
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Alex hanya menatap sinis kearah Dinda,wanita Janda itu memang susah sekali buat diajak bicara pasti bawaannya bikin naik darah.
" kamu jadi orang mulutnya bisa dijaga tidak, kita yang dengarnya itu kadang jadi bingung sendiri tuh mulut apa air terjun mengalir terus tidak berhenti?" Sindir Alex Sambil tertawa kecil membuat Dinda ingin sekali mencabik-cabik wajah suami dari sahabatnya itu.
" kamu pergi sana jangan datang ke sini, orang lagi kerja kok digangguin! sana pergi ke istrimu Terserah mau kau Goda atau Sleding Bila perlu kau banting, tidak ada yang bakalan melarang!" Ketus Dinda membuat Alex langsung berlari ke arah istrinya.
" sayang itu sobatmu galak sekali lho jadi orang, kasihan loh dia kan selama ini menghadapi istri Barbar kayak begitu?" bisik Alex sambil memeluk pinggang sang istri yang sedang membolak-balikkan nasi goreng di wajan.
" stop, kamu pikir disini hanya kita berdua saja jadi seenaknya kamu melakukan hal yang aneh-aneh kayak begitu? lepaskan atau bakalan aku goreng tangan kamu biar dimakan sekaligus Pakai nasi goreng, Jadi orang kok sudah tua tidak tau malu sama sekali!" gerutu Selina namun sama sekali tak dihiraukan oleh Alex.
" kamu kalau mau kerja ya kerja saja aku kan hanya peluk doang, jadi jangan banyak komentar deh kesini suami kamu!" ujar Alex memelas membuat Dinda yang berada di sampingnya ingin muntah.
" sadar umur Woi tidak muda lagi, Jangan nanti inginnya romantis jatuhnya lebay jadinya!" sinis Dinda.
Alex menatap tidak suka ke arah Dinda yang dari tadi seperti selalu saja mencari perkara dengannya, padahal dirinya sedang anteng-anteng nya pada istri.
" kamu juga mau dipeluk, Ngomong dong dari tadi biar aku panggil tuh kutu kupret di kamarnya biar turun temui kamu!" sinis Alex kesal.
" kamu kalau ngomong jangan aneh-aneh kalau kamu, mau main-main sama-sama kutu kupret nya tinggal bilang saja biar aku panggil begitu saja ko repot?" sinis Dinda sambil tersenyum mengejek.
" Idih aku begini-begini masih normal anak usia 2, masa sosis makan sosis mana enaknya yang ada bikin Si Joni tidak mau bangun bangun." tolak Alex tak terima dengan perkataan Dinda barusan.
" sudah kalian berhenti berdebat tidak capek Apa tuh mulut kalau di pakai ngomong terus, Aku ingin dengar saja sudah bosan loh Masa kalian yang ngomong nggak tahu bosan bosan?" sungut Selina kesal sebab suaminya itu katanya pria tulen tapi mulutnya ngalahin emak-emak rempong.
" ya sayang dimana-mana itu istri belain suami Masa istri ikutan katain suami, kamu mati tidak ada rasa solidaritas dalam berpasangan!" Alex memasang wajah cemberut nya membuat Dinda adalah orang yang paling sengsara karena menahan emosi.
" aku kalau berdekatan dengan kamu terus sumpah ini darah tinggi bakalan kumat loh, tiap waktu tiap saat tiap menit tiap detik kerjaannya cari perkara memancing keributan memancing emosi.Emang situ oke?" tanya Dinda sinis.
" ya oke lah masa tidak, di mana-mana itu orang harus percaya diri biar bisa hidup. kenapa, Biar hidupnya tidak diatur-atur apalagi Sama wanita cempreng kayak kamu." Sindir Alex terhadap Dinda membuat wanita itu memilih mengalah.
mengalah itu bukan kalah loh, melainkan mengalah karena yang waras harus mengalah daripada yang gila .
