AKU WANITA TERHEBAT

AKU WANITA TERHEBAT
Episode 299


__ADS_3

Like N KOMENNYA


LOPE U FULL


maafin autor guys karena sudah seminggu ini kondisinya kurang fit jadi otomatis nulisnya semua pada Serba Salah jangan marah ataupun bingung kalau bisa diusahakan pahami saja😊😊😊


LANJUT ***


Lala makan dengan tampang cemberut, Bagaimana tidak mengingat tadi Alina begitu marah besar padanya dan itu semua dikarenakan ulahnya Xavier yang melakukan sesuatu sekehendak hati.


"kamu Kenapa Nak, Kok kelihatannya kaya kesal begitu apa ada sesuatu Kok kelihatannya kaya kesal begitu? apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kamu, kasih tahu ya jangan dipendam sendiri karena itu sangat tidak bagus nantinya !" ujar Adele yang merasa heran dengan sikap Lala yang hanya diam saja itu.


" ini anak Kenapa lagi ya, perasaan biasanya sangat banyak bicara Kenapa hari ini dia diam saja?" Batin Xavier yang juga merasa heran dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Lala itu.


" Wah aku tidak apa-apa kok tanya lagi kurang istirahat mungkin, Mas kamu sarapan ya jangan slow gitu dong. soalnya aku hari ini lagi ada mau ngumpulin tugas, Takutnya nanti telat Soalnya dosennya Killer banget!" pinta Lala berbohong dari pada nanti sebentar bakalan kena kamu kan dari Alina.


" Memangnya dosen itu namanya siapa Dia sudah berani berani memarahi calon menantu? Nanti mama yang bakalan bantu kamu buat menghadap, biar besok bisa dia tau rasa berbuat Seenaknya saja pada anak gadisnya orang!" ujar Adele Ketus membuat Xavier hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Mama jangan ngomong aneh-aneh deh, nanti yang ada Lala nya bakalan tambah masalah. Lagian Sejak kapan sebuah perguruan tinggi tidak ada dosen yang Killer nya, yang ada Ma tambah parah dan tidak bisa dibendung lagi!" sungut Xavier yang tidak senang mamanya berbuat yang tidak-tidak.


" Ih kamu nih aneh-aneh saja, perasaan mama baru rencana belum lakukan. Jadi kalau mencurigai orang tua Jangan terlalu berlebihan nanti yang ada di sebut durhaka," ujar Adel sambil menatap tajam ke Xavier yang memasang tampang bodo amat.


" maafin Lala,Mama. bukannya tidak sopan hanya saja kali ini aku mendukung apa yang dikatakan oleh Mas Xavier, soalnya tidak baik Kalau mencari masalah yang bisa dianggap hanya sepele saja!" ujar Lala yang merasa tak enak hati karena berani membantah Perkataan wanita paruh baya.


" kalau kamu yang ngomong Mama bakalan ikutin, tapi kalau dia mah jangan harap! soalnya dia Kapan peduli sama keadaan Mama, yang ada dalam pikirannya itu tiap hari bekerja bekerja ntar untuk siapa dikasih soalnya istri saja tidak punya!" ujar Adele sambil menatap sinis kearah Xavier yang menatap tak percaya ke arahnya.


" Mama sudah berapa kali sih aku harus bilang, kalau punya keluarga itu jangan hanya didasarkan cinta tapi tidak punya persiapan apa-apa. nanti mau dikasih makan apa anak orangnya, pakai batu atau cinta yang ada mati karena kelaparan?" ujar Xavier serius.


" ya kan mama sudah bilang usaha papa kamu ini tinggal dilanjutkan saja, tapi kamunya malah betah bekerja di perusahaannya Roberto. jadi Mama yang sendiri urus semua ini padahal punya anak , Ya sudah daripada capek mau minta kamu biar ada yang temani dan bantu mama biarpun sedikit-sedikit!" Lala akhirnya paham dengan arah pembicaraan Adele barusan.


