
Like N KOMENNYA
Terima kasih
LANJUT ***
tanpa Selina dan Alex sadari jika Dimana tempat mereka berada, terdapat Rivan juga di situ Entah apa jadinya ketika mereka bertemu nanti.
" tuan Kenapa tidak menginap di Mansion anda saja, daripada harus menyewa Apartemen ini buang-buang uang? " tanya Vigo memastikan.
" masalahnya dengan kamu apa, Lebih baik diam dan mencari tahu di mana kira-kira Alex dan Selina menginap!" Ketus Rivan karena tak suka jika asistennya itu mencampuri urusan pribadinya.
" dikasih saran tidak mau, nanti kita diam-diam saja salah! nasib nasib punya bos yang sensian, tidak ada yang benar di matanya! " batin Vigo Mana berani dia berbicara langsung bisa habis dan Tamat dirinya.
Rivan memilih tinggal di apartemen, karena ia sudah mendapatkan informasi jika Selina dan Alex juga berada di apartemen yang sama.
orang yang sekaya mereka tidak sulit untuk mencari tahu hal seperti itu , karena uang adalah diatas segala-galanya.
Vigo yang merupakan asisten pribadi Rivan, otomatis harus melaksanakan perintah tuannya itu meskipun dalam hati ia menolak.
Sebab ia tahu apa yang dilakukan Rivan itu pasti menimbulkan masalah antara dirinya dan Alex, Tapi dia bisa apa menolak tak mungkin sebab Ia merupakan orang yang bekerja pada Revan.
" ah Tuan ada keterlaluan sekali Setidaknya saya istirahat sedikit lah, ini tubuh para diforsir terus lama-lama bisa keok!" sungut Vigo Tapi tetap saja keluar dari ruangan itu untuk mencari tahu tempat Alex dan Selina berada di unit apartemennya nomor berapa .
Sementara itu di lain tempat di sebuah rumah sakit elit di tengah kota Roma Italia, sepasang suami istri saling diam bukan karena bertengkar hanya saja memikirkan keadaan keduanya.
Dinda menatap kearah depan dengan pandangan yang kosong, dalam hatinya ia merutuki segala kesusahan yang pernah ia alami kini. sebagai seorang perempuan bohong jika dirinya kuat dan tegar, Ketika sang suami harus berjuang hidup melawan penyakit yang dideritanya.
" Ya Tuhan tolong sembuhkan penyakitnya, karena hanya dia yang punya kini! kalau memang boleh dan bisa ijinkanlah aku yang menggantikannya, sebab Kasihan dia harus menahan sakit seperti itu!" pinta Dinda di dalam hati.
Devan menatap sendu ke arah istrinya itu, wanita yang dulu ceria dengan suara keras lima otaknya itu kini hilang tak berbekas lagi. ia tahu semua itu bersumber dari dirinya, tapi mau bagaimana lagi Bukankah semua sudah suratan Takdir yang tak bisa terbantahkan lagi.
Jika boleh memilih ia tak ingin di jalan ini, karena impian seorang suami yaitu membahagiakan istrinya apapun keadaannya.
Tring
sebuah notifikasi masuk di ponselnya Dinda, setelah dilihatnya ternyata itu berasal dari Selina.
🌹Lina Akoh
" bebs ketemuan yuk!" isi pesan Selina.
Devan merasa heran Ketika istrinya itu senyum-senyum sendiri, padahal tadi terlihat galau kenapa sekarang jadi?
" dari siapa?" Tanya Devan memastikan Siapa yang berkirim pesan pesan dengan istrinya.
" My Love!" sahut Dinda yang sudah senyum-senyum sendiri bak orang lagi kasmaran.
Devan salah paham ia pikir istrinya sudah mempunyai pria lain, karena sudah tak tahan dengan dirinya sakit-sakitan dan tak berguna.
__ADS_1
Devan Sedikit merasakan kecewa, gimana tidak selama ini dirinya memaksa agar Dinda menikah lagi tapi tak disanggupi wanita itu Eh sekarang setelah ia tidak membahas lagi kenapa Dinda berubah?
