
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ****
Vigo berusaha memikirkan kata-kata yang bagus untuk nantinya bisa menjadi pembelaannya, kalau tidak bisa dipastikan Rivan bakalan mengamuk dan 4 digit dari gajinya benar-benar bakalan melayang.
" Nyonya Dinda Tolonglah jangan tidur, kalau tidak bisa dipastikan aku bakalan ketiban sial akibat dari ulah anda tadi?" batin Vigo frustasi.
Rivan masih menatap tajam kearah Vigo yang menurutnya tadi sudah mencoba untuk bersikap lancang padanya, padahal sebenarnya itu hanya perasaannya sendiri dan tidak terbukti kebenarannya sama sekali.
" kenapa masih diam saja dan tidak menjawab pertanyaanku tadi, kamu pasti berharap aku bakalan melupakan hal itu agar kamu lolos kali ini? "tanya Rivan sinis.
" tuan, tadi itu hanya perasaan Anda saja tapi sebenarnya saya Mana berani melakukan hal itu!" jelas Vigo yang masih mencoba merubah arah pandangannya Rivan yang masih saja salah paham padanya.
" kamu yakin dengan apa yang kamu katakan barusan, kenapa hati kecil saya seolah berkata bahwa ada kebohongan di dalamnya? " tanya Rivan sambil menaikkan alis sebelah,
Vigo kebingungan harus menjawab apa karena sama saja apapun yang dikatakan kan pasti tidak akan dipercayai oleh Rivan, kalau sudah begini alhasil dirinya yang bakalan disalahkan sepanjang hari.
Dinda yang daritadi mencoba untuk memejamkan matanya Tapi tetap saja tidak bisa, soalnya kedua pria dewasa itu dari tadi tidak berhenti untuk berbicara.
" kalian berdua itu kenapa sih tidak bisa berhenti ngomong, Memangnya Menurut kalian yang hidup di dunia ini hanya kalian berdua saja orang lain itu cuma numpang lewat doang? Ya setidaknya ada pengertian lah kalau orang mau istirahat, hobinya nyerocos terus tidak jelas ngomongnya apa! " sungut Dinda membuat Vigo merasa lega karena ada Dewi Fortuna yang datang menolongnya tapi berbeda dengan Rivan ya malah kesal jadinya.
" kamu kalau mau tidur ya silakan tidur saja memangnya biji matamu aku yang pegang, Bilang saja kamu kesal karena dicuekin sama kami? " Sindir Rivan membuat Dinda menatap tak percaya kearah pria ya yang dianggapnya terlalu percaya diri tingkat tinggi.
" situ sadar ngomong apa tadi? Hey biar model yang seperti begini tapi punya urat Malu masih ada dong, memangnya siapa juga yang mau dipedulikan sama pria aneh seperti kalian berdua! sudah membahas sesuatu yang unfaedah malah ngomongnya tidak jelas lagi, untung juga ini lagi di atas ketinggian lebih dari 4000 kaki Coba kalau tidak aku malah memilih sendirian Daripada direcoki sama kalian terus!" Dinda mulutnya itu kelewat semangat untuk berbicara yang kalau bahasa mamaknya disebut Ceriwis alias cerewet.
" jadi kamu percaya diri sekali kalau aku ini bakalan senang kalau kamu ada di sini, kalau sampai kamu punya pemikiran seperti begitu berarti anda termasuk salah satu manusia yang tidak beruntung. semua orang pria di dunia ini bakal melakukan apa saja kepada wanita yang anggun dan juga menggoda iman dan pikiran, nah yang model seperti kamu bukannya menggoda iman tapi yang ada menggoda kejahatan dalam diri pria itu untuk segera membungkam mulut kamu yang tidak pernah berhenti nyerocos itu!" jelas Rivan dengan tersenyum mengejek.
