
Like N KOMENNYA
Terima kasih
LANJUT ***
semua yang berada dalam ruangan itu menjadi panik karena tubuh Devan yang mendadak kejang-kejang, Dinda jangan ditanya lagi perasaan wanita itu kini.
di pegang erat tangan suaminya itu, selalu mencoba untuk menyadarkan kembali Devan agar menatap dirinya Namun sayang semua itu tidak terjadi.
" sayang kamu panggilin dokter dong, nanti kalau Devan kenapa-napa gimana?" pinta Selina panik.
tanpa menunggu waktu lama Alex memencet bel yang berada di samping tempat tidur Devan, Ia pun panik tapi Berusaha tetap tenang karena kalau semuanya panik mau jadi apa nantinya.
" Mas bangun dong, kalau kamu kayak begini terus akunya gimana? kamu katanya masih ingin menua bersamaku, Kenapa harus menyerah begini ini terlalu cepat Mas aku belum ikhlas!" lirih Dinda sambil memeluk erat tubuh suaminya itu.
Devan berusaha meraih kesadarannya karena ia ingin pergi dengan meninggalkan kesan yang baik dan tak terlupakan oleh istrinya, suami mana yang bisa melihat sang istri terpuruk seperti itu.
" sayang Aku tahu kamu sedih, tapi tolong jangan terlalu lama sedihnya! sebab sayang loh wajahnya kalau di buat sedih terus, nanti kapan ketemu sama jodoh nya yang baru ?" ujar Devan sampai memaksakan senyuman di wajahnya.
" Mas Kamu kenapa sih saat begini selalu ngomong ngelantur terus, pikirkan dong dengan perasaannya Aku gimana? Kamu nggak kasihan sama aku, kamu senang lihat aku kayak orang gila di dunia ini?" tanya Dinda sambil menahan tangisnya.
" aku nggak kuat Sayang, Kamu jangan sedih atau tidak perjalananku bakalan berat sekali! kamu harus ikhlas in Aku sayang, karena hanya itu yang aku harapkan sekarang!" pinta Devan sambil terus terpejam matanya.
" buka mata kamu sekarang Mas, Jangan tidur nanti aku sama siapa ayo bangun jangan tidur Aku nggak mau sendiri Mas!" lirih Dinda Namun sayang Devan seolah tertidur dan tidak ingin bangun lagi sepertinya.
__ADS_1
saat bersamaan dokter pun datang memeriksa pasien, sementara itu Dinda tidak ingin sedikitpun menjauh dari suaminya. karena dalam hatinya Ia selalu berdoa agar ada keajaiban yang datang, Bukankah Mujizat itu selalu ada bagi orang yang percaya.
" Dokter Tolong bangunkan Suami saya sekarang, saya akan membayar berapapun yang dokter minta dan akan mengingat jasa dokter sepanjang hidup saya!" pinta Dinda dengan airmata yang mengalir di kedua pipinya.
dokter tersebut menggelengkan kepalanya pertanda memang sudah tidak ada harapan lagi, dengan wajah memelas Ia pun menyampaikan berita kematian Devan.
" waktu meninggal pasien pukul 2.30 siang, silakan urus administrasi karena pasien akan dibawa ke ruangan jenazah!" ujar dokter tersebut Lalu segera pergi dari tempat itu.
Duarrr
Dinda merasa Bagaikan disambar petir di siang bolong, suaminya kekasih hatinya pemilik hidupnya teman bicaranya dan teman hidupnya pergi sudah menghadap sang penciptanya.
airmata Dinda tak terbendung lagi yang menangis dengan begitu pilu nya membuat Siapa yang mendengarnya pasti akan terbawa suasana, Selina pun tak bisa menahan tangisnya dipeluknya erat tubuh sahabatnya itu memberikan dukungan.
Biar bagaimanapun Devan adalah orang yang pernah sangat berharga dalam hidupnya dahulu, pria yang membantunya tanpa pamrih ketika ia lelah menghadapi sikap Alex yang arogan itu.
Percayalah Jika dia orang baik Tuhan sudah menyiapkan tempat yang terbaik pula, hanya saja keikhlasan untuk orang yang ditinggal yang merupakan poin paling penting.