" kemarin katanya tidak ingin mendua, sekarang malah berubah pikiran dasar wanita!" gerutu Devan tapi masih bisa didengar oleh Dinda membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
" kamu ngomong apa barusan, dan kali itu punya pemikiran jangan terlalu negatif begitu deh tidak bagus!" Ketus Dinda.
Devan menatap tajam ke arah istrinya itu, Dinda yang tidak pernah membantah Kenapa hari ini tiba-tiba berubah begitu membuat dirinya emosi.
" loh aku kan hanya ngomong kenapa kamu jadinya marah-marah, Apa karena My Love kamu itu?" sinis Devan membuat Dinda akhirnya paham jika suaminya itu dalam mode cemburu.
" Aduh manisnya suamiku, lagi cemburu nih ye! wah Kayaknya aku harus bawa pujaan hatiku deh, soalnya lucu muka kamu kalau lagi ditekuk begitu!" goda Dinda membuat Devan tambah emosi dan memilih tidur membelakangi istrinya itu.
Dinda bukan yang ingin menjelaskan permasalahan itu, dirinya malah memancing emosi Devan yang terlihat begitu menggemaskan baginya.
" cie cie ada yang marah nih,aku ambilin air ya biar otaknya lebih rileks begitu!" goda Dinda lagi.
" sudah sana pergi aku bisa urus diri sendiri, Bukannya kamu ingin bebas Ya sudah sana!" Ketus Devan.
" Aduh manisnya suamiku, aku jadi pengen Cubit Cubit pipinya yang sangat menggoda itu!" goda Dinda yang tak berkesudahan apalagi melihat wajah Devan yang tekuk begitu.
" sana pergi Kenapa masih di sini juga, aku mau tidur jangan ganggu aku bakalan marah beneran!" sarkas Devan kasar.
oke fix suaminya marah tidak pakai main tidak pakai tapi, tapi pakai yes!!!!
Dinda mendekati Devan sambil menunjukkan berasal dari mana chat yang masuk di ponsel itu, ia memasang wajah datar yang padahal sebenarnya ingin tertawa.
" woi baca ini woi biar jangan marah-marah yang tidak jelas, kalau bisa sih itu yang balas biar tidak simpang siur lagi!" sungut Dinda.
" itu dari Selina?" tanya Devan memastikan.
" menurut kamu dari siapa?" Tanya Dinda sinis.
" ya Mana aku tahu itu kan ponsel kamu, Lagian siapa sih orang sampai kamu tulis love-lovean?" tanya Devan penasaran.
Dinda menatap jengah kearah suaminya itu, sebab sudah tahu salah sangka masih mempertahankan ide agar benar.
" aku telepon terus kamu yang ngomong ya Biar tidak curiga yang aneh-aneh, padahal itu aku penasaran kemarin yang suruh aku buat kawin lagi tuh siapa?" Sindir Dinda membuat Devan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
" Jangan bahas tentang itu dong, Aku kan jadi malu kalau mengingat nya!" ujar Devan Sambil tertawa kecil.
" Ya sudah aku teleponnya!" Dinda mulai melakukan video call terhadap sahabatnya itu yang sangat ia rindukan.
Selina Yang kesal karena sahabat yang tidak membalas pesan darinya, memilih berselancar di dunia maya melihat destinasi wisata yang paling oke di Itali.
hanya saja maksud hati itu belum tercapai sudah ada panggilan masuk dari Dinda video call lagi, dengan tersenyum yang mengangkat panggilan itu berharap keadaan sobatnya itu baik-baik saja.
" kamu tuh ke mana saja sih kok lama sekali membalas pesan dariku, jangan bilang kamu lagi diapa-apain sama Devan?" tanya Selina dengan tatapan menyelidik.
Dinda ingin menangis ketika akhirnya Setelah sekian Purnama bisa menatap lagi wajah Selina itu, ia merasa seperti kebahagiaannya kembali lagi di saat terpuruk.
__ADS_1
" kamu Kenapa diam saja Coba tanya Aku dapat nomor kamu dari mana, dasar tidak setia kawan mentang-mentang punya suami bule tinggal di luar negeri akunya dilupakan!" gerutu Selina kesal.
