
Ketika selesai melakukan hal itu mereka pun membersihkan diri, sebab perut sudah meminta untuk diisi .
"Yang gimana kalau mandi bareng saja, biar menghemat waktu soalnya perut aku laper nih? "tawar Alex memelas membuat Selina Jengah sendiri.
Selina tahu dengan jelas apa modus suaminya itu, maka dari itu dirinya langsung mengambil langkah seribu agar segera lepas dari jangkauan Alex.
Tak peduli dengan tubuh polosnya Yang penting selamat dari ancaman dan bahaya, Alex yang kalah cepat hanya berdiri terbengong di samping ranjang.
"Loh Yang kok gitu terus akunya gimana , kamu kok tega ninggalin aku sendiri? terus aku mandi nya kapan, masa iya berdiri kayak bocah begini? " tanya Alex heran.
"Kamu di situ sampai akhir zaman, kalau akhir zaman itu tidak ada ya sudah sampai akhir hari deh kira-kira mungkin sore begitu! "sini Selina dari dalam kamar mandi.
Alex mendengus kesal habis mau bagaimana lagi tidak mungkin kan dia membongkar atap rumah hanya untuk masuk dalam kamar mandi, bisa viral dirinya nanti hanya karena ingin mandi bersama istrinya itu.
"Punya bini kok gini amat ya nggak ada manis-manisnya, padahal air saja manis masa istriku tidak sama sekali? "sungut Alex kesal.
Sedangkan berbeda dengan Selina yang kini sedang bermain busa di dalam bak mandi, bodoh amat dengan suaminya mau jungkir balik kah Mau push-up sampai bodoh kah terserah.
Di dalam rumah itu terjadi uring-uringan antara dua pasangan, jika wanita sedang bahagia Hanya menikmati waktu sendiri berbeda dengan pria yang merasa diabaikan seperti makanan basi yang sudah tidak sedap lagi untuk dimakan dan dipandang.
Padahal sudah tua sudah punya anak tapi masih saja tidak mau kalah sama ABG jaman now, entah nanti kalau tulang belakang sudah encok masih begitu kelihatannya gimana ya guys?
Di sebuah apartemen mewah tampak juga seorang pria tampan yang sedang uring-uringan, Ia kesal karena Rafa membatasi betul dirinya untuk menemui Alina.
"Untuk pria sok keren itu Kenapa sih harus dia yang ketemu Alina lebih dulu, Bisakah Harusnya Aku saja biar tidak jomblo terus kayak begini? " kesal Mikael monolog.
"Sudah jauh-jauh dari Nederland, masa sampai sini jodohnya belum ada juga.Giliran ada yang ditaksir Eh tahu-tahu tahu jodohnya orang, mau rebut calon lakinya galaknya minta ampun lagi?" sambung Michael lagi.
Pria itu terlihat sangat terobsesi pada Alina, hingga membuat ia tak bisa berpikir jernih pikirannya hanya tertuju pada Lina seorang.
" Aku akan mengambilnya darimu, karena hanya dia yang aku mau hanya dia yang aku inginkan Persetan dengan yang lain! " batin pria tampan itu lagi.
Obsesi, cinta tak bisa dipisahkan mereka adalah kesatuan yang saling terikat satu sama lain, kadang seseorang memperjuangkan cintanya karena Obsesi itu lebih besar.
Hanya saja Obsesi yang berlebihan itu yang tidak baik, bisa mengakibatkan seseorang melakukan hal-hal yang diluar Nalar yang jernih seperti menyakiti bahkan membunuh sekalipun.
Mikael mungkin tak bisa berpikiran jernih Karena ia merasa Alina adalah jodohnya, harus ia ambil dari apapun yang menghalangi nya kini.
Di lain tempat Lala pun merasakan hal yang sama, yaitu itu cinta bertepuk sebelah tangan tak terbalaskan walau sangat diinginkan kehadirannya.
