
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ****
Dinda mendengus kesal karena mendengar perkataan Rivan barusan,ia seolah tak percaya dengan apa yang di katakan pria yang katanya pemimpin itu.
"Pantesan kamu tidak laku laku,mulutnya tidak ada gunanya!Makanya semua wanita tidak ada yang nafsu lihat kamu,karena jadi pria tapi mulutnya pedas amat kaya bon cabe level 15!" Sindir Dinda ketus.
"Eh kata siapa aku tidak laku laku ,orang aku itu sedang memilih wanita yang paling terbaik kok!" Sahut Rivan yang tak mau harga dirinya di injak injak.
"Halah jangan bohong kamu,aku itu tahu lho ciri ciri orang yang lagi bohong!" ejek Dinda membuat Rivan mendengus kesal.
Dinda dan Rivan kini sedang berada di dalam kamar yang di tempati oleh Dinda,keduanya terlihat seperti pasangan yang sedang berdebat karena aksi malam pertama.
"Ya sudah sana keluar ngapain disini terus coba,nanti kita di bilang lagi selingkuh Terus enaknya di kamu susahnya di saya!" usir Dinda karena tidak mau melihat Rivan berada di tempat itu.
" tapi kalau saya tidak mau keluar gimana, masa iya kamu memaksakan kehendak pada orang yang jelas-jelas tidak mau melakukannya?" tantang Rivan menolak mentah-mentah kemauan Dinda tadi.
" Ya sudah kalau kamu masih mau bertahan di sini silakan saja, keluar cari angin bete berada di ruangan bersama dengan orang yang rakus hirup udaranya!" sungut Dinda lalu melangkah keluar namun tangannya dicekal oleh Rivan.
__ADS_1
" tunggu dulu kamu jangan kemana-mana Biar aku saja yang keluar, Sebenarnya aku tadi ke sini itu mau bilang terima kasih ih karena kamu sudah mau memasak untukku!" ujar Rivan lalu keluar dari ruangan itu.
Dinda menatap tak percaya ke arah pria yang baru saja meninggalkan kamarnya, ia merasa heran dengan nada lembut yang baru saja Rivan ucapkan tadi'
" itu orang kesambet setan amnesia atau apa ya, masa tadi cara bicaranya judes banget sekarang berubah jadi lembut? kalau memang iya oh my god aku jadi ngeri sendiri, jadi mulai sekarang sepertinya harus mulai berhati-hati terhadap pria aneh itu!" ujar Dinda sambil bergidik ngeri.
Dinda memilih naik ke atas tempat tidur dan menutup dirinya dengan selimut hingga yang keluar hanya hidung doang sekedar bernafas, ia merasa takut dengan perubahan sikap Rivan dan itu akan mengancam dirinya.
" Kenapa juga tadi aku harus berdebat dengan pria psychopath tadi, kalau begini kan bisa berabe jadinya ke mana-mana bakalan tidak bebas lagi!" sambung Dinda lagi.
Rivan keluar kamar Dinda dengan wajah yang ditekuk, Siapa sih yang tidak emosi datang niat ingin berbincang baik-baik malah ditanggapi dengan nada nyolot oleh Dinda.
" dasar wanita aneh, kok bisa-bisanya nyolot kayak tadi? emang dia pikir aku lagi ngajakin Dia bercanda, dasar wanita percaya diri tingkat Dewi!" sungut Rivan sambil terus melangkah tak sadar jika Selina hendak keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur.
" lho Lina Kamu ngapain malam-malam Di Sini?" tanya Rivan yang ternyata melihat Selina lebih dulu.
" eh itu Mas aku mau ambil air minum, Mas lebih dulu ke kamar saja aku bisa sendiri kok!" perintah Selina lalu dengan cepat cepat menuju kearah dapur,
" ya nggak bisa gitu dong Lina, aku mana tega membiarkan Kamu sendiri di sini!" tolak Rivan yang malah berjalan dibelakang Selina seolah menuntunnya.
" Ya Tuhan ini kalau kelihatan Alex bisa mati ditempat akunya, dikira nyolong Kesempatan Dalam kesempitan!" batin Selina frustasi.
__ADS_1
" Mas aku boleh minta tolong tidak, menjauh dariku sebentar saja ini juga demi kenyamanan dan keamanan kamu dan juga aku! Lagian aku juga nggak mau kalau sampai Mas Alex curiga yang tidak-tidak, dan membuat hubungan kami menjadi renggang!" pinta Selina memelas membuat Rivan merasa aneh.
" Kamu kenapa sih Lina, perasaan aku biasa saja yang mau temani kamu saja tidak ngapain juga? tolong dong kamu mengerti dengan perasaanku juga jangan hanya suami kamu saja, Aku selama ini tidak ada nilainya sama sekali di mata kamu?" tanya Rivan sambil mengacak rambutnya frustasi membuat Selina juga bingung harus menjawab apa'
" Kamu kan tahu kalau selama ini Mas Alex tidak pernah merasa nyaman kalau kamu dekat sama aku, jadi tolong dong mengerti hal itu udah kan gak ribet ribet amat kok?" Ketus Selina lalu merubah haluan nya tidak jadi ke arah dapur melainkan kembali ke kamar.
" Lina Tunggu aku mau bicara sama kamu sekarang, aku mohon dengarkan perkataan ku kali ini saja!" pinta Rivan Bahkan tak peduli jika semua orang dalam rumah itu mendengarkan suaranya.
Selina mendengus kesal ternyata keputusan mengajak Rivan ke Mansion daddy-nya itu sangat salah, buktinya sekarang pria itu malah berulah yang tidak-tidak dan Selina takut jika Alex mendengar maka pasti akan terjadi keributan tidak diharapkan sama sekali.
" Apa sih yang mau dibicarakan lagi perasaan tidak ada apa-apa diantara kamu sama, bisa tidak Kamu paham sedikit umur kamu itu sudah dewasa otomatis pasti kamu akan berpikir lebih jernih kan harusnya?" tanya Selina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rivan itu.
" Terserah kamu saja mau ngomong apa tapi yang intinya aku mau kamu dengarkan perkataanku kali ini saja, persetan dengan suami kamu mertua kamu atau siapapun itu!" ujar Rivan kasar.
Selina terus melangkahkan kaki meninggalkan Rivan sendirian, dirinya tak percaya dengan apa yang dikatakan Rivan yang tidak pada tempat dan salah besar itu'
Dinda ada yang mendengar suara dari ribut- ribut bawah langsung keluar dari dalam kamarnya karena ia tak asing dengan suara barusan, dilihatnya Rivan Tengah berusaha menarik paksa tangan Selina membuat naluri sahabatnya pun langsung muncul di permukaan.
" Kamu itu kenapa sih, makin kesini sikap kamu tuh makin aneh tahu tidak? jangan macam-macam deh ingat sama status aku dan juga suami aku, Aku bukan anak kecil yang bisa kamu paksa sesuka hati kamu harus menuruti kemauan kamu yang tidak jelas satu itu!" Selina tidak bisa menahan kekesalannya melihat sikap Rivan yang semakin kurang ajar itu.
plak
__ADS_1
sebuah tamparan Selina berikan kepada Rivan karena sudah keterlaluan padanya, setelah itu dengan wajah memerah karena menahan emosi dirinya pergi kembali ke dalam kamar dan langsung naik ke atas ranjang dan tidur di dalam pelukan suaminya itu.