AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
episode 252


__ADS_3

Langsung saja ya,,daripada nanti kita bakal kena amukan orang 😭😭


LANJUT ***


Rafa sebelum keluar dari kamar Alina ,mengedipkan matanya kearah Alina yang di lihat jelas oleh Selina.


"Dasar anak muda bisa bisanya gunakan kesempatan dalam kesempitan ,tidak tahu malu ada orang tua juga masih saja ambil kesempatan itu!" Gerutu Selina sambil menatap tajam kearah Rafa dan Alina yang hanya senyum senyum tidak jelas!


Selina pergi dari kamar Alina dengan wajah yang ditekuk karena melihat perbuatan kedua anak nya itu,Sedangkan Rafa malah memeluk rapat tubuh mungil kekasihnya itu agar lebih erat lagi.


" hei stop dong nanti dilihatin Bunda lagi, terus kalau dia marah-marah gimana? "ujar aliena setengah berbisik.


" tapi aku kan masih kangen yang sama kamu, ingin ku peluk Ku cium terus panjat gunung lembah eh terus masuk hutan rimba lalu ku ajak Sleding deh!" Rafa mengatakan itu tanpa disensor sama sekali membuat wajah Alina memerah karena malu.


" Ya ampun mulut kamu tuh bisa di filter tidak sih, bisa-bisanya ya ngegas bicara hal-hal yang tidak jelas begitu? Kamu pikir aku wanita apaan , sampai dengan gampangnya kamu mengatakan hal-hal yang tidak jelas begitu? " sarkas Alina tajam.


Rafa bukannya takut karena dimarahi Alina ia malah menyandarkan tubuh Lina di dinding, setelah itu mengukung dengan kedua tangannya membuat Alina tak bisa kemana-mana.


" ka kamu mau ngapain, Awas aja kalau kamu macam-macam bakal kuhajar aset berhargamu itu! "delik Alina kesal.


mendengar perkataan Alina soal aset berharganya itu, membuat Rafa meringis ngilu karena membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.


"Kamu yakin mau hancurin masa depan kita berdua?" tanya Rafa sambil menaikkan kedua alisnya.


" Ya jelas yakin lah Siapa suruh mau berani mesum sama aku, Kamu pikir aku bakal diam saja begitu?" tanya Alina.


" kamu kalau ngomong sekali lagi Hari ini aku benar-benar jebolin kamu loh, biar malam ini langsung dihalalin agar tidak menunggu berapa bulan lagi! " ujar Rafa membuat Alina bergidik ngeri.


" kamu ih aneh-aneh saja kalau ngomong sudah aku mau pergi ke meja makan nanti di panggilin Ayah lagi ribet urusannya, Bisa minggir tidak Bro kamu halangi jalanku loh!" pinta Alina.


" Aku sayang kamu boleh tidak hari ini dapat vitamin tambahan, soalnya tubuh Aku lemas banget lo pengen disentuh sama kamu!" lirih Rafa memelas.


" enggak, Pokoknya aku nggak mau apapun keinginan kamu coba macam-macam kuhajar kamu nanti, Emangnya kamu pikir aku ini apa sih enaknya saja main nyosor!" Ketus Alina.


Rafa sudah tidak peduli dengan perkataan kekasihnya itu, ia mendekati wajahnya dan mulai mengecup pelan bibir merah milik Alina itu.

__ADS_1


rasanya begitu manis membuat pria itu kecanduan, jika berdekatan dengan Alina pikirannya tidak jernih iya seolah olah ingin sekali Lahat tubuh mungil itu.


sekujur tubuh Alina tiba-tiba menegang Bagaimana tidak serangan dadakan yang diberikan Rafa tadi membuat otaknya seakan Blank, ia tak tahu harus berbuat apa karena dirinya juga tak menampik perasaan yang ada dalam hatinya.


Alina tanpa sadar ataupun tidak melingkarkan lengannya di leher Rafa, membuat pria itu dengan ganasnya mengakses seluruh organ mulut wanita cantik itu.


bunyi decapan terdengar jelas dalam ruangan itu keduanya Bahkan tak peduli jika ada penghuni lain selain mereka, saling bertukar saliva mereka lakukan hingga Deru nafas pun terdengar jelas sekali.


