
Hai Rider tersayang
Jangan lupa like n komen nya
Karena dukungan kamu semangat untukku
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ***
Rivan mendengus kesal Ia tadi ingin mengajak bercanda Alex, akan tetapi memang betul-betul susah mengajak pria kaku seperti itu.
" Baiklah kalau begitu aku pulang, tapi kayaknya singgah dulu deh di rumah kamu siapa tahu hari ini Selina masak enak bisa Numpang Makan! " ujar Ivan sambil tersenyum mengejek ke arah Alex.
"kamu jangan cari perkara ya denganku, Awas saja jika sampai itu terjadi bakal kuhajar dirimu sampai hancur lebur tak berbekas dan tak berbentuk! " Alex mengatakan hal itu dengan tatapan membunuh.
" Astaga guys nggak perlu segitunya kali, Ya kan hanya bercanda masa langsung main emosi begitu. apa tidak kasihan Selina punya suami, yang hobinya marah marah tidak jelas? "ejek Rivan.
Alex siap-siap Mengambil buku di atas meja yang paling, bersiap-siap untuk melempar ke arah Rivan.Melihat bahaya yang datang, dengan gerak Cepat segera berlari kearah luar sebelum kepala tampannya itu bonyok.
"Oke sobat aku pulang nih, ingat nanti Saat dari sini jangan lupa tensi darah Soalnya aku yakin suka marah-marah tidak jelas seperti kamu itu pasti darahnya di ambang batas! "teriak Rifan Dari pintu luar.
"kurang ajar awas aja kau, nanti kalau ketemu bakal ku buat kau tiarap tak berbentuk! "Ketus Alex dari dalam ruangannya.
Anton yang sudah selesai mengurus Rafa, memilih masuk ke ruangan Alex. pria itu yakin jika tuannya pasti memerlukan bantuan nya, karena dari tadi menghilang mencari nonamuda mereka.
tok tok tok
Alex menoleh ke arah pintu jangan bilang jika Rivan kembali lagi, ia harus menyiapkan senjata ampuh yang bisa membuat pria itu menyesal karena sudah kembali.
" Hahaha kau datang untuk antar nyawa sobat, mari sini masuk biar ku patah batang leher mu! " tawa Alex dalam hati .
"masuk, " ujar Alex dari dalam ruangan itu.
mendengar perkataan tuannya itu, Anton langsung masuk ke dalam ruangan itu sebab sudah tidak ada larangan dari pemiliknya.
__ADS_1
" Permisi tuan, maaf jika mengganggu. "Anton Berkata sambil menundukkan kepalanya karena sangat takut melihat wajah garang tuannya itu.
Alex mendengus kesal ternyata Kenyataan tak sesuai ekspektasi, padahal sepatu sebelahnya sudah ia pegang di tangan siap-siap mengeksekusi korbannya.
"Hemm ada apa, cepat katakan aku masih ada urusan yang lain? "tanya Alex tajam.
" saya datang ke sini untuk memastikan apa anda memerlukan bantuan saya atau tidak, karena tuan Rafa sudah pulang dari tadi." sahut Anton.
" Aku mau pulang Jadi otomatis sudah tidak ada pekerjaan lagi untuk kamu, akan tetapi jika kamu berbaik hati mau menggantikan satpam Ya terserah! " ujar Alex santai sambil mengibaskan tangannya agar.
Karena tenaganya sudah tak dibutuhkan lagi, Anton memilih pergi dari situ ia mengelus dadanya bukan karena stres akan tetapi senang Akhirnya bisa pulang cepat dan bobo ganteng.
"Oh Tuhan terima kasih Akhirnya hari ini datang juga, aku bagaikan burung yang dilepas bebas tanpa beban tanpa pekerjaan yang ada hanya kata merdeka! "gumam Anton senang hingga terlihat berlebihan oleh para pegawai yang lain.
" tuh orang kenapa, asisten sama bos sama-sama aneh eh datang senang senyum tidak jelas datang marah wajahnya ditekuk bak setrikaan yang lagi lowbat? " bisik salah satu pegawai wanita di situ.
" Hus diam Kalau masih mau aman di sini, soalnya di sini itu dinding pun punya telinga punya mata punya hidung punya mulut! "salat salah satu temannya menimpali.
"etdah ribet amat nih hidup, mau melakukan apa saja peraturannya banyak sekali. Kapan hidup bisa tenang santai kayak di pantai, terus melihat pemandangan banyak cowok ganteng yang menambah kesehatan mata kita? "batin wanita pegawai di resepsionis kantor itu.
Anton sebenarnya orangnya ramah hanya saja mungkin karena sudah terbiasa dengan sikap majikan, membuat pria itu menjadi dingin dan kaku.
Dalam pikirannya Yang Masih memikirkan perkataan Rivan dari tadi yang mengusik otaknya sedikit, dia takut jangan sampai Rivan memang benar-benar membuktikan perkataannya.
"Dia kalau berani datang ke rumahku, artinya sudah siap-siap untuk ku kubur hidup hidup. " Alex menatap tajam kearah depan.