Wanita bertubuh mungil itu ingin bahagia seperti yang Alina sahabatnya rasakan kini, usianya Bisa dibilang sudah matang untuk menikah untuk berkomitmen dalam menjalani sebuah hubungan.
Hanya saja mungkin seleranya terlalu terbang tinggi di langit, tidak sesuai dengan keinginan semua pria yang lain.
"Ya Tuhan sebenarnya jodohku itu terselip di mana sih, Masa tidak datang-datang aku sendiri terus seperti ini? " gumam Lala pelan
karena pusing memikirkan hal yang tidak pasti , Lala memilih tidur agar besok bisa pagi-pagi menuju kampusnya. ya bahkan sampai melupakan waktu makan malam, yang membuat Ratu rumah itu menjadi emosi sendiri.
Mira ibunya ya sudah fokus di dapur memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, karena ia yakin anggota lamanya semua dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan apapun!
"ibu masak apa, Bapak sudah lapar nih soalnya tadi di toko kalau nggak nya banyak sekali sampai-sampai bapak enggak duduk selama 2 jam ? " tanya Eko pada istrinya.
__ADS_1
"Ibu masak semur jengkol Sama ikan asin dan telur dadar, Bapak mandi dulu sana setelah itu panggilin Lala biar kita makan sama-sama! " sahut Mira pada suaminya itu.
"Oh iya Bu Baiklah nanti ayah yang panggilin Lala, Lagian tuh bocah kok masih jam segini udah masuk tidur ada saja kelakuan anak zaman sekarang bukannya bantuin orang tua atau apa Eh malah molor? " tanya Eko heran pada kelakuan putrinya itu.
Mira akhirnya mengeluarkan suara Ia pun sebenarnya punya pemikiran sama dengan suaminya, hanya saja berhubung dirinya lagi masak maka keinginan untuk membuat gempar dalam rumah itu masih di cancel dulu.
"Sudah bapak ke sana mandi sudah sebelum ibu yang bertindak kan bisa panjang urusannya, jadi untuk aman cepat sana sudah!"Mira sambil membolak-balikkan masakannya.
" iya iya Bapak nurut nih, Ibu jangan ngegas gitu dong cantiknya luntur loh! " sahut Eko lalu menuju ke dalam kamarnya.
Begitulah kehangatan yang terjadi antara suami istri tidak perlu tempat yang istimewa ataupun makanan yang mahal, turuti kemauan pasanganmu itu jika memang terdengar sederhana dan mudah dilakukan.
Setelah selesai urusan masing-masing Mira sudah menghidangkan makanan diatas meja, saat ini ia sedang duduk manis menanti yang lain karena urusan Lala tadi sudah di sama suaminya handle.
Akan tetapi namanya mulut wanita Tetap saja harus mengeluarkan suara, kalau begitu Tadi kenapa tidak sendiri saja melakukan nya?
" Astaga bapak mandi Kok lama disuruh Panggil Lala kok enggak nongol-nongol, tadinya saja nyahut nya cepat banget eh giliran eksekusi leletnya minta ampun! " sungut Mira kesal.
"Bapak, Lala cepetan nggak sih, kalian pikir saya lalat apa yang hobinya jagain makanan? ayo keluar cepat dasar lelet, Bapak sama anak sama saja tidak ada perubahan dalam hidup! " sungut Mira lagi.
Eko yang sudah selesai mandi mengetuk pintu kamar Lala, sebelum istrinya itu yang bergerak bisa dipastikan kuping mereka bakalan lepas hari itu juga.
" Lala Bangun nak Ayo makan, tuh udah ditungguin sama kanjeng Ibu awas kalau lama bisa jebol nih pintu kamar kamu! " Panggil Eko dari luar pintu kamar Lala.
Lala yang sudah setengah tertidur dan sedang bermimpi dicium sama Oppa tampan, langsung terlonjak kaget dan seketika emosinya mencuat di permukaan.