" Wah ternyata kamu adalah pria teraneh yang pernah aku temui di jagat raya ini, kalau tahu model begini Kenapa tadi memaksaku untuk ikut dengan kalian? padahal yang jelas-jelas ada Selina yang mengajakku, karena gengsi kamu yang ketinggian seperti Burj Khalifa membuat hidupku jadi blangsakan Disini!" sungut Dinda kesal.
" terserah apa yang ingin anda katakan nona, karena aku bakal tidak akan peduli sedikitpun. dan kamu Janganlah berharap bisa lolos kali ini, karena aku sudah mencatat semua kelakuan kamu dalam memori ku tinggal siap untuk dieksekusi saja!" widih Kenapa jadi Vigo Lagian dibawa-bawa coba?
__ADS_1
" Astaga aku kira Sudah melupakan hal itu, kenapa sekarang masih disebut-sebut juga?" batin Vigo heran.
" eh Vigo, nanti kalau aku menang lotre terus bisa membangun sebuah bisnis yang besar kamu tinggalkan dia saja. soalnya aku kasihan sama kamu tiap hari tertekan sama kelakuan aki-aki menyebalkan, nanti kalau bekerja dengan bakalan aku kasih dia layanan plus-plus!" perkataan Dinda itu membuat Rivan meradang.
" Maksudnya kamu ngomong seperti itu apa, kamu melupakan kehadiranku di sini yang jelas-jelas sangat terlihat di matamu? bisa tidak Lain kali kalau ngomong di filter dulu, nanti kalau Vigo kelebihan senang terus suatu saat menagih janji gimana kamu bisa!" tanya Rivan Ketus'
" Kenapa jadi kamu yang sewot, orang yang kasih layanan khusus kan aku bukan kamu'. jadi seharusnya respon kamu mah biasa saja, tidak perlu sampai berlebihan seperti itu kan? jatuhnya itu lebay dan hanya membuat orang lain jadi bosan melihat kamu, padahal memang si tampang kamu terlalu biasa bukan luar biasa?" Dinda benar-benar wanita planet yang sangat berbeda dari orang lain pembahasannya itu hanya kebanyakan membuat orang Spot otak untuk tidak cepat terpancing emosi.
" kamu yakin ngomong seperti itu, perasaan aku adalah pria yang paling bertanggung jawab dan Most Wanted untuk dicari para wanita di luaran sana?" tanya Rivan penuh percaya diri membuat Dinda ingin sekali muntah.
" ya Ya terserah kamu saja deh, aku mah bisa apa paling cuma denger doang setelah itu ya sudah! " Dinda Jengah.
" ini manusia berdua kenapa dari dulu sampai sekarang tidak pernah sadar sadar ya, Masa setiap kali bertemu selalu saja bertengkar Memangnya orang lain tidak bisa apa?" batin Vigo penasaran dengan jalan pikiran Dinda dan Rivan yang seperti anak kecil tidak ada yang mau mengalah.
" Permisi tuan Saya mau ke toilet sebentar!" pamit Vigo karena kupingnya serasa mau lepas dengan perdebatan kedua manusia berbeda jenis itu.
" iya silakan saja, siapa juga yang bakalan ngurusin kamu kalau ngompol di sini?" ledek Dinda sambil tersenyum tapi berbeda dengan Rivan yang memilih untuk malas tahu.
Sultan mah bebas selama negara api menyerang tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan sekitar, ngapain juga dia menjawab perkataan Vigo tadi tidak ada untungnya juga kan baginya?
" Dasar orang aneh suka melakukan sesuatu sekehendak hati, semoga saja Tuhan cara menghukum dengan cara membuatmu tidak bisa berbicara selama sebulan!" gumam Dinda pelan tapi masih bisa didengar oleh Rivan.
" Apa kamu bilang, kamu kalau mau membicarakan sesuatu dipikir dulu? enak saja kalau ngomong, Lagian Memangnya Sejak kapan perkataan orang sepertimu didengar oleh Tuhan? yang ada malah aku bakal mendapatkan berkah yang jauh lebih besar lagi, soalnya sudah didoakan yang buruk buruk oleh orang yang tidak bertanggung jawab!" sahut Rivan penuh percaya diri.