Jika tadi Anton lewat para pegawai sempat-sempatnya berkomentar, kini semuanya malah menundukkan kepala tak berani melihat ke arah tuan besar mereka itu.
Mungkin bergumam dalam hati ya tak masalah, akan tetapi jika berbicara langsung Oh Tuhan mungkin hatimu terbuat dari baja kepalamu terbuat dari batako wajahmu terbuat dari tembok maka kalian boleh melakukan semua itu.
Ketika sudah sampai di parkiran, Satpam menyapa tuannya itu namun hanya dianggap angin lalu oleh Alex.
Namun hal itu sudah menjadi makanan pria paruh baya itu sehari-hari, sebab 1000 kali dirinya menyapa seseorang maka tiga kali saja pasti jawaban yang ia dapatkan.
"Sabar sabar sabar, Bukankah sabar itu subur sabar itu baik sabar itu manis? "gumam satpam itu.
Sedang mengendarai mobilnya ke arah rumah, kalian kepo dong berapa kecepatannya kini?
__ADS_1
Yang pastinya nya pembalap profesional kalah tanding dengannya, sebab jalanan kali ini serasa milik pribadi buatan nenek moyangnya.
Padahal orang yang ia curigai sedang berada di rumahnya, kini ini sedang duduk manis di rumah lama Selina.
Rivan menatap sekelilingnya ia seolah sedang menikmati suasana rumah itu, yang masih terdapat banyak sekali foto Selina waktu masih sendiri.
"Aku merindukanmu dulu dan sekarang, Ingin ku gapai dirimu walau sesaat saja. meskipun rindu ini terlarang meskipun kamu sekarang sedang tersenyum, kamu wanita terhebat bisa bertahan sejauh ini. kamu wanita terhebat bisa melalui segala macam cobaan selama ini, kamu wanita terhebat bisa membesarkan Dia seorang diri bahkan kini kamu bisa mengurus mereka! "lirih Rivan sambil mengusap pelan bingkai foto Selina yang terpajang di dinding.
Tanpa pria itu sadari air matanya menetes begitu saja, hatinya terasa sangat sakit bagai ditusuk ribuan jarum. Mengapa dari dulu sampai sekarang ia tak bisa melupakan wanita cantik ini, meskipun secara sadar ia tahu bahwa Celina hanya bisa dipandang tanpa bisa digapai.
Sebagai Manusia Biasa terkadang kita diharuskan egois jika memang dalam posisi benar, kita diharuskan egois Jika dia memerlukan keegoisan kita itu.
Namun jika keegoisan itu membuat orang yang kita cintai terluka, untuk apa melakukan hal itu jika akhir-akhirnya ada hati yang tersakiti.
Derth derth derth Ponsel Rivan bergetar, Ia akhirnya memastikan panggilan itu dari siapa.
Pria itu mengerutkan keningnya pasalnya ia sangat kebingungan, tadi saja mengusir dirinya kenapa sekarang malah menelepon balik dirinya lagi. untung juga dirinya punya 1000 stok kesabaran dalam otak, hingga terpaksa mengangkat panggilan.
"hmmm kenapa, tadi saja usir kayak orang lagi PMS untuk juga otakku tidak kejedot kalau tidak kamu bisa tanggung jawab? "Ketus Rifan dari seberang.
Alex tak kalah kesal pasalnya apa yang dikatakan Rifan tadi sungguh membuat dirinya tersulut emosi, jika pria itu berada di hadapannya maka ia sudah mengajak SmackDown.
"Woi diam kamu, sekarang ada dimana? "Ketus Alex.
Rivan tersenyum, ia merasa ini saatnya untuk mengerjai Alex.
"kamu sedang mencari Ku ya, coba tebak Aku sekarang ada di mana? "tanya Rivan Sambil tertawa kecil.
Alex meremas ponselnya kuat, ia Butuh sesuatu yang untuk ia pukul biar penyok sekalian.
" kurang ajar kau, tinggal jawab saja kok ribet nya minta ampun untung kamu jauh Coba kalau dapat sudah ke Sleding kau! "kesal Alex.
Rivan tak bisa lagi menahan tawanya akhirnya pecah mengambang di udara, Bagaimana tidak suara Alex kali ini memang benar-benar Terdengar sangat emosi tingkat tinggi.
"hahaha aku lucu bro Soalnya situ hobinya marah terus dari tadi pagi sampai sekarang, memangnya jadwal kamu hari ini marah-marah begitu? "ejek Rivan dari seberang.
"Brengsek kamu di mana, awas aja kamu macam-macam ya kamu belum tahu siapa Alex Roberto sebenarnya, " tanya Alex lagi karena belum puas mendengar jawaban refund yang memutar jauh bak layang layang putus.
__ADS_1
" ya ya Baiklah aku ngaku deh, aku lagi di rumah Selina lagi ngelus-ngelus fotonya nya lagi manja-manja gitu Kenapa cemburu sini biar ku gemas gemas dirimu begitu? " Rivan lagi sambil menahan tawanya karena ia yakin wajah Alex kini pasti kalau dibakar menyala.
oh demi Dewa Neptunus, autor sayang autor yakin perang dunia ke 6 sedang dalam tahap perencanaan.