
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Xavier kebingungan dalam hati karena setahu dirinya tadi Komplek perumahannya Lala itu dalam keadaan sepi, kok bisa Mira mengetahui keberadaan mamanya.
Kalau sudah seperti ini ini artinya bakal berabe urusannya, karena takutnya Mira dan Eko bakalan salah paham kalau Xavier dan Lala sudah menemui mamanya savier sedangkan mereka belum mengetahui hal ini sama sekali.
" Ya Tuhan ini gimana ceritanya buat menjelaskan ke mereka, Lagian Mama tadi kok teledor sekali sampai bisa datang ke sini tanpa ngomong dulu? Kalau sudah seperti ini aku kan jadi bingung harus menjawabnya seperti apa , ini kalau jawab Salah urusannya bakalan lebih panjang jadinya? " batin Xavier frustasi karena harus berbicara apa lagi ketika pertanyaan yang harus dijawab dan tidak pakai tenggang waktu.
" Kamu kenapa Bingung tinggal jawab aja kok pakai acara lelet segala, Padahal ibu itu berharap dia Mamanya kamu biar bangga begitu punya besan serius yang cantik membahana!"Ujar Mira sambil tersenyum karena merasa bahagia apabila harapan itu sesuai dengan kenyataan.
Xavier akhirnya bisa bernafas lega ketika ternyata Mira tak mempermasalahkannya ,maka dari itu jika ia jujur artinya tetap tidak akan ada masalahnya kan?
"Dia sebenarnya Mama nya aku Ibu,tadi katanya mau ketemu denganku disini tapi aku nya terlambat datang!" Jelas Xavier pelan membuat Mira berteriak kegirangan.
"Pak,cucu kita bakalan berubah tidak pendek dan dan pesek seperti anak kita ini!" Ujar Mira membuat Lala mendengus kesal karena selalu dirinya yang menjadi bahan tolak ukur.
"Ibu,kenapa harus aku lagi sih?Memang nya aku berasal dari bibitnya siapa coba,kalau bukan dari Ibu dan Bapak?" Tanya Lala tak terima.
"Ya jelas kamu dari Bibitnya kami lah,sangat Limited Edition dan tidak ada duanya di dunia!" Sahut Mira memasang wajah kesalnya ketika ada yang mengejek dirinya.
"Tadi aku di katai sampai habis tapi sekarang malah dirinya tak mau di katai apapun!" Sungut Lala membuat Xavier hanya bisa tertawa kecil karena melihat wajah tak bersahabat milik kekasihnya itu.
"Sudah tenang saja ada aku disini dan tak akan meninggalkan kamu sampai kapanpun,jadi ayolah tersenyum nanti aku kasih hadiah !" Bujuk Xavier membuat Lala tertawa bahagia.
Sedangkan Mira dan Eko juga ketularan kebahagian karena putrinya itu mendapatkan pria yang tulus,dan yang mereka inginkan adalah keduanya selalu akur dan tidak ada air mata yang bakal tumpah.
"Kalian mau makan dulu atau pergi menjemput Mama nya kamu Nak,soalnya kita harus membahas sesuatu yang lebih penting?" Tanya Eko penasaran membuat Xavier membulatkan matanya sempurna.
"Maksud Bapak apa ya?" Tanya Lala yang sangat penasaran.
"Memang nya kamu tidak mau di lamar secara resmi,atau mungkin hanya pengenalan kedua keluarga dulu kan tidak masalah?" Ujar Mira sambil menatap sinis kearah Lala yang seolah tidak paham.
"Ya aku kan mana tahu,lagian Ibu sama Bapak ngomong nya tidak jelas kok?" Sungut Lala kesal.
"Lho kok malah Ibu sama Bapak yang salah,bukannya yang ngebet kawin itu kan kamu bukan kami?" Mira mengejek putrinya itu karena selalu saja mengatakan hal yang membuat dirinya kesal.
"Aku pakai telpon saja ya,soalnya kalau pulang takut Mama tidak ada di rumah !" Jelas Xavier yang sedikit menyingkir untuk menghubungi Adele.
Hehe kita nyanyi lagi Adele dikit yuk karena nada dering wanita itu...