" kayaknya dia ini bukan orang miskin yang selalu mengemis pekerjaan, tapi kenapa ya mau saja disuruh oleh Rafa sampai segitunya?" batin Lala penasaran.


Xavier mendengus kesal karena mamanya seperti selalu mengungkit hal yang sudah ia Jelaskan berulang kali, padahal yang ia inginkan yaitu memantaskan diri untuk nantinya memegang peninggalan papanya yang tidak sedikit itu.


" kamu sudah selesai, kalau sudah Ayo kita pulang sebelum nanti Tuan Rafa bakalan mengamuk!" ajak Xavier lalu mengambil kunci mobil dan segera pergi dari situ tanpa menoleh lagi kearah mamanya yang menatap sendu kearah dirinya.


" kami pamit pulang ya mama, nanti kapan-kapan kalau ada kesempatan kami bakalan mampir lagi!" pamit Lala sambil mencium tangan Adele yang masih berdiri mematung.


" itu karena kenapa sih selalu saja menghindar kalau membahas masalah ini, Emangnya salah menyuruh dia mengambil kembali apa yang harusnya ia kendalikan. aku kan hanya ingin pengertiannya saja, kalau yang Papanya tinggalkan semuanya adalah hak dan kewajibannya untuk melanjutkan." Lirih Adele dalam hati tapi dirinya yakin jika Lala bakal melunakan hati putranya yang keras kepala itu.


kini Xavier dan Lala sudah dalam perjalanan pulang karena sedikit lagi Bakalan jam masuk kantor, Xavier yang tidak ingin Rafa bakalan marah karena terlambat ke kantor dan membuat klien mereka menunggu.

__ADS_1


" Kamu kenapa sih jadi orang Kasar banget, kalau tahu seperti ini jangan coba-coba mengajakku kembali kerumah kamu lagi!" Ketus Lala kesal karena Xavier pergi tanpa Pamit kepada mamanya yang sedang menatap lirih kearahnya.


" kamu bisa diam tidak jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya orang, kalau tidak tahu apa-apa mendingan tidak usah berbicara banyak?" sahut Xavier tajam dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi sama sekali.


Lala membulatkan matanya sempurna karena merasa terkejut dengan perkataan Xavier barusan, ia seolah tak percaya jika pria itu mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal itu.


" kamu pikir aku mau terlibat urusan keluarga kamu, kalau kemarin kamu tidak bawa aku ke rumahnya kamu tidak mungkin aku tahu apa yang terjadi?" Ketus Lala penuh penekanan.


Xavier menghela nafasnya kasar, karena yang ia inginkan hanya ketenangan saja tapi mengapa Lala tidak mengerti hal itu?


" Jadi kamu mau menyalahkanku dengan apa yang terjadi semalam, Kenapa tidak jujur saja sama Mama kalau kita tidak ada apa-apa? Bukannya kamu juga mendukung semua perkataan aku, Kenapa jadi seolah-olah aku yang salah Disini?" tanya Xavier dengan nada yang begitu kasar.


Lala memilih untuk memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela, air matanya tanpa permisi turun begitu saja mewakili perasaan pemiliknya sekarang.


wanita mana yang bakalan kuat ketika seorang pria begitu mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan, padahal dirinya tak minta sama sekali untuk dihargai pakai kunci sayang.


keheningan terjadi dalam mobil itu Xavier dan Lala masing-masing meresapi perasaan mereka, Mungkinkah memaksakan kehendak adalah sesuatu kesalahan besar yang telah mereka lakukan.


apa lagi wajah begitu antusias milik Adele, dan lebih parahnya lagi ketika Xavier dengan santai yang mengatakan seolah dirinya dan Lala yang OTW menuju pernikahan.


Xavier sesekali mencuri pandang ke arah dari tadi tidak mau menoleh ke arahnya sama sekali, perasaan bersalah pun hinggap di hati ini hanya saja gengsi lebih mendominasi.


diamnya keduanya berlanjut sampai di rumahnya keluarga Roberto, membuat Alina yang kebetulan sedang menunggu Lala di depan merasa heran.


" Lina kamu apaan sih pakai main tarik-tarik segala, tanpa kamu suruh pun aku juga pengen masuk ke dalam?" Tanya Lala penasaran.


" diam kamu jangan kebanyakan ngebantah, bisa tidak sekali-sekali ikut aku tanpa banyak bicara? " tanya Alina kesal.


" tapi tidak perlu sampai segitunya juga kan, Lagian aku juga tidak ada niat kok kabur kemana-mana Sudah siap malah buat diinterogasi kamu lahir batin!" sungut Lala Ketus membuat Alina benar-benar kesal dengan tingkah sahabatnya yang satu itu.


" Ya sudah kalau begitu ikut saja kan jangan banyak ngebantah lagi, sudah semalaman tidak pulang Terus sekarang datang tinggalnya aneh Aku mau bikin aku Jadi curiga atau tidak tanda tanya?" tanya Alina kesal.


" memangnya aku kenapa, Perasaan biasa saja deh kenapa kamu malah bertanya aneh seperti itu?" Tanya Lala penasaran.


" jadi kamu tidak sadar kalau hari ini itu kamu aneh banget, Terus itu tadi Kenapa Paman Xavier kok wajahnya ditekuk seperti itu sama seperti kamu?" tanya Alina penuh selidik membuat Lala menatap Jengah ke arah sahabatnya itu yang terlalu jeli dalam menanggapi sesuatu.


" bisa tidak jangan membahas orang lain yang sedang tidak ada di hadapan kita, Nanti dikiranya orang kita itu ngegibahin dia jadinya kelebihan Percaya diri dong? " sungut Lala kesal karena memang mood-nya sedang hancur untuk membahas soal Xavier.


Alina menatap kearah Lala dengan tersenyum mengejek karena ia yakin pasti ada apa-apanya diantara Xavier dan sahabatnya itu, kalau tidak pasti reaksi Lala tidak terlalu berlebihan seperti ini?


" sepertinya aku Ketinggalan berita nih, roman-romannya Ada yang lagi berantem? Padahal kemarin Sok jual mahal, eh sekarang malah didiskon pun dia ikhlas? " tanya Alina sambil mengedipkan matanya sebelah membuat Lala mendelik kesal.

__ADS_1


" ngomong saja terus Sesuka kamu wahai kau Alina Maha Benar, Bila perlu sekalian bawa speaker aktif tersebut pengumuman keliling kampung supaya kamu puas!" sinis Lala membuat Alina tak bisa menahan tawanya.


"Hahaee, kayaknya saran kamu tuh Oke juga buat bikin pengumuman keliling kampung, Nanti deh aku bakal usahain alat tempurnya Soalnya kan kamu yang suruh buat diumumkan!" ujar Alina tanpa beban membuat Lala merasa gemas pada sahabatnya itu.


" Sudah dong aku mau mandi nih jangan diledek terus, kamu tega banget sih sama aku padahal aku sedang kesal loh! " bujuk Lala yang sudah sangat frustasi mendengar ocehan dari Alina yang tanpa henti itu.


" Kayaknya aku masih ingin deh ngomong, jadi maaf permohonan kamu kali ini hangus Silakan dicoba lain waktu ya!" ledek Alina dan hanya dibalas pelototan mata oleh Lala.


" is kalau tahu begini mah tadi pulang ke rumahnya ibu daripada di sini yang ada bikin tambah runyam bukan tambah adem!" sungguh Lala kesal niat membersihkan badan urungkan karena Alina yang masih saja nyerocos terus.


" Wah itu malah lebih bagus kalau kamu ke rumahnya ibu, karena dengan begitu aku bakalan punya sekutu membuat memarahi kamu!" Alina antusias Hanya bisa pasrah karena sama saja alinea itu orangnya paling sulit untuk dibantah mungkin karena perkataannya selalu benar kali ya.


" kamu kok jadi sahabat tidak ada manis-manisnya loh aku tuh lagi stres lagi pusing bukannya diringankan beban nya malah kamu tambah bikin punya!" wajah Lala terlihat begitu frustasi berbeda dengan kebiasaannya selama ini yang selalu kalau berbicara semangatnya 45 pantang kendur.


Alina yang tadi hendak memarahi sahabatnya itu langsung diurungkan niatnya, dirinya tahu jika sikap Lala sudah seperti ini artinya ada masalah yang sedang ia pikirkan.


" kamu baik-baik saja kan, atau ada masalah serius yang sedang kamu pikirkan? tidak biasanya kamu seperti ini, Tapi sebelumnya Tolong kamu jujur semalam itu kamu ke mana Kok bisa tidak pulang?" tanya Alina memastikan sebelum Lala menceritakan kegundahan hatinya karena mungkin dari hal itulah dia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lala menghembuskan nafasnya kasar, sejujurnya kemarin adalah keputusan terbodoh yang pernah ia lakukan dalam hidup


sudah berbohong kepada orang yang lebih tua dan lebih parahnya lagi mengaku sedang mempersiapkan pernikahan kalau bukan bodoh Apalagi coba namanya?


" aku semalam menginap di tempatnya Paman Xavier, entah Bodohnya Aku itu berasal dari mana karena yang menawarkan untuk ke rumahnya dia ya aku sendiri?" jelas Lala sambil menutup wajah dengan Kedua telapak tangannya.


Alina mengerutkan keningnya Karena penasaran dengan perkataannya Lala barusan, karena masih belum paham dengan maksud perkataannya Lala itu.


" kamu kalau ngomong bisa lebih jelas lagi tidak, Memangnya atas dasar apa menawarkan diri untuk pergi ke rumahnya Paman Xavier?" tanya Alina penasaran.


" Jadi kemarin saat kamu pergi sama abang Rafa keluar kan tinggal aku sama paman Xavier sendiri nih di rumah, terus dia akan mengajak untuk keluar cari makan karena sudah lapar Iya tanpa sadar dia akan bertanya Aku mau makan di mana Terus aku jawab dong makan di rumahnya saja. dan kamu tahu tidak itu aku nggak serius ngomongnya eh tahu-tahu ditanggapinya beneran, ya Jadilah kamu terdampar di rumahnya untuk makan malam!" Lana sejenak menjeda perkataannya menetralkan gemuruh di dalam dadanya..


Alina yang melihat Lala tak kunjung melanjutkan penjelasannya membuat jadi penasaran, dirinyapun Muhammad sallallahu untuk melanjutkan ceritanya karena jujur Ia juga ingin tahu dan sangat penasaran.


" ya Terus kenapa cerita kamu berhenti tidak dilanjutkan, mau bikin aku mati penasaran?" tanya Alina memastikan membuat Lala mendengus kesal.


" kamu tuh kenapa sih ih maunya kalau dengar sesuatu harus sampai detail mungkin, padahal dengan ceritaku yang digaris besarkan seperti tadi saja kamu pasti sudah paham tapi kamu sukanya harus harap gampang tidak pernah bisa dipaksa buat Berpikir itu otaknya kamu!" sungut Lala tapi dibalas tatapan horror oleh Alina.


" ya kan kamu sendiri yang melakukannya Bukan Aku, masa iya aku juga lagi Yang Harus berpikir? kecuali saat itu aku juga ada di tempat kejadian, ah dia tidak perlu kamu cerita pun aku sudah tahu sendiri." lah lah mah bisa apa kalau alinea sudah mengeluarkan jurus-jurus nyolot nya karena hal itu tidak akan terbantahkan sama sekali.


" long akunya dikasih minum dong biar kalau mau cerita tenggorokannya tidak seret!" duduklah lagi agar Alina melupakan hal tersebut.


" Oh tidak bisa begitu ferguso, ceritakan sampai beres dulu baru bisa melakukan hal lain lagian air di rumah pada habis tidak ada yang bisa untuk diminum!" sahut Alina asal.

__ADS_1


" Idih katanya tempat tinggal Roberto paling megah di kota ini, masa stok air minum saja pelitnya minta ampun?" Lala kesal tapi Alika mah bodo amat.


__ADS_2