
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA YA
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ****
Dengan tiba tiba alat pendeteksi jantung Rafa berbunyi,para petugas jaga terlihat panik dan segera melakukan pemeriksaan.
Terlihat dokter berlari dengan terburu buru,ada perawat yang memanggil keluarga pasien.
Tok tok tok
Perawat mengetuk pintu kamar tempat Alina menginap,terlihat gadis itu sendirian disitu karena Lala masih pergi dengan bunda nya.
"Iya sus ada apa ya?" Tanya Alina penasaran.
"Saya ingin sampaikan jika pasien sedikit mengalami gangguan pada jantungnya,kami minta doanya semoga ada keajaiban!" Sahut suster itu.
Deghh
Jantung Alina serasa berhenti berdetak,kabar yang barusan didengarnya sungguh membuat hatinya tak karuan.
Sepeninggal suster itu,Alina berlari kearah ruangan ICU terlihat dokter dan Suster berlari keluar masuk ruangan Rafa.Membuat siapa saja yang melihatnya akan sangat cemas,tak terkecuali Alina.
"Ya Tuhan tolong jangan kau ambil dia dariku,aku akan melakukan apa saja yang penting di kembali padaku," lirih Alina dalam hati.
Gadis cantik itu hanya berjalan kesana kemari bagaikan setrikaan,Selina dan Lala yang dari luar merasa heran dengan tingkah putrinya itu.
"Lho Bunda,tuh Alina kok kelihatan gelisah seperti itu?" Tanya Lala yang ternyata juga melihat kecemasan Alina.
"Ayo kita samperin kesana." ajak Selina sambil setengah berlari.
"Bunda,Abang Bunda!" lirih Alina sambil memeluk erat tubuh Wanita yang melahirkan dirinya.
"Abang kenapa?" Tanya Selina penasaran..
"Tadi katanya ada masalah dengan denyut jantungnya." Sahut Alina sambil terisak.
"Ya Tuhan,kamu sabar saja sayang.Bunda yakin kamu pasti kuat dengan begitu Abang juga pasti kuat!" Bujuk Selina.
"Aku nggak mau Dia kenapa napa Bunda,hanya itu juga kuinginkan," lirih Alina lagi.
Selina tahu betul bagaimana suasana hati putrinya itu,namun satu yang masih mengganjal dihatinya.Sebenarnya Alex sadar atau tidak dengan keadaan diluar ruangan,hingga sampai sekarang belum muncul juga.
"Kamu tunggu sini dulu ya,Bunda mau pergi cek Ayah kamu dulu," Ujar Selina lalu pergi keruangan tempat Alex berada.
Dirinya merasa terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya ini,ia rasa rasanya ingin sekali menerkam pria ini.
"Woiii kamu bangun tidak,masa anak lagi sekarat kamunya tidur berboxer-an diatas tempat tidur!" Omel Selina sambil memukul pelan bahu suaminya itu.
"Hemm Sayang kalau kamu iri aku berboxer,ya kamu juga berbikini-an lah," ajak Alex sambil terus memejamkan matanya.
plakk
"Bangun kamu sekarang," teriak Selina kencang hingga membuat Alex bangun dan menatap heran kearahnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Yang,kalau mau ajak main bilang saja jangan marah marah seperti itu." Ujar Alex yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Selina.
"Ajak main sama dengkulmu itu?Anak lagi berjuang melawan maut,tapi otak Ayahnya selalu berpikiran serong terus," gerutu Selina.
"Maksudnya Abang?" Tanya Alex memastikan.
"Terus maunya siapa,kamu?" Tanya Selina balik.
"Kenapa tidak bicara dari tadi sih,ayo keluar lihat keadaan Abang!" Ucap Alex sambil menarik tangan Selina keluar.
"eits stop dulu,kamu mau keluar dari sini dengan hanya memakai boxer,terus mau tunjukin tonjolan kamu itu?" Tanya Selina memastikan.
Alex menundukkan kepalanya memastikan perkataan istrinya,dirinya langsung tersenyum melihatnya.
"Iya lho Yang besar sekali!" goda Alex sambil mengedipkan matanya sebelah.
Selina hanya menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah suaminya itu.
"Sudah Sayang,ayo keluar!" Alex memegang tangan istrinya itu berjalan keluar ruangan mereka.
"Lina kamu sabar ya Beb,aku yakin Abang pasti bisa melalui semua ini." Ujar Lala menguatkan sahabatnya itu.
"Aku takut La,sungguh sangat takut," lirih Alina.
"Pasrahkan semuanya kepada sang pencipta," bujuk Lala lagi.
"Ternyata Si mungilku sangat bijak."puji Xaver yang dari tadi berdiri didekat Lala tanpa disadari oleh gadis itu.
"Gimana kabar Abang?" Tanya Alex penasaran.
Alina hanya menggelengkan kepalanya karena belum dapat info sedikitpun dari dokter.
Gadis itu tengah harap harap cemas,sebab sudah hampir sejam ia berdiri didepan pintu tapi belum ada satupun yang keluar sekedar memberikan info terbaru.
"Bunda sama Ayah saja yang istirahat,aku mau disini sampai ada kabar terbaru." Tolak Alina.
"Tapi kamu kelihatan lelah lho Nak." Alex menimpali.
