
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Xavier yang paham dengan arah pandang semua orang langsung menatap kearah kekasihnya itu, karena memang keduanya hari ini sangat sama dalam pemikirannya yaitu protes dengan kelakuan orang tua.
" Kalian mau bertanya apakah aku satu pendapat dengan Lala atau tidak, jawabannya Iya aku satu pendapat dengannya! karena kalian itu keterlaluan sekali sebenarnya, Maaf bukannya tidak sopan tapi kita ke sini itu mau bahas soal lamaran dan juga pernikahan kan? kok bisa segala sesuatu belum dibahas sampai habis sudah membahas barang lain, tahu tidak rasanya digantung itu sangat tidak menyenangkan sama sekali!" Xavier benar-benar satu pendapat kali ini dengan Lala karena maklum pengen kawin tapi tidak ada yang mengerti dengan kemauan mereka itu.
" eh kalau kayak begitu gimana kalau kita berdua kawin lari saja, Soalnya kalau mereka malas tahu ya kita juga malas tahu dong?" tawar Lala membuat Mira menatap tajam ke arahnya sedangkan Adele malah ingin mencekik batang lehernya Xavier.
" Eh bocah nakal kamu yang sudah mempengaruhi jalan pikiran calon menantunya Mama, Dasar anak tidak tahu diri kok bisa bisanya sudah tua bangka malah mengkontaminasi calon istri sendiri?" tanya Adele tak terima membuat Mira kali ini berbeda pendapat dengan calon besan nya itu.
" eh mana bisa begitu yang salah itu Ini anak yang satu ini, Dia yang membuat calon menantu ku jadi memaksakan diri untuk cepat cepat kawin?" tolak Mira sambil ingin sekali menghajar Lala.
" Lho kenapa jadi aku yang harus disalahkan padahal jelas-jelas kalian yang salah, hadeh kalau model begini terus lama-lama kami berdua beneran kawin lari?" Tanya Lala tak terima jika dirinya disalahkan tanpa sebab akibat yang jelas.
" aku setuju jadi biar kalian tidak usah memikirkan ini dan itu Biarkan kami berdua kawin lari saja, nanti setelah ada kata yang sah baru kami bakalan kembali lagi kesini memberikan kabar berita yang terbaik di jagat raya!" Xavier menimpali perkataan Lala membuat wanita itu menjadi besar kepala karena ternyata sekutunya adalah calon suaminya.
semua orang paruh baya di situ hanya bisa menggelengkan kepala ternyata membicarakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak orang yang masih muda, cara protes mereka itu bisa bikin kita serangan jantung secara mendadak.
" kalian itu mau ingin menikah tidak masalah sangat tidak bermasalah, hanya saja jangan keterlaluan juga kan Memangnya kalian pikir di dunia ini kita tidak punya sama keluarga? gimana kata keluarga besarnya dari papa kamu keluarga besarnya mama dan juga calon mertua kamu, kecuali di dunia ini kami orang tua melahirkan anaknya tanpa ada campur tangan dari pihak lain?" ujar Adele yang sudah merubah nada bicaranya lebih halus.
Eko dari tadi adalah orang yang paling tidak ingin berbicara yang tidak penting, karena baginya sesuatu yang ia ucapkan itu bisa menjadi bumerang jika membuat orang lain tersinggung ataupun tidak menyukai apa yang dikatakan.
dirinya juga bingung harus membela pihak yang mana karena semua sama-sama benar, dirinya tidak menyalahkan Lala dan Xavier ingin agar pembahasan mereka secara menyeluruh tidak setengah-setengah.
merah menatap kesal kearah suaminya itu karena bukannya memberi solusi malah duduk bagaikan patung Asmat, patung Asmat masih kece badai membahana karena punya harga jual yang tinggi Eh ini boro-boro memiliki harga jual memiliki pendapat yang bikin orang lain lega saja tidak punya.
" bapak, Bisa tidak itu mulut digunakan untuk berbicara Jangan hanya kita Ema emak saja, kalau seperti begitu terus kelakuannya ibu bakalan pergi cari kosong dua yang bisa diajak kompromi?" Mira benar-benar kesal kelakuan suaminya itu yang selalu saja diam ketika diajak bicara terus orang lain berbicara dianya malah menyalahkan balik.
" Ya sudah kalau begitu besok kalian dipingit lusanya kalian menikah, biar menuntutnya jangan terlalu banyak soalnya bapak pusing mendengarnya!" keputusan Eko itu bersifat mutlak tidak terbantahkan membuat Adele dan Mira membulatkan mata mereka sempurna.
"Astaga Pak, Ibu merasa menyesal meminta saran dari kamu soalnya sekali bicara masalah segunung pun langsung datang. apa tidak ada kata-kata yang lebih berharga dari yang tadi, itu sama saja melakukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal Ini zaman modern loh bukan zaman kerajaan yang bisa disulap semuanya langsung jadi?" lirih Mira yang kebingungan harus berkata apa lagi sungguh suaminya itu kalau berbicara tidak pernah memikirkan Perasaannya sama sekali.
sedangkan Adele sudah mulai merancang sesuatu dalam otaknya sehingga tidak terlalu pusing memikirkan hal itu, kalau dulu zaman kerajaan-kerajaan memang sih harus pakai main sulap Kalau sekarang mah harus main uang.
