
HAII READERKU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ****
Lala hanya mendengus kesal karena mendengar perkataan Xaver barusan,memangnya siapa juga yang mau dibawa kesini.
"Om Mesum,kamu tidak salah bicara seperti itu?Bukannya tadi kamu yang bawa aku ketempat terkutuk ini,awas saja kamu ya bakal kuadukan ke Komnas Ham." Gerutu Lala kesal.
"Haha kamu itu kalau bicara suka seenaknya saja,kamu pikir aku takut dengan ancaman bodoh mu itu," ejek Xaver sambil tersenyum mengejek.
"Aku mau pulang sekarang,tolong lah jangan tahan aku lebih lama lagi," Pinta Lala memelas karena tak betah jika hanya berdua dengan seorang pria.
"Nanti sajalah," sahut Xaver pelan melanjutkan kegiatanya yang tertunda dari tadi.
"Ya ampun salah apa,dosa apa diriku di kehidupan yang lalu sampe bisa terdampar bersama ikan hiu ini," Gerutu Lala dalam hati.
Tadi adalah hari terburuk untuk gadis pendek itu,bagaimana tidak dirinya harus pulang dan datang bersama pria asing yang baru beberapa jam dikenalnya.
Tahu namanya saja tidak,apalagi kenal dekat dengannya.Ia menyesal kenapa bisa sampai menggoda pria,yang ternyata otaknya lebih parah darinya.
"Om aku pulang ya,kasihan Ibu sama Bapak tunggu dirumah," Pinta Lala lagi ketika melihat Xaver yang hanya fokus kearah layar Laptopnya.
Xaver sebenarnya mendengarkan perkataan Lala ,tapi ia seolah tak mendengarnya sama sekali. Karena baginya ada Lala suasana apartemen nya berubah,terasa lebih hangat dan berwarna.
Padahal selama ini Xaver tak pernah dekat dengan wanita lain,karena baginya mereka itu kaum yang sangat ribet.
"Om ayolah aku mau pulang boleh ya!" bujuk Lala lagi.
"Kamu itu tau tidak kalau saya lagi sibuk!" Kesal Xaver.
"Lha kok malah ngegas ke saya,padahal saya hanya minta pulang kenapa marah tidak jelas. Awas saja kalau coba berbuat jahat ke saya,karena hal itu terjadi saya bakal penggal kepalamu," ancam Lala lagi.
"Diam bisa tidak,kamu itu pengganggu saja kalau mau pulang pergi sana!" Sarkas Xaver tajam sambil menghadap kearah Lala yang sedang memasang wajahnya yang sangat tak percaya.
__ADS_1
"Heh Om Om tua bangka,kamu itu yang pengganggu! Kamu pikir saya mau dibawa kesini,oh tidak." Ujar Lala tak kalah kesal lalu pergi dari situ.
Ia keluar dari Apartemen Xaver dengan wajah yang ditekuk,ia seperti wanita murahan yang menjajakan dirinya tapi ditolak oleh pria.
"Dasar brengsek,menyebalkan demi Tuhan ini adalah hari terakhir aku lihat Om Om itu," Gerutu Lala lagi.
Xaver yang sadar jika sudah membuat Lala marah,langsung menghentikan kegiatan yang ia lakukan dan pergi mengejar gadis itu.
Persetan dengan tugas yang diberikan Alex,karena sama saja jika otak dan hati tidak konsisten akan berantakan semuanya.
"Ahh kenapa juga tadi aku marah marah tidak jelas ya ke anak orang," gumam Xaver sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan Lala.
Sementara itu Lala sudah berada ditaksi yang akan mengantarkan dirinya kembali kerumah.Ia yakin pasti akan kena amukan dari Ratu di dalam rumah.
Berbeda dengan Xaver yang kalang kabut mencari Lala,Mikael kini tengah menatap sendu kearah punggung Alina yang sama sekali tak menganggap hadirnya dia.
"Tolong lihat aku sedikit saja,karena hanya itu yang aku butuhkan sekarang," lirih Mikael yang duduk bersandar di dinding rumah sakit,karena merasakan pusing setelah selesai mendonorkan darah.
Alina hanya menangis karena sudah menerima donor darah,tapi sampai sekarang pemeriksaan Rafa belum selesai.
Dan tadi dokter mengatakan bahwa Rafa harus dioperasi,karena mengalami benturan keras dikepala dan patah tulang bahu nya juga.
Jika boleh dan bisa ia ingin mengantikan Rafa saja,daripada pria yang dicintainya itu terbaring lemah tak berdaya.