Easy On Me
There I no't no gold in this river
That I've been washin' my hands in forever
__ADS_1
I know there is hope in these waters
But I Can't bring myselff to swim
When I am drowning in this silence
Baby,let me in
Go easy on me,Baby
I was still a child
Didn't get the chance to
Feel the world around me
I had no time to choose
What I chose to do
so go easy on me
Selesai....🤣🤣
Adele menatap heran kearah ponselnya yang tertera panggilan dari Xavier,membuat ia jadi bingung harus bagiamana.
"Hemm,kenapa lagi?" Tanya Adele.
"Ada dimana mana,memang nya kenapa lagi mau pulang atau mau ajak Mama kerumah calon menantu ?" Tanya Adele .
Xavier hanya bisa menghela nafasnya kasar karena ternyata Mama nya itu masih marah soal tadi siang.
" Ya kurang lebih seperti itu,karena Mama sudah menjawab dengan benar maka dari itu aku minta Mama untuk datang ke tempat tadi siang,Waktu Mama nyasar.Karena calon Besan Mama sedang menunggu,dan ingat aku tidak ingin menunggu!" Tegas Xavier tapi tidak di dipermasalahkan oleh Adele karena ini merupakan hal yang paling menggembirakan.
" Oke Baik mama kesana sekarang tidak perlu waktu lama kamu tunggu saja di situ, eh sabar dulu emangnya kamu sekarang ada di mana coba? masa iya Mama ke sana sendirian lagi, nanti kalo nyasar seperti tadi gimana? emangnya kamu pikir Mama ini gembel apa, yang bisanya hanya nyasar di rumahnya orang?" tanya Adele memastikan.
" mama bisa tidak langsung ke sini saja jangan banyak bertanya lagi, kalau aku harus menjelaskan ya panjang kali lebar kapan baru datang nya?" Xavier Tak habis pikir dengan jalan otaknya mamanya yang selalu saja ribet kalau setiap mengurus sesuatu.
" ya Habisnya tadi kan mama sudah nyasar gara-gara cari calon rumahnya menantu, tidak lucu kan kalau sekarang harus nyasar lagi seperti tadi? Lagian kamu jadian aku tidak paham dengan kemauan orang tua sendiri, padahal sebenarnya pertanyaan Mama tidak ribet ribet amat sih hanya kamunya saja yang selalu membuat sesuatu jadi ribet?" tanya Adele yang tak habis pikir dengan sikap putranya itu yang selalu saja bertolak belakang dengan nya.
Xavier mendengus kesal ternyata berbicara kepada orang tua itu tidak bisa harus langsung ke intinya, harus dibawa ke arah santai terus Ngomongnya tidak terlalu bagaimana biar mereka sedikit paham.
" aku lagi nungguin Mama di rumahnya Lala Jadi tidak boleh pakai lama bisa tidak datang ke sininya, nanti kalau orang tuanya Lala berubah pikiran terus anaknya Mama tidak jadi kawin yang mau disalahkan siapa?" tanya Xavier kesal.
" Wow beneran nih kamu di sana Kenapa tidak kasih tahu dari tadi harus ngomong ngalor-ngidul kemana-mana, Lagian kalau tidak jadi nikah Bukannya itu karena kelakuan kamu yang terlalu lelet dan tidak suka mengambil sesuatu dengan secepat mungkin!" Adele tak mau disalahkan dan memilih untuk menyalakan Xavier orang tua itu kalah apalagi salah?
" Ya sudah kalau begitu Kamu tunggu mama saja di situ, Ingat jangan bergeser sedikitpun dari tempat mu yang sekarang! soalnya nanti kalau Mama datangnya terlambat kamu yang bakal tanggung jawab,karena bicaranya terlalu banyak memakan waktu!" Ancam Adele membuat Xavier langsung mematikan panggilan itu sebelum dirinya benar benar merasa kesal.
"Dasar anak Durhaka,orang tua masih ngomong kok pake di matikan segala panggilannya? Untung juga lagi pengen dapat menantu,kalau tidak mah jangan harap aku mau datang kesana?" Sungut Adele karena sikap cueknya Xavier itu.
__ADS_1
setelah mematikan panggilan itu Xavier kembali ke dalam rumah untuk berbincang dengan keluarga calon istrinya itu, terlihat Mira dan Lala saling meledek sehingga membuat suasana rumah terasa begitu hangat.
" kamu sudah selesai telepon mamanya, terus mama ngomongnya apa bisa ke sini atau tidak?" tanya Lala memastikan.
Xavier tersenyum melihat wajah penasaran kekasihnya itu, lalu dia pun memilih duduk di samping sambil mengusap pelan rambutnya.