" ya ya Terserah anda saja tuan, aku mah no comment karena komen itu membutuhkan tenaga dan pikiran.Sedangkan perutku saja kelaparan Mau mampus, Bagaimana tamu mau kenyang orang tuan rumahnya saja mengurung diri di kamar!" Dinda kembali mengingatkan Alex atas perbuatan yang barusan saja terjadi.
" iri bilang Bos! " ejek Alex lalu segera pergi dari situ karena sudah cukup memancing emosi di Dinda.
" Lina, kamu bisa bertahan dengan suami yang model kayak begitu? aku yang baru 5 menit ngobrol dengannya saja, nih Rambutku rontok semua saking panasnya karena terlalu emosi?" tanya Dinda heran.
" Ya habis gimana dong orang cintaku berat sama dia!" sahut Selina santai membuat Dinda Jengah mendengarnya.
" dasar bucin akut dulu sok jual mahal sekarang nempel kayak prangko pun tidak mau lepas, kalian itu kalau mau mesraan lihat tempat napa kasihan sama kita yang janda ini?" Dinda mengatakan hal itu itu dengan Ketus namun nadanya terdengar mengejek.
__ADS_1
" sabar Bukankah setiap cobaan itu ada hikmahnya, sekarang yang kamu sudah bisa memilih jalan Kamu sendiri.Bukan menjadi istri yang durhaka sih, tapi kita mau menolak Bagaimana jika keadaannya sudah ada di depan mata." ujar Selina memberi pemahaman kepada sahabatnya itu agar tidak terlalu berlarut dalam yang namanya kesedihan.
Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan makhluk ciptaanNya, ia yang lebih tahu sampai di mana tingkat kesabaran manusia.
jadi sebagai seorang manusia yang diberikan budi pekerti, cobalah untuk selalu menerima keadaan kurang mengeluh sebab terlalu banyak mengeluh membuat beban pikiran kita bertambah banyak.
orang gila di Rumah Sakit Jiwa itu ya karena itu pikiran kan, Coba kalau di dunia ini tidak ada manusia yang pikirannya terlalu banyak dan mengada-ada otomatis Rumah Sakit Jiwa pun tidak akan dibangun.
Ok Lanjut
kini makanan pesan Leonard sudah siap, Selina memilih untuk memanggil mertuanya itu agar keluar makan. saat masuk terlihat Leonard sedang tertidur, sebenarnya Selina Tak Tega membangunkannya hanya saja tidak enak hati juga jika nanti nasi goreng menjadi dingin.
" daddy bangun yuk Itu makanannya sudah aku taruh di atas meja!" Panggil Selina pada Leonard.
Mendengar ada yang manggil Leonard bangun, dirinya pun menoleh ke arah sumber suara terlihat menantunya sedang berdiri tersenyum padanya.
"Aishh, kamu panggil daddy terlalu kecepatan sekali nak, padahal masih otw mimpi ketemu gadis yang cantik imut bohay gitu!" ujar Leonard merajuk.
"Hushh stop bahas yang aneh-aneh, itu tulang pinggang saja sudah bengkok sebelah tapi masih sempat-sempatnya bahas yang bening-bening ingat umur Dad!" Ketus Selina lalu membantu Leonard duduk di kursi rodanya.
" kamu masak banyak kan Nak? soalnya kasihan itu anak-anak yang lain kelaparan, nanti dibilang Daddy ini tuan rumah yang pelitnya minta ampun!" tanya Leonard memastikan.
" Iya banyak jadi tidak usah khawatir kayak begitu, bagian barang yang belum jadi saja request nya sudah banyak." Selina mengatakan hal itu memang benar sekali mengingat tadi wajah penuh minat Rivan dan Alex.
Ketika Leonard sudah dekat dari meja makan, merasa heran melihat Dinda membawa nampan berisi sepiring nasi goreng menuju ke kamar tempat Rivan berada.
