
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ***
Begitulah sifat manusia saat salah terus dinasehati ,pasti ada saja jawabannya. Padahal yang dibicarakan itu sesuai kenyataan,coba kalau tidak sesuai pasti bakal lebih parah lagi.
"Kamu itu katanya cantik,tapi kalau bego sama saja bohong," sindir Lala.
"Apa hubungan nya dengan kecelakaan Bang Rafa?" Tanya Alina heran.
"Ya iyalah jelas ada hubungannya,kamu sadar tidak kalau tidak ada namanya acara minggat atau kabur apa kecelakaan ini bakal terjadi?" Tanya Lala sambil menatap tajam kearah Alina.
Alina terdiam tidak bisa berkomentar banyak lagi,karena dari tadi si manusia aneh binti ajaib itu ngomong benar semua tak ada yang salah sama sekali.
"Iya aku salah tapi sudah dong marah nya,masa dari tadi ngomongnya pedas terus telingaku serasa mau copot nih,"gerutu Alina kesal.
"Tuh kebiasaan giliran dibilangin malah ngambek,tapi kalau diam makin gas titik," omel Lala kaya emak emak.
"La,tolongin aku dikit napa?kamu diam aku serasa hidup,tapi kalau kamu bicara Nafas ku serasa tercekat ditenggorokan," ucap Alina sambil berbaring.
Lala sebenarnya mau tidur dan ingin curhat juga,tapi melihat kondisi Alina sekarang sepertinya bukan waktu yang pas.
Ia memilih duduk diatas sofa ruangan itu,dan memainkan ponselnya.
Lala Marlela,nama jawa rasa Thailand.
"Kamu kenapa sih dari tadi diam disitu saja,ada sesuatu kah yang menganggu isi otakmu itu?" Tanya Alina heran.
Karena tanpa Lala sadari jika dari tadi Alina melihat wajah masam gadis itu.
"Lho bukanya kamu tidur kenapa sudah duduk disitu?" Tanya Lala yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tanya itu dijawab bukan bicara barang lain!" kesal Alina.
"Tapi kamu kan pasti lagi memikirkan kekasihmu,aku mana mau tambah beban pikiran untukmu," Sahut Lala santai.
"Iya aku bingung sekarang harus bagaimana,ingin melihat dirinya tapi tidak bangun bangun.Malah tadi lebih parah lagi aku dilarang untuk melihatnya,padahal ingin sekali memeluk dan menciumi wajahnya." Ucap Alina sendu.
"ngeres saat galau memang sungguh tak pandang tempat.
"Lho memangnya separah itu?" Tanya Lala penasaran.
"Ya seperti itulah bingung sendiri harus bagaimana?" Sambung Alina lagi.
"Kamu sabar ya,bukankah Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya." Sahut Lala menasihati.
"Wahh,ternyata hari ini semua perkataan kamu benar semua.Aku jadi bingung selama ini terselip dimana otak pintar kamu itu,sampe tidak pernah sama sekali muncul dipermukaan?" Tanya Alina yang mana membuat Lala merasa dongkol.
"Memuji itu yang iklas bro,jangan pake selipkan kata kata penghinaan!" omel Lala kesal.
__ADS_1
"Maaf!" Sahut Alina jelas padat dan singkat.
Sementara itu dari kamar sebelah terlihat Alex sedang menerima panggilan dari Xaver,ia menyuruh asistennya itu datang kerumah sakit saja agar lebih leluasa.
Setelah panggilan itu selesai,Alex mendekati istrinya yang terlihat sedang duduk bersandar dipinggir ranjang.
"Kok belum tidur Sayang?" Tanya Alex pelan.
"Mana bisa tidur jika gelisah terus memikirkan Abang." Sahut Selina sendu.
"Banyak berdoa,biar Abang kembali sehat lagi," Ujar Alex menguatkan istrinya itu.
"So pasti hanya saja isi dalam otak tak bisa dibohongi,jadi kalau dipaksa tutup bakal kaya cacing kepanasan diatas tempat tidur," ucap Selina sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Gimana kalau kita bermain cacing kepanasan dulu diatas sofa," ajak Alex yang entah dalam keadaan apapun bawaanya pasti ngeres melulu.
"Kamu itu ya benar benar,otak lagi pusing malah memikirkan urusan ************."Omel Selina.
"Ya biar otak kamu sedikit rileks begitu,masa dipaksa berpikir terus nanti sakit lho." Ujar Alex ambigu.
Modus,orang kalau stres itu dipijat atau apalah.Eh malah diajak kegiatan yang memakan banyak tenaga dan macam macam nada mulai dari rendah sampai tinggi .
"Kamu saja sono main main,aku mah ogah.Oiya Bunda mau cari cemilan,pergi bareng Lala temannya Alina boleh kan?" pinta Selina.
"Malam begini kamu mau makan yang tidak sehat? Jangan aneh aneh deh kamu Yang,nanti sakit bagaimana kasihan kan anak anak," bujuk Alex lagi.
"Ya sudah hanya cari Buah buahan saja deh,masa itu juga nggak boleh?" Gerutu Selina lagi.
"Nanti kalau kamu jalan sendiri terus ada pria hidung belang godain kamu gimana?" Tanya Alex yang masih mencoba berbagai alasan agar istrinya tak pergi.
