tidur di samping aku, soalnya aku kangen udah lama tidur nggak peluk kamu! " pinta Devan sambil memaksakan senyuman di wajahnya.
Dinda menggelengkan kepalanya ya tak ingin membuat gerak suaminya kesusahan , lebih baik dirinya yang sengsara jangan suaminya yang berjuang menahan sakit itu.
"aku nggak mau Mas, nanti kamu kesempitan dan terus nanti badan kamu pegal-pegal loh! "tolak Dinda.
" Ayolah sayang Anggap saja ini permintaan terakhir dariku, Aku merindukan kamu sangat sangat sangat mau ya? " pinta Defan memelas membuat Dinda menjadi Tak Tega.
" sudah tapi ingat kalau kamu nggak nyaman bilang ya ya, karena yang sakit itu kamu bukan aku! " sahut Dinda memaksakan senyuman di wajahnya.
secara perlahan Dinda naik ke atas tempat tidur suaminya dan bergabung dengannya, dia tidur disamping tangan Devan yang terbebas dari selang infus.
tubuh pria itu sangat kurus berbeda dengan beberapa tahun lalu yang terlihat tampan dan berisi, kini hanya tersisa kulit bungkus tulang namun garis ketampanannya tidak pernah luntur dimakan penyakitnya.
__ADS_1
"sayang aku kurus ya sudah tidak nyaman dipeluk lagi kan, Kamu nggak malu punya suami kayak gini? " tanya Devan sambil mengusap pipi sang istri.
Dinda tak bergeming Ia hanya menatap lurus kearah suaminya itu, ia ingin menikmati ciptaan Tuhan yang berada di depan hadapannya itu.
" sayang kok diam sih aku tanya lho tadi, atau kamu lagi terpesona ya sama suamimu yang tampan ini? " goda Devan sambil terkekeh geli..
" Iya benar aku sangat terpesona sama makhluk ciptaan tuhan yang ada di hadapanku kini, Aku ingin mengulang kembali saat dimana kita pertama berjumpa kamu yang Ketus aku yang cempreng sungguh perpaduan yang tidak Selaras dan seimbang! " ujar Dinda sambil tersenyum.
" Aduh Sayang sudah deh jangan membahas itu lagi aku kan jadi malu, Soalnya waktu itu sok jual mahal eh tahunya saat malam pertama kamu nggak bisa jalan!"goda Devan.
" Iya soalnya kamu itu kaya baru rasakan yang namanya enak, bisa bisanya gaspol tanpa rem situ pikir aku anak kucing apa tinggal main di Sleding saja? " Ketus Dinda mengingat kejadian itu.
" Ya iyalah aku baru rasakan yang namanya mantap-mantap, Soalnya kamu tahu kan suamimu ini perjaka ting-ting masih tersegel belum buka bungkus buatan pabrik simpanan dalam negeri! goda Devan membuat Dinda langsung mengecup gemas pipi suaminya itu.
" sayang, Kamu tahu tidak biarpun sakit aku masih bisa lo begituan jadi tolong jangan di ajak bertarung dulu ya, karena disisa nafas terakhirku ini aku yakin bakalan lebih parah dari malam pertama! " Devan sambil tersenyum.
Deg
Dinda merasakan ribuan jarum Menghujam Jantung nya, ia bingung dengan perkataan ambigu Devan tadi. pria itu mengisyaratkan hal hal yang membuat hati Dinda jadi tak karuan, mungkinkah ini pertanda Hanya Tuhan dan suaminya saja yang tahu.
" hus Kamu itu ngomong apa sih jangan aneh-aneh deh, sudah tidur lagi aku mau balik lagi ke tempatku daripada dekat kamu ngomongnya ngelantur saja! "Ketus Dinda ingin beranjak dari tidurnya akan tetapi ditahan oleh Devan.
Dinda sebenarnya ingin marah akan tetapi ditahannya Sari, sebab ia tak ingin memperkeruh Suasana bersama suaminya.
Devan memiringkan tubuhnya mencoba menelaah wajah istrinya kini, terlihat guratan kesedihan dan kekecewaan jelas sekali nampak walau ia mencoba menyembunyikan semua itu.
ketika melihat bibir ranum milik istrinya itu, membuat dirinya menjadi Tak sabar untuk merengkuhnya kembali.
