AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 196


__ADS_3

HAII READER KU TERSEYENG


JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA YA


KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


LANJUT ***.


"Beb,kita jalan jalan atau kemana gitu," Ajak Lala antusias.


"Tapi aku disuruh Abang,untuk menyusul dia ke kantor." tolak Alina.


"Hemm,kamu kasih alasan apa gitu biar dia nya tidak bakal nolak," bujuk Lala.


"Kamu suruh aku bohong,dan buat dosa yang sangat di sadari?" Tanya Alina sambil memasang wajah heran nya.


"Ya elah bukan bohong yang bagimana,ini kan berbohong sekaligus refresing gitu kan.Memangnya kamu tidak capek apa,mesti harus nikmati hari yang monoton begitu saja," gerutu Lala.


"Aishh,hidupku yang hanya mengikuti alur saja sudah ribet,apalagi melawan alur bisa tambah ribet lagi nantinya," Sahut Alina santai.


"Pokoknya aku maksa lho untuk jalan bareng kamu!" kekeh Lala setengah merajuk.


"Hah,kamu itu bukan pacar aku yang bisanya hanya perintah saja.Aku ini sahabat kamu lho,yang harus kamu ikuti apa mau nya tanpa dibantah sekalipun," ucap Alina sambil tersenyum mengejek.


"Ihh kamu mah tega,aku itu hadir lebih dulu baru dia.Yang selama ini temani kamu suka dan duka ya itu aku,bukan nya dia," omel Lala sambil menghentakan kakinya.


"Kamu pamrih teman sama aku selama ini?" Tanya Alina yang memasang wajah sedihnya tapi bohong.


"Ehh aduh salah ngomong kan aku tadi,duh cantik ku marah lagi gimana dong jadinya.Lina sayang jangan marah dulu dong,aku tadi hanya salah bicara saja kok tidak serius." Ucap Lala memelas agar cs nya itu tidak marah marah.


"Kamu ikut aku saja ya ke kantor,siapa tahu jodoh kamu pria berkarier kali," ajak Alina sambil menggandeng tangan Lala yang sedang berdiri menatap heran kearahnya.


"Kamu tidak marah?"Tanya Lala heran.


"Marah untuk apa? Lagian mulut remes kamu itu kan sudah jadi warisan,jadi kalau aku sampai marah berarti itu bakal tiap hari terjadi," ujar Alina.


"Hehe,benar juga ya?Tapi jangan katain aku remes dong ,berasa kaya mie kremes yang diremas satu kali langsung lemas," balas Lala yang membuat Alina merasa lucu.


"Haha,kamu nih ada saja ayo berangkat,pake mobil aku atau kamu!" Tanya Alina.


"Gimana kalau punya kamu saja,sekali kali dong sibutut aku tinggalin untuk merasakan mobil sport warna biru milik kamu itu."Sahut Lala.


"Berangkat," ucap keduanya bersamaan.


"Ehhh kalian pada mau kemana?" Tanya Hendra yang muncul tiba tiba.


"Astaga thor,aku pikir hanya ada Alina sama aku doang di novel ini eh tau taunya malah masukin si cunguk yang tak berfaedah ini," ujar Lala pelan.


"Kita mau pulang dong,kamu mau ikut?" Tanya Alina yang sebenarnya hanya basa basi doang eh Hendra langsung tanggapi nya serius.


"Ampun Lina,isi otak kamu itu apa sih?Bisa bisanya ajak si cunguk ini jalan," omel Lala dalam hati.


"Pulang kemana memangnya?Kalau mau ketemu calon mertua aku ikut dong." Sahut Hendra.


"Aishh tuh kan ribet lagi," gerutu Lala disamping Alina.


"Kita mau kesalon,biasalah perawatan ala kaum wanita." Bohong Alina tadi sebenarnya tak serius juga.

__ADS_1


"Aku nggak ikut deh,soalnya nanti disana banyak cowok kemayu deh." Tolak Hendra.


"Ya sudah kamu enyah sana,gangguin saja jadi orang," usir Lala sambil menatap sinis kearah Hendra.


"Kamu itu sensi sekali sih jadi orang,padahal yang nawar kan Alina.Masa kamu yang marah,padahal aku juga mana mau bicara sama kamu," sindir Hendra.


