
HEHE JANGAN MARAHIN AUTHOR YE KALAU LANGSUNG MAKING OUT
MAKLUM LAGI PENGEN NULIS ITU 🤣🤣🤣
JADI NIKMATI SAJA YA,JANGAN BANYAK TANYA..
HAHA BRRCANDA EMAKKU SAYONG...
LANJUT ^^^
"Abang ih dijawab dulu dong yang aku tanya tadi!" pinta Alina lagi.
"Yang mana?" Tanya Rafa pura pura tak tahu menahu.
"Ishh Abang nih tega,apa nggak kasihan udah bikin aku penasaran dari tadi," Gerutu Alina kesal.
Cup
Rafa mengecup puncak kepala Alina setelah itu memeluk dirinya erat,ia hanya bisa tersenyum bahagia karena dirinya bisa bersatu dengan wanita yang dicintainya itu.
"Perasaan untuk mu sudah ada dari dulu dan tak kan pernah berubah,jadi setelah ini tetaplah mendekat jangan pernah menjauh dariku." Sahut Rafa sambil tersenyum.
Derthh derthh
Ponsel Alina bergetar pertanda ada panggilan masuk,Rafa pun melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel Alina yang berada tepat disamping nya.
"Siapa yang telpon Bang?" Tanya Alina kepo.
Cup
"Sudah kukatakan untuk memanggil ku Sayang!" ujar Rafa sambil menyerahkan ponselnya Alina kepada pemiliknya.
"Bunda nelpon nih,terus aku harus bilang apa dong?" Tanya Alina pelan.
"Diangkat dulu saja nanti baru pikirkan alasan selanjutnya!" perintah Rafa yang menahan tawanya ketika melihat wajah kebingungan milik Alina.
"Hallo Bunda." Sahut Alina.
"Terima kasih Ya Tuhan,keadaan kamu gimana nak ada yang luka tidak terus sekarang ada dimana Abang kamu disitu juga kan?" Tanya Selina beruntun bagaikan air terjun yang turun terus tanpa jeda.
"Ih Bunda kalau kasih pertanyan tuh pake jeda sedikit napa,bingung harus jawab apa kalau tanya seperti ini!" Kesal Alina.
"Abang mana?" Tanya Selina yang masih khawatir.
"Kenapa Bunda ,Adek ada disini sama Abang nanti sedikit lagi kami pulang. Bunda jangan khawatir ya!" Rafa menjelaskan kepada orang tua mereka.
"Ya kalau gitu pulang sekarang dong,memangnya kalian ngapain sih sampe masih disitu," Pinta Sekina.
"Orang lagi making out katanya "
"Iya kita juga mau pulang kok," Sahut Rafa lagi.
"Hemm,"
Panggilan itu pun terputus ,Alina menatap horor kearah Rafa yang sudah berani merusak bajunya hingga tak berbentuk.
__ADS_1
"Kamu kenapa Yang?" Tanya Rafa heran karena perasaan dari tadi Alina biasa saja kenapa jadi marah marah tiba tiba.
"Kenapa tadi rusakin bajunya aku Hah,kalau gini aku pulangnya gimana?" Kesal Alina.
"Hanya itu saja?" Tanya Rafa heran karena masalah sepele dijadikan besar.
"Menurut kamu biasa saja kalau aku pulang hanya pake dalaman doang?" Tanya Alina yang emosinya sudah diambang batas.
"Ya ampun Sayang ,kamu kan bisa pake jacket aku kan.Masa begitu saja kom repot,dasar cengeng," ejek Rafa.
"Cepat lepas jacket kamu sekarang,daripada lama lama disini yang ada setan lewat bisa bahaya," sindir Alina.
Rafa sudah melepaskan Jacketnya,dan oh my terlihat otot tangan nya yang sungguh memanjakan mata.
Alina bersusah payah menelan Salivanya ,ia sampai menahan malu karena melihat pahatan sempurna pria yang berada dihadapannya kini.
"Kenapa kamu mau pegang,boleh kok lagian ini semua kan punya kamu," goda Rafa.
"Atau kamu mau aku buka semuanya biar lebih jelas," sambung Rafa lagi.
"Ogah,dasar mesum akut memang nya dari tadi aku udah bilang,Abangku sayang I lope you," ujar Alina sambil mencebik bibirnya kearah Rafa.
Rafa langsung menatap tajam kearah Alina,ia juga baru sadar jika dari tadi Alina belum mengatakan perasaannya.Apakah dirinya terlalu memaksa dan berharap atau apalah.
"Maksud kamu?" Tanya Rafa serius.
"Udah ah ayo pulang ,aku capek." Alina mencoba untuk menghindar,dirinya masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Bodoh kamu Alina,kenapa sampai bisa bicara seperti tadi padahal kamu sendiri juga menikmati apa yang Rafa lakukan tadi." Alina merutuki kebodohan yang telah ia lakukan.
"Secepatnya aku harus sampai rumah,agar meminimalisir waktu ketemu dia," sambung nya lagi.
