
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT***
" kebetulan saya juga mau keluar. Jadi sepertinya kita satu arah, maka dari itu saya ingin menawarkan tumpangan kepada bapak dan ibu!" jelas Xavier.
Mira yang tadi Ketus mendadak merubah ekspresi wajahnya, dirinya pun senang bukan main karena bakal menghemat ongkos dan uangnya bisa dialihkan buat makeover dirinya.
" Ya sudah ayo berangkat! " ajak Mira tanpa malu-malu membuat Eko menatap kesal kearah istrinya itu.
" lebih baik tidak usah nak soalnya bapak tidak enak kalau sampai merepotkan!" ujar Eko membuat Mira mendengus kesal.
" Ih Bapak sudah tahu kere tapi gengsinya dipelihara, Lagian dia menawarkan sendiri bukan kita yang memaksakan diri? jadi tidak ada salahnya kan menyambut niat baik itu, hitung-hitung menghemat ongkos lho Pak!" jujur Mira tanpa menjaga image di depan Xavier yang sedang meringis menatap perdebatan kedua manusia paruh baya itu.
" Ibu ini kenapa sih setiap kali dibilangin pasti saja selalu harus menjawab seperti itu, jangan sampai Masnya ada tujuan mau ke tempat lain tapi harus terhalang sama kita?" Wah begitulah kelakuan bapak-bapak selalu saja menyalahartikan kebaikan seseorang berbeda dengan emak-emak kalau yang gratisan masa bisa menolaknya.
Mira hanya bisa menghela nafasnya kasar. Entahlah cara mengucapkan sesuatu kepada suaminya itu agar bisa paham, harus menggunakan bahasa apa Masa iya harus pakai bahasa Wonderland?
" Bapak tadi itu dengarkan si Mas ini yang menawarkan tumpangan nya sendiri secara sukarela, jadi kita tidak sopan kalau sampai menolaknya padahal memang membutuhkannya? masa yang seperti itu juga harus ibu yang bilang, Emangnya otaknya bapak itu hanya digunakan buat apa saja?" Ketus merah Percayalah safir merasa menjadi orang yang paling ter bego di dunia ini karena baru seumur hidup dirinya berhadapan dengan wanita seagresif Mira itu.
"eh Mas ini sebuah penyebab masalah itu dari kamu kenapa tidak menjelaskan dulu kepada suamiku, biar si tua bangka ini tidak salah pengertian kamu kok malah diam jadi kayak orang bengong?" sungut Mira membuat Xavier mau tidak mau harus memecah otak untuk berbicara yang bagaimana supaya Eko tidak salah pengertian.
" apa yang dikatakan ibu itu benar Bapak. kalau tadi saya yang secara sukarela menawarkan tumpangan, karena Kebetulan saya juga mau pergi jadi tidak ada salahnya kan jika menawarkan hal itu?" nah tuh kan Xavier yang rencananya buru-buru harus kembali ke kantor mendadak harus berubah jadwalnya.
" nah tuh kan sudah dengar apa yang masih dibilang jadi lain kali itu jangan selalu menyalahkan ibu yang kebenarannya saja bapak bingung, Apa tidak sayang sama istrinya dimanapun selalu saja dimarahi Sesuka Hati?" cie ada yang lagi curhat nih.
Aku mendengus kesal melihat tingkah sang istri yang sangat gak tau Aturan itu, di mana-mana kalau ketemu sama orang asing setidaknya berbasa-basi dahulu nah ini asal menyepak aja Nanti dikiranya manusia benalu.
" Ya sudah kalau memang tidak merepotkan Ibu sama Bapak ikut deh, tapi kalau memang hanya karena searah terus tempat yang Mas bakalan datangi itu lebih dekat ya turunkan saja Bapak Ibu di tengah jalan Tinggal ngikut sama taksi!" Mira benar-benar diuji kesabaran oleh sang suami yang berlagak seperti orang kaya.
