
HAI READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ***
Alina menarik tangan Lala,ia tak terima dengan perlakuan Sahabatnya yang terkesan murahan itu.
"Ayo pulang,bikin malu saja jadi wanita.Awas saja kalau kamu begitu lagi sebelum kupatah batang leher jamu,dasar wanita bodoh!" Omel Alina kesal.
"Jangan gitu dong,aku kan lagi mau cari jodoh masa iya jomblo terus!" Bujuk Lala memelas.
"Hei bodoh,kalau cara cari jodoh seperti kamu itu,aku yakin yanh ada bukan cari jodoh tapi jual diri!" Gerutu Alina lagi.
"Ana,ayolah kamu mah gitu aku sedih tau tidak?" Pinta Lala merajuk.
"Yang biarkan saja jangan terlalu sibuk,aku saja santai tidak terlalu di bawah pusing juga mo!" Kesal Rafa karena Lala masih saja merecoki mereka.
"Hei dia itu sobat ku,jadi jangan banyak komentar kamu sebelum ku hajar!" Omel Lala kesal.
"Wah kamu berani begitu sama aku?" Tanya Rafa sinis.
"Oh jelas Bro,situ pikir aku takut apa di marah terus di begituan sama kamu?" Sinis Lala lagi.
"Dasar wanita Aneh,Yang biarkan saja dia mau apa kita pulang!" Ajak Rafa kesal.
"Iya Ana kamu pulang sana,daripada tuh om om bawaanya sensi melulu!" Ujar Lala ketus.
"Lho nanti kalau kamu pulang aku sama siapa,Manis?" Tanya Mikael tak terima.
Rafa tersulut emosi,pria itu langsung menarik kerah baju Mikael dan menatap tajam kearah nya.
"Jangan coba coba melakukan sesuatu yang nantinya bakal kau sesali sepanjang hidupmu,karena aku tak kan membiarkan siapapun menyentuh apa yang menjadi hak ku!" Tegas Rafa.
Mikael terdiam,ia seperti mengingat seseorang lewat tatapan mata Rafa tadi.
Setelah puas mengatakan apa yang ada dalam pikirannya,Rafa segera menarik tangan Alina agar pergi dari situ.
__ADS_1
Tatapan mata nya membunuh,awas saja jika ada yang cari perkara.
Alina pun hanya terdiam,karena ia tahu jika calon suaminya itu tengah dalam mood yang kurang baik.
"Yang pelan pelan dong jalannya,ini kaki aku sakit+" Rengek Alina karena tubuhnya yang mungil tidak bisa menyeimbangkan langkah lebar Rafa itu.
Rafa langsung sadar dan menghentikan jalannya,ia merutuki kebodohannya yang membuat Alina terluka.
"Maafkan aku Sayang,kamu baik baik saja kah?" Tanya Rafa bersalah.
"Aku sih Ok,tapi kalau Abang cara jalan nya begitu Adek sih Nggak Ok!" Goda Alina.
Rafa yang tadi memasang wajah kesalnya,langsung merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum.
"Kamu ih,kenapa menggemaskan sekali sih?" Ujar Rafa gemas.
Alina hanya menaik turunkan alisnya menggoda Rafa,ia tahu jika apa yang ia lakukan tadi sudah membuat Rafa kembali baik suasana hatinya.
Sedangkan Lala sedang memasang tatapan memelas pada Mikael,ia mendekati pria.itu dan mencoba memegang tangannya tapi di tepis pria itu.
"Kamu baik baik saja kan?" Tanya Lala memastikan.
""Jangan pedulikan aku,cepat pergi sana aku muak melihat mu!" Tegas Mikael lalu segera pergi dari situ.
Lala hanya bisa memandang punggung lebar Mikael,ia heran kenapa pria itu jadi marah padanya.
Setelah kesadaran gadis itu kembali,ia akhirnya sadar jika dirinya sendirian disitu.