" Oh ini buat Tuan Rivan soalnya tadi dia diminta untuk dibawa ke kamar nya saja, ya maka dari itu ini saya mau bawa ke sana!" jelas Dinda lalu kembali melangkahkan kaki namun Leonard menghentikannya lagi.
" kamu taruh makanan itu di atas meja terus pergi panggil dia kesini, kalau dia tidak mau kamu ngomong sama saya biar saya yang eksekusi langsung!" perintah Leonard tajam Yang Tak Ingin dibantu sama sekali serius kau pakai perintah Leonard tajam Yang Tak Ingin dibantah sama sekali.
Dinda pun mengikuti permintaan pria itu karena biar, bagaimanapun ia tak mau dibilang kurang ajar pada yang lebih tua. setelah meletakkan sepiring nasi goreng itu di atas meja, Dinda langsung menuju ke kamar Rivan untuk membangunkan pria itu.
" tok tok tok
"Permisi tuan Bisakah saya masuk kedalam sekarang, atau tidak tolong anda keluar soalnya lagi ditungguin sama Mr Leonard di meja makan!" Panggil Dinda setengah berteriak takutnya Rivan lagi hibernasi jadi tidak mendengar panggilannya sama sekali.
" Ya Tuhan cempreng Kenapa susah sekali untuk diajak kompromi, masa tadi kan aku sudah makanannya dibawa ke sini saja. bisa-bisanya sekarang di panggil aku keluar, mana tidak bisa menolak?" sungut Rivan kesal memilih untuk keluar kamar menemui Dinda.
" itu makanan kamu ada di atas meja, jangan lupa dimakan sampai habis aku mau ke kamar dulu!" pamit Dinda lalu segera pergi dari situ.
" terima kasih," ujar Rivan Tulus Dinda hanya menganggukkan kepalanya saja.
ketika sudah sampai di meja makan hari kan menatap nasi goreng yang diberikan Dinda padanya, Entah mengapa ia merasa ada yang lain pada hatinya.
bukan memilih untuk egois hal yang sederhana selama ini ia inginkan baru terjadi pada hari ini, mimpikan yaitu dilayani oleh seorang istri setelah itu makanannya sudah jadi terus memanggil dirinya yang sedang sibuk di kamar.
Rivan tahu caranya itu salah sebab Dinda baru saja berduka, akan tetapi dirinya juga bingung dengan keberanian menyuruh wanita itu.
__ADS_1
" makanan itu dimakan bukan untuk dilihat, bukannya Terima kasih sudah disiapkan malah masih minta yang aneh-aneh!" sinis Leonard ketika melihat tingkah Rivan yang hanya melihat sepiring nasi yang begitu sederhana di hadapannya kini.
" Ah iya aku tadi hanya lihat-lihat jangan sampai dia taruh kecoak di dalam, kan bisa berabe Kalau dipaksa makan nyawa taruhannya!" ujar Rivan yang mulut dan hati tidak sesuai dengan pikiran.
" kamu kalau ngomong kayak gitu aku menyesal sudah kasih ke kamu, bukannya Terima kasih karena sudah dilayani malah masih ngeyel pula!" sungut Dinda ketika ia baru datang dan mendengar perkataan yang menyebalkan dari Rivan tadi.
Rifan menoleh kearah Dinda yang tengah menatap horor kearahnya, entah kebodohan dari mana dirinya dengan tega mengatakan hal yang seperti tadi.
ingin menjelaskan akan tetapi malu ketika harus berdebat di depan orang, maka itu Rivan memilih diam dan melanjutkan makan.