" kamu terlalu percaya diri sekali berbicara seperti itu, Padahal aku yang mendengarnya saja merasa tidak sanggup apalagi yang lain ya!" Dinda tak mau kalah dari Rivan yang menurutnya adalah pria ternarsis sejagat.
Vigo ternyata hanya ingin berlama-lama dalam toilet bukan karena betah di sana, melainkan ingin adem dahulu supaya tidak mendengarkan perdebatan antara Rivan dan Dinda itu.
sedangkan di tempat lain Lala sedang kebingungan dengan tingkah safir yang begitu posesif, Jika seperti begini terus maka bisa dipastikan ruang bebasnya bakalan lebih sedikit lagi.
" ehh Lala, sana lihat pujaan hati kamu lagi tebar pesona di depan parkiran. dan parahnya lagi si Gita CS menikmatinya,, mencoba untuk mengeluarkan sikap genit mereka itu. kamu kalau masih di sini terus nanti kalau Paman Xavier diambil orang gimana, rencana pernikahan kalian kan bisa batal?" tanya Alina tersenyum.
" Ih kamu stop disebut hal itu lagi, rencana pernikahan itu kan hanya bahasa kilaf saja aku mana serius mengatakan hal itu? kamu juga stop deh mengatakan hal itu di sini, yang lainnya salah paham masalahnya bisa tambah runyam!" Ketus Lala tak terima dengan perkataan Alina.
__ADS_1
" lho memangnya aku ngomong itu salahnya di mana? lambat laun semuanya juga pasti tahu kalau tiap hari Wawan Xavier appelin kamu di sini terus, jadi Mulai sekarang kamu harus bersiap untuk berperang dengan para fansnya paman yang sepertinya terlihat garis keras mereka itu!" bukannya senang mendengar perkataan Alina, Lala malah bertambah frustasi.
" stop sudah, aku tidak ingin mendengar hal yang aneh-aneh dari kamu lagi. karena setiap kali kamu berbicara bukan solusi yang aku dapatkan melainkan tanpa bikin stres, kalau bisa kamu suruh deh Abang ya yang kamu untuk menyuruh Paman Xavier berhenti datang ke sini." pinta Lala.
" ih Aku mana mau melakukan hal itu, untungnya di kamu ruginya di aku dong! tahu sendiri kan Abang Rafa gimana, setiap aku kasih satu permintaan 10 permintaan jadi harus aku turuti!" tolak Alina membuat Lala ingin sekali tertawa.
" wah itu namanya menggunakan Kesempatan Dalam kesempitan, Jadi kalau sudah ada kesempatan didepan mata Kenapa tidak digunakan?" goda Lala membuat Alena mendengus kesal.
" kamu kalau ngomong jangan sembarangan ya padahal Memang sih kebanyakan benernya, Habis ini mau gimana lagi coba cintaku berat sama dia Jadi apapun yang dia mau ya pasti bakalan Aku turuti! " sahut Alina santai.
" Ya sudah kalau begitu Kamu pasti bisa dong ngomong sama Abang Rafa buat menggantikan asisten gilanya itu, jadi risih lihat pria yang juga ketua itu tapi dikelilingi kalau para ABG centil!" bujuk Lala lagi.
" kamu risih atau cemburu, perasaan Paman Xavier saja biasa saja kenapa kamu yang lebay? kalau memang ada pesan lain ya Jujur saja dong, tidak ada yang bakalan meledek juga kok kecuali kalau kamu gengsi masih setinggi langit ya aku mah bisa apa!" Sindir Alina membuat Lala gugup dan memilih pergi dari situ sebelum sahabatnya itu berkata-kata yang lebih menohok lagi.
" Dasar teman tidak ada akhlak, Bukannya dibantuin malah tambah ledekan lagi? untung juga anaknya Alex Roberto coba kalau bukan, sudah ku depak jauh-jauh keliling bumi biar nangis darah sekalian!" sungut Lala sambil memasang wajah cemberut.