" sabar sayang jangan seperti itu, aku janji bakalan selalu ada untuk kamu! tolong jangan bersedih terus seperti begini aku tak sanggup melihatnya, Kamu tahu kan dia selama ini menahan sakit it? kasihan kalau dia kesakitan terus seperti itu, apa kamu tega melihat dia menahan sakit demi bisa tersenyum dihadapan kamu ?" tanya Selina pelan dan hanya di anggukan kepala oleh Dinda.
" Aku hanya ingin dia kembali Lina tidak yang lain, kalau dia pergi aku sama siapa Di Sini? Kamu tahu kan di negeri orang aku kesini karena dia, tapi kalau dia sudah nggak ada akunya sama siapa?" Dinda berkata Lirih sebab bingung harus berbuat apa.
Selina tak bisa menjawab banyak hanya bisa menenangkan sahabatnya itu agar lebih ikhlas, Ia yakin besok atau lusa pikiran Dinda bakalan lebih terbuka dan bisa gampang mencerna semua perkataan dan nasihat yang disampaikan oleh orang-orang sekelilingnya.
sedangkan Alex bingung harus berbuat apa, ditatapnya tubuh kaku yang sedang diurus oleh para perawat itu intens. kedatangannya di sini hanya untuk semata mengurus pekerjaan, Namun ternyata hal lain sedang menunggu dirinya.
__ADS_1
" Maafkan saya Bro jika selama ini punya banyak salah sama kamu dan banyak kata yang menyinggung perasaan kamu, Tapi jujur itu saya lakukan hanya demi menjaga apa yang menjadi milik saya!" gumam Alex monolog.
Dinda berjalan tertatih sambil dipapah oleh Selina menuju ke kamar jenazah tempat suaminya berada, sedangkan Alex sedang mengurus administrasi agar Devan bisa dibawa pulang ke rumah duka.
tanpa mereka sadari ternyata Rivan masih berada di situ sebab terjebak oleh badai salju, dirinya masih di lobby rumah sakit tanpa sengaja netranya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
"Alex?" gumam Rivan yang masih bisa didengar oleh Vigo disampingnya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Vigo memastikan.
" itu kan Alex, ngapain ya mereka di rumah sakit? Oh God jangan bilang Lina Aku Sakit, Vigo kamu tunggu sini aku ingin memastikan hal itu!" perintah Rivan tak ingin dibantah.
" Saya ingin mengurus administrasi untuk kepulangan jenazah Devan Erlangga, kalau bisa setelah badai ini berakhir langsung kami dari pihak keluarga membawa pulang!" ujar Alex yang tanpa sadar jika kata-katanya itu didengar jelas oleh Rivan dibelakangnya.
" Devan Erlangga, loh Itu bukannya suaminya Dinda yang dahulu menyembunyikan Selina di sini?" Rivan bertanya-tanya dalam hati karena ia tak asing dengan nama itu.
" Alex, siapa yang meninggal?" tanya Rivan yang menahan Alex ketika akan kembali ke ruangannya tempat Devan berada.
Alex mengerutkan keningnya seolah tak percaya jika pria pebinor itu bisa berada di situ, pikiran buruk pun berseliweran di otaknya ia yakin pasti Rivan membuntuti dirinya dan Selina.
" Kamu kenapa bisa berada di sini, jangan bilang kamu mengikuti aku dan istriku? bisa tidak sekali-sekali jaga sikap kamu, dia itu istriku milikku dan tidak akan pernah aku berikan kepada orang lain sekalipun!" tegas Alex lalu segera pergi dari situ namun Rivan terus mengikutinya dari belakang tak peduli segala cacian yang dilontarkan oleh sahabat kecilnya itu.
" bisa-bisanya dia di sini juga, Ah memang pria aneh setidaknya berbuat sesuatu yang disebut sebagai lelaki jantanlah bukan hanya menempel pada istri orang saja!" gerutu Alex dalam hati.
Rivan menatap ke arah ruangan yang dimasuki oleh Alex, dan itu merupakan ruangan jenazah.
__ADS_1
tanpa permisi Rifan masuk ke dalam dan melihat Selina dan Dinda saling berpelukan, sambil menatap ke tubuh yang terbujur kaku di atas brankar rumah sakit.
" Astaga jadi benar-benar Devan yang meninggal, Semoga amal baikmu diterima di sisi Tuhan kawan maaf jika selama ini selalu berbuat salah padamu Aku yakin kamu orang baik dan tempatmu yang paling terbaik bola!" gumam Rivan pelan.