Rafa hanya mengikuti langkah kaki Alina dengan perasaan yang campur aduk,bagaimana kalau wanita yang dihadapannya ini sebenarnya tak punya rasa apa apa padanya.
Bagaimana jika sebenarnya Alina menyukai pria lain,dan dirinya bukanlah orang yang penting dalam hidupnya.
Bagaimana jika sepanjang hidupnya Alina hanya mengganggunya dirinya sebatas Kakak Laki laki. Padahal dirinya harus memendam perasan selama bertahun tahun,mencoba untuk tidak bersentuhan dengan wanita.
Jika orang lain berpikir bahwa Rafa memiliki wanita masa lalu,dan begitu pun dengan Alina.Oh tidak anda salah besar,karena author tidak mau seperti karya yang lain.
Yang ketika tokoh utama sudah bahagia,eh tiba tiba orang dari masa lalu kembali lagi. Author mencoba membuat cerita yang konfliknya ringan,ingat ya hidup ini sudah susah jangan bikin tambah susah lagi.
"Taksi," teriak Alina menghentikan taksi dihadapannya.
Ketika Taksi berhenti dan Alina hendak mencari Rafa agar naik bersamanya,ternyata Rafa memilih menghentikan taksi dibelakang nya lalu naik.
Pemuda itu bahkan tak sedikitpun menoleh kearah Alina,membuat Alina pun nekat dengan menghadang taksi yang ditumpangi Rafa.
"Berhenti," teriak Alina lagi.
"Lho neng kok malah menghentikan taksi yang dibelakang terus saya gimana?" Tanya Sopir taksi yang didepan.
"Ini." Alina memberikan lima lembar uang berwarna merah lalu masuk kedalam mobil yang ada Rafa di dalamnya.
__ADS_1
Plak
Alina memukul lengan pria yang dengan teganya tadi membiarkan dirinya seperti orang gila.
"Kamu itu kenapa hah," bentak Alina kesal.
"Jalan Pak!" perintah Rafa tanpa mempedulikan Alina sama sekali.
"Abang itu kenapa sih,kok malah diam?" Alina merajuk tapi dianggap angin lalu oleh Rafa.
Kapok kau Alina,tadi saja sok jual mahal nah sekarang dikacangin sama babang Rafa baru nyaho.
"Abang gagu atau apa sih dari tadi diam terus!" Kesal Alina.
Sang sopir yang melihat adegan dijok belakang melalui kaca spion,hanya tersenyum ternyata penumpangnya ini sedang marahan.
"Abang ihhh aku lompat nih," ancam Alina yang sudah bingung harus berbuat apa.
Rafa hanya menyandarkan kepalanya tanpa peduli dengan semua tingkah Alina,padahal dirinya sedang berbunga bunga ketika dibujuk oleh Alina.
"Neng,Abangnya mungkin mau disayang sayang kali,kalau Eneng mau ngelakuin itu Abang bakal tutup telinga deh biar tidak dengar apa apa." Saran Sopir itu.
Kata Abang Rafa mah,semesta mendukung
"Masa aku harus kaya Tante tante girang sih,yang hobinya nyosor sana nyosor sini," gumam Alina dalam hati.
Namun jika menuruti gengsi otomatis diri nya dan Rafa bakal jadi batu kayu,dan hanya sopir saja yang manusianya.
"Ayolah bujuk aku dong Sayang,pliss," gumam Rafa dalam hati yang sedang menunggu ketok palu.
"Huft,baiklah Alina kamu bisa demi apapun itu aku terpaksa," Alina mendramatisir sesuatu dalam hati.
"Sayang masih marah kah,maafin aku ya kalau tadi ngomong nggak jelas," ucap Alina yang mencoba untuk menahan emosinya ketika melihat wajah Rafa 7yang biasa saja.
Padahal dirinya sedang berusaha menahan antara malu dan gengsi bercampur jadi satu yaitu adonan es teller.
"Etdah nih orang dikasih hati minta jantung tembus tulang,kalau begitu ya sudah bodoh amat," kesal Alina dan memilih tidur.
"Sudah hanya segitu saja?" Tanya Rafa kesal.
"Hah,akhirnya ngomong juga aku pikir sariawan jadi mogok bicara," sindir Alina secara halus.
"Pak tolong jangan mendengar kejadian yang dibelakang karena saya mau mencium pacar saya," Pinta Rafa tak tahu malu.
"Beres Mas." Sahut Sopir itu sambil geleng geleng kepalanya.
"Jangan mendekat malu maluin saja kamu," umpat Alina kesal.
"Sopirnya saja nggak Papa kok malah kamu yang marah," ujar Rafa yang mulai membelai pipi Alina.
"Ya kalau begitu kamu cium Pak sopirnya dong jangan aku,orang kamu minta izin nya kan sama dia bukan aku," bujuk Alina lagi.
"Boleh ya," Pinta Rafa lagi.
"Aku tidak mphhhh
__ADS_1
Rafa langsung membungkam mulut Alina dengan ciuman,karena wanita dihadapannya dari tadi nyerocos melulu.