Lala yang awalnya ingin ke kelas entah apa yang terjadi sampai kakinya berubah haluan ke arah parkiran, Begitulah kalau hati dan pikiran tidak sinkron pasti sesuatu yang dilakukan bakalan jauh dari ekspektasi.
Xavier tersenyum senang ketika orang yang ia tunggu dari tadi sudah muncul tapi dengan wajah yang kurang menyenangkan, tapi pria itu memilih tak ambil pusing yang penting Lala sudah menemuinya saja adalah anugerah terbesar dalam hidupnya mengingat betapa gengsinya wanita itu.
"Kamu akhirnya mau menemuiku juga, padahal aku disini sudah hampir beberapa jam lebihnya. dan juga entah Sudah berapa puluhan Banyak wanita yang meminta nomor ponselku, tapi aku tolak mentah-mentah hanya demi kamu." jelas Xavier percaya diri.
" Siapa juga yang tanya, Kamu sengaja memamerkan Berapa banyak fans kamu punya? tidak bakalan mempengaruhi ku sama sekali, yang ada bikin aku tambah jengkel kalau lihatin kamu yang gayanya Sok cool dari tadi!" Ketus Lala.
" ya memang benar sih kamu tidak bertanya hal itu padaku, tapi sebagai seorang pria yang sedang berkomitmen dalam sebuah hubungan aku harus kasih tahu dong semua yang aku alami dari tadi enggak sekarang. biar nantinya kamu tidak bakalan salah paham dan merasa ragu saat aku pergi bekerja, Bukankah aku pria yang romantis?" tanya Xavier yang mengharapkan jawaban yang diberikan Lala nanti adalah sesuatu yang ia tunggu.
" kamu kalau ngomong jangan sembarangan deh, memangnya siapa juga yang melaporkan segala sesuatu yang terjadi? Memangnya kamu pikir waktuku itu hanya digunakan untuk mendengar celotehan kamu yang tidak bermakna itu, Oh maaf anda salah ferguso jika sampai mempunyai pikiran yang seperti itu? karena waktuku ya untuk diriku sendiri, tidak ada waktu lagi untuk memikirkan urusan orang lain!" Wah perkataan Lala ini sungguh pedas ngalahin boncabe level 15 guys.
" Ya aku kan hanya menyampaikan saja yang aku pikirkan Terserah dari kamunya saja mau menanggapinya seperti apa, tapi bisakah bersikap manis Walau sedikit saja padaku? karena biar bagaimanapun aku ini ada calon Suaminya kamu, yang otomatis harus Kamu hargai Dan Jaga bicara kamu padaku?" Lala merutuki kebodohannya yang tadi dengan sukarela mendatangi sosial dan akhirnya diceramahi layaknya seorang penceramah sejati.
" ya Ya terserah kau saja Tuan apa yang mau kau katakan, tapi yang jelas ini adalah hari terakhir mau berdiri parkiran kampus! kalau sampai besok kau lakukan ini lagi, maka Aku pastikan kau bakalan habis di tanganku dan itu adalah janjiku yang pasti kepadamu!" tegas Lala yang tidak ada nada bercanda di dalamnya.
" ya sudah aku tidak akan datang ke sini kalau kamu yang bakalan samperin aku ke kantor, kalau Deal permintaanmu bakalan aku terima tapi kamu menolak aku tetap pada pendirianku untuk tetap ke sini!" sahut Xavier membuat Lala kebingungan harus menggunakan cara apa lagi agar dirinya tak dirugikan.
__ADS_1
" Ih enak saja kamu kalau ngomong, Lagian kalau kamu ke Kamusku bakalan Enak dong matanya lihat gadis-gadis seksi. sedangkan aku kalau kantormu mataku bakalan sakit melihat orang hanya duduk di depan layar komputer, tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya ya aku merasa dianggurin dong! " sungut Lala.