"Aku kuat kok Yah,malah bertahan sampai Abang sadar pun bisa." Ucap Alina meyakinkan.
"Huft baiklah tapi kalau capek bilang ya!" pinta Alex serius dan hanya dibalas dengan anggukan kepala saja.
"Kamu kok bisa disini?" Bisik Xaver yang entah darimana dan bagimana ceritanya sampai sudah mendekat kearah samping Lala.
Lala menoleh ke sumber suara,dirinya begitu terkejut orang yang dari tadi dimakinya dari A-Z ternyata kini sudah berada disampingnya.
Lala beringsut menjauh dari Xaver,ia bahkan mencari aman dengan mendekat kearah Alina yang bersandar di dinding.
Ceklek
Pintu ruang ICU itu sudah terbuka,dan tampak lah Dokter keluar dengan senyuman yang terpampang diwajahnya.
"Maaf Nona Alina,Tuan Muda ingin bertemu!" ucap Dokter itu.
Alina yang mendengarnya langsung berlari masuk kedalam,hatinya begitu bersemangat karena akhirnya yang ditunggu sadar juga.
Maaf ya Author orang nya selalu berpiikir realistis,tidak pake koma selama setahun atau dua tahun.Karena Author tak pernah melihat dan semoga tidak mengalaminya.
"Sayang!" panggil Alina Pelan sambil menahan tangisnya.
__ADS_1
"Kamu disini?" Tanya Rafa pelan .
"Jangan sakit lagi ya,sungguh itu sangat membuat ku menderita," pinta Alina.
"Kamu tidak marah lagi kan?" Tanya Rafa lagi.
"Tidak akan pernah aku marah ke kamu lagi,apalagi punya pikiran untuk kabur." Sahut Alina pasti.
"Kamu tidak akan pergi dengan pria lain kan?" Tanya Rafa memastikan.
"Hah,pria lain yang mana sih?" Tanya Alina bingung.
"Yang mau bawa kamu pergi?" Tanya Rafa sambil meringis memegang kepalanya karena dipaksa buat berpikir hingga terasa sangat sakit.
"Shutt,kamu jangan berpikir aneh aneh deh.Aku tidak akan kemana mana lagi,tidak akan dengan siapapun selain kamu.Dan satu lagi Alina Roberto hanya milik Rafa Roberto." Ujar Alina sambil tersenyum.
"Aku sayang kamu," ucap Rafa pelan.
"Aku juga sayang sekali dengan kamu,bahkan sekarang tidurnya pengen dipeluk," ucap Alina sambil tersenyum menggoda.
"Sayang panggil dokter," pinta Rafa membuat Alina langsung panik.
"Kamu kenapa Yang,mana yang sakit ayo bilang ke aku sekarang!" Tanya Alina nyerocos tanpa henti.
"Panggil dokter sekarang Yang,aku nggak tahan," ucap Rafa pelan.
"Baiklah," Ujar Alina berlari keluar ruangan itu.
Selina dan yang lainya terkejut melihat reaksi Alina yang keluar dari ruangan Rafa,terlihat gadis itu panik binti cemas yang tak terhingga.
"Uncle panggil dokter," teriak Alina keras.
"Lho kok malah panggil dokter sih Lina,tuh tombol diatas kepala Abang gunanya untuk memanggil dokter tidak perlu harus berlari keruangan mereka," jelas Lala yang hanya geleng geleng kepalanya melihat tingkah Alina sekarang.
"Ishh kenapa tidak bilang dari tadi sih,jadinya aku tidak berlari keluar," Gerutu Alina sambil berlari kedalam.
Alex dan Selina juga ikutan, karena mereka juga penasaran bagaimana keadaan putra mereka kini.
"Kamu sudah sadar Bang?" Tanya Selina senang..
"Iya Bunda,tapi dokternya mana?" Tanya Rafa penasaran.
"Tuh gara gara kudetnya pacar kamu itu,jadi waktu panggil dokternya lebih lama lagi," sindir Lala.
"Masih baik dia Kudet daripada kamu codet," ejek Rafa pelan.
"Ishh jangan banyak bicara dulu jadinya kan sakit seperti ini," gerutu Alina sambil membelai kepala Rafa.
"Permisi Tuan muda,apa ada yang sakit?" Tanya Dokter itu pelan.
"Tolong pindahkan aku dari ruangan aneh ini,kekamar dengan tempat tidur yang luas tanpa ada selang sialan ini disini," ucap Rafa sambil menunjukan selang bantu perampasan di hidungnya.
"Iya tapi anda...
"Saya mau tidur sambil memeluk kekasih saya sekarang," kesal Rafa dan akhirnya semua orang disitu memukul otak karena kira mereka Rafa merasakan sakit.
"Jadi kamu panggil dokter kesini hanya karena ingin pindah ruangan,supaya bisa peluk Alina sambil tidur?" Tanya Alex memastikan.
"Nah itu benar," ujar Rafa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Astaga Nak,kalian ini memang benar keturunan asli Roberto yang otaknya Mesum melulu." Sindir Selina sambil keluar ruang itu dan memilih untuk istirahat.
Sudah tak ada yang perlu dicemaskan,karena putranya sudah sehat tak ada masalah lagi.Mungkin sekarang yang bermasalah hanyalah otaknya saja,karena tanpa malu menyuruh pindah kamar hanya karena ingin tidur bersama Alina.