" dalam perjalanan ke sini Orangnya, sudah tunggu saja ya dia sangat antusias mau ke sini Jadi kamu jangan khawatir ya! "sahut Xavier sambil tersenyum membuat Lala merasa lega karena sepertinya apa yang mereka rencanakan tidak ada kendala sama sekali berbeda dengan Rivan dan Dinda yang masih saling berdebat dan menyalahkan tidak ada yang mau mengalah sedikitpun.
" kamu di sini kan tidak punya rumah jadi Memangnya salahnya di mana Kalau aku suruh tinggal denganku saja, supaya menghemat pengeluaran dan juga waktu saat sudah jam kerja kita tidak perlu saling menunggu?" jelas Rivan tapi Dinda masih tetap saja pada pendiriannya.
Dinda mendengus kesal ketika apa yang ia Katakan tidak didengarkan sama sekali oleh Rivan padahal dirinya sudah mengatakan dari tadi jika pria dan wanita tinggal dalam satu atap tanpa ikatan Itu dilarang keras di negara itu.
" Kamu itu sebenarnya paham kira dengan apa yang aku katakan dari kemarin juga, kalau kita itu tidak bisa tinggal dalam satu atap meskipun di sini banyak sekali para asisten rumah tangga? Lagian kalau aku ngekos itu kan lebih menghemat biaya hidup dan juga pengeluaran aku yang simpananku pun tidak seberapa, tapi kalau kamu memaksa aku terus seperti ini lama-lama aku pergi tinggal bareng sama Selina nantinya Karena disana banyak orang!" tegas Dinda yang berharap kemauannya itu didengar oleh Rivan.
Rivan menatap kearah wanita yang susah sekali diatur itu minta dirinya harus mengucapkan kata-kata keramat yang keberapa hingga membuat dia bisa sadar, sok hidup mandiri di negara yang ber followers tinggi seperti kita itu terkadang susah untuk dijabarkan.
" Aku kan sudah bilang kamu mulai saat ini menjadi asisten pribadi aku, jadi dimanapun ada ke aku otomatis ada kamu yang harus bekerja selama 1 kali 24 jam. Persetan dengan tanggapan orang di luar sana orang kita tidak melakukan apapun kok, jangan menyusahkan diri sendiri hanya karena takut menjadi bahan perbincangan orang lain!" tegas Rivan membuat Dinda bungkam karena tidak tahu harus menjawab apa lagi ternyata berstatus janda itu cobaannya terlalu banyak.
Dinda hanya bisa menghela nafasnya kasar karena sebenarnya apa yang dikatakan Rivan itu ada benarnya, dirinya yang hidup sendirian harus bisa berhemat agar pengeluarannya tidak membengkak dan membuat dirinya yang kesusahan nantinya.
" Ya sudah kalau begitu aku bakalan tinggal di sini, tapi ingat ya jangan menjadikan aku asisten mu 1 * 24 jam karena itu sama saja enaknya di kamu susahnya di aku!" setelah mengatakan hal itu Dinda memilih untuk ke taman belakang sekedar menyegarkan pikiran daripada berdekatan dengan Rivan emosinya bakalan meledak setiap saat.
Rivan hanya bisa menghela nafasnya kasar karena memang susah sekali mengajak Dinda untuk bisa sejalan dengan pikirannya, namun dirinya juga tidak bisa menyerah begitu saja karena kalau bukan dirinya yang melindungi Dinda siapa lagi?
" Permisi tuan Jadi bagaimana apakah Nyonya Dinda mau bekerja sama dengan kita, kalau memang iya saya bakalan menyuruh orang untuk membersihkan kamar di lantai bawah agar bisa digunakan oleh Nyonya Dinda nantinya?" jelas Vigo membuat Revan menatap heran ke arahnya.
" Kenapa harus di lantai bawah Bukankah di samping kamarku itu ada tempat yang kosong, Kalau bekerja sebagai asisten aku jaraknya tidak boleh jauh dong?" tanya Rivan penasaran.
Vigo menatap heran ke arah tuannya itu karena apa yang ia dengarkan ini seolah sesuatu yang selama ini mustahil terjadi, sebab Rivan mana mau berdekatan dengan makhluk yang namanya wanita tapi yang ini terasa berbeda sekali.