"Stop kalian berdua! Aku jadi gemas tau tidak lihat kalian,lama lama aku antar ke KUA juga nih," kesal Alina yang kupingnya sudah hendak lepas karena mendengar perdebatan Hendra dan Lala yang bagai bumi tak bertepi🀫🀫.


Hendra yang selalu dibuat kesal saat bertemu Lala,memilih pergi dari situ daripada yang ada bidadari surganya yang ngamuk.


"Hei kamu,aku mau bilang ini tolong jangan potong dengerin saja!" perintah Alina serius yang membuat Lala berhenti berjalan karena penasaran.


"Antara cinta dan Benci itu beda tipis lho,sekarang kamu mati matian bilang tidak suka jangan menyesal besok lusa bakal jilat ludah sendiri.Lagian jadi cewek kok ganas sekali,sekali kali kesan feminim dikit boleh kan!" Nasihat Alina serius yang memang diakui Lala dalam hati kalau semua itu benar.


"Ayo jalan sekarang,kamu yang nyetir ya aku capek sekali ,"Pinta Alina.


"No problem guys ,yang penting aku bisa punya cerita besok lusa kalau pernah bawa mobil mahal." Sahut Lala antusias.


"Ih lebay deh kamu!" ejek Alina sambil tersenyum.


Alina dan Lala sedang dalam perjalanan menuju ke perusahan Roberto,tapi saat dijalan Alina seperti melihat siluet Ayah dan Bundanya sedang makan di sebuah restoran anak muda biasa kencan.


"Itu Ayah sama Bunda bukan ya?" ucap Alina pelan tapi masih bisa didengar oleh Lala.


"Kenapa?" Tanya Lala penasaran.


"Kamu pelanin sedikit laju mobil,terus lihat kearah restoran itu.Aku seperti melihat Ayah sama Bunda," Ucap Alina dan Lala pun ikut melihat kearah yang ditunjuk Alina.


"Iya benar itu orang tua kamu!" Sahut Lala serius.


"Ihh Ayah mah tega,masa kekasihku dibiarkan kerja sendiri.Sedangkan dia malah asyik berpacaran,padahal tidak sadar kalau umurnya sudah bangkotan," gerutu Alina kesal.


"Mungkin orang tua kamu tuh lagi ingin bernostalgia kali,menikmati masa masa berdua yang masih diberikan oleh Tuhan.Asal kamu tahu ya Lina,kalau sekarang dia masih bersama kita jangan pernah kau abaikan karena nanti kalau dia sudah pergi rasa kehilangan barulah terasa." Ucap Lala pelan.


"Kamu mah tega,niat mau puji aku tidak sih?" Lala merajuk.


"maaf guys,ayo kita pergi saja mau lihat gimana keadaan sayangku di kantor ,Awas saja Ayah bakal aku omelin sebentar karena berani membuat bang Rafa kerja berat," kesal Alina.


Karena belum waktu pulang kerja,maka jalanan yang dilalui sedikit lengang.Hingga keduanya tak terlalu makan waktu untuk sampai,dan kini mereka sudah berada di Lobby kantor itu.


"Wahh Lina ini mah bukan lagi perusahaan tapi apa ya itu namanya gedung yang paling terbesar didunia.Ini semua ada isi berapa orang didalam nya ,aku penasaran sih?" ujar Lala antusias.


"Woi jangan malu maluin kenapa sih,kita kesini bukan untuk sensus tapi untuk ketemu Abang," jelas Alina yang merasa tingkah Lala yang sangat memalukan itu.


"Hehe maaf ya." Sahut Lala malu malu.


"Uncle Ver," teriak Alina memanggil Xaver yang baru keluar dari lift.


"Eh Non Alina,kok bisa disini?" Tanya Xaver bingung.


"Mau ketemu sama Bang Rafa,dia nya ada kan?" Tanya Alina memastikan.


"Ada,baru selesai meeting jadi kembali keruangan nya." Sahut Xaver yang merasa heran dengan tingkah gadis yang berada disamping Alina.


Bagimana tidak cara Lala menatap Xaver sungguh menjijikan,ia sampai mengeluarkan saliva nya karena posisi mulut nya yang sedang terbuka lebar.