"Eh kamu Ver,mau ketemu monyet?" Tanya Selina ketus.
Monyet???
Xaver mengeryitkan keningnya,memangnya dirinya tidak ada kerjaan apa sampe malam begini datang hanya untuk bertemu Monyet.
"Oh Bukan nyonya,tapi mau ketemu Tuan Alex." Sahut Xaver.
"Udah tahu dari kemarin,ya sudah kamu masuk saja saya mau pergi dengan Lala beli buah." Ujar Selina sambil membuka pintu kembali agar Xaver masuk kedalam.
Akan tetapi Xaver lebih fokus akan perkataan Selina barusan,Lala ya benar ada gadis itu disini.
"Maaf nyonya tadi anda bilang ada Lala disini?" Tanya Xaver memastikan.
"Iya,terus apa hubungannya dengan kamu?" Tanya Selina bingung.
"Boleh saya bertemu dengannya," pinta Xaver membuat Selina menatap heran kearahnya.
"Xaver Ver korek gas,jangan coba kau menatap lebih dari lima detik ke istriku!" Wah Alex ternyata melihat semua tingkah Xaver barusan.
"Noh dengerin Tuan kamu itu,jangan macam macam kamu sebelum dibikin perkedel gulung," ejek Selina lalu pergi keruangan sebelah.
Xaver menatap sekilas arah tujuan Selina,yang ia yakini ada Lala juga.Persetan dengan kemarahan Alex,pasti juga kena amukan saja tidak juga sampe kuping lepas.
"Xaver kamu makin hari semakin berani sama saya?" Tanya Alex dengan nada dingin.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan,tadi hanya memastikan saja Nyonya sampai dikamar Nona Alina dengan selamat." Bohong Xaver.
wah ternyata pintar juga nih Babang Vever.
"Hemm,duduk disofa dan bacakan apa yang kamu dapatkan tentang tuh bule nyasar!" perintah Alex serius.
"Namanya Mikael Wiliams,pengusaha muda asal Belanda menggantikan Ayahnya.Ia baru sebulan disini,kebetulan bertemu Nona Alina dihotel!" jelas Xaver.
"Dia katanya punya satu orang Kakak laki laki,tapi hilang 20 tahun yang lalu karena dibawa lari oleh pembantu mereka," sambung xaver lagi.
"Jadi apa ada alasan lain dia menetap di negara ini?" Tanya Alex penasaran.
"Untuk sejauh ini belum pasti Tuan." Sahut Xaver.
"Kamu suruh anak buah kita buat mengikuti pria itu kemanapun,karena sepertinya dia menginginkan Alina," perintah Alex tegas.
" Baik Tuan akan saya laksanakan," ucap Xaver penuh percaya diri.
"Kamu besok urus perusahaan,karena Rafa kecelakaan tadi sekarang lagi dirawat." Ujar Alex lagi.
"Baik Tuan,besok saya yang akan menghandle urusan perusahan." Janji Xaver.
"Itu berkas yang tadi diantar divisi keuangan,kamu bawa pulang dan periksa dirumah," ujar Alex.
"Tuan bisakah saya juga bermalam disini,agar bisa ikut menjaga Tuan muda," pinta Xaver padahal Modus.
"Kamu mau bermalam diruangan ini bersama saya dan istri saya?" Tanya Alex tajam.
"Ahhh Bukan maksud saya begitu Tuan,tapi bukankah ruangan yang berada disamping ruang Nona Alina itu kosong?"Jelas Xaver.
"Terserah kamu saja,yang penting jangan ganggu saya dan Selina!" usir Alex sambil menggerakan tangannya agar Xaver pergi dari situ.
"Sayang,kamu dimana?" Tanya Rafa ketika melihat Alina yang semakin menjauh.
"Sayang jangan tinggalin aku,aku mohon," lirih Alina yang ternyata mimpinya dan Rafa saling berhubungan.
"Sayang,aku cinta kamu tapi maaf jika tak bisa menjaga kamu untuk selamanya!" ujar Rafa pelan tapi masih bisa didengar Alina.
"Tidak Boleh pokoknya tidak boleh,jika tidak aku bakal mati lebih duku!" Teriak Alina yang entah kapan tapi ia sudah memegang pisau ditanganya.
"Sayang lepas pisau itu nanti kamu terluka! Lepas sayang jangan pegang benda berbahaya seperti itu." Ucap Rafa yang berlari mendekat kearah Alina begitupun Alina sebaliknya tapi tiba tiba ada sosok yang berdiri diantara mereka.
"Abang bangun,apa kau tidak ingin melihat adikmu ini," pinta pria yang wajahnya ditutupi sinar putih hingga tak dapat dilihat dengan jelas.
"Sayang kamu dimana?" teriak Alina sambil menangis.
"Sayang jangan menangis hatiku sakit," lirih Rafa sambil memegang dadanya.
"Kalau kamu pergi aku akan merebut dia darimu kak," ujar pria itu serius.
"Tidak! Alina hanya punyaku tidak akan pernah kuberikan keorang lain,sekalipun kau adikku!" tegas Rafa serius.
"Kalau tidak mau diambil ya bangun lah," ujar pria itu sambil tersenyum mengejek.
Rafa semakin gelisah ketika melihat pria asing menggendong Alina,pergi menjauh ia melihat Alina hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1