" bapak, kalau ngomong sekali lagi seperti itu lebih baik Bapak tinggal saja Jadi orang kok Mulutnya cerewet banget sih, awas aja sampai ngomong yang tidak jelas seperti tadi ibu beneran tidak bercanda loh!" kali ini giliran Mira dan Eko yang berdebat maklumlah Keluarga Cemara di mana-mana selalu saja berakhir seperti itu.
__ADS_1
" Ya sudah ayo kita berangkat, tapi kalau Boleh saya tahu ibu sama bapak tujuannya kemana ya?" tanya Xavier memastikan.
" Oh kami mau ke ke tempat putri kami yang sudah seminggu menginap terus hilang kabar seolah Ditelan Bumi, Padahal dia masih punya kami lo sebagai orang tuanya entah dia masih hidup atau tidak Makanya kamu pergi mengeceknya?" jawaban yang diberikan oleh Mira itu membuat Xavier mengerutkan keningnya.
" Astaga ini keluarga memang absurd sekali tanpa difilter mau ngomong apa,
Ya jelas anaknya mereka masih hiduplah orang hidupnya di rumah bukan di jalanan?" semut safir dalam hati Mana berani berbicara secara langsung mulut seriusnya Mira itu saja tidak mampu ditangkis oleh suaminya apalagi dirinya yang merupakan orang asing.
" Ibu jangan hanya ngomong saja tahu tidak Alamatnya di mana Jangan hanya modal nekat akhirnya nyasar, jadi orang percaya diri nya ketinggian kan nanti awas kalau sampai beneran nyasar Bapak tidak bakalan tanggung jawab!" Eko mengatakan hal itu karena dari tadi telinganya seakan ingin copot dari tempatnya mendengar perkataan istrinya itu yang tanpa henti.
" Bapak Tenang saja semuanya aman terkendali tanpa hambatan tanpa gangguan, pokoknya tinggal dieksekusi saja! lagian sama istri sendiri kau tidak percaya apalagi sama orang lain, Jadi orang itu itu harus mudah bergaul sama orang lain karena biar bagaimanapun Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri!" Mira mengatakan hal itu dengan percaya diri.
" tidak perlu Ibu ngomong kan Bapak sudah tahu Jadi jangan membahas hal yang seperti itu lagi, lagi ditanya apa jawabnya kok pada ngelantur semua. untungnya Masnya ini tidak kaya para sopir yang lain, yang tidak tahan dengan mulut ibu yang selalu nyerocos tidak jelas!" sungut Eko membuat Mira hanya cengengesan saja soalnya apa yang dikatakan suaminya itu sebenarnya 100%.
" pantasan dari tadi kuping aku se rasanya sudah tidak bisa bertahan lagi ternyata ini kebiasaannya toh, untung juga karena tergila-gila sama anak gadisnya mereka Coba kalau tidak Demi Tuhan aku tidak ingin menjadi orang terbodoh di dunia ini!" batin Xavier frustasi karena dirinya tidak mungkin menimpali apa yang dikatakan Mira bisa habis nantinya.
di dalam hatinya Xavier berdoa semoga Mira tertidur atau apapun itu agar suasana mobil kembali kondusif, tapi ternyata harapan itu tak sesuai dengan ekspektasi sangat jauh dari impian.
" Masnya tujuannya mau ke mana ini?" tanya Mira basa-basi.
" tadi kok mau pulang ke rumah harus lewat di depan Kompleks Perumahan nya kami, terasa di dekat itu tidak ada kantor besar deh Mas nyasar atau gimana?" tanya Mira penasaran.
" Oh itu karena saya suntuk di rumah Makanya sengaja mengambil jalan yang memutar lebih jauh lagi, tapi setelah ini bakalan pulang kebetulan sudah gerah sekali!" bohong Xavier.
Ya iyalah makhluk seperti Mira jangan coba-coba kamu berkata jujur bisa runyam nanti pertanyaan yang muncul, dari yang a berubah jadi z dan akhirnya ngalor-ngidul kemana-mana.