" gimana enakan, Lain kali kalau sudah dimasak untuk dimakan tidak boleh komentar yang aneh-aneh hargailah jerih payah mereka yang dengan sepenuh hati menyiapkan untuk kita!" kali ini Leonard mencoba berbicara pelan pada Rivan karena dirinya tahu ekspresi pria itu tidak sesuai dengan mulutnya'
" iya tuan maaf jika tadi saya berbicara tidak sopan, Entah kenapa otak saya jadi ngeblank hari ini!" ujar Rivan menjelaskan.
jika kalian mencari keberadaan Alex otomatis dia tidak akan berada di situ, pria itu memilih untuk istrinya secara perlahan kembali ke kamar.
bukan apa-apa akan tetapi saat melihat Rivan di sekitar Selina, membuat Alex merasakan posisinya menjadi terancam.
jadi sebisa mungkin ia menjauhkan Selina dari jangkauan pandangannya Rivan, terserah dibilang lebay atau apapun itu karena dirinya hanya ingin menjaga apa yang sudah menjadi miliknya.
" Ih kamu tuh kenapa kah masa Daddy lagi makan, terus aku sebagaimana menantunya pergi begitu saja? nanti dibilang nggak punya sopan santun gimana dong, kamu mau kalau sampai ada yang katain aku seperti itu?" tanya Selina Ketus.
" Hai jangan permasalahkan yang model begitulah, kamu kan sudah capek-capek masak untuk dia ya tinggal dimakan doang kok mas harus dilayani juga!" Alex tetap pada pendiriannya tidak ingin Selina berdekatan dengan Rivan'
" Iya tapi alasannya apa coba, masa iya tiba-tiba bangun Jalan tanpa pamit kayak orang yang tidak punya adat istiadat?" Selina sangat kesal melihat tingkah laku suaminya itu.
" Iya nanti kalau ke sana tinggal minta maaf sama daddy kan gampang, jangan komentar terus dong Aku tidak capek tuh mulut!" goda Alex membuat Selina hanya bisa tersenyum saja sudah hilang emosinya tadi.
" kamu ini memang selalu saja membalikan fakta karena tidak mau disalahkan, Memangnya kamu juga tidak merasakan lapar ataupun ada keinginan untuk makan? " tanya Selina memastikan.
Alex mengacak gemas rambut istrinya, sebab Selina ada saja cara membuat dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi.
" nanti besok pagi saja soalnya badan aku capek semua ingin istirahat, hanya karena tidak tega kamu capek makanya aku bawa kamu ke dalam kamar biar bisa istirahat " Alex memberikan alasan agar Selina tidak menolak kemauannya itu.
" Oh ya sudah kalau kayak begitu, soalnya badan aku juga capek semuanya. habis kebiasaan kamu yang selalu melakukan hal yang bikin aku patah tulang remuk redam, mau nolak takut dosa tidak ditolak bisa bengkok tulang belakang! " Sindir Selina.
" Ya iyalah dosa menolak suami, Lagian kamu juga sangat menikmatinya jadi tidak usah banyak komentar lagi deh sebelum aku ulangi yang hal tadi!" goda Alex membuat Selina langsung menggelengkan kepalanya cepat.
" Ih aku nggak mau lagi soalnya capek banget, Awas aja kalau kamu ngapain aku bakalan tidur di kamarnya Dinda malam ini! " ancam Selina sukses membuat Alex bungkam.
di dalam kamar Dinda wanita itu Tengah memandangi foto sama suami ia pegang sekarang, istri mana yang bisa berbohong saat sendirian begini jika hatinya sedang tidak terluka.
Dinda Tadi hanya berusaha untuk tetap menunjukkan ketegaran nya, dengan marah-marah tidak jelas mengeluarkan suara cempreng dan ikut berdebat dengan semua orang.
semua ia lakukan hanya semata untuk pengalihan saja, agar semua orang tahu bahwa dirinya kuat tidak ingin membuat orang lain cemas dengan kondisinya.
ketika hatimu sedang bersedih pasti tempat menyendiri adalah jalan yang terbaik, Tapi percayalah sebenarnya kesedihanmu itu bisa dibagi tergantung dirimu saja mau melakukannya atau tidak.
__ADS_1