__ADS_1
Eko yang tak kunjung memberi respon membuat Mira mendengus kesal harapannya terakhir sekarang tertuju kepada Adele, namun apa daya Ternyata wanita paruh baya itu juga Tengah menerawang sesuatu di tengah langit-langit rumah.
kalau soal safir dan Lala mah jangan ditanya lagi tentu saja mereka Shock dengan perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, menikah sih memang kemauan mereka tapi ini Yang benar saja lusa, sudah kayak orang dikejar hutang piutang'
" ayo kita pergi cari cincin kawin, biarkan yang lain urusan orang tua Siapa suruh tadi membahas sesuatu berhenti di tengah jalan?" ajak Lala sambil menarik tangan Xavier yang terlihat masih mematung kebingungan'
Xavier masih antara percaya dan tidak, sebab hubungannya dengan Lala belum sampai Sedekat Itu! pertanyaan yang masih ada dalam benaknya yaitu Gimana caranya mengajak malam pertama ya, terus gimana cara memanggil Lala si pendek atau si mungil atau my honey bunny sweety?
my honey??
Kayaknya tidak mungkin sebab Xavier kan orangnya kaku kayak sapu lidi!
Bunny??
Yang benar saja masa anak orang disamakan dengan hewan, yang ada jadinya bukan istrinya melainkan peliharaannya?
sweety??
Xavier mendesah kasar ternyata hubungan yang baru seumur kecambah susah sekali untuk di buat secantik mungkin panggilan sayangnya, kecuali seumur jagung mungkin panggilan lainnya sudah banyak berterbangan di udara.
Lala memandang kesal kearah Xavier yang sama sekali tak mengindahkan ajakannya dari tadi, jika boleh menghajar dipastikan Lala bakalan membombardir pria itu dengan pukulan telak yang sudah ia pelajari secara otodidak.
Ya iyalah jelas Lala tahu segala pukulan yang biasa dilakukan wanita terhadap pria, maklumlah korban drakor kelas kakap bukan kaleng-kaleng X Bro.
" kamu masih mau di situ atau aku bakalan keluar terus cari calon pengantinku yang lain Buat diajak pergi belanja, soalnya dari tadi itu sudah ngalahin batu kali loh tegang saja tidak bergerak sama sekali?" Lala benar dibuat kesal dengan sikap Xavier yang sangat menyebalkan menurutnya.
Xavier langsung terlonjak kaget mendengar gerutuan Lala itu, ternyata benar kata orang kalau ingin menghayal lebih enaknya itu sendirian tidak ada yang mengganggu ataupun mencoba untuk membuat kita gagal fokus.
"Eh iya sayang maaf tadi aku terlalu sok jadinya linglung!" sahut Xavier yang akhirnya tersadar jika memanggil Lala paling cocok dengan sebutan yang barusan begitu manis kedengarannya.
Lala benar-benar Tak habis pikir dengan sikap Xavier itu kok bisa-bisanya ya linglung disaat yang tidak pas, padahal dirinya sedang serius setengah Mau mampus ini yang mau disalahkan siapa coba masa iya dirinya yang daritadi fokus terus?
Adele akhirnya tersentak kaget ketika melihat Lala dan Xavier bersiap untuk pergi, padahal Ada hal penting yang harus mereka bahas dengan membutuhkan kehadiran keduanya.
" Kalian mau kemana, kita kan belum selesai bicara?" tanya Adel penasaran.
__ADS_1
safir dan lelah hanya bisa menghela nafasnya kasar ternyata benar kata orang cobaan hidup itu dari dulu sampai sekarang tidak ada namanya kata habis sebelum orang itu mati sendiri.
" mau pergi bulan madu kenapa mau nitip sesuatu? "tanya Xavier dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali membuat Mirah dan Adele menatap tajam kearah nya siapa yang tidak kesal untuk pernikahan saja Sedang pusing ini dengan gampangnya menyebut kata bulan madu'
" Apa kamu bilang, Wah kalian ini mau macam-macam ya?" tanya Mira yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya sebab belum kelar rasa emosinya pada sang suami kini dibuat lebih emosi lagi dengan perkataan Xavier barusan.
jika sudah merah yang berbicara tidak mungkin safir yang bakalan menjawab bisa dipecat jadi calon menantu Jadi urusan itu diserahkan kepada Lala yang lebih ahli dalam urusan jinak menjinakkan, sebab software mah tidak berani kalau membantah perkataan kedua orang tuanya Lala nanti dicap sebagai menantu durhaka orang anak gadis mereka saja belum dihalalkan sudah bikin masalah lama-lama bubar di tengah jalan.
"ya makanya kita itu dari tadi orang kalau ngomong itu disimak baik-baik Jangan hanya dibiarkan pergi begitu saja, kami itu tadi rencananya mau pergi beli cincin kawin masa iya menikah tanpa cincin kawin terus nanti pakainya karet gelang begitu?" tanya Lala.