Cup
keduanya saling bertukar saliva nya, ciuman yang awalnya penuh kelembutan ini berubah jadi lebih liar dan menuntut.
napas keduanya memburu akan tetapi kesadaran Dinda segera kembali, ia tahu suaminya itu belum sehat total dan tidak boleh banyak bergerak karena akan membuat tangannya yang ter infus menjadi bermasalah.
" sayang stop, Kamu lagi sakit nanti kenapa-napa akunya gimana? " tanya Dinda sambil berurai air mata.
Devan yang masih berkabut ***** sudah tak bisa lagi berpikir jernih, Persetan dengan segala macam penyakit ataupun alat yang selalu menempel pada tubuhnya yang ia inginkan sekarang adalah menyatu bersama istrinya urusan dunia dan akhirat Biar Tuhan yang tentukan kita manusia tinggal mengikuti alurnya saja.
" maaf sayang tapi bolehkah? " pinta Devan memelas.
" tapi Mas kamu sakit nanti kalau kenapa-napa gimana, tolong Jangan pikirkan enaknya saja setidaknya cobalah pikirkan tentang Tubuh kamu mampu atau tidak? " ujar Dinda sendu.
" sayang entah kenapa tapi hari ini aku benar-benar menginginkan kamu, Tolong jangan ditolak karena aku sudah nggak tahan lagi! " pintar Devan lagi.
memang benar kata orang menolak suami adalah dosa, akan tetapi jika suaminya keadaannya seperti Devan kini masihkah itu disebut dosa?
" tapi mas ini rumah sakit loh Nanti kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana, malu lah segala sesuatunya jadi bahan tontonan.
Devan masih berusaha untuk membujuk istrinya itu lagi, Entah mengapa hari ini libidonya Sedikit naik tak bisa ia bendung lagi apalagi dengan serangan mendadak dirinya pada bibir istrinya itu tadi.
melihat wajah memelas Devan Dinda menjadi Tak Tega, Ia pun membalas dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya. melihat respon sang istri Devan langsung terlonjak kaget dan senang, akan tetapi Dinda segera mencegahnya karena ada selang infus dan selang pernafasan di dirinya itu. pada hidungnya itu.
" jadi kamu mengijinkannya kan sayang ? " tanya Devan memastikan.
__ADS_1
" iya, tapi ingat kalau capek harus berhenti ntar sudah sampai di ujung tanduk atau di ujung kepala atau apapun itu, karena aku tak ingin mengambil resiko apapun itu bentuknya! "ujar Dinda tajam.
" Astaga yang mau cetak gol saja kok ribet nya minta ampun sih, Ya sudah ayo bantu lepasin yang ini ini ini itu aku bosan lihatnya terus terus kamu pakai yang Kedodoran lagi jadi enggak bisa nikmati yang namanya yang seksi-seksi! "pintar Devan Sambil tertawa kecil.
" kita mainnya hanya 15 menit saja tidak boleh lebih dari itu, aku yang diatas biar kamu enggak banyak bergerak Tidak usah mendesah ini bukan rumah kamu tidak usah meringis Bukankah kamu yang mau, Ayo kita mulai permainannya Nyonya Devano! "ujar Dinda menyemangati dirinya sendiri membuat Devan mencubit gemas hidung mancung milik istrinya itu.
Dinda yang lebih agresif kali ini memorinya mengingat kembali apa yang dilakukan suaminya kepadanya ketika akan bercinta, karena ia pun akan melakukan hal sama yang seperti itu.
di saat istrinya melakukan foreplay, Devan sempat meneteskan air mata bahagia. ia ingin pergi dari dunia ini dengan meninggalkan kesan yang begitu indah, agar kelak Dinda akan selalu mengingat dirinya ketika mempunyai suami lagi.
"Ahhh sayang ya begitu aku menyukainya, seperti itu ya C'mon baby like that!" desah Devan Sambil merem melek.