Rafa memimpin tangannya yang semula mengukung tubuh Lina kini mulai memasukkan tangannya itu kedalam bajunya, ya meraih Puncak dada Alina itu membuat sang empunya mendesah akan tetapi tertahan.


ketika rasa akan melakukan yang lebih baik membuka baju Alina, kesadaran wanita cantik itu pun kembali kalau mereka ternyata ada di depan kamar Alina dan siapa saja bisa melihat kegiatan mereka itu.


" stop, sayang stop Nanti kalau ada yang lihatin kita gimana malu terus kalau ayah marah-marah gimana nanti kalau kita dipisahin mau jadi ?" ujar Alina membuat Rafa pun ikutan tersadar.


Rafa agar ini melepaskan pagutan mereka dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Alina, lalu dengan ibu jarinya menghapus bibir Alina yang bahasa itu akibat dari ulahnya tadi .


" Astaga Yang maafin aku ya, beneran setiap dekat kamu tuh aku jadi kaya lupa untuk berpikir lupa dengan keadaan sekitar! syukur juga Ayah sama Bunda tidak lihat kalau tidak mah bisa ribet urusannya, kamu nggak papa kan kan?" tanya Rafa memastikan.


" Menurut kamu aku mesti gimana Jadi kalau kasih pertanyaan yang bermutu napa, lagian tuh nafas aku hampir putus tadi Kalau nggak berhenti!" kesal Alina.


" Ya sudah ayo kita ke meja makan aku udah telat nih gara-gara Kamu nggak dramanya terlalu banyak, bisa tidak jadi orang berubah sedikit kalau keterusan begini kan bisa berabe tidak ada pekerjaan lain ?" tanya Alina sambil memasang wajah cemberutnya dan berjalan meninggalkan rapat sendirian di depan pintu kamarnya.


sudah habis waktu terbuang kira-kira 1 jam yang tidak ada gunanya sama sekali, mau jadi apa dirinya nanti ketika sudah menikah bisa-bisa bakal jadi penghuni tetap kamar selama 1 x 24 jam.


" ih Alina kamu malu-maluin aja deh, bisanya tadi tergoda sama perbuatannya Abang? begini terus lama-lama bukan dianya saja yang khilaf tapi akunya juga, lama-lama dimutilasi sama ayah dan bunda!" batin Alina.


ketika Alina sampai di meja makan, udah ada Alex dan Rivan yang sedang duduk manis. tidak terlihat Bundanya mungkin masih di dalam kamar, kalau soal Rafa Jangan ditanya lagi entah apa yang dilakukan pria itu sekarang.


" pagi semuanya Widih rame nih, kok daddy pagi-pagi Sudah ke sini ini apa nggak ada makanan di rumah?" tanya Lina heran karena melihat cara bertamu refund yang selalu saat orang mau sarapan.


" Nah itu baru anak Ayah harus ada pendukung Setia begitu, Ya benar sekali ini orang tiap kali orang memakan pagi selalu muncul katanya orang kaya masak beli sarapan saja tidak bisa!" ujar Alex sinis.


sementara orang yang menjadi objek pembicaraan cuek bebek saja, ia seolah menulikan telinganya Tak Peduli orang mau bicara apa yang penting perutnya kenyang dan bisa bertemu Selina di pagi-pagi begini.


" woi Daddy aku lagi ngomong nih dengerin apa atuh jawab gitu, masa sedari tadi diam saja tidak peduli dengan orang lain?" tanya Alina heran.

__ADS_1


" Haduh nak berdebat itu nanti lain kali saja kalau perut sudah kenyang Nah sekarang ini kan masih lapar kita makan dulu, sudah selesai makan baru kita ngomong biar ada tenaga bukannya buka mulut itu perlu energi?" sahut Rifan santai.


" eh Mana ada begitu di mana-mana itu kalau mau makan harus sama-sama jangan ada yang lebih dulu jangan ada yang dari belakang, nanti dibilang tidak punya sopan santun apalagi bertamu kayak Daddy!" Sindir Alina Lagi dan lagi tak dipedulikan oleh Rivan sama sekali.