Mirah mendesah kasar sejujurnya ada hal yang daritadi mengganjal pikirannya, yaitu jika tiba-tiba Lala dan Xavier menikah pasti anggapan orang bakalan bermacam-macam yaitu anaknya hamil diluar nikah dan sebagainya.
Mira sebagai orang tua belum tentu bakalan tinggal diam saja jika putrinya diperlakukan seperti itu, akan tetapi melihat sikap safir dan Lala tadi membuat dirinya juga tidak berani menentang kemauan mereka soalnya ngebet kawinnya Itu kelihatan jelas.
Lala yang melihat ibunya itu melamun hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sedari tadi apa yang mereka inginkan sepertinya situasi dan kondisi tidak mendukung kaya ada yang terganjal begitu, tapi semuanya hanya selesaikan pemikiran mereka dengan menghayal saja ya mana tahu isi hati pemikiran semua orang?
" ibu ada yang ingin disampaikan, kami bakalan mendengarkan Kok tidak akan membantah? karena kami kalau melangkah sesuatu tanpa restu dari ibu juga sama saja bohong dan aku juga tidak ingin dicap sebagai anak yang durhaka, biarpun se ingin inginnya Aku menikah tidak mungkin juga dong melawan apa yang Ibu inginkan?" Lala benar-benar Tak Tega melihat wajah ibunya yang dari tadi sudah seperti orang linglung meskipun selama ini keduanya sering berdebat Tapi percayalah jika rasa sayang anak melebihi apapun kepada orang tua yang sudah melahirkannya itu.
Mira tersenyum ternyata putrinya itu juga peka dengan ekspresinya, dengan perlahan Dia mendekati Lala memegang tangan putrinya itu mencoba untuk tidak menangis karena jika merencanakan sesuatu diselingi dengan air mata apalagi seorang ibu sama saja bohong.
" Kata siapa Ibu tidak mengizinkan kamu menikah hanya saja ibu itu lagi kepikiran kamu kok menikahnya sekali saja seumur hidup Masa Ibu tidak perawatan biar lebih terlihat dan kinclong begitu, terus nanti kalau fotonya dipajang Wajah Ibu kelihatan kusam kan harga diri Ibu bisa bakalan berantakan?" ujar Mira santai menutupi kegundahannya dari tadi karena tidak mungkin berkata jujur seperti yang dia pikirkan tadi..
Lala merasa terkejut dengan apa yang ia dengar barusan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya, dikiranya ibunya itu bersedih karena dirinya bakalan menikah ternyata sayang seribu sayang itu sama sekali tidak menjadi kenyataan karena memang tidak ada sama sekali sedikitpun dengan pemikirannya itu nyambung dengan yang dipikirkan ibunya.
" Astaga ibu tadi itu aku sudah kepikiran panjang kali lebar ternyata tidak sama sekali, kok bisa-bisanya segala sesuatu belum beres malah memikirkan penampilan? terus nanti Bapaknya mau taruh di mana, di Hongkong atau di Singapura?" Tanya Lala Tak habis pikir.
" Ya sudah cepat Kalian berangkat sana, ingat tadi apa yang dikatakan oleh Pak Eko kalau kalian Besok itu bakalan di pingit Jadi tidak boleh pergi ke mana-mana berdua lagi!" Lala akhirnya baru ingat dengan perkataan yang satu itu Astaga zaman selesai gini canggih tradisi pingit masih dipakai Kenapa juga tidak menggunakan tradisi bakar petasan sekampung mengabarkan semuanya kalau anaknya bakalan menikah.
"Bapak yakin mau pakai tradisi yang begitu apa tidak salah, Ini zaman modern loh kenapa yang seperti begitu masih dipakai? Tanya Lala Tak habis pikir karena cobaan pernikahannya ini memang lumayan fantastis.
" mau pilih yang mana menunggu hanya sehari atau kau menunggu yang berbulan-bulan, Lagian kalian itu harus bersyukur tidak memakan waktu lama untuk bisa menikah jadi harus berterima kasih dengan peraturan orang tua jangan malah membantah! " sini seko yang benar-benar Jengah dengan semua yang ada karena dirinya berbicara salah tidak berbicara lebih salah lagi sebenernya maunya wanita dalam rumah itu apa sih?
Lala memaksakan senyuman di wajahnya, karena ayahnya itu kalau sudah emosi bakalan sulit untuk di pucuk lebih baik cari aman saja deh ingat kata pepatah zaman canggih Mengalah bukan berarti kalah.
" Aku tadi hanya bercanda lho Pak, Enggak maksudnya apa apa-apa Jangan marah dong nanti jelek kelihatannya?" setelah mengatakan hal itu dalam menarik tangan Xavier agar ikut dengannya aman Sebelum terlambat.
" Kami pergi ya ya nanti pulang bakalan sedikit telat soalnya harus mampir di rumahnya Alina dulu, takut nanti dicariin karena tidak memberi kabar dari siang!" keduanya pun pergi setelah berpamitan meskipun mendengar gerutuan dari kedua wanita paruh baya itu tapi dasarnya Lala dan Xavier yang suka bodo amat ya akhirnya ya begitu sudah,
__ADS_1