" Maafkan Aku, Gimana kabar kamu? Aku yakin kamu pasti bekerja keras kan untuk mendapatkan nomorku Terima kasih banyak Lina!" ujar Dinda yang ingin menangis.
meskipun dirinya Sudah terpisah lama dengan Dinda, akan tetapi Selina tidak pernah melupakan kebiasaan Dinda saat sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" kamu kenapa, apa ada masalah yang serius?" tanya Selina memastikan.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya akan tetapi air matanya itu tanpa permisi jatuh terus di pipi,siapapun yang melihatnya pasti tahu jika wanita cantik itu pernah mencoba bahagia kini.
" kamu lagi akting bohong sama aku begitu, Terus menurut kamu aku bakalan percaya?" kesal Selina karena Dinda menganggap dirinya seperti orang lain.
Dinda hanya masih dalam Mode off kan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, akan tetapi Selina merasa gusar karena melihat tampang menyedihkan Dinda itu.
" Kamu di mana sekarang cepat katakan padaku, dan satu lagi jangan coba-coba menyembunyikan apapun dariku!" ujar Selina tajam tak ingin dibantah membuat Dinda tahu jika sahabatnya itu peka dengan masalah yang dihadapinya.
" ayo cepat katakan kamu di mana, Dinda tidak lucu tahu tidak tingkah kamu ini?" tanya Selina lagi hanya saja kali ini nada Bicaranya ia tinggikan.
Dinda mengarahkan kamera ponsel ke arah suaminya, yang sedang menatap ke arah mereka berdua.
Selina menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, memastikan penglihatannya kalau memang benar-benar yang sedang terbaring dengan infus dan wajah yang kurus itu orang yang ia kenal.
" Dinda, itu beneran dia atau orang lain?" tanya Celina yang masih tidak percaya.
Dinda hanya menganggukan kepalanya ia tak sanggup untuk berkata-kata lagi, sebab dirinya begitu terpuruk kini dan tak tahu harus mulai berbicara dari mana.
" Astaga Dinda masalah sebesar ini kamu tidak pernah ngomong, Kamu Memang Yang keterlaluan sekali!" Ujar Selina setengah teriak membuat Alex yang sedang memeriksa dokumen di ruang kerjanya setelah berlari keluar karena takut istrinya itu kenapa-napa.
Sesampainya di luar Alex merasa heran dengan istrinya yang memegang ponsel, ia heran sebenarnya drama apalagi yang sering ditonton oleh Selina.
" Ya ampun sayang kamu kok nonton drama saja tapi tingkahnya kayak beneran, buat aku jadi panik saja tahu tidak?" ucap Alex yang sedikit kesal.
mendengar suara suaminya itu Selina langsung berdiri dan memeluk erat tubuhnya, tangisnya pecah di dada bidang Alex itu. membuat pria itu merasa heran sendiri, sebenarnya istri ini kenapa nggak Mellow sekali.
" Kalau rasa tidak mampu untuk nonton jangan paksakan diri, nanti kan begini jadinya Jadi kelihatan lebay kan?" ujar Alex yang masih mencoba untuk bersabar.
Plak
" kalau bicara jangan asal, ini lihat Manusia Siapa yang sedang terbaring di situ!" Ketus Selina lalu memberikan ponselnya kepada Alex sedangkan dirinya bagi mengambil mantel karena ia ingin menjenguk Devan di rumah sakit.
Alex menajamkan penglihatannya karena tapi ingin menyimpulkan yang tidak jelas, ia merasa heran dengan pria kurus kering yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit itu seperti Tak asing baginya.
barulah ia sadar bahwa itu orang memang benar-benar ia kenal, setelah wajah Dinda muncul kembali dan menyapa dirinya.
" Hai tuan Roberto, Bagaimana kabarmu?" tanya Dinda memaksakan senyum di wajahnya.
" Jadi yang tadi itu benar-benar dia?" tanya Alex yang tidak mempedulikan pertanyaan Dinda tadi.
wanita cantik itu hanya menganggukkan kepala suaranya tercekat, hanya air mata yang mewakili jawabannya.
__ADS_1
sedangkan Devan memaksakan senyum di wajahnya' ingin menyapa orang yang jauh itu.