"Oh Tuhan ini oppa tampan ku kan?Ah bagaimana ini apa aku masih cantik apa sudah amburadul ya,astaga mana dia menatapku tak berkedip lagi aku bisa terbang melayang nih jadinya," gumam Lala dalam hati yang mungkin dinamakan cinta pandangan pertama.


"Non,temannya kenapa itu?" Tanya Xaver heran.


Alina langsung terkejut dan menoleh kearah Lala,betapa terkejutnya ketika melihat sikap Lala kini.


"Astaga nih anak kenapa lagi sih,woii kamu kesambet?" Bentak Alina kesal karena sikap memalukan Lala itu.

__ADS_1


"Aku kesambet jin aku jatuh cinta pada pandangan pertama," Ujar Lala sambil terus memandang Xaver tanpa berkedip.


"Ihh nih anak malu maluin saja deh,macam tidak pernah lihat cowok tampan saja," gumam Alina.


"Nona,sebaiknya bawa dia kedalam saya takut jangan sampai suasana disini membuat dirinya sedikit error," pinta Xaver langsung pergi dari situ dengan bergidik ngeri.


"Heii kamu sadar lah jangan bikin malu kenapa sih," gerutu Alina.


Lala langsung sadar dari lamunan nya yang tak jelas itu,ketika hendak mencari Xaver keningnya mengkerut karena tak kunjung melihat orangnya.


"Lho pria tampan ku mana?" Tanya Lala bingung.


"Dibawah noh sama lift," ujar Alina ketus.


"Aishh ini semua gara gara kamu sih pake gangguin kami segala,mana belum sempat kenalan lagi." Omel Lala kesal.


"Sepertinya dia nggak bakal mau deh kenalan dengan kamu,karena tadi itu dia bilang kamu wanita aneh dan sedikit miring otaknya," Ucap Alina yang tak sadar jika membuat mental Lala down.


"Kamu mah tega sih,coba tadi bantuin aku biar tidak bertingkah malu maluin," lirih Lala sendu.


"Makanya lain kali kalau ketemu pria tampan,reaksinya tuh yang manis dikit dong jangan terlalu berlebihan begitu,"Ejek Alina yang membuat Lala kesal.


"Ayo kita kedalam," ajak Alina.


"Ogah aku mau cari jodoh ku dulu,aku nggak bodoh untuk ikut masuk bersama kamu karena nanti kalian bermesraan terus aku jadi obat nyamuk,Big No!" tolak Lala yang mulai melancarkan aksinya dengan berjalan kesana kemari mencari dimana Xaver berada.


"Tampan suit suit ,aku disini," panggil Lala setengah berbisik.


Alina kini sudah keluar dari lift dan berjalan kearah pintu paling ujung.


"Permisi Mas,Bang Rafa nya ada?" Tanya Alina yang melihat ada pria yang sedang duduk di meja depan ruangan kerja Rafa.


"Oh ada didalam!" sahut pria itu.


"Makasih." ujar Alina singkat.


"Tok tok tok


"Siapa?" Tanya Rafa dari dalam.


"Aku sayang," teriak Alina dari luar.


"Masuk saja Sayang." ujar Rafa.


ceklek.....


"Haii aku ganggu ya?" Tanya Alina tak enak hati ketika melihat Rafa yang sedang berkutat dengan dokumen yang menumpuk di meja.


"Kata siapa ganggu?Aku malah senang karena akhirnya kamu bisa datang juga kesini,tapi kamu nggak bolos kan?" Tanya Rafa memastikan.


"Ya enggak lah,aku mana mau melakukan itu kalau tidak ada kegunaannya," jelas Alina serius.


"Ayo duduk disini," pinta Rafa sambil menepuk pelan pahanya.


"Lho kok disitu,aku berat lho," tolak Alina.


"Kata siapa,bagiku apapun yang ada ditubuhmu itu merupakan kenyamanan untukku," jelas Rafa.


"Hemm baiklah,tapi kalau aku berat kamu jangan marah ya," bujuk Alina lagi.


"Hemm tenang saja!" Sahut Rafa.


"Tapi kalau tiba tiba ada yang masuk bagaimana?" Tanya Alina cemas.

__ADS_1


__ADS_2