"Sayang Ayo bangun,katanya sayang kenapa nggak bangun buat marah karena aku pergi tanpa pamit,"Lirih Alina dalam hati.
Alex dan Selina tak bisa berbuat apa apa lagi,karena mereka sangat paham jika putri mereka itu sedang terpukul dengan keadaan yang dialami Rafa kini.
Ceklek...
Pintu ruang operasi terbuka,dokter keluar dengan wajah yang tak bisa ditebak.
"Dokter bagaimana keadaan Abang?" Tanya Alina penasaran.
"Pasien untuk sementara kami nyatakan koma,akibat benturan yang cukup keras tadi.Namun kami salut karena keinginan untuk sembuh dari pasien sangatlah kuat ,hingga ia bisa bertahan melalui masa kritis!" jelas dokter itu.
"Apa sudah bisa dijenguk?" Tanya Alina lagi sementara Alex dan Selina hanya melihat saja.
"Untuk sekarang tidak bisa,karena pasien masih sensitif dengan kuman dan bakteri dari luar.Tapi jika pemeriksaan besok pagi sudah ada perubahan,maka boleh dijenguk," Sambung dokter.
__ADS_1
Duarrr...
Inilah titik terendah seseorang disaat orang tercinta terbaring lemah,ia tak bisa apa apa bahkan menyentuh pun tak bisa.
Hati Alina bagaikan ditikam ribuan jarum,hatinya sakit seolah tak bisa berfungsi lagi.Rafa sakit dengan membawa luka serta penyesalan dari seorang Alina Roberto.
"Tidak Bunda,Ayah tolong Lina mau ketemu Abang," teriak Alina histeris ketika orang dicintainya tak bisa dilihatnya.
"Sabar sayang,jangan seperti itu Bunda mohon," Ujar Alina menguatkan putrinya itu.
"Tapi Bunda,Abang sakit karena aku.Kalau saja tidak bodoh ,gegabah bahkan tak tahu diri pergi dari rumah pasti ini semua tak kan terjadi," Sambung Alina lagi.
Alex hanya berdiri tak tahu harus berbuat bagaimana,disaat nyawa putranya sedang diujung tanduk kekuasaan bahkan harta berlimpah tak bisa berguna sama sekali.
Saat seperti ini hanya sang penciptalah yang bisa kita harapkan,dan menjadi jalan untuk pulang dan meminta sesuatu yang mustahil bagi manusia.
Ketika Alex menatap sendu kearah putri nya,pandangan matanya tertuju pada seseorang yang dari tadi bersandar dikursi sambil menatap intens kearah Alina.
"Tuh orang kenapa masih disitu,ah iya aku belum ucapkan terima kasih atas bantuannya tadi," gumam Alex dalam hati lalu menemui Mikael.
"Terima kasih karena sudah mendonorkan darah untuk putraku,tinggal katakan saja berapa yang kau inginkan akan kuberikan.Karena aku tak ingin berhutang nyawa,jika kau ada niat terselubung untuk menolongnya!"ujar Alex tegas.
"Jadi menurut anda,saya memberikan darah saya karena mengharapkan sesuatu?" Tanya Mikael memastikan.
"Kurang lebih seperti itu." Sahut Alex dingin.
"Hah,Kalau misal aku minta putrimu sebagai bayarannya apa kau ikhlas?' Tanya Mikael yang mencoba memancing amarah Alex.
"Kamu pikir dia barang,asal kamu tahu aku rela semua harta Roberto jatuh ditanganmu tapi untuk memberikan putriku itu sampai kucing bertanduk pun tak kan pernah terjadi," ujar Alex sambil mengeraskan rahang nya.
"Baiklah jika itu jawabanmu Tuan,karena aku juga tak mau menyelamatkan nyawa seseorang karena uang.Lagian aku juga bukan orang melarat hanya karena kehilangan darah 2 kantong." sahut Mikael pasti.
"Ku pegang perkataanmu," tunjuk Alex dihadapan Mikael.
Alina hanya menatap sekilas kearah Ayahnya,yang sedang berdebat dengan pria yang sangat membuat Alina tak nyaman itu.
"Lina kamu kenal pria itu?" Tanya Selina penasaran.
"Ya elah Bunda,aku mana berani berhubungan dengan pria lain dibelakang Abang," Tegas Alina.
__ADS_1
"Iya memang sih,kalau itu sampe terjadi Bunda tidak akan bisa bayangkan cara terbakarnya Abang eh kekasih hatimu itu," ejek Selina.