" seumuran saya Pur saya tahu ada orang yang se aneh Mas tahu tidak, masa iya mobilnya bagus pasti rumahnya ber-ac Kok bisa ya mau maunya muter keliling jalanan padahal ada tempat yang lain lebih bagus? Mas ini kayaknya ketahuan jomblo deh Soalnya tidak punya siapa-siapa kan diajak pergi, ganteng tapi kalau masih jomblo mah sama saja?" tanya Mira yang Bahkan tidak memikirkan perasaan Xavier bagaimana ketika ada pertanyaan yang seperti begitu.
" bukan seperti itu juga kali bu, memangnya harus punya pacar saja baru bisa jalan-jalan? Ibu kalau ngomong itu kalau bisa dipikir dulu toh, kasihan Masnya jadi kebingungan harus menjawab pertanyaan Ibu seperti apa ?" Oh Pak Eko kalau memang yang paling terbaik kalau tidak bisa dipastikan jadi apa Xavier jika hanya berdua saja dengan Mira.
" ibu kan jujur Bapak kalau mau ngomong, jadi tidak ada salahnya kan kalau harus bertanya seperti itu? Lagian masnya saja tidak keberatan Kok kenapa dari tadi Bapak selalu saja membantah perkataan ibu, emangnya Bapak kenapa sih sensi terus dari tadi memangnya tidak senang melihat ibu menjadi orang yang ramah?" tanya Mira kesal.
" wadidaw Kenapa jadi mereka yang berantem, kalau tahu seperti begini tobat 16 keturunan buat ajak mereka naik mobil, Bukannya tidak sopan tapi kalau niat baik hasil akhirnya jadi seperti ini mah sama saja bohong?" bathin Xavier frustasi.
__ADS_1
" Saya tidak apa-apa kok pak kalau ditanya seperti itu sama ibu, Lagian Saya senang karena ada teman ngobrolnya di sini dan tidak suntuk menyetir sendiri!" ujar Xavier sambil tersenyum berusaha menempatkan diri sebagai calon menantu idaman.
" nah tuh kan apa kata ibu tadi Kalau dianya itu tidak apa-apa hanya bapaknya saja yang ada apa-apanya, sudah Ibu menikmati kenyamanan dalam mobil ini. Nanti kalau sudah sampai bapak bilang ya biar Ibu bangun, ingat loh Pak ke kampusnya Lala Bukan ke tempat lain!" tegas Mira setelah itu langsung memejamkan matanya.
" Memangnya jam segini masih ada mahasiswa di kampus Pak, Kenapa tidak cari saja ke rumah temannya itu?" tanya Xavier agar yang mengantarkan kedua orang tuanya Lala ke kediamannya Roberto supaya Lala terkejut dan mau menerima dirinya yang terlihat sudah akrab dengan keduanya.
" iya juga ya, tapi yang jadi permasalahannya alamat temannya itu Ibu sama Bapak tidak tahu tepatnya ada di mana? atau nanti biar bapak hubungi anaknya Bapak supaya mengetahui lebih jelasnya posisinya ada di mana, daripada saat sudah ke rumah temannya eh tahu dianya tidak ada di sana?" ujar Eko lalu mengambil ponselnya menghubungi Lala.
Xavier juga langsung kepikiran benar juga tidak Mungkin Lala sudah ada di rumah nya Alina jam segini, biasa kelakuan anak gadis pasti bakalan Menikmati suasana sore entah kemana pun itu.
" halo nak, Kamu sekarang ada di mana?" tanya Eko memastikan.
Lala di seberang mendengus kesal Bagaimana tidak, bapaknya itu bukannya menanyakan kabarnya lebih dahulu eh malah menanyakan keberadaannya?