"Astaga,nih orang kok pada menghilang semua?Kalau nanti ada pria nakal yang godain aku karena cantik,siapa yang mau tanggung jawab?Nanti Pak.Eko sama Byk Mira pusing,karena permata rumahnya menghilang." Batin Lala kesal.
Sepanjang jalan mencari taksi,ia hanya menggerutu tak peduli tatapan aneh semua orang padanya.
"Tuh makhluk satu kenapa lagi sih,sudah pendek tapi tingkahnya sok ngalahin Miss Universe!" Sindir salah satu anak sekolah berseragam putih abu abu.
Lala menoleh ke sumber suara,ia tahu siapa yang di maksud oleh bocah baru gede itu.
"Kamu sindir saya?" Tanya Lala tajam.
"Kalau iya kenapa?" Tanya Abg itu balik.
"Sudah ngaca bocah,saat buang air itu sudah lurus atau belum?" Tanya Lala sinis.
"Eh Tante tante kurang kasih sayang,situ yang sudah ngaca belum hah kira kira sudah pantas kawin atau belum?" Ujar Gadis kecil itu nyolot.
__ADS_1
"Kamu berani sama saya?" Teriak Lala tak terima bahkan tak peduli jika dirinya kini sudah mau di jadikan bahan tontonan gratis.
"Hadeuh,Si Tante galak marah nih aku kasih duit terus pulang tolong perawatan tuh kerutan nya dimana mana!" Ejek anak Sma itu sambil membuang beberapa lembar uang pecahan berwarna merah.
Duar
Harga diri seorang Lala Marlela tergadai sudah,ia bukan orang miskin apa lagi pengemis.
Jika memang dirinya butuh duit,bukan dengan meminta pada orang lain melainkan pada Tuan Eko dan Nyonya Mira.
"Cukup sudah,enyah kau bocah sebelum ku buat dirimu terbagi menjadi 34 potongan menurut provinsi di indonesia!" Tegas Lala dengan nada yang penuh ancaman.
Siapa saja yang melihat hal itu pasti bakal berpikiran yang tidak tidak,Kalau Lala adalah seorang psikopat.
Kabur,adalah cara yang paling ampuh yang harus dilakukan oleh Gadis kecil SMA itu.
Ia takut jika Lala yang bar bar itu akan membuat dirinya menjadi penghuni UGD,kalau begitu bisa hancur reputasinya.
"Pergi atau ku seret kau dari sini!" Ancam Lala kesal.
"Dasar Tante tante girang!" Teriak Wanita itu dan segera berlari kearah berlawanan.
Hancur sudah Mood Lala hari ini,sudah ditinggal pergi Alina kena marah dari Mikael eh sekarang di kata Tante Girang oleh anak kecil.
Sempurna..
Alina dan Rafa Kini sudah sampai di rumah,kebetulan Alex dan Selina juga sampai disitu.
Kedua orang tua mereka menatap heran kearah keduanya,kok bisa bisa nya baru pulang di jam segitu.
"Kalian darimana?" Tanya Selina penasaran.
"Jalan jalan!" Sahut Alina santai.
"Lho kok bisa?" Tanya Selina heran.
"Ya bisalah Bunda,buktinya kita baru pulang kan sekarang?" Tanya Alina balik.
"Anak nakal,kamu bawa anak saya kemana saja tadi?" Tanya Alex kesal.
"Eh anak Ayah apa,dia itu calon istriku otomatis milik ku juga dong.Jadi Ayah jangan ikut campur aku mau bawa kemana,entah ke dalam kamar juga boleh lah!" Gerutu Rafa tak mau kalah.
"Hoho jangan lupakan hal itu Abang,kalau kalian itu belum sah jadi bisa dong di ganggu gugat kapan saja!" Ejek Alex membuat Rafa mendengus kesal.
__ADS_1
"Astaga kalian ini kenapa sih,dimana saja selau saja heboh terus apa tidak sayang orang lain?" Kesal Selina.
"Iya betul Bunda,aku saja capek dengarnya.Ayo masuk kedalam Bunda,kalau mereka mau berdebat biarkan saja!" Ajak Alina kesal.