Alex yang melihat sikap Rivan yang malas tahu itu membuat dirinya menjadi Jengah sendiri, dia merasa seperti dirinya yang tamu di sini dan Rivan adalah tuan rumahnya.


" halo semuanya wow ada tamu nih pagi-pagi, muka kamu Kenapa Dek ditekuk begitu?" tanya Rafa memastikan karena melihat wajah Alina yang tak biasa itu.


" biasa lah nak Kamu kan tahu sendiri sekarang di sini kita kedatangan siapa ya itu Tamu Yang Tak Diundang, Numpang Makan tidak tahu malu rencananya habisin makanan biar kita tuan rumah kelaparan !"Sindir Alex.


mendengar ribut-ribut di meja makan Salina akhirnya ikut bergabung, padahal dirinya tadi sedang membuatkan susu hangat untuk Alina dan suaminya. sebab Rafa lebih suka minum teh di pagi hari, tidak seperti Alina dan ayahnya itu.


" kalian itu Kenapa sih ribut ribut terus, kalau model begini tidak usah makan lebih baik lagi di ring tinju sana biar berkelahi adu jotos!" Ketus Selina yang baru datang.


" Kata siapa kita ribut-ribut orang tuh suami kamu yang sukanya ribut ribut, Kamu kan tahu kalau aku dari dulu itu orang paling sopan sejagat raya tidak suka berantem tidak suka gangguin orang apalagi banyak bicara!" ujar Rivan percaya diri.


Alex mendelik kesal selalu saja mencari gara-gara padanya, dosa apa dirinya di masa lalu yang dia bisa bersahabat dengan manusia yang menyebalkan seperti Rivan itu.


" eh jaga tuh mulut enak saja kalau bicara main aduin aku ke istriku, emang kamu pikir kamu siapa ngomong sembarangan saja? kalau rindu kasih Sayang, jangan ke sini noh cari tante-tante girang banyak tuh di Plaza Senayan!" ujar Alex tajam.


" Idih Kata siapa aku kayak gitu mungkin kamu kali, lagian yang ada di Plaza Senayan itu Mama rempong kali!" sahut Rivan Melambaikan tangannya bak inches.


" sayang kita cari makan di luar saja yuk, aku kayaknya deh lihat orang-orang tua ini berdebat dan tidak jelas tidak sadar diri kalau sudah berumur Tidak Malu sama kita yang masih muda cinta damai!" Rafa merasa Jengah dengan kelakuan Rivan dan Alex itu.


" eh Mana ada begitu orang Bunda sudah masak capek-capek kok ditinggalin begitu saja, tidak ada kata main pergi saja makan dulu baru jalan kalau tidak tidak boleh pergi sama sekali!" sahut Selina tajam dan tak ingin dibantah.


" Tapi Bunda kalau mereka berdebat terus seperti begitu Kapan kita makannya, terus tu lihat piring Daddy sudah kosong tandanya dia sudah selesai makan kan?" Tanya Rafa memastikan.


" Eh kamu salah Daddy itu belum makan tadi itu hanya ronde pertama saja, nih mau lanjutin ronde yang kedua soalnya masakan Bunda kamu tuh enak banget!" bohong Rivan padahal dirinya sudah merasa kenyang.


" Ya sudah ini makan nah aku ambilkan ya Ingat jangan malu-malu, saja rumah sendiri soalnya kamu kan yang orang yang tidak punya malu kan?" Sahut Alex dengan sengaja memberikan makanan yang banyak untuk Rivan membuat pria itu meringis ngeri.


" astaga kenapa berjuang demi cinta itu sakitnya minta ampun ya, ini orang pasti sengaja ini kasih makanan buat aku sebanyak ini Padahal dia kan tahu tadi aku sudah makan?" Rivan bergumam dalam hati.


Alex tertawa bahagia Bagaimana tidak dirinya bisa membalaskan dendam secara halus tanpa membuat orang lain tahu, Lagian siapa suruh Rivan mencari gara-gara lebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2