" Bapak ih tega sekali lho jadi orang! bukannya tanya kabar Aku baik atau tidak, eh tinggal main nyerocos begitu saja? Bapak ini kelamaan bergaul sama ibu makanya sifatnya jadi ikutan toh, tidak ada manis-manisnya sama sekali aku jadi kesal nih!" sungut Lala dari seberang membuat Xavier hanya bisa menggelengkan kepalanya merindukan sosok mungil yang kalau bicara sama persis seperti Mira ibunya.
" eh anak nakal ya jelas Bapakmu bergaul sama ibu orang ibu kan istrinya, saya bergaul sama janda tetangga Memangnya kamu mau punya emak tiri seorang janda?" tanya Mira yang entah kapan tapi ponsel yang tadi dipegang Eko sudah beralih tangan padanya.
" ya Chandra dirinya kalau bisa bersikap lebih manis daripada ibu ya aku mau dong, tapi pertanyaannya Emang ibu mau dimadu? aku sebagai anak mah ikhlas lahir batin tapi takut singa singa betina yang di rumah, pasti bakalan mengamuk sepanjang waktu terus Pak Eko nya jadi sasaran!" Eko hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban yang di berikan oleh putrinya itu.
" kamu ya Dasar anak durhaka, cepat kasih tahu alamat Kamu sekarang ada di mana Biar Ibu samperin Terus ibu Hajar kamu. jadi anak kok tidak tahu sopan santun sama orang tua, biar begini-begini tapi karena ibu brojolin kamu Makanya kamu bisa lahir di dunia ini Coba kalau tidak kamu pasti mengambang di langit yang keberapa?" sungut Mira.
" ih Ibu ngambek ya Tumben cepat banget kalahnya, perasaan biasanya harus sampai beberapa jam dulu baru bisa mengalah kok sekarang cepat banget? " ledek Lala dari seberang.
" sudah cepat kasih tahu kamu sekarang ada di mana, dasar tidak sopan sama orang tua?" tanya Mira lagi memastikan.
" aku lagi di mall xx bareng sama Alina, Emangnya Ibu mau nyusulin kita ke sini? Wih kalau sampai terjadi Ibu tolong bilang ya sama bapak siapin kantong yang tebal, soalnya barang-barang di sini itu limited edition semua lho Ibu, gaul habis deh pokoknya." jelas Lala antusias membuat Mira menatap kearah suaminya meminta persetujuan.
" Pak tadi yang untuk ongkos Ibu bisa minta ya buat beli sesuatu gitu, soalnya Lala sama Alina lagi di mall xx ya kebetulan karena sudah di sana Kenapa tidak digunakan kesempatan buat belanja?" tanya Mira sambil tersenyum semanis mungkin agar suaminya itu bisa luluh dan mengijinkannya.
" ibu barang-barang di mall itu beda sama yang di pasar, jadi kalau dompet kita hanya mendukung untuk ke pasar Kenapa harus memaksakan diri? nanti akhir-akhirnya malu sendiri loh, lebih baik tidak usah kita akan kesana hanya niat susulin Lala saja?" jelas Eko membuat Mira menatap kesal kearah suaminya itu yang dari dulu jika diminta temani belanja pasti alasannya ada saja.
" Bilang saja pelit ngapain juga pakai alasan yang lain, Ibu ini sudah hafal loh semua jawabannya bakalan Bapak berikan jika Ibu minta ini itu? kenapa ibu tidak menikah sama pejabat saja ya, pasti bakalan pakai barang branded semua?" desah Mira frustasi.
__ADS_1
" mendingan nanya pemilik toko sembako Bu tidak hasil korupsi, dari pada hasil nyolong duit rakyat satu negara hasil akhir bakalan dikasih seragam warna orange malunya dapat gembel nya dapat tidurnya di hotel prodeo?" jelas Eko membuat Mira begitu pula dengan Xavier yang daritadi hanya sebagai pendengar saja.
" nah kali ini apa yang Bapak bilang Ibu setuju sekali, tumben Kita sehati biasanya kan Jangan harap?" sahut Mira.