"ih Bapak nih Apaan sih, orang lagi mimpi indah juga pakai digangguin segala sudah begitu ciumannya hot banget lagi Bikin merinding! " sungut Lala kesal.
" iya Iya aku bangun nih jangan teriak segala dong jadi begini kuping aku normal, nasib nasib ketemu yang tampan tuh hanya dalam mimpi doang! "sambung Lala lagi.
" Kenapa tuh muka ditekuk begitu, tidak ingin makan lagi mau tambah pendek atau biar tambah kurus setelah itu angin tiup melayang? "sinis Mira sambil menyodorkan makanan untuk suaminya.
"Ih ibu mah gitu deh anaknya sudah sebiji doang bukannya disayang-sayang, malah tiap hari tiap saat tiap waktu di ajak bertobat melulu lama-lama Aku minggat nih! " kesal Lala.
" Ya habisnya disuruh makan bukannya senyum malah cemberut terus, Memangnya Apa susahnya sih keluar kamar sebentar saja? " sinis Mira tajam.
"Kalian itu mau makan atau mau berdebat sih, lebih baik daftar diri jadi pendemo biar suaranya tidak terbuang percuma dipakai pada tempatnya? " tanya Eko kesal.
" Ih Bapak mah tega istrinya bukannya di bantuin malah tiap hari dimarahin terus, apa nggak sayang begitu sama ibu Walau sedikit saja? " tanya Mira memelas mendramatisir keadaan sebagai orang yang teraniaya.
" Idih lebay deh perasaan aku Yang Teraniaya di sini kok, mulai dari pagi sampai tabrak lagi lagi kalau tidak dimarah serasa macam kurang begitu! " Ketus Lala jutek.
"Dimana-mana itu anak harus mengalah sama orang tua, karena itu sudah kodrat dari dulu sampai sekarang tidak bisa diubah atau pun ditentang. jadi lain kali kalau orang tua ngomong setidaknya didengarkan dulu, jangan belum apa-apa langsung main potong saja kan jadinya tidak paham !" sahut Mira ngegas karena tidak suka jika anaknya membantah perkataannya.
Eko menganggukkan kepala pertanda setuju dengan perkataan istrinya itu, tumben tumben nya saja kedua bisa berpikiran sama seperti itu Wow bravo!
" Astaga kalian ini kenapa sih saat makan setidaknya diam dulu lah, kalau model begini mana bisa tuh lah makanannya yang ada tidak berguna sama sekali kan? " Ketus Lala kesal dan ditanggapi dengan senyum mengejek dari Mira mamanya.
" Gimana kuliah kamu Nak? " tanya Eko memastikan.
" Baik tidak ada yang salah lancar-lancar saja sih sejauh ini, nanti kalau tidak lancar Ya aku juga diam saja takut kalau ngomong macan dalam rumah ini ngamuk! " Lala secara tidak langsung menyindir ibunya itu.
__ADS_1
Mira tak terima karena ia yakin macan yang dimaksud oleh Lala yaitu dirinya, kalau Macan itu Mama cantik yang ada masalah tapi kalau macan yang dalam arti sebenarnya dimana harga dirinya,?
" Kamu sendiri ibu? " tanya Mira sambil menatap tajam ke arah Lala.
" Ih kata siapa Ibu itu terlalu curigaan deh, Emang aku nggak punya kerjaan apa Sindir menyindir begitu? " elak Lala tak mau disalahkan.
Mira mendengus kesal pasti akhir-akhirnya begitu selalu dirinya dibuat kalah telak oleh Lala, kalau begini terus mah bisa-bisa Iya kan emosi terus setiap saat.
Eko hanya bisa menggeleng kepala, mungkin sudah tradisi dalam rumah itu setiap makan pasti berdebat kalau perdebatannya faedah ya tak masalah tapi kalau unfaedah seperti itu yang ada kuping bisa lepas dari tempatnya.