" Jadi maksudnya anda tidak keberatan jika nyonya Dinda tidur di samping kamarnya Anda begitu tuan, kalau memang benar maka saya akan melakukan sesuai dengan apa yang Anda inginkan tanpa kurang sedikitpun? "tanya Vigo memastikan.
"Ternyata kau itu bukan hanya sudah tua tapi IQ sudah semakin lambat, Memangnya tadi apa yang aku katakan masih belum jelas jadi harus perlu diulang kembali? kalau seperti begini terus bisa Habis Waktu kita terbuang percuma lebih banyak berbicara daripada bekerja, usahakan setiap apa yang aku katakan mendengarnya secara jelas setelah itu mencerna dalam pikiranmu agar tidak ada namanya pertanyaan seperti barusan! " Sindir Rivan membuat Vigo hanya bisa menundukkan kepalanya mana berani dia menjawab entar nanti jadinya apa gajinya.
" Maafkan saya tuan tidak akan saya ulangi lagi perbuatan yang seperti itu, kalau begitu saya permisi dulu dan maaf jika tadi sempat mengganggu waktunya!" pamit Vigo segera berlalu dari tempat itu sebelum perkataan Rivan yang keluar lebih parah dari sebelumnya.
orang yang Kalau merasa diri kekuasaan yang lebih tinggi uangnya lebih banyak terkadang tidak pernah menghargai orang lain Meskipun orang itu benar sekalipun, maklumlah di zaman yang serba modern ini ini segala sesuatu diukur dari apa yang kau miliki sekarang. jadi jangan menyesal ataupun bertanya jika hukum ataupun kehidupan seseorang dapat dibeli, Syukuri apa yang kau punya kali ini sebelum sesuatu yang kau punya itu diambil darimu.
Vigo tidak mungkin mengeluh dengan keadaannya sekarang, toh dirinya hidup dan bekerja bersama Rivan itu bukan baru sehari dua hari saja Jadi segala sikap dan perilaku tuannya sudah ia hafal dan memaklumi.
di rumahnya keluarga Roberto tampak Alina sedang melepas Rindu pada kedua orang tuanya, maklumlah beberapa minggu tidak bertemu dengan mereka membuat dirinya nya ingin bermanja-manja lebih dahulu.
" Ayah sama Bunda katanya ketemu sama mami Dinda, sekarang dianya tidak ada Emangnya dia ke mana? padahal aku sangat merindukan suara cempreng nya itu kemudian cara dia bercanda itu sangat asyik lo orangnya, Kenapa sih tidak ajak dia ke sini saja tinggal bareng sama kita?" tanya Alina penasaran karena dirinya sangat berharap bisa berjumpa dengan Dinda tapi ternyata orangnya tidak ada sama sekali.
" dia ikut sama Mas Rivan ke rumahnya dia, soalnya di sini kan dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. ya kalau tidak menginap di rumahnya Mas Rivan ya Otomatis ke di rumahnya kita, hanya saja katanya Mas Rivan pengen jadi kan dia asisten pribadi makanya mereka berdua tidak bakalan berpisah!" jelas Selina agar putrinya itu bisa paham dengan apa yang terjadi.
" memangnya Papi Devan kemana, kok bisa mereka berpisah seperti itu biasanya kan selalu lengket kayak perangko?" tanya Alina penasaran.
" lho Memangnya Bunda belum kasih tahu kamu kalau Papi Devan itu sudah meninggal, ya karena keluarganya Papi Devan tidak menerima kehadirannya Mami Dinda makanya kami bawa dia ke sini saja. daripada di sana sendirian tidak ada yang bakal menemani dia terus dianya sedih, cari aman ya bawa ke sini saja dari pada jadi orang kebingungan di negerinya orang!" Selina benar-benar khawatir dengan keberadaan Dinda yang dekat dengan Rivan entah bagaimana kabarnya di sana mereka belum saling menghubungi sampai sekarang.
__ADS_1
" daddy Rivan kok ada-ada saja sih pemikirannya, ada paman Vigo malah berpikiran untuk menjadikan mami Dinda sebagai asistennya ada saya jalan pikiran orang dewasa?" Alina merasa kebingungan dengan pola pikirnya Rivan yang begitu aneh menurutnya.
Selina hanya tersenyum habis dirinya juga saja sama kebingungan seperti yang dirasakan oleh Alina kini, tapi mau bagaimana yang penting ada yang sudah mau bertanggung jawab dengan Dinda itu jauh dari kata cukup.