
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ^^^
Rafa sengaja keluar ketika Alina sudah dipastikan pergi dari rumah,karena jika nanti Selina heboh pasti Alina juga ikutan.Mungkin keputusan untuk bersembunyi hanya kali ini saja,karena bagimana pun keduanya hidup dirumah yang sama tak mungkin bakal menghindar terus.
***Gimana sayang author crazy up kan..mau bayar yang seminggu kemarin berduka...
TAPI HANYA SAYANG LIKE NYA SEDIKIT SAJA,PADAHAL LUMAYAN BANYAK LHO YANG BACAðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜***
LANJUT ^^^
Alina masuk kedalam kampus dengan suasana hati yang tak karuan,ia bingung dengan dirinya yang uring uringan tak jelas dan hatinya serasa tertinggal dirumah.
"Etdah aku kenapa lagi sih,bawaanya seperti mau pulang tidur," gumam Alina monolog.
"Pagi Sayang," sapa Rio sambil merangkul bahu Alina.
Alina yang merasa tak nyaman dengan sikap Rio,secara perlahan menjauhkan tangan Rio dari bahunya.
"Pagi juga,aku kekelas dulu ya soalnya mau ketemu Lala," ujar Alina sambil menjauh dari Rio.
"Kamu lupa ya?Kalau kita kan sekelas," Tanya Rio sambil menggandeng tangan Alina agar keduanya berbarengan kekelas.
Alina ingin sekali pergi menghilang dari situ,karena tingkah Rio yang tidak tahu tempat asal nyosor saja.Alina tak ingin lagi berhubungan dengan pria yang tak ada rasa malu ketika melakukan sesuatu.
"Aku harus ngapain ya jika dia begini terus,malah sekarang sudah jadi tontonan semua orang lagi," gerutu Alina dalam hati.
"Emm bisa tidak jangan dekat dekat malu dilihatin orang," pinta Alina.
"Kita kan pacaran Yang,jadi ngapain malu ke mereka yang ada aku yakin mereka sekarang pasti lagi iri melihat kemesraan kita," tolak Rio malah menarik tangan Alina.
"Pliss aku nggak nyaman jika kamu seperti ini terus," pinta Alina lagi.
"Lho kok kamu kok gitu sih jawabnya,kenapa harus selalu permasalahkan sesuatu yang tidak jelas.Lagian aku kan hanya ingin bermesraan dengan kamu saja,apa itu salah?" Tanya Rio yang mengusap rambut nya frustasi.
"Lepasin aku nggak,kamu ingat baik baik ya mulai sekarang kita putus," tekan Alina lalu berlalu dari situ.
"Kamu pikir bisa lepas dari ku wanita angkuh," gumam Rio dalam hati sambil tersenyum Devil.
Rio yang selama ini tak terima penolakan dan dicampakkan wanita,langsung mengambil jalan pintas.Ia nekat tanpa peduli dengan sekelilingnya ,yang ada dalam pikirannya adalah menjadikan Alina miliknya.
__ADS_1
Grep...
Rio mengangkat tubuh Alina keatas bahunya,membuat Alina terkejut setengah mati.
"Heii brengsek apa yang kamu lakukan?" Teriak Alina kasar.
"Tolongin aku semuanya," sambung Alina lagi.
"Kalian jika berani dekat kesini aku bakal nekat," ancam Rio.
Lala yang baru saja sampai langsung dibuat terkejut dengan tingkah yang dilakukan Rio,ia tak ingin pria itu nekat menyakiti sahabat nya.
"Rio kamu gila atau apa hah,turunin Alina sekarang atau aku telpon polisi," Bentak Lala.
"Hah,dia milikku dan akan seperti itu untuk selamanya.Jangan pernah bermimpi untuk mengambilnya atau melepaskan dirinya karena itu tak kan pernah terjadi," sinis Rio sambil terus menggendong Alina layaknya karung beras.
"Lala tolongin aku pliss,aku nggak mau berhubungan dengan pria brengsek ini," pinta Alina memelas.
"Sekarang kamu bilang aku brengsek tapi aku yakin sebentar pasti kamu akan ketagihan dengan permainan kita yang sesungguhnya," ujar Rio tanpa merasa malu sedikitpun.
Rio memasukan Alina kedalam mobil nya tanpa peduli dengan cacian yang dilontarkan Alina.Ia tersenyum smirk terhadap sesuatu yang ia rancang dalam otaknya,dan sedikit lagi bakal terealisasi.
"Lepasin aku brengsek!" teriak Alina sambil memukul kaca mobil itu.
Lala frustasi karena sahabatnya hilang di bawa pergi si pria brengsek,ia harus mencari bantuan agar sahabat nya tidak kenapa napa.
"Astaga Si Rio memang gila,kalau sampai jiwa play boy nya kambuh terus Alina kenapa napa gimana dong?" gumam Lala sambil berlalu kesana kemari seperti cacing kepanasan.
"Ayo mobil bekerja sama lah,larinya jangan ngadat kaya siput sebelum kujadikan besi tua tak berguna," gerutu Lala sambil mengeluarkan sumpah serapah layaknya orang yang lagi panik dan kesal ya seperti itu lah.
Sementara itu dikediaman Roberto Selina sedang menangis bahagia,karena putra semata wayangnya telah pulang dan kembali kerumah itu lagi.