Setelah selesai menikmati makan malam yang penuh drama, keluarga kecil itu memilih mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian bekerja.
author skip
( Soalnya orang kalau tidur itu itu yang pasti miring kiri miring kanan jungkir balik buang angin habis. terus dosa loh kalau nulisin orang tidur auto pada ngamuk, jadi di skip saja ya)
lanjut***
Keesokan paginya di rumah Roberto terjadi kehebohan, Bagaimana tidak kepala keluarga ngamuk karena saat bangun istrinya sudah menghilang entah kemana.
Padahal saat bangun pagi ya berharap dipeluk istrinya disayang sayang dicium, atau tidak mungkin ya bisa diajak SmackDown begitu.
Tapi sayang harapan tak sesuai realita, orang yang dicari tidak ada pengertian sama sekali sudah begitu Alex Junior lagi berdiri tegak bukan tongkat.
"Punya bini kok gini amat ya, masak dapur yang diurusin suaminya tidak? Nanti kalau kita minta lebih salah eh kita diemin dicuekin, nasib nasib jadi suami! " ujar Alex monolog.
Selina kini sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya, Karena setelah itu Iya berencana untuk pergi ke rumah yang lama.
Di sebuah negara yang dijuluki Negeri pizza, tampak seorang wanita yang sedang menatap jendela di sebuah rumah sakit.
Tatapannya Sendu ke arah luar ingin menangis tapi tak mampu karena dirinya bukan anak kecil, dirinya bukan wanita lemah yang Segala sesuatu harus diselesaikan dengan air mata.
Suaminya tercinta kini sedang terbaring di ranjang rumah sakit, menderita suatu penyakit yang tidak mungkin bisa disembuhkan karena sudah memasuki stadium akhir.
Saat-saat begini yang ia rindukan adalah pelukan seorang sahabat, akan tetapi ia juga tak ingin menjadi pribadi yang egois Bukankah Celina punya kehidupan sendiri sekarang?
" Lina Kamu tahu tidak aku lagi sedih nih, dia sakit entah kapan bisa sembuh mungkin hanya keajaiban saja yang bisa. aku butuh kamu sekarang, karena hanya kamu yang aku punya! "Lirih Dinda Sendu.
Tanpa dirinya sadari ternyata dia kan dari tadi menatap kearah istrinya itu, pria itu tak ingin berada di posisinya sekarang membuat orang-orang sekitarnya menjadi sedih kecapean karena mengurus dirinya.
Sudah berkali-kali pulang ia menyuruh Dinda kembali ke Indonesia, mengurus perceraian mereka agar tak terikat pada dirinya yang sakit-sakitan itu.
Akan tetapi Dinda mati-matian menolak karena baginya tugas istri yang mengurus suami baik suka maupun Dalam Duka, kesehatan dan segala macam permasalahan dalam hidup Bukankah berdua itu lebih baik daripada hanya seorang?
flashback on
"Sayang aku mohon pulanglah ke negaramu, uruslah perceraian kita Aku ikhlas aku tak apa di sini Yang penting kamu bahagia!" pinta Devan saat dirinya drop lagi.
"Sudah berapa kali kan aku jawab sama kamu Kalau aku nggak mau, Memangnya kamu pikir aku wanita apaan maunya hanya Saat senang susah nya nggak mau? "teriak Dinda kesal.
"Tapi untuk apa bertahan Aku Sakit entah kapan akan pergi, sebagai suami aku ingin yang terbaik untukmu tidak terus-terusan membebani hidupmu seperti ini! "Devan menatap kearah istrinya itu dengan Tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
" Kamu ikhlas kalau kita bercerai? "tanya Dinda datar tanpa ekspresi ia menyembunyikan kekecewaannya dari hadapan Defan.
Devan bungkam jika boleh jujur ia ingin menghabiskan hidupnya Bersama sang istri, bibirnya bungkam tak bisa berbicara yang ada hanya helaan nafas berat saja.