Dinda terus merangsang titik-titik sensitif suaminya, membuat pria itu tak berdaya dibuatnya tapi tanpa ia sadari istrinya begitu terluka dengan wajah sangat menikmati milik suaminya itu disela-sela menahan sakit pinggangnya.
" yang Ayolah dimasukin sudah aku udah nggak kuat nih, kalau kamu lama nanti gantian lo aku yang diatas! " minta Devan lagi.
Dinda yang tadi sudah membuang underwear nya entah kemana, tanpa aba-aba langsung mengarahkan sesuatu milik suaminya ke arah inti nya.
Jleb
" Oh my God like that honey You're so beautiful today I love you so much my wife Love You More everyday! " ujar Devan setengah terpejam membuat Dinda memelankan ritme.
" Mas kamu kenapa apa? " tanya Dinda khawatir.
"aku masih ada yang belum mati, Nanti kalau sudah mati baru kamu lihat di layar monitor dia lurus terus berbunyi Nah itu tandanya suamimu sudah pergi ke alam baka! " menggoda Devan disela-sela kegiatan mereka membuat Dinda ingin sekali menelan suaminya itu bulat-bulat.
" Ih kamu itu stop deh sudah tidur saja , aku yang capek Kamu yang cerewet dasar suami tukang modus bisa-bisanya cerewet saat beginian? "kertas Dinda kesel akan tetapi terus melakukan kegiatannya itu.
Devan hanya nyengir kuda melihat peluh di wajah istrinya itu, sungguh sangat nikmat akan tetapi ia takut berekspresi nantinya membuat Dinda bakalan mengamuk dan menghentikan segalanya.
salah satu perawat yang mendengar bunyi aneh dari kamar Devan, membuka pintu secara perlahan ingin masuk akan tetapi langkahnya terhenti ketika melihat pasangan suami-istri itu lagi berusaha mendapatkan surga dunia.
dirinya tersenyum Iya tahu bagaimana sulitnya pasangan itu, selalu saling melengkapi setiap waktu membuat mereka menjadi pasangan couple yang digemari di rumah sakit itu.
semoga hidup kalian selalu bahagia, tapi sebenarnya nggak perlu di siang bolong seperti ini juga kan? kita yang jomblo mah bisa apa menangis malu teriak dikatain orang gila Sleding Siapa yang mau di Sleding, setelah itu suster pun itu segera pergi dari pada jiwa jomblo yang meronta nanti takutnya Salah Sasaran.
Dinda terus menaik-turunkan pinggangnya ingin memuaskan suaminya nya, karena mereka pasangan halal Tidak ada salahnya kan jika di Ceritakan sedikit.
autor mana mau ambil Terima risiko naskah ditolak, akan tetapi demi pembaca autornya nekat menulisnya walaupun jantung sedang ber disko ria karena takut dapat surat cinta lagi dari Nt.
ketika pasanganmu menginginkan sesuatu jika memang kau tak bisa melakukannya tolaklah dengan halus, karena sebenarnya dari permasalahan rumah tangga yaitu karena urusan ranjang saja,
jika tak percaya cobalah berantem sama suami terus malamnya pakai lingerie transparan, omegat lu bisa bayangin kagak dia bakalan respon bahkan ingin jungkir balik sekalian Hehehe belum Coba sih hanya menyarankan kan saja.
kini keduanya sudah bermandi peluh padahal itulah merupakan ruangan VIP, AC otomatis menyala full karena tubuh Devan yang mengeluh kepanasan tanda. yang biasanya Dinda hanya adem ayem saja kali ini ikut terkena imbasnya, tapi begitulah Bukankah sebuah kenikmatan butuh pengorbanan?
ketika melihat istrinya itu Devan menjadi Tak Tega, akan tetapi permainan sudah di tengah jalan sebentar lagi gunung pasti akan meletus jadi Nikmati saja bukankah tadi meminta?
" sayang kamu capek ya? " tanya Devan tak enak hati.
" Diam kamu jangan banyak tanya, tahu tidak aku lebih serius! " Ketus Dinda.
Devan sebenarnya ingin tertawa, akan tetapi kalau si Macan yang berada di atasnya itu mengamuk urusannya bisa ribet.
__ADS_1