Dipeluknya dan diciumnya puncak kepala putranya,putra yang sangat dirindukan bertahun tahun putra yang pergi tak pernah kembali. Kini Putranya itu sedang berada dihadapannya ,dan sedang menikmati masakan nya.
Jika Selina terharu dan menangis berbeda dengan Alex yang sangat bangga karena jika sang putra pulang,artinya ia telah siap melanjutkan perusahan milik mereka.
Jika kedua orang tua nya sedang babagia,berbeda dengan Rafa yang hatinya entah kenapa sangat cemas memikirkan sesuatu.Ia merasa jika ada sesuatu yang buruk telah terjadi,tapi hal apa itu yang membuat dirinya gusar.
Ia seperti hatinya sakit dan tak karuan,jika model begini apa yang harus ia lakukan biar tenang.
Selina yang merasakan kegelisahan putranya,menjadi heran sendiri dan jadi penasaran.
"Nak,kamu kenapa?" Tanya Selina heran.
"Ah aku tidak kenapa napa kok Bunda." Sahut Rafa ambigu.
"Kalau ada apa apa ngomong sama Ayah dan Bunda ya nak!" sambung Alex menimpali percakapan ibu dan anak itu.
"Iya Yah,aku pasti bakal ngomong jika ada apa apa." Sahut Rafa.
__ADS_1
Didepan gerbang kediaman Roberto ,tampak Lala sedang berkali kali memencet klakson mobil nya berkali kali. Hal yang dilakukan Lala itu membuat Mang Udin akhirnya keluar kandang,ia ingin memeriksa sebenarnya manusia gila siapa yang berani nya melakukan hal itu.
Saat sampai diluar ia melihat seorang wanita bertumbuh pendek sedang berada dalam mobil sambil terus membunyikan klakson mobil.
"Oalah Eneng,mukanya sudah jelek tapi kelakuannya sungguh lebih jelek lagi," ujar Mang Udin sambil memegang pentungan satpam nya.
"Apa kamu bilang?Woiii kau pria plontos layaknya bola bekel yang tandus dan gersang,awas saja ya kalau kau bicara macam macam lagi!" ancam Lala sambil membuka lebar matanya.
"Idih yang licin menggoda begini dibilang bola bekel,ngaca woii ngaca siapa yang mirip bola bekel." Sahut Udin tak mau kalah.
"Aduh stop bahas tentang kamu yang sudah hancur dari lahir,karena ada hal yang lebih penting dari ini," potong Lala yang kesadarannya sudah kembali teringat akan keselamatan Alina.
"Alah kamu pasti alasannya saja kan,pura pura bilang ada urusan penting padahal hanya ingin minta nomor WA nya saya kan?" Tolak Udin sambil menatap kearah Lala dengan tersenyum mengejek.
"Heh bocah nasi basi,awas saja kamu ya kalau Alina kenapa napa.Kamu yang akan saya jadikan kelinci percobaan untuk tes virus kerak telor," ancam Lala serius.
Udin yang dari tadi kesal dan mengejek Lala,langsung mengubah air mukanya ketika melihat Tampang Lala yang serius.
"Kamu serius?" Tanya Udin.
"Ya iyalah ayo buruan di buka sebelum terlambat bego," umpat Lala kesal.
Dengan terburu buru Udin membuka pintu gerbang,setelah itu langsung berlari masuk kedalam rumah diikuti Lala.
"Permisi Tuan,nyonya den Rafa," ujar Mang Udin dengan nafas yang tersengal.
"Eh iya kenapa Mang? kok kelihatan kaya dikejar hantu gitu?" Tanya Selina heran.
"Alina dibawah pergi sama Rio Tante," teriak Lala yang baru menyusul dan memotong pertanyaan Selina barusan.
Brak
Gelas yang dipegang Rafa langsung terlepas dari tangan nya,ia sangat terkejut dengan apa yang didengar. Mungkinkah ini adalah jawaban dari kegelisahannya dari tadi,yang membuat dirinya bingung.
"Apa?" Teriak Rafa sambil mendekati Lala.
"Yah gimana ini kalau adek kenapa napa gimana?" Tanya Selina sendu memikirkan keadaan putrinya itu.
"Bisa kamu jelaskan saat kita dijalan!" pinta Rafa yang sudah tak peduli dengan keadaan sekitar karena baginya keberadaan Alina adalah diatas dari segala galanya.
"Ayah ikut Nak," Pinta Alex.
"Bunda juga ikut!" Selina menimpali.
"Tidak kalian tinggal disini biar Rafa yang cari,jangan sampai Adek pulang dan tidak ada siapa siapa disini. Ayah temani Bunda disini dan jangan memaksa untuk ikut cari Adek,karena nanti bikin tambah pusing," ujar Rafa dan tak ingin di bantah.
"Baiklah ,kamu hati hati ya Boy titip adekmu usahakan segalanya agar dia bisa ketemu," sahut Selina sambil mencoba menahan tangisnya.
"Aku janji dan Ayah tolong hubungi orang yang bisa bergerak dengan cepat ,lalu jangan panik tetap rileks biar tidak semakin ribet!" perintah Rafa yang tak ingin dibantah sedikitpun.
__ADS_1
"